<body bgcolor=white text=black link=black vlink=black alink=black marginwidth=0 marginheight=0 topmargin=0 leftmargin=0 rightmargin=0 bottommargin=0>
You can not blame my emotion because it will never fade away. I do not care about bad affinity. Its about me. Myself........


Visitor: hits.
Visitor online: online


These days the world's events are strange. They say this and they say that. There is no point arguning. I am better off dozing.....


NEWS
→Herald Tribune
→New York Post
→Washington Post
→Tempo
→Bisnis Indonesia
→Kompas
→Pantau
→MinergyNews
→Platts


DJOGJA's NEWS
→Kabare Jogja
→Gudang Info tt Yogya
→Angkringan
→Jawa Palace
→Primbon Jawa
→Sastra


JAZZ NEWS
→Horizon
→GRP
→Warta Jazz
→Jazz FM
→Dave Koz
→Fourplay
→Lee Ritenour



FILEs

  • January 2004
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • August 2005
  • September 2005
  • October 2005
  • November 2005
  • December 2005
  • January 2006
  • February 2006
  • March 2006
  • May 2006
  • June 2006
  • July 2006
  • August 2006
  • September 2006
  • October 2006
  • November 2006
  • December 2006
  • January 2007
  • March 2007
  • April 2007
  • May 2007
  • July 2007
  • August 2007
  • September 2007
  • October 2007
  • November 2007
  • December 2007
  • February 2008
  • March 2008
  • April 2008
  • May 2008

































  •    
    Angin Savana
     
    Monday, May 19, 2008

    OUT OF SIGHT OUT OF MIND 

    Dulu, gw termasuk jadi orang yang sempat ikut arus romantisme dan melankolis ala sinetron tanah air yang sebagian besar sangat minim edukasi itu. Setiap saat ada perpisahan, entah sohib yang kebetulan sesama kantor mendadak resign, teman yang akan menetap di luar negeri untuk bertugas atau melanjutkan pendidikan, atau teman serumah yang pindahan entah karena sudah punya rumah sendiri atau pengen pindah, terasa di satu sisi hati ada perasaan berat melepaskan mereka.

    Seorang teman yang dulu pernah dekat bilang, "kenapa harus berat, mereka sudah memilih jalannya masing-masing. Apakah itu mereka atau kamu, itu hanya masalah waktu. Perpisahan adalah hal yang biasa, entah pertemanan, ataupun hubungan pribadi sekalipun."

    Gw sangat menerima argumen teman yang dulu pernah dekat itu, meski -seperti yang kubilang tadi- satu sisi masih tersisa rasa sok melow plus menyek-menyek ala sinetron. Tapi sekarang setelah beberapa lama, gw merasa perkataan itu benar adanya. Plus, saat melintas di toko buku pasar festival tadi siang, mataku sempat membaca tulisan di satu majalah, bunyinya "Out of sight out of mind".

    Yep, judul segede bagong yang menjadi lapsus (laporan khusus) majalah hiburan itu, sangat tepat.

    Gw punya banyak contoh nyata untuk membenarkan "Out of sight out of mind" itu......

    satu, temen sekos....
    setelah dulu gw memutuskan untuk tidak menetap di rumah Manggarai bersama abang (alm), gw mulai jadi anak kos. Tempat kos pertama kali berada tak jauh dari kantor. Tempat kos itu sangat murah dan nyaman, dengan lima orang teman kos yang berasal dari berbagai suku. Kami berenam sangat kompak dalam segala hal, dan akhirnya gw sangat dekat dengan seseorang yang bernama sebut saja Nana -gw lupa namanya-. Satu ketika dia memutuskan untuk pindah ke Pancoran ke rumah kontrakan karena alasan suaminya yang datang dari Semarang tidak perlu tidur di hotel jika berkunjung. Alasan itu, plus ngirit ongkos menjadi pertimbangan dia pindah.

    Saat mengantarkannya pindahan, dan perpisahan terjadi menjadi berat. Waktu itu aku merasa bahwa tidak akan ada lagi teman se kos yang sebaik dia. Begitu ngerti meski gw anak bawang yang baru merasakan hidup nge kos. Selama beberapa saat gw masih suka mengunjungi dia di rumah kontrakannya di pancoran itu. Tapi lama-lama kunjungan itu berkurang dan akhirnya saling telpon pun tak pernah. Dia tak pernah menghubungi gw, begitupula sebaliknya. Hingga saat ini, sudah hampir empat tahun tak terdengar kabar lagi tentang dirinya.

    kedua, temen kerja....
    dulu gw bersahabat dengan teman sekantor. Kegiatan yang sangat asyik dilakukan bersama, dari hang out, makan, atau mencoba hal-hal baru. Satu ketika dia memutuskan untuk resign dari kantor. Sekali lagi ada perasaan miris. Sekali lagi gw merasa kehilangan, dan takut merasa kehilangan waktu bersama. Ketika dia berada di tempat baru, masih dia sering menghubungi gw atau jalan bareng dengan anak-anak lain. Tapi lama-lama sangat jarang kontak, dan main bareng sudah menjadi hal yang sangat sulit. Sekali kontak, pasti itupun dia lakukan bukan karena menyapa menanyakan kabar atau apapun yang bersifat personal, tapi langsung pada pokok permasalahan menanyakan ini itu yang berhubungan dengan pekerjaan dia yang dia tak tahu makanya baru menghubungi gw. Blas, gak ada basa-basinya sedikit pun. Hubungan persahabatan akhirnya berubah menjadi hubungan pertemanan itupun bila ada kepentingan.

    ketiga, teman hang out
    Dulu gw punya pasukan yang kemanapun pergi selalu bersama. Entah itu makan bareng, nonton pertunjukan, atau jalan bareng ke mall atau sekedar berpetualangan gak jelas. Hampir dua tahun ini, pasukan dimana gw dulu hang out mulai berpencaran kemana-mana.
    Gw masih dengar anggota pasukan ini jalan bareng atau tetap melakukan hal yang dulu pernah kami lakukan. Perbedaannya sekarang adalah.... minus gw.

    Alasan klise pernah gw dengar dari salah satu personilnya.... "lu kan sibuk Va, jadi ketika kami jalan kan gak enak untuk mengganggumu." Alasan klise yang sebenarnya tak masuk akal gw sama sekali.

    Ada satu hal yang sebenarnya justru akan gw terima jika mereka bilang begini, "kamu sukanya kan pulang cepat, sok kadang pertunjukkan belum bubar tapi udah pengen pulang." Atau mungkin akan lebih masuk ke logika gw ketika mereka mengusung alasan yang lebih bagus dan tepat seperti dulu teman gw pernah bilang itu langsung ke gw, "lu kan sekarang sudah gak pake mobil Va, jadi ngapain kita ngajak kamu kalo toh akhirnya hanya pake taxi."

    Well, life is always change isn't??? He he he he he........ (kualitas personal pada akhirnya berpengaruh pada kualitas pertemanan pula)


    Kayaknya tiga contoh itu sudah membuktikan kebenaran kalimat OUT OF SIGHT OUT OF MIND itu. Benar, semua orang berubah, semua orang pada akhirnya akan memprioritaskan kepentingan sendiri, apalagi kalau sudah berkeluarga, harus memenuhi kebutuhan sendiri, ada yang harus fokus tidak hanya diri sendiri, teman itu ya teman beda dengan keluarga, coba kalau kerjaan gak beres pasti akan dinilai gak perform kan kasihan keluarganya dan bla... bla.... bla...bla... bla... bla... preettt.... prottt.... preeetttt........

    Ok, pada akhirnya orang akan selalu mementingkan keluarganya, lebih tepatnya keluarga inti. Teman hanya sekedar pembantu yang sesekali, seduakali, atau setigakali, mentok seempatkali membantu. Setelah itu, ya sudah hilang dilupakan demi kalimat....... memenuhi kebutuhan keluarga.

    Tapi kenapa analog-analog ini menjadi begitu berubah, ketika gw melakukan hal yang sama. Contoh, gw mattin handphone untuk konsentrasi merawat nyokap gw yang sakit, kayaknya seluruh dunia komplain kenapa tak bisa dihubungi. Ketika gw diam dan konsen utk menyelesaikan masalah gw, semua orang merasa ribut karena gw gak curhat ke mereka. Ketika gw pengen menghabiskan waktu sendiri, hampir seluruh planet ini heboh, kenapa gw yang periang jadi mendadak diam.

    Fieeewwwww............ betapa terkenalnya gw. Seperti gw mendadak perlu memberikan komentar seperti pejabat publik atau selebritis kondang yang harus setiap saat klarifikasi setiap detik aktifitasnya karena label MILIK PUBLIK sudah menempel di jidatnya.

    OUT OF SIGHT OUT OF MIND........ setelah beberapa masalah yang menimpa gw, pada akhirnya gw menerapkan hal itu ke diri gw sendiri. Dengan berpegangan pada keyakinan bahwa TIDAK ADA ORANG LAIN YANG DAPAT MENYELESAIKAN MASALAHMU KECUALI DIRIMU SENDIRI. Ketika kita berbuat baik pada orang lain, jangan pernah mengharapkan orang yang sama akan berbuat baik padamu, tapi justru orang lain yang tidak pernah kau sangka justru akan menolongmu.

    Gw pernah ngobrol dengan seorang sahabat dekat ketika dalam sekali dua kali kesempatan kami hang out bareng. Dia bilang gini, "Va, gw udah gak berminat untuk nambah teman lagi. Gw punya banyak temen meski tak sebanyak lu, tapi teman gw itu sudah gw kotak-kotakan. Teman ini, itu... masuk kotak teman hang out, teman itu ini... masuk kotak teman kerja, teman ini, itu.... masuk kotak teman luar kantor, dan satu, dua, tiga, empat,.... masuk ke kotak privacy."

    "Dengan bertambahnya umur, pada akhirnya teman-teman atau kenalan kita akan terseleksi dan kita masukkan pada kotak yang tepat. Kita akan sortir sendiri, dan khusus untuk kotak privacy, dari ribuan orang yg kamu kenal Va, paling hanya masuk maksimal empat orang. Dan itulah yg akrab kamu sebut sahabat dalam arti sebenarnya."

    "Satu lagi, jangan pernah kamu berteman dengan orang-orang yang justru menghabiskan energimu. Jangan kau temani orang-orang yang selalu bilang TAK MUNGKIN KAMU BISA. Karena mereka itulah yang punya andil besar dalam kehancuranmu. Seperti kamu bilang padaku.... TIDAK ADA YANG TAK MUNGKIN DI DUNIA INI."

    Yep, itulah nasehat yang sampai sekarang masih gw pegang.
    Dan keyakinan itulah yang membuat gw berjalan sesuai dengan prinsip gw sekarang. Jika gw dianggap aneh dan berubah, yah terserah orang sajalah menilai. Toh, gw juga tidak hidup dari pandangan orang. Orang toh tidak akan ngasih gw makan dari pandangan mereka.

    Hidup ini terkadang aneh memang. Tapi jangan lupa, bahwa sejatinya manusia ini hanya boneka Tuhan yang pada akhirnya akan teronggok lemah tersimpan dalam kotak boneka yang gelap usai pertunjukan.


    .

     
    Wednesday, April 30, 2008

    Hidup itu...... 

    Hidup itu.........
    sungguh sulit mendefinisikannya.

    Aku hampir kehilangan ibuku. Sesaat beliau ada dalam pelukanku, tak dapat bernafas, tak jelas berbicara, dan tak fokus menatap siapapun yang ada di situ. Stroke menyerang tepat saat fungsi jantung hanya 30% untuk menyangga hidup beliau. Saat itu, betapa satu kata maaf terasa menjadi berat dan tak berarti. Aku berkejaran dengan waktu, berkejaran dengan masa dan ketakutan ketika berhadapan lagi dengan situasi yang pernah terjadi saat ayahku diambil oleh Pemilik nya.

    Satu kata maaf dari mulutku tak ditangkap sama sekali maknanya oleh seseorang yang melahirkanku. Saat itu, semua yang kumiliki, semua yang aku banggakan sama sekali tak berarti. Betapa hidup itu sangat singkat, keberadaan kita bersama sesorang yang kita sayangi pun -sebenarnya- jauh lebih pendek dari yang kita sangka.

    Aku mungkin tak akan pernah tahu dan tak akan pernah dapat mendefinisikan dengan tepat apa arti hidup. Aku bukan filosof, atau orang yang memiliki gelar berderet-deret nyaris menghilangkan namanya sendiri.

    Tapi mungkin aku bisa menjawab jika seseorang menanyakan, "Sava, bagaimana hidupmu?"

    Sontak aku akan menjawabnya dengan lantang, "Hidupku penuh warna, hebat, penuh petualangan yang ekstrim. Gila... mendebarkan."

    Ya, hidupkan pernuh warna, sangat hebat, sarat petualangan ekstrim.
    Aku tersandung dan jatuh, mencoba bangkit, berjalan dua langkah, terjatuh di lubang yang tak terlihat, benjol, mencoba keluar dari lubang, berjalan lima langkah, dihajar sedemikian rupa hingga babak belur hingga nyaris tak dapat bangun. Dengan sisa kekuatan, mencoba mencari pegangan, dan kembali berjalan meski tertatih.

    Tingkat itu semua sudah ku alami. Aku naik tingkat meski harus babak belur, benjol, bejut, robek sana sini. Pada akhirnya tidak ada seorang pun yang dapat menolong kita kecuali diri kita sendiri dan yang punya Hidup.

    Masalah itu jangan di cari, dia akan datang sendiri mengetuk bangunan hidupmu.
    Jika kamu punya waktu yang banyak, silahkan cari masalah itu. Tapi jika kamu tak punya waktu, jangan pernah datang mengundangnya, meski itu hanya dalam pikiranmu saja.

    Sekarang yang kuinginkan dari hidupku hanya kesempatan untuk menikmati sebentuk ketenangan yang sebenarnya. Ketenangan yang membuatku dapat menjalani hidup dan mencapai tujuanku dengan ringan, apa adanya. Simple, jauh dari kerumitan. Itu saja.



    .

     
    Sunday, April 20, 2008

    Short conversation 

    Short confersation between doctor and patient't relative at the alley of KL hospital in the end of this week.




    Doctor : Please prepare yourself, the function of her heart only 30%........ Anything can happen right now.


    Relative : What must I do now?


    Doctor : Technically I will do the best thing I have to support her. And you..... just pray. Pray.... as much as you can.


    Relative : ................... (please.... please....please, I am bagging YOU, not now).




    .

     
    Saturday, April 12, 2008

    My Tarot's Symbol 


    You are The Empress


    Beauty, happiness, pleasure, success, luxury, dissipation.


    The Empress is associated with Venus, the feminine planet, so it represents,
    beauty, charm, pleasure, luxury, and delight. You may be good at home
    decorating, art or anything to do with making things beautiful.


    The Empress is a creator, be it creation of life, of romance, of art or business. While the Magician is the primal spark, the idea made real, and the High Priestess is the one who gives the idea a form, the Empress is the womb where it gestates and grows till it is ready to be born. This is why her symbol is Venus, goddess of beautiful things as well as love. Even so, the Empress is more Demeter, goddess of abundance, then sensual Venus. She is the giver of Earthly gifts, yet at the same time, she can, in anger withhold, as Demeter did when her daughter, Persephone, was kidnapped. In fury and grief, she kept the Earth barren till her child was returned to her.


    What Tarot Card are You?
    Take the Test to Find Out.








    P.S. ANTARA PERCAYA DAN GAK NIH, TAPI EMANG BANYAK BENERNYA SIH???? ^_^
    (ngutip dari blonya ROI. Thx bro' )


    .

     
    Thursday, April 03, 2008

    sometimes at Ronnie Scott's cafe 

    Aku akrab dengan Ronnie Scott's dari cerita abang di sela-sela international call yang dilakukannya semasa masih hidup. Dia sangat suka jazz cafe yang beraristektur sederhana, jauh dari gaya barat yang terlalu berat yang berada di satu sudut kota London itu.

    "Kamu tahu Va, ketika kamu di luar pasti tak tertarik untuk masuk. Arsitekturnya sangat biasa, tapi ketika kamu sudah masuk di dalamnya, sebagai pecinta jazz pasti kamu akan merasakan kenyamanan yang disuguhkan," tuturnya saat itu.

    Ronnie Scott's cafe memang cafe yang tidak berbeda dengan cafe-cafe Eropa lainnya. Interior menyajikan kehangatan dari lantai berpanel kayu, dan lampu-lampu duduk yang berada di setiap meja bersofa merah. Sementara panggung kecil yang tepat
    menghadap pintu keluar itu tak jauh beda dengan panggung-panggung kecil di cafe-cafe jazz sepanjang New Orleans. Seperti tak ada nilai yang bisa dibanggakan, bahkan di Inggris, cafe ini bahkan termasuk dalam jajaran cafe skala kecil.

    Meski cafe kecil, tapi satu hal yang membedakan Ronnie Scott's cafe dengan cafe lain yang bertebaran di sepanjang London. Cafe ini selalu menampilkan penyanyi jazz kenamaan. Setiap penyanyi jazz baik itu yang sudah terkenal maupun belum akan merasa belum lengkap jika belum menampilkan aksi panggung secara langsung di Ronnie Scott's cafe ini.

    Tak terhitung mulai dari Laura Fygi, Chatt Baker, Jamie Cullum, Liane Carroll, Becky Duke, Shakkatak, Josie Frater, Curtis Mayfield, dan segudang penyanyi jazz dari yang terkenal hingga yang tak aku kenal ada di sini. Tak ketinggalan pentolan jazz
    seperti Stan Getz, Ben Webster dan Donald Byrd pernah menunjukkan kepiawaian mereka di tempat ini.

    Bahkan tak jarang para penyanyi jazz ini mengabadikan pertunjukkan langsungnya dalam bentuk album, bahkan dengan bangga mereka menorehkan live perform at ronnie scott's cafe di sampul album mereka.

    "Aku ingin bawa kamu ke sini kalau kamu ke London nanti Va. Kamu pasti gak mau pulang dan melupakan apa yang memenuhi isi kepalamu itu," kata Abang.

    Ya, jazz memang selalu membuatku tak ingin pulang. Jazz selalu dapat membawaku mengembara dan mengurai kusut masai di kepala. Mengurai, memilih, dan akhirnya membuat kusut lagi. Masing-masing orang memiliki cara sendiri untuk mengurai masalahnya.

    Aku jadi teringat dengan perkataan seorang teman pernah bilang, "Va, kalau manusia itu lagi di kasih cobaan, atau masalah pasti itu akan membuat dia berpikir. Tapi kalau dia dikasih senang terus maka dia tidak akan berpikir keras. Kematangan dan kebijaksanaan itu selalu muncul setelah kita melalui masalah berat. Hal-hal yang "utama" itu seringkali nggak gampang."

    Yah, kalau jazz bisa jadi pelepasan kekusutan secara massal, mungkin cara pandang dunia ini menjadi lebih sederhana. Pabila jazz dapat membebaskan diri dari kegilaan dunia ini sementara, maka pergi ke Ronnie Scott's di 47 frith street Soho London
    barang sekejap mungkin sedikit membahagiakan juga.

    .

     
    Saturday, March 22, 2008

    menjadi SEMELEH SELEH di titik NOL 

    Aku tak pernah ingin menyerah,
    tapi aku tahu saat untuk pasrah

    Apakah masih berarti kalau aku kalah?......


    (menahan emosi sangat sulit. belajar menahan diri sangat sukar. tapi itulah hakikat sabar)


    =========


    Setelah hampir dua bulan di Mt Elizabeth Hospital, sekarang ibuku menambah record nya mondok lagi di rumah sakit. Kali ini penguasa tunggal ndalem Ngayogjokarto Hadiningrat itu pasrah untuk dipindahkan ke International Heart Institute di
    Kuala Lumpur Malaysia, setelah sejumlah argumen logis sampai realistis dikemukakan. Alasan untuk membawa beliau ke Malaysia karena RS di situ terkenal bagus, jauh dari malpraktek, dan murah dibandingkan Singapura, apalagi Jakarta tentunya.

    Sebenarnya aku tidak ingin melihat beliau masuk lagi ke rumah sakit. Hampir separuh hidup orang tuaku satu-satunya ini dilewatkan dengan sejumlah agenda medis, mulai dari check up, puasa, rontegn dsb...dsb.... Di usianya yang menjelang senja ini aku ingin beliau lebih fokus menikmati hidupnya di rumah adiknya di Batu, Malang. Tak jarang aku selalu melihat miris pada saat memandang wajah beliau saat tidur. Wajahnya yang mulai tirus, keriput di sana sini, nafas yang terkadang tersengal-
    sengal.

    Satu hal yang membuatku semakin sedih sampai saat ini aku belum dapat memenuhi keinginan beliau. Namun namanya hidup, seringkali kenyataan selalu berbanding terbalik dengan keinginan. Aku tahu itu, dan beliau juga tahu pasti itu. Toh, kalimat
    itu juga aku dapatkan dari beliau sendiri. Satu hal yang menjadi pikiranku saat ini adalah kalimat beliau sebelum aku pulang ke Jakarta.

    "Kowe kudu mulai noto uripmu. Urip ki sedhelo, wektu ki cepet, ojo nganti kowe gelo tiba mburine nduk. Nek kowe
    wis milih, ojo nganti mbok gelani pilihanmu. Sak jatine urip ki mung nglakoni kanti pasrah lan sabar. Nek kowe lagi ngrekoso, kowe kudu ikhlas, ning nek kowe lagi seneng, ojo nganti lali ngucap syukur yo."


    [Kamu harus mulai menata hidupmu. Hidup itu sebentar, waktu cepat berlalu. Jangan sampai kamu menyesal nantinya nak. Jika kamu sudah menentukan pilihan atas sesuatu, jangan pernah menyesalinya. Sebenarnya hidup itu hanya menjalani dengan pasrah
    dan sabar. Jika kamu sedang susah, kamu harus ikhlas, tapi jika sedang diberikan kesenangan, jangan pernah lupa bersyukur ya.]


    Selama ini aku dikenal sebagai anaknya bapak. Aku mewarisi fisik, sikap egaliter dan semua hal yang bersifat membumi beliau. Sementara dari sisi emosi yang meledak-ledak plus memiliki gengsi yang besar, aku dikenal menuruni sifat ibu. Kedua orang
    tuaku itu memang memiliki sifat yang bertolak belakang, tapi itu yang menyatukan mereka. Dan dua sifat yang bertolak belakang itu yang membuatku bertahan hidup hingga saat ini. Satu hal yang membuatku terus bertahan ditengah ketidaknyamanan adalah
    keyakinan jika aku jatuh, tidak hanya aku saja yang jatuh, tapi ibuku akan jatuh juga.

    Yep, mungkin di tengah sakit beliau itu, beliau tetap melihatku sebagai anak kecil yang berapa puluh tahun lalu ditimang-timangnya dengan gemas. Sekarang beliau melihat aku masih berdiri di satu titik yang belum beranjak naik selama enam tahun
    ini. Karena kebodohanku, aku memang belum beranjak kemana-mana. Sesal memang selalu datang belakangan, tapi tidak ada kata terlambat.

    Aku pasti dapat melewatinya, karena Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kekuatan mahluknya. Aku pasti bisa, selama ini aku berhasil. Tidak ada hal yang mustahil di dunia yang makin menua dan lelah ini. Jika di usiaku sekarang ini, aku
    harus mulai dari titik nol lagi, aku pasrah, dan menjalaninya dengan ikhlas. Pasti semua ini akan berlalu juga.

    Seorang teman pernah bilang padaku, "Va, jika kamu merasa tidak nyaman, maka dengan sumber daya yang kamu miliki, kamu bisa pergi dan menciptakan kenyamanan dengan apa yang kamu miliki. Tapi jika kamu tidak memiliki apapun, maka kamu harus bisa
    membuat kenyamanan ditengah ketidak nyamanan itu,
    hingga pada akhirnya sumber daya itu yang akan datang menghampirimu."

    Hmmmmmm........ hidup ini indah, dan selama ini aku selalu melewatkan keindahan itu.
    Di titik NOL ini aku mulai belajar lagi, dan semoga jalan itu terbuka sehingga semua ini berlalu tanpa terasa. Amien.

    .

     
    Thursday, March 13, 2008

    FIN 

    You give me something that makes me scared alright
    This could be nothing but I'm willing to give it a try

    I never thought that I'd like someone that was someone else's dream......*




    [finally FIN]


    -James Morisson's song-

    .

     
    Monday, March 10, 2008

    Java Jazz 2008 dan Kasus Bubi Chen 

    Gebyar perhelatan agung Java Jazz 2008 telah lewat dari pandangan.
    Secara keseluruhan selama dua hari berturut-turut dari tiga hari konser yang sempat aku lihat, nampak banyak perubahan dan tambahan di sana sini. Memang lebih bagus dibandingkan sebelumnya tapi menurutku gebyar Java Jazz semakin lama hanya fokus pada muatan keuntungan bisnis semata. Lebih fokus pada sisi komersial dibandingkan dengan musik jazz itu sendiri.

    Perubahan yang cukup menarik dan memang tepat untuk ditiru jika ada acara akbar seperti ini adanya pameran yang menyertakan UKM hasil kerjasama dari Departemen Perdagangan dan Kadin Indonesia.

    Selain itu di 2008, penyelenggara mulai menyertakan lebih banyak pemain dalam negeri dibandingkan dari luar negeri. Tidak kurang mulai dari RAN, Yopie Item feat Ermy Kulit, Bhaskara 2008, Nial Djuliarso, dan jam session dari pemain kawakan Bubi Chen, Ireng Maulana, Benny Likumahuwa, dan Beni Mustafa menyemarakkan acara yang sempat dilihat oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta keluarganya.

    Lebih dari itu, menurutku kekuatan Java Jazz 2008 ini lebih karena nilai jual dari The Manhattan Transfer dan Babyface. Jika dilihat lebih dalam lagi, meskipun Java Jazz 2008 sangat laku, tapi mulai meninggalkan ruh jazz. Mengapa? Para pecinta Jazz merasa Java Jazz tahun ini bergeser ke pop. Tidak lagi murni jazz. Sangat berbeda dan jelas melenceng jauh dengan logo 'Thanks God it's Jazz' yang dicap tebal pada tas yang dijual di tempat penjualan sovenir.

    Aliaran jazz yang asli justru sangat kurang di tampilkan di sini. Jenis musik di luar jazz seperti hip hop, R&B, pop justru mendapatkan porsi lebih besar dibandingkan jazz itu sendiri. Bagaimana penyanyi sekelas Dewi Sandra bisa mendapatkan panggung sedemikian besar sementara Bubi Chen dan virtuoso seperti Ireng Maulana, Jopie Item hanya mendapatkan panggung kecil plus secara teknis terganggu suara brebet brebet yang keluar dari sound system segede gambreng, yang katanya harganya mencapai ratusan juta rupiah.

    Yang lebih memprihatinkan dari Java Jazz 2008 sekarang ini adalah para panitia lebih banyak menaruh perhatian pada penyanyi luar dibandingkan artis dalam negeri. Kasus yang menurutku memalukan dan berat justru terjadi pada pemain jazz kawakan berusia 70 tahun, Bubi Chen. Dimana beliau harus menanggung sendiri biaya pesawat dari Semarang ke Jakarta, hanya karena alasan panitia hanya mau menanggung tiket pesawat jika beliau terbang dari Surakarta menuju Jakarta hanya karena pesawat yang disediakan sponsor hanya terbang dari Surakarta. Alasan yang bodoh tentu saja.

    Ditambah lagi beliau hanya diberikan satu kamar hotel, sementara kru yang membawa beliau -yang sekarang ini duduk di atas kursi roda- kebingungan harus menginap di mana. Bayangkan, pemain jazz senior yang kemampuannya dapat disejajarkan dengan Wynton Marsalis, Louise Amstrong, mendapatkan perlakuan yang sungguh tidak pada tempatnya oleh panitia. Padahal beliau sendiri tak pernah absen dari Java Jazz dari sejak pertama digelar. "Panitia tidak nguwongke [mengorangkan] kami para inlander. Setiap tahun [penyelenggaraan] makin nggak nggenah [tidak jelas]," keluhnya.

    The Manhattan Transfer yang menjadi daya tarik dari Java Jazz 2008 -meski tentunya kalah pamor dari Babyface- hanya menarik hati para pandemen jazz generasi jadul. Dari sisi olah vokal, memang jam terbang menyelamatkan mereka dan berhasil mengangkat pesona yang tersisa di masa senja. Kalau dilihat dari power suara, jelas mereka sudah keteteran. Berapa kali suara merdu Cheryl Bentyne, Tim hauser, Janis Siegel, dan Alan Paul tenggelam ditelan musik pengiring.

    Mengenai Babyface, tak banyak komentar yang ingin aku sampaikan selain, " so...so...so... pop. Average."

    Well, hal yang menarik hati adalah penampilan Tetsuo Sakurai, basis jebolan anggota Casiopea, dan Jimsaku. Permainannya keren abeessss. Dibandingkan dengan penampilannya pada Jakjazz kemarin, Tetsuo tampil lebih all out di Javajazz ini.
    Satu hal yang tak kalah keren adalah melihat penampilan Ermy Kulit bersama Jopie Item -ayah kandung Audi-. Meskipun tempat yang disediakan panitia di Kasuari room terbilang sempit, dengung peralatan yang tidak maksimal, tapi penyanyi kawakan ini tetap enak saja membawakan dua lagu dari rencana sembilan lagu yang akan ditampilkan. Tentu saja alasannya karena keterbatasan waktu.

    Vokal suara, power yang dimiliki Ermy tidak jauh berubah, bahkan terdengar lebih jernih. Kemampuannya beraudiensi dengan penonton dan membuat penonton yang membludak bernyanyi bersamanya merupakan satu bukti bahwa penyanyi dalam negeri masih diakui di negeri sendiri.

    Otre, secara keseluruhan Java Jazz ini lebih menarik dibanding 2007, meski ada penampilan berulang kali dari Inqocnito yang mulai membosankan. Sekaligus munculnya Dewi Sandra yang jelas-jelas tidak masuk dalam perhitungan Jazz.

    Anyway Jazz is about a feeling.
    Light it up, and feel the taste of Jazz.



    .

     
    Friday, February 29, 2008

    Kau dan penunggu danau 

    Bayangkan saat kau melihat sebuah danau yang tenang berair jernih terbentang di hadapanmu.

    Tiba-tiba saja rasa damai dan tenangnya air danau terusik oleh gelombang dan ratusan lingkaran ketika sebutir kerikil yang kau lempar melayang ke udara dan jatuh tepat di tengah danau itu.

    Sungguh aktivitas tak bertujuan, dengan dalih mengusir rasa bosan kau raih sebutir kerikil yang tergeletak di sebelah kaki kananmu, dan dengan rasa ringan kau lemparkan tepat di tengah danau yang tenang.

    "Iseng, mengusir jenuh. Toh enak, kenapa tidak dicoba? Pun tak berakibat buruk terhadapku. Air danau itupun akan cepat kembali damai seperti sebelumnya. Aku juga punya danau seperti ini," ujarmu ringan tak berbeban.

    Tak perlu menunggu lama memang, labirin lingkaran itu menghilang, riak air danau yang membuncah kembali tenang. Sungguh harmonisasi yang sangat mengagumkan, begitu tenang, sunyi, damai, dan sabar. Mungkin udara yang membuat sang danau lupa bahwa kedamaiannya sempat terenggut oleh sebutir kerikil akibat keisenganmu itu.

    Tapi pernahkan kau tahu, walaupun danau itu kembali tenang, meski air danau itu tak lagi
    beriak, tapi kerikil yang kau lemparkan itu masih tetap berada di dasar sana. Kerikil itu
    terdiam dalam dalamnya danau yang kelam?

    Sayangku, danau itu tak lagi sama tepat saat kerikil yang kau lemparkan dengan penuh keisengan itu menyentuh dasarnya.

    Pernahkah kau sadar akan hal itu?
    Atau memang kau sudah terlalu bebal untuk merasakannya?



    -Kamu yang ada di situ, semoga dalam tidurmu, kau tak pernah bermimpi buruk dikejar-kejar penunggu danau yang memburumu sembari mengacung-acungkan tombak trisulanya untuk memutilasimu-.


    .

     
    Tuesday, February 05, 2008

    Nikmati saja sakitnya 

    Kalian pasti pernah merasakan antri hampir satu jam untuk menikmati kemeriahan naik jetcoster di taman-taman hiburan. Rasakan penatnya ketika berdesakan mengantri. Rasakanlah ketika mulai menaikkinya dan dijungkir balikkan sampai adrenalin mendesak otak, atau perut mual. Rasakan semua itu, setiap detik, tiap menit. Tapi kalian harus
    tetap menyadari bahwa tak selamanya kalian akan duduk di dalam jetcoaster itu. Ada masa semua kemeriahan, kesenangan, kebahagiaan akan meninggalkan atau harus ditinggalkan.

    Pastinya kalian pernah mengalami satu moment yang sangat membahagiakan. Satu masa yang sangat menyenangkan sehingga seakan wajah memancarkan cahaya hangat, mata selalu berpendar menyiratkan kebahagiaan sangat. Namun bagaimana ketika momet bahagia itu kemudian harus berlalu dari diri kita, tak menyisakan apapun kecuali kenangan bahagia sekaligus torehan kepedihan sekaligus.

    Jika kenangan indah itu tiba-tiba datang, kenanglah semuanya. Rasakan indahnya saat moment itu terjadi dan merasukdalam pikiranmu. Sedetik, semenit, rasakan saja, jangan tolak, dan jangan pernah mengubah itu dengan menghadirkan kepedihan yang akhirnya tertoreh ketika satu drama telah usai.

    Nikmati saja semua keindahan itu. Tak perlu menolaknya, tak ada gunanya justru hanya semakin menyakiti dirimu sendiri. Jangan melawannya, justru rasakan kembalinya kenangan itu.

    Rasakan saja ketika membaui aroma sama dengan aroma yang dulu sempat membuat kita melayang dan merasakan kehadiran sesosok. Penuhi semua paru-parumu dengan aroma yang tertinggal di udara, dan membuatmu ingat akan satu kenangan indah dengan seseorang atau ruangan yang beraroma sama. Nikmati kenangan indah yang datang hanya karena kalian melihat sosok itu melintas. Nikmati saat kalian memandang ayun langkah kakinya, senyumnya, cara memandangnya, cara berbicaranya, atau khas gelak tawanya.

    Syukuri dan rasakan mendapat berkah pada satu titik dalam kehidupanmu.
    Meskipun kalian tahu, pada saat ini tak akan dapat lagi menyentuhnya, atau bahkan saat dekat justru menjadi sangat berjarak dan terasa jauhnya.

    Syukuri saja semua itu tanpa pernah mengharap apapun.
    Jangan pernah mengharap lebih meski keinginan itu bagaikan pukulan bertalu talu, mendesak setiap senti otakmu. Menghajar setiap detak jantungmu, dan bahkan meledakkan setiap nadi dalam tubuhmu. Merobekmu dan mencampakkanmu seakan dirimu adalah satu hal yang tak berharga.

    Saat itu hati kalian akan mulai risau atas kesalahan atau kebodohan dulu. Saat itu datang, bilang saja pada diri kalian sendiri,"ah, rupanya kamu masih memikirkan itu. Silahkan berpikir sesukamu, masih ada urusan yang lebih penting lagi."

    Kembangkan rasa syukurmu, bahwa apapun itu, semanis apapun awalnya dan segetir apapun akhirnya, itu yang terbaik. Dan Tuhan masih membiarkan kalian menikmatinya walau sebentar........

    Hidup kalian akan terasa indahnya ketika bersabar atas kepedihan yang datang, dan ikhlas atas kehilangan. Meski kalian pun perlu tahu, kalau air mata pun pasti mengalir atas semua itu. Wajar, karena kita hanya manusia biasa.


    .