Ting....ting.....ting......ting....
setiap hari bunyi itu terdengar pada jam dan tempat yang sama
Suara penjaja sekoteng yang saban hari lewat di depan rumahku
Pak tua yang setia memanggul dagangannya menjajakan dagangannya dengan sabar setiap hari dengan bertelanjang kaki.
Untungnya sih hanya lima ribu. Modalnya sih emang kecil neng...cuman lima belas ribu. Yah, mampunya cuman segini mau gimana lagi?
Pak tua itu ingin menambah variasi dagangannya, tapi karena fisiknya yang tak lagi muda maka dia lebih memilih berjualan apa adanya. Selain itu biaya yang dikeluarkannya juga tak banyak.
Dua puluh tahun lebih dia menekuni kerjaan ini. Memanggul tempat yang berisi sekoteng tiap hari dengan setia. Dari muda hingga mata yang sudah tak awas lagi untuk memindah sekoteng ke dalam plastik, masih tetap dia setia.
Mau kerja apaan neng, saya mah cuman tau gini-gini. Yang penting hanya cukup untuk makan. Selama masih kuat ya saya akan tetap jualan sekoteng, katanya dengan logat Betawi kental.