|
Thursday, November 27, 2008
|
Atas nama 'menahan diri'
|
Hari ini aku terdiam mendengarkan pikiranku sedang berdialog dengan perasaanku. Bukan berdialog sebenarnya, lebih tepatnya memarahi, memaki, bahkan mencaci maki. Berikut petikannya. PIKIRAN: Va, lu tau gak seeeehhhh.... apa arti menahan diri???? Sebagai orang Jawa apalagi asli Yogyakarta mestinya lu ngerti benar apa artinya menahan diri. Kenapa lu tidak pernah belajar dari pengalaman yg cukup lama mendera hidupmu itu. Sudahlah, anggap saja itu hanya permainan konyol dan jangan pernah terhanyut. PERASAAN: Lho, namanya juga perasaan. Ini masalah rasa, tidak dapat dibandingkan dengan pikiran. Rasa tak dapat diukur, pun tak dapat ditimbang, sangat absurd karena hanya dapat dirasa. Meskipun rasa, tapi tetap saja ada batasan yang ada di depan mata. Meski apapun yang terjadi batasan itu dapat diterobos, tapi tetap saja ada batasan. PIKIRAN: Terus apa yang ingin kamu lakukan dengan semua kehebohan ini?? Kehebohan yang hanya membuatku terpaku dan akhirnya berteriak seperti orang kesetanan. PERASAAN: Aku ingin teriak sekeras-kerasnya, sekencang-kencangnya........, "SHIRWAN, hari ini aku kangeeeennnnnnnnnnn!!!!!" Dan akupun mengulum senyum mendengarkan pedebatan antara pikiran dan perasaanku yang sangat absurd ini. .
|
Wednesday, November 26, 2008
|
beautiful morning
|
Ada keinginan yang bukan sekedar keinginan bahwa satu ketika pengen satu perubahan dan mencari satu bentuk kehidupan yang baru, yang benar2 tidak pernah connect dengan kehidupan sebelumnya. Entah itu dalam kasus tempat tinggal, kekasih, pekerjaan, atau apapun itu. Jika memang ini yang terbaik, pastinya akan dimudahkan. Ketika satu kepenatan datang menghantam, dan setelah semua usaha telah dilakuan untuk membendung, atau bahkan mengantisipasi, pastinya tidak ada jalan yang lain kecuali mencari satu bentuk kehidupan yang baru. Pun jika itu memang diizinkan, dan bukan satu hal yang absurd. Pasti akan ada hal yang baru, tantangan baru dan segala keruwetan plus kehebohan yang baru. Tapi di sisi lain pasti akan ada senyum dan kegembiraan yang datang melengkapi. Sekali lagi itu namanya hidup. Satu hal yang sok kadang pahit, tapi tak jarang pula menggelikan, dan membuat kita semua tersenyum bahkan terbahak saat sejenak meluangkan waktu mengenangnya. Aku cinta pada apa yang kudapatkan saat ini, tapi aku juga tidak menutup pintu dan jendela atas segala hal yang akan datang di kemudian hari. Jika itu yang terbaik, mengapa tak dicoba dan dijalani? Hidup itu indah kawan, dengan segala suka dukanya. .
|
Sunday, November 16, 2008
|
little conversation
|
Va, kenapa sih kamu masih tetap keras kepala tidak mau menerima bantuannya. Kamu memang manusia paling sombong yang pernah aku kenal?Aku bertahan untuk tidak menerimanya karena aku yakni masih ada jalan. Masih ada jalan keluar atas masalah ini. Aku hanya tidak ingin membuat orang lain menjadi bingung memikirkan masalahku dan mereka akhirnya menyesali diri karena tak dapat membantuku. Aku juga tak ingin berutang budi. Begitu berat rasanya membawa beban bernama utang budi. Sampai dimana kamu akan bertahan dengan kondisi yang menyedihkan ini?Sampai aku tersungkur dan tak dapat lagi bangkit. Itu batasku. Aku masih merasa semua dapat dicarikan jalan keluar. Pasti. Yang di Atas masih sangat sayang padaku kok. Apa kamu yakin dengan semua hujan masalah yang datang padamu, Yang di Atas masih sayang padamu?Ya. Pasti. Jika Dia sudah tak lagi sayang padaku, Beliau tidak akan memilihku menjadi orang yang diberinya kepercayaan untuk menyelesaikan masalah. Jika Beliau tak lagi mencintaiku, maka aku tak akan lagi diberikan tebaran warna warni yang membuat hidupku menjadi berwarna. Mendadak religius begini?Bukan menjadi religius..... religius bagiku dekat dengan ritual kewajiban yang harus dilakukan lima kali setiap hari. Bagiku yang terpenting adalah bagaimana dapat menjadi lebih dekat dan terikat pada Nya, yang jelas2 sangat tahu, mengerti dan paham mengenai diriku, bahkan lebih dariku sendiri. Dia tak pernah marah meskipun aku memborbadir Nya dengan permintaan yang seringkali tak masuk akal. Dia tak pernah berhenti memberikanku berkah, rahmat, dan rezeki meskipun aku lali pada Nya. Dia selalu membuatku dapat berhenti sejenak dari mengayun langkah, untuk melihat betapa aku masih diberikan kekuatan untuk mengucap syukur atas keberadaanku saat ini. Apa definisi syukur atas kehidupanmu yang sangat menyedihkan saat ini?Meskipun saat ini aku sedang berada di bawah, tapi aku masih bersyukur bahwa aku masih diberikan kesehatan, kekuatan, dapat makan setiap saat aku ingin makan, masih ada tempat untuk berteduh, dan masih diberikan senyum dan tawa. Aku bersyukur tak perlu harus berada di bawah terik matahari, di perempatan jalan untuk menyodorkan tangan meminta-minta, untuk dapat meneruskan hidup di hari ini. Aku tak perlu kedinginan dan tidur di bawah jembatan. Aku tak perlu lari-lari dikejar trantib karena dianggap mengganggu ketertiban. Tidak, betapa yang di Atas masih benar2 sayang padaku atas semuanya. Paham yang kau usung itu ada kaitannya dengan dirimu yang menarik diri dari kami saat ini?Pemahamanku atas rasa syukur, sabar, dan ikhlas, tidak ada kaitannya dengan diriku saat ini yang kau anggap menarik diri. Tak lah. Tak sedalam itu. Setiap manusia dihadapkan dengan masalah, hanya ada dua hal yang dilakukannya. Satu, meruntuki diri sendiri dan mengeluh mengapa kesialan yang berupa masalah itu harus datang padanya. Kedua, terus mengikuti alur masalah itu, mencoba menyelesaikan, dan tetap tersenyum dan tertawa. Aku memilih yang kedua karena itulah hakikat hidup. Betapa hidup itu memang harus selalu dilewati dengan tawa. Betapapun besar masalahnya, ya tetap harus dijalani, harus diselesaikan. Meskipun sampai tak ada lagi tenaga tapi memang harus dijalani. Jika berhenti, maka kita tak akan bisa naik kelas. Hidup itu memang harus penuh warna. Betapa diriku saat ini sangat menghargai hidup, menyayangi hidup, dan berupaya untuk menikmati hidup. Aku ingin mencoba untuk mendapatkan kenyamanan dalam hidup dengan apapun kondisinya. Dengan semua masalah yang diberikan itu, berarti kita adalah manusia2 terpilih dan diberikan kekuatan yang besar untuk menerimanya. Saat kita diberikan tangis, pasti besok akan diberikan tawa. Saat kita diberikan tawa, pasti nanti akan diberikan tangis. Aku tak menyangkal jika kau mengatakanku menarik diri. Pada satu waktu manusia memang harus melakukan perenungan dengan dirinya sendiri. Berdialog dengan diri sendiri tanpa perlu menyertakan keberadaan orang lain, plus dengan pandangan mereka. Aku tak pernah ingin memuaskan keinginan ataupun pikiran manusia lain atas diriku. Hidupku sendiri sudah sedemikian berwarnanya. Maaf saja, aku tak tertarik untuk membuat warna seperti yang dinginkan atau yang dimiliki manusia lain. Aku ingin membuat dan menerima warna yang digoreskan pada kanvas hidupku. Tapi kenapa kamu tak pernah bercerita pada kami Va?Seringkali aku bilang bahwa hidupku sangat sarat dengan petualangan. Sangat ekstrim dan membuat orang seringkali tercengang. Tapi maaf, masalahku bukan lagi komoditas publik. Toh aku juga bukan selebritas yang setiap saat selalu menjeng di tayangan televisi. Aku menjalani hidupku seperti yang aku inginkan. Ini hidupku, ini warnaku, terserah orang akan menilainya seperti apa. Aku jalani apa yang ingin ku jalani. Yang penting, aku tidak pernah ingin mengganggu orang lain, dan aku hanya ingin meningkatkan kapasitas diriku sendiri, sehingga orang lain justru yang mendapatkan manfaat dari itu. Apapun yang terjadi aku tetap hidup di masyarakat, bukan di hutan. Sosialisasi itu perlu, tapi yaaa...... tak salah kalau pada satu saat aku ingin lebih meluangkan waktu dengan diriku sendiri dan Tuhanku. Hai, hidup itu indah. Jalani saja hidupmu, dan tak perlu merasa iri dengan peruntungan orang. Tak perlu merasa terganggu jika orang lain menyelesaikan masalahnya dengan cara yang tak seperti kebanyakan. Tak perlu juga merasa terancam. Jangan pernah anggap masalah itu masalah. Anggap masalah itu warna yang justru dengan banyaknya campuran warna akan menambah nilai tersendiri dalam lukisan hidupmu. Saat ini aku sedang belajar, belajar untuk menerima dan menikmati warna yang sedang digoreskan dalam hidupku. Protesku tak akan aku lontarkan pada manusia, ketidak kuatanku untuk melalui warna itu tak akan aku keluhkan pada manusia.... hanya pada Nya yang memang mengerti dan sedang kangen untuk kembali mendengarkan segala keluh kesah dan permintaanku. //Thanks a lot mbak Tia.... finally someone can make me see more clearly. Congratz for the wedding//.
|
Wednesday, November 12, 2008
|
me to him
|
Bohong kalau aku bilang aku tak butuh apapun darinya. Ya, aku butuh dan aku memiliki kepentingan padanya. Aku butuh dia untuk membuat aku tetap menjadi diriku sendiri. Butuh pandangan dia atas hal yang aku lakukan. Butuh dia untuk mengatakan tidak dengan segala alasannya. Butuh dia untuk menyarankan melakukan sesuatu lengkap dengan semua alasannya. Butuh dia yang bisa memberiku ketenangan. Padanya aku tak pernah menuntut apapun kecuali kebutuhan pikiran dan perasaan. Padanya aku hanya merasa kenyamanan dan tak pernah merasa sekalipun terpojokkan. Salah atau tidak.... sepertinya tak pernah ada ukuran untuk mengatakan salah atau tidak jika sudah menyangkut masalah perasaan. Perasaan jelas tak akan pernah sejalan ataupun disamakan dengan norma atau aturan. Tak kan pernah. Begitupun ketika aku memilih diam dan menikmati saat-saat singkat ketika bertemu dan tertawa bersamanya. Tak ada hal yang perlu dikatakan, karena semua sudah terkatakan lewat mata dan perasaan. Aku yakni hanya dengan diam, diapun akan menangkapnya. Ini masalah perasaan, jangan pernah batasi perasaan dan meremehkan perasaan. Orang paling logis di dunia pun satu saat akan merasa capek dengan kelogisannya dan kembali menggunakan perasaan. Aku suka padanya. Tapi ya titik, tak lagi koma. Aku sangat letih berhadapan dengannya. Terlalu capek untuk menebak-nebak apa sebenarnya yang dia pikirkan. Terlalu lelah untuk memikirkan apakah perkataanku, atau tindakanku akan dianggap tidak sopan dan tidak tahu aturan. Halahhhh.... capeeekkk deh. Ya, aku suka padanya. Titik, tak bisa koma. Dan memang tak mungkin koma meskipun aku pernah bilang dan percaya bahwa tidak ada yang tak mungkin di dunia ini. .
|
Friday, October 17, 2008
|
postingan Abdel
|
Dua postingan ini sengaja gw ambil dari friendsternya komedian Abdel Achrian. Sangat sederhana tulisannya tapi cukup dalam maknanya. ======= May 4th, 2006 by abdel-achrian
gue baca di gatra, disitu ada tulisan yang bilang kalo pepatah hindu percaya sama "semakin kau mencari kebahagian, semakin kau dapati ketidakbahagiaan".. buat gue, pepatah itu bener banget. Bahagia itu gak usah dicari, bahagia itu dateng sendiri. Di rehab ada motto yang bilang "do your thing right, and everything will follow" ini juga gue percaya banget. Sengotot apapun lo nyari kebahagiaan, tapi kalo caranya gak bener, yang lo dapet cuma opositnya… 1st post April 22nd, 2006 by abdel-achrian
Gue pernah denger kata2 bijak, Kalo elo mo nikmatin indahnya mentari fajar, elo harus ngelewatin gelapnye malam. Terserah elo gimana caranya ngelewatin malem, bisa tidur aje (tapi risikonye ketiduran ampe siang) atau lo mo begadang (tapi jadi lemes siang2nye) Sekarang ini idup gue lagi ada di fase malem. Usaha terus supaya bisa nikmatin mentari pagi tanpa perlu takut ketiduran ato nikmatin dengen mata sepet. Gue pernah denger lagunye rolling stones, U can’t always get what u want.. Sekeras apapun usaha lo, sebanyak apapun keringet lo yang keluar, bukan jaminan lo dapetin yang lo pengen. Sebab kita gak selalu bisa dapet yang kite pengen. Sekarang ini gue lagi dalem fase ‘nrimo’ apa yang gue punya, n usaha untuk dapetin yang gue pengen. Sebab akgirnya gue tahu, hidup ini adalah proses not the end. Gue pernah denger temen baek gue bilang gini, “Enak ye jadi elo, gak punya duit tetep happy” Hehehe…. gue bilang happy tuh ada disini n disini (sambil nunjuk otak gue yang didengkul dan dada gue (tepatnya dua jari dibawah susu kiri yang dipercaya sebagi letaknya QOLBU). Gue tanya ama die, emang duit lo di dompet ada berape? Die bilang 7 ribu perak. Trus gue tanya Lo bawa mobil gak? die bilang bawa. “Lo mo kemane sih abis ini?” “Gue mo pulang ke rumah” “Trus lo ngerasa resah karena uang lo cuma 7 ribu?” “Lah iya laaaah” “Emang bensin lo abis?” “Enggak” “Lo jadi gak happy?” “Iye… gue resah, langkah jadi kaku kalo gak megang duit gini” “Kalo tujuan lo ke rumah, ngapah lo jadi resah? biarpun uang di dompet lo ada sejuta, kalo tujuan lo pulang ke rumah aja kan gak kepake juga tuh uang. Sama aja. Gak ngaruh dompet lo gak ada isinye juga. Kalo tujuan lo pulang ke rumah lo gak perlu pake uang” “Lo mah enak… orang gila…” .
|
Monday, October 13, 2008
|
Keberanian menerima dan menjalani hidup
|
Selama ini manusia seringkali berbeban untuk menjalani hidup. Kenapa? Seringkali hidup yang sebenarnya dapat dijalani dengan mudah, berubah menjadi begitu sulitnya gara-gara dalam pikiran kita nyelip keinginan untuk mendapatkan ini dan itu, mencapai ini dan itu. Tidak salah memang ketika manusia memiliki keinginan. Lha wong memang sudah dari sononya manusia itu diberikan yang namanya nafsu. Sah-sah saja manusia berkeinginan dan bercita-cita. Tapi sebentar.... bagaimana jika kondisi keinginan, menginginkan, memimpikan, atau segala bentuk keinginan atas kepemilikan baik berbentuk fisik atau non fisik mulai mengusai otak, dan merebut hampir 50% lebih waktu manusia itu. Bagaimana ketika kemudian manusia yang sebenarnya dapat menjalani hidup dengan tenang2 saja, berubah total menjadi tak jelas dan malah jadi pemimpi paling absurd sedunia ketika menginginkan satu hal yang jelas tapi sebenarnya tak jelas? Kata motivator Mario Teguh, ketika manusia berkeinginan sangat besar maka kuatkan hati dan naikkan kualitas diri sehingga menjadi sangat layak untuk menerima keinginan yang besar itu. Dan jika manusia yang berkeinginan besar itu dilecehkan keinginannya oleh manusia lain maka dia harus segera berkata balik, "mungkin keinginan itu terlalu besar untukmu, tapi biarkan saya mencoba dan menerima keinginan atau wujud dari mimpi yang besar itu. Kualitas masing-masing manusia itu berbeda." Namanya juga motivator, ngomongnya gampang sambil senyum manis tapi implikasinya benar-benar susah. Kembali ke masalah keinginan, jadi manusia harus bagaimana agar tenang menjalani hidup? Ya gak ngapa-ngapain. Kunci pastinya hanyalah berusaha menerima apa yang saat ini terjadi, dan tetap tersenyum dalam menjalani hidup. Bagaimana cara mengimplementasikannya? Lha mbuh, wong aku sendiri juga lagi belajar. Satu hal lagi, manusia begitu cepat akrab dengan manusia lain, atau satu saat begitu mencintai manusia lain, tapi seringkali hal tersebut tak berlangsung lama dalam artian pada satu saat akan terjadi pertikaian yang berujung pada kebencian dan perpisahan. Seperti dua sisi mata uang yang berbeda, tapi tak dapat dipisahkan. Ego seorang manusia seringkali melampaui ego manusia lain, dan juga sebaliknya. Sekali dikecewakan maka tak akan lagi bisa kembali hubungan seperti semula. Bahaya? Mungkin. Pada satu titik aku merasakan hal seperti itu. Apalagi ego ku terkenal begitu besar. Jika semua ego itu dapat diselesaikan dengan mengalah, dan memaafkan tentu akan lebih baik. Tapi kembali prakteknya begitu susah dilakukan. Satu contoh kecil: ketika satu manusia menjalin hubungan baik dengan sesamanya dan dia begitu tepo seliro untuk tidak menyakiti manusia lain, tapi kenapa selalu manusia lain itu akhirnya hanya akan menyakiti dirinya. Ibaratnya sudah dikasih hati mau minta jantung. Anjrit!!! Apa yang terjadi kemudian? Jelas bahwa hubungan baik itu tidak akan pernah tersambung seperti semula. Tak ubahnya dengan gelas pecah, meski disambung dan direkatkan kembali tetap terlihat retakannya. Yah, hidup itu indah dengan segala macam pernak perniknya. Yang paling penting adalah belajar bagaimana menerima hidup itu dan menjalaninya. Kalau sekarang baru bisa jalan kaki, ya jalanin aja tanpa lupa bersyukur, kalau sudah waktunya pasti bisa naik BMW he he he he..... .
|
Sunday, September 21, 2008
|
Satu lagu Chrisye sebelum meninggal
|
SAMA SEKALI TAK mampir di pikiran Aryono Huboyo Djati, lagu ciptaannya akan menjadi tembang terakhir yang dinyanyikan Chrisye. Penggubah lagu ‘Burung Camar’ itu memang tahu kondisi kesehatan Chrisye memburuk, hanya menunggu keajaiban, walau tak menyangka akan secepat itu berpulang. Tak ada yang tahu — bahkan Damayanti Noor (Yanti), istri Chrisye, dan Acin, pemilik Musica Record — tiga pekan sebelum kepergian sahabatnya itu, sengaja ia “culik” Chrisye dari rumahnya untuk merekam lagu tersebut. Agar dibolehkan keluar rumah, kepada Yanti ia katakan akan membawa Chrisye melakukan terapi pengobatan alternatif di suatu wilayah Jakarta. Padalah, lepas senja itu, mereka berdua meluncur ke studio Musica, dan pulang ketika hari sudah malam. Setelah kurang lebih 23 tahun tak berkarya di bidang musik, sebuah lagu mendadak lahir dari kalbu Aryono. ‘Lirih’, judulnya. Saat menguntai nada-nadanya, di benak fotografer yang pernah mengundang decak kagum pengamat dan penggemar fotografi seantero negeri ini karena sebuah karyanya yang dipamerkan di hotel Nikko bisa terjual dengan harga 700 juta rupiah, hanya ada satu nama yang patut menyanyikannya: Chrisye. Ia pun mencari akal, harus membohongi Yanti, sebab sadar, apapun alasan yang disodorkannya, Chrisye takkan mungkin dilepas untuk merekam sebuah lagu di studio rekaman dalam kondisi sakit seperti itu. Aryono sempat tercengang ketika Chrisye langsung menyetujui persekongkolan yang dibisikkannya. Bahkan di studio Musica, di tengah rasa sakit yang mendera tubuhnya, Chrisye tak hanya mempelajari notasi ‘Lirih’ dengan tekun, ikut pula melakukan perbaikan lirik agar lebih bertenaga dan sejiwa dengan “roh” lagu. Bila suatu saat lagu itu anda dengar, saya yakin, takkan mudah percaya Chrisye menyanyikannya di kala kondisi tubuhnya sedemikian rapuh sembari menahan perih dan tinggal hitungan minggu meninggalkan dunia ini. Konsistensi suaranya tetap terjaga, bertenaga, subtil, selaras dengan nada lagu. Vokalnya yang menggetarkan estetika jiwa tak sedikit pun mengalami perubahan. Luar biasa! Bagaimana ia bisa melakukan itu? “Chrisye memang seniman yang luar biasa, Bang,” ujar Aryono menanggapi ketakjubanku. Ia selalu memanggilku ‘Abang’ walau umurnya lebih tua, saya menyapanya ‘Mas’ sesuai tata krama Jawa. “Ia sangat profesional, sulit mencari tandingannya.” Pengakuan doktor biologi kelautan dari sebuah universitas ternama di Jepang tetapi akhirnya “hanya” menekuni dunia fotografi itu, selama proses perekaman, tak sekalipun Chrisye mengeluhkan rasa sakit di tubuhnya. Malah bersikeras agar pengambilan vokal diulang hingga beberapa kali karena menurutnya belum memuaskan disebabkan tarikan napasnya yang tak lagi panjang seperti sedia kala, ketika masih sehat. “Itulah yang selama ini paling saya kagumi dari diri almarhum,” imbuh lelaki kurus itu. “Komitmennya tak pernah goyah. Kalau sudah menerima suatu tawaran, dia tak pernah bekerja setengah-setengah. Padahal, kondisinya saat itu …” Lagu berjudul ‘Lirih’ yang direkam tanpa sepengetahuan pemilik Musica itu baru diisi musik dasar piano yang dimainkan Aryono. Tak banyak yang tahu, ia amat piawai memainkan piano klasik dan jazz. Setelah halimun kabung yang menyelimuti keluarga Chrisye menguap perlahan-lahan, proyek rahasia Aryono dengan almarhum diungkapkannya pada Acin. Mulanya bos Musica itu tak percaya. Aryono pun memutar CD-nya. “Gila lu, enggak ngasih tahu gue!” ujar Acin setelah mendengar lagu tersebut. “Aduh, gue sampe merinding mendengarnya…” Bersama Acin, Aryono kemudian membawa lagu tersebut pada Yanti, sembari memohon maaf atas kebohongannya. Perempuan separuh baya yang begitu setia mengurus suaminya sebelum dan selama sakit itu meneteskan air mata saat nyanyian terakhir suaminya mengalun. Kepada Acin, Aryono mengajukan satu syarat. Bila lagu tersebut dipublikasikan dalam album kompilasi lagu-lagu Chrisye yang sedang digarap Erwin Gutawa, maka yang mengaransemen musiknya harus Viky Sianipar. Mulanya Acin ragu karena terlanjur menganggap Viky hanya jago mengolah musik etnik, namun setelah diyakinkan Aryono dengan membeberkan fakta bahwa Viky termasuk langganan hajatan pesta musik jazz bertaraf internasional bertajuk ‘Java Jazz’, akhirnya setuju. Kabar tersebut langsung disampaikan Aryono pada Viky. Musikus muda penganut aliran world music ini langsung jengah, selain tak percaya. Awalnya Viky tak bersedia menerima tantangan Aryono, semata-mata karena amat hormat pada Erwin Gutawa. Akhirnya mereka berdua sepakat, Viky sowan dulu ke musisi plus aranger yang, kepada saya, pernah diakui Viky amat kagum lewat album ‘Tribute To Koes’ dan album Chrisye ‘Badai Pasti Berlalu’ itu. Singkat cerita, di sela kesibukannya, antara lain menggarap dua lagu untuk album rohani Krisdayanti, Viky mulai mengerjakan musik dan aransemen lagu terakhir Chrisye tersebut. Sejatinya, lagu dan lirik ‘Lirih’ menitis dari pengalaman pribadi Aryono. Fotografer yang jatuh cinta pada alam dan budaya Batak ini (sudah berkali-kali ia jelajahi Samosir, Toba, dan pernah pula menghadiri upacara ugamo Malim pimpinan Monang Naipospos, semua diabadikannya lewat potret-potret yang tidak saja indah tapi juga menakjubkan), ternyata baru mengalami patah hati dengan komunitasnya di alam maya sesama fotografer. Karena sebuah insiden, akhirnya ia mundur dari keanggotaan paguyuban para ‘Mat Kodak’ yang anggotanya puluhan ribu itu. Surat elektronik pengunduran dirinya ditulisnya dalam bentuk puisi — yang kemudian menjadi lirik awal ‘Lirih’. “Alasan yang agak sentimentil memang, tapi saat itu saya hanya mampu menulis surat seperti itu,” ujarnya untuk menjawab pertanyaanku, mengapa menulis surat berbentuk puisi. Rupanya, hatinya tengah gundah-gulana saat dan sesudah berselisih dan akhirnya memilih pisah dengan kawan-kawan virtualnya itu. “Perasaanku campur-aduk. Kecewa, marah, sedih, sekaligus kangen, layaknya orang pacaran.” Jujur diakuinya, sebetulnya amat berat di hatinya meninggalkan komunitas berinisial ‘FN’ itu. Chrisye mendengar curahan hati Aryono, walau kemudian memoles lirik ‘Lirih’ seakan sebuah kisah dua insan yang memilih berpisah kendati memedihkan hati. Viky Sianipar sudah mengemas notasinya lewat iringan piano dan orkestra digital dengan rima mellow hingga makin berjiwa, dan sublim. Ketika pertama kali diperdengarkan Aryono ke telingaku, suatu malam menjelang pagi di studio Viky, saya benar-benar takjub dan merinding. Tembang sedih itu dialunkan Chrisye begitu indah. Vokalnya masih seperti dulu, ketika tahun 1979 untuk kali pertama kudengar dan baru kutahu di negeri ini ada seorang biduan bersuara unik bernama Chrisye, yang menyanyikan ‘Merpati Putih’ sepenuh hati hingga langsung membius jiwa dalam album soundtrack film ‘Badai Pasti Berlalu’. Alangkah beruntungnya kau, Aryono, menggubah sebuah lagu yang menggetarkan kalbu untuk dilantunkan sang legenda, dan itu adalah nyanyiannya yang terakhir. (oleh: Suhunan Situmorang) (diambil dari: http://blogberita.net/2007/08/07/satu-lagu-chrisye-sebelum-meninggal/) ====== LIRIH
Kini tlah kusadari Dirimu tlah jauh dari sisi Ku tau tak mungkin kembali kuraih Semua hanya mimpi
Ingin ku coba lagi Mengulang yang telah terjadi Tetapi semua sudah tak berarti Kau tinggal pergi
Adakah kau mengerti kasih Rindu hati ini Tanpa kau disisi Mungkin kah kau percaya kasih Bahwa diri ini Ingin memiliki lagi
Kusadari kembali Ternyata semua khayal diri Kini ku tau tak mungkin ada waktu Untuk mencintaimu lagi[gw suka lagu ini. terus ingatkan gw bahwa waktu itu cepat berlalu. tidak ada yang bisa mengubah apa yang telah terjadi. jangan sia-siakan waktu. jangan memendam hal yang mesti dikeluarkan, dan jangan menunda apapun. nikmati hidup sambil tetep senyum meski bete abis. dari pada tar nyesel lho].
|
Tuesday, September 16, 2008
|
ilmu nulis menulis
|
menulis buku, apalagi sastra itu tidak perlu berpikir rumit bagaimana menentukan awal mulanya. apapun yang tersirat dalam pikiran, tuangkan saja langsung dan jangan mencoba untuk melogikanya. setelah apa yang ada di kepala tertuang, maka cobalah untuk membacanya sekali, duakali. kemudian masukkanlah logika ketika membaca yang ketiga kali. keempat kalinya mulai mengedit tulisan itu, dan kelima kali baca kembali dan jangan gatal untuk mengubah kecuali hanya tata bahasa. teorinya sih gampang, prakteknya? ampuuuunnnn deeeehhhhh dateline buku neeeeehhhhhhh .
|
Sunday, August 31, 2008
|
The art of Feeling
|
Dunia akan mengikuti perasaan. Turuti kata hati, jangan pakai logika, dan kepentingan. Hanya dengan perasaan thok. Orang yang logis, suatu saat akan bosan dengan kelogisannya dan kembali pakai perasaan. Kalau pancaran perasaan itu kuat, maka akan tertangkap dan terbalas. Do you dare to do that? What kind mechanism to do that? Halah.... ============= mungkin memang sudah tak lagi bisa diteruskan. dimulaipun tidak. menjadi sesuatu yang baru meski dalam kemasan lama sepertinya tak jelek juga. yang penting memang ada satu keinginan untuk berubah menjadi baik. semuanya hanya perlu dipikirkan jalan keluarnya dan mungkin juga nanti malah akan menjadi baik. kalau sekarang belum diberi berarti memang masih mungkin untuk bertahan, meski secara logika sudah tak lagi bisa. apakah ini menunda, atau hanya sekedar mencari pembenaraan atas ketidak mungkinan? mungkin juga tapi tetap di semua sisi logis ada satu hal yang lebih besar. apakah aku masih percaya dengan keajaiban seperti waktu aku masih berusia 5 tahun? ya, aku masih percaya adanya keajaiban meski saat ini begitu banyak hal yang sedikit demi sedikit mengamplas sisi kepolosan memancar saat kecil. memandang hidup memang tak bisa selalu dengan kepolosan. kepolosan yang selalu disamakan dengan naif. mungkin tak juga naif, hanya sedikit merasa bahwa itu tak ada atau justru ada. jika itu keluar dan lepas memang membahagiakan. betapa aku ingin merasakan kelegaan itu sekarang, tapi sepertinya pemilik hidup masih ingin mengujiku. mungkin tidak sekarang, tapi nanti........ yang tak lama lagi. aku hanya butuh meningkatkan keyakinan dan kesabaran. Itu saja. .
|
Monday, August 18, 2008
|
an affair not to remember
|
Pria : Bisa aku mengajakmu hang out malam ini? Perempuan : Sepertinya tak bisa. Aku banyak acara. Pria : Dulu kau tak pernah menolakku. Kau berubah sekarang. Perempuan : Mungkin juga. Pria : Mengapa begitu? Perempuan : Mungkin karena aku sudah bosan padamu. Tak lagi menemukan hal yang mampu menarikku dalam pusaran kegembiraan seperti dulu. Aku sudah membacamu, dan itu sudah cukup. Aku bosan dan aku memutuskan berhenti. Pria : Semudah itu? Perempuan : Ya. Semudah itu, tak perlu ada yang dirumitkan. Kau dan aku bersama karena kesepakatan untuk bersenang-senang. Di mana tak lagi ada kesenangan, maka aku dapat berhenti kapanpun aku mau. Pria : Sesadis itu? Perempuan : Mmmmmm..... aku merasa tidak lagi mendapat kesenangan. Hubungan seperti ini tak lagi menarik jika dirumitkan dan dicampur adukkan dengan masalah serius. Hubungan ini hanya kegirangan sesaat, berbeda dengan komitmen pernikahan. Cepat atau lambat pasti berakhir, entah itu dari aku atau kamu. Saat ini aku yang merasakannya. Jadi maaf saja, kalau aku sudah merasa bosan. Pria : Kamu tak lagi ingat masa-masa kita bersama dulu? Perempuan : Sampai kapanpun aku pasti mengingatnya. Kau dan yang lain memiliki hal yang berbeda. Jangan salah sangka padaku. Dari mula aku tak pernah menggodamu, dan tak berniat menggodamu juga saat ini. Hanya semua sudah cukup, aku tak lagi merasakan apapun. Kesenangan itu sudah lewat. Kembali pada yang memang berhak untuk memilikimu, dan aku akan menjalani hidupku sendiri. Kau tak salah apapun padaku, hanya aku yang sudah merasa bosan padamu. .
|
|
| | | | | | | | |