|
Friday, February 27, 2004
|
JAZZ
|
 Awalnya hanya berupa lagu ratapan yang berkumandang di sepanjang rel kereta api, di tengah ladang kapas, di antara gubuk sederhana milik para budak belian di Amerika bagian Selatan. Lagu-lagu dalam bentuk vokal yang merupakan satu bentuk komunikasi antara sang budak dengan Tuhan-nya itu memang berkembang pesat pada abad ke-19.
Sejalan dengan waktu lagu ratapan berubah menjadi lagu menghibur dan semakin semarak dengan campuran instrumen musik bekas peninggalan tentara seusia perang saudara yang terjadi di negara Paman Sam itu.
Dasar vokal yang membentuk lagu berubah menjadi ritmis yang disesuaikan dengan sistem skala nada diatornis barat. Akar blue note yang terbawa dari Swahili Afrika Tengah berkolaborasi dengan pola teknis Eropa, bahkan musik tradisional Prancis, Spanyol dan termasuk di dalamnya proses penyempurnaan di sana sini yang dilakukan oleh musisi kulit putih yang berpola pendidikan Eropa.
Pembaruan semakin hebat ketika lagu yang berasal dari nada vokal itu menyebar ke bagian selatan Amerika. Di pantai Louisiana dan Mississipi lah terkenal nama blues, minstrell, ragtime, dixie, charleston, creol jazz dan sejumlah sistem sinkopasi yang memberik kesan aksen menyentuh yang menjadi cikal bakal aliran Jazz.
Jazz adalah aliran musik campuran yang bersumber dari Afrika Barat dan Karibia.
Walaupun pada akhirnya timbul perdebatan tak berkesudahan tentang tempat kelahiran aliran Jazz, apakah New Orleans atau Chicago.
Dalam beberapa dekade, melalui banyak penyempurnaan, beberapa gaya dari aliran Jazz mulai nampak. Jazz tumbuh dengan cabangnya seperti boogie-woogie, swing, bebop, post bop, modern jazz, progressive jazz, fusion hingga aliran terkini acid jazz.
Belum usai perdebatan mengenai tempat kelahiran jazz,arti kata JAZZ itu sendiri masih belum dapat diartikan secara tepat.
Dari banyak buku yang mengulas tentang Jazz, tak jarang pembaca dan penggemar justru semakin pusing menyarikan arti kata Jazz.
Salah seorang kritikus Jazz, Alan Rich di The Listener's Guide to Jazz mengatakan bahwa Jazz adalah musik spontan, mudah diterima, digerakkan oleh semangat petualangan khas Amerika. Jazz adalah tradisi, sesuatu yang sudah diterima oleh masyarakat, memiliki gaya yang penuh dengan hiasan dan mempunyai bahasa tersendiri.
Kenyataannya, pembaca dan penggemar lebih banyak menghabiskan waktu mendengarkan alunan musik Jazz dibandingkan menyiksa diri membaca buku tentang Jazz yang sangat rumit.
Fenomena ini ditangkap oleh kritikus lainnya, Leonard Feather dalam The New Edition of the Encyclopedia of Jazz menganjurkan mendengarkan Jazz secara konstan akan sangat bermanfaat untuk memahami yang tertulis dalam buku.
Bahkan sang Kaisar Jazz yang sangat tersohor Louis Amstrong ketika ditanya apa arti Jazz, singkat dia menjawab, mereka tak akan pernah mengetahuinya.
|
Tuesday, February 24, 2004
|
Merenggut dan Terenggut
|
Pria butuh energi untuk hidup, Perempuan memiliki energi
Jadi,
perempuan harus selalu siap memberi energi kepada pria
= = = =
Mengapa tanggung jawab menjaga keutuhan rumah tangga selalu menjadi tugas perempuan?
Aku tak tahu. Aku tak layak menjawabnya. Aku belum menikah.
Aku merasa kehidupanku berbalik seperti pagi dan malam. Apa yang aku rasakan ketika belum terikat jauh berbeda ketika kami sudah terikat. Aku merasa terbebani.
Mengapa begitu?
Aku merasa tak ada ruang bagi diriku sendiri untuk sedikit beristirahat.
Aku harus multifungsi. Aku harus menjaga anak, aku harus cerdas, aku harus bisa masak, aku harus menjadi teman bicaranya yang andal, aku tak boleh gemuk, aku harus bisa berdandan, aku harus selalu tampil segar ketika menyambutnya, aku harus membersihkan rumah, aku harus mengingatkan jadwalnya, aku harus merawat anak, aku harus belanja bulanan, aku harus bisa membagi waktu di kantor dan di rumah, aku harus bangun semalaman ketika anak balitaku sakit, aku harus siap 24 jam untuknya dan aku harus bisa memuaskannya.
Bukankah dia juga bekerja membanting tulang menghidupi keluarga, dia juga harus mengikuti rapat-rapat yang membosankan, dia harus berkejar-kejaran dengan tenggat waktu, dia harus terbang dari satu kota ke negara lain, dia harus tetap cerdas untuk meningkatkan posisinya di kantor. Dia lakukan itu demi kamu dan anak-anak?
Ah, kamu tak mengerti.
Dia akan selalu mempunyai energi untuk itu. Energinya tak akan pernah habis. Dia akan selalu segar dan menjadi incaran banyak wanita. Aku harus menjadi seorang penjaga sekaligus perawat yang harus siap 24 jam memuaskannya agar dia tidak berpaling ke wanita lain.
Apa yang engkau inginkan?
Seandainya aku bisa mengubah sifat Don Juan yang menyerap energi dari perempuan2 yang mencintainya menjadi seorang tokoh rekaan George Bernard Shaw dalam bukunya Man and Superman, alangkah bahagianya aku.
Apa yang ditulis filusuf gila itu?
Dia menjadikan seorang Don Juan yang berkuasa atas cinta-cinta dari seluruh perempuan yang menggilainya dengan menyerap energinya. Di dalam bukunya Man and Superman, Bernard Shaw menggantinya menjadi sosok maya yang justru memberikan energinya kepada perempuan yang dicintainya.
Ah, kamu mengada-ada. Itu hanya pandangan seorang gila dan tidak ada relevansinya dengan kondisimu?
Aku tak pernah mengada-ada. Inilah yang aku rasakan, betapa aku selalu memberikan energiku kepadanya, aku yang memberikan kesenangan kepadanya, dan aku harus berkorban untuknya. Semuanya untuknya.
Aku harus menjadi temannya,
Aku harus menjadi sahabatnya,
Aku harus menjadi kakaknya,
Aku harus menjadi adiknya,
Aku harus menjadi ibunya,
Aku harus menjadi pembantunya,
dan sekaligus
Aku harus menjadi pelacurnya
Ah kamu terlalu berlebihan. Pernikahan tidak pernah menilai untung rugi. Pernikahan adalah bentuk keikhlasan untuk memberi dan menerima dengan tujuan Menjadi.
Bagiku itu bukan keikhlasan untuk Menjadi, tapi proses merenggut dan terenggut
(Kampung Sampireun akhir Februari 2004 20.00 pm, Me and her)
|
Tuesday, February 17, 2004
|
Lesbian: antara Kesendirian dan Kemandirian
|
A thing of beauty is a joy forever, Its loveliness increases, it will never pass into nothingness. (Endymion Excerpts, Book I by John Keats)
 Kemarin aku bersua dengan seorang teman wanita yang sudah cukup lama tak pernah terdengar kabarnya.
Sebut saja Dee. Dee yang aku kenal adalah seorang wanita dewasa, mandiri, sangat berkecukupan, dan bekerja sebagai salah satu manajer lini atas di salah satu perusahaan multinasional.
Aku kenal Dee semasa dia masih mahasiswa. Dia dari angkatan yang lebih tua tiga tahun dan dari universitas yang berbeda pula. Kesenangan membaca lah yang mengakrabkan kami. Perbincangan dengan dia selalu menarik dan seakan tak pernah usai dalam hitungan waktu.
Ketika dia lulus dan mulai bekerja di kota yang berbeda, perbincangan tentang isu terkini, sampai debat tak berujung pangkal sudah sangat jarang terjadi. Sampai akhirnya kami dipertemukan lagi ketika aku bekerja di kota yang sama dengannya.
Namun bekerja di kota yang sama bukan jaminan kami bisa bertemu setiap saat. Sudah setahun kami hidup di kota yang sama, tapi hubungan hanya melalui telpon, e mail atau sekedar sms basa basi. Sudah satu tahun kami bekerja di kota yang sama tapi baru kemarin bertemu dengannya.
Dee tak banyak berubah. Sosok seorang Dee sewakaktu mahasiswa, adalah sosok sama dengan Dee yang temui kemarin.
Namun tetap ada satu hal yang baru dan cukup menarik dari sosok Dee
Dia cenderung keras. Keras terhadap dirinya sendiri. Sorot matanya tidak bisa menipu sikap kerasnya itu.
Apa yang membuatnya berubah keras seperti batu?
Dee yang dewasa, mandiri, berkecukupan dan cerdas, saat ini ditinggalkan komunitas lamanya sewaktu kuliah dulu. Seorang teman bahkan pernah bercerita ketika dia bertemu dengan Dee di salah satu mall, dengan teganya membuang muka tak bertegur sapa.
Mengapa begitu?
Komunitas mahasiswa sekarang menganggap Dee sakit. Dee sakit karena sejak setahun lalu, dia memproklamirkan diri sebagai seorang lesbian. Ini membuat mereka merasa hal yang paling baik adalah menjauhi atau lebih tepatnya membuang Dee dari daftar pertemanan.
Dee sadar akan perubahan itu. Dee paham bahwa perubahan orientasi seksual yang cenderung menyukai sesama jenis ini dirasakannya membawa konsekuensi bagi kehidupan sosialnya. Aku tidak mungkin mengingkarinya lagi Sava.
Aku tak bisa berkomentar sama sekali atas penyataannya itu. Dee yang sukeses dengan Mercy keluaran terbaru yang mengantarkannya kemanapun dia pergi, adalah seorang lesbian.
So what. That the consequences. Do not ever walk away. Face it, kataku waktu itu.
Dee menangis waktu mulutku keluar kalimat itu. Tangisnya semakin deras ketika dia bercerita kesendirian lah yang membuatnya memutuskan mengubah orientasi seksulanya itu.
Aku tercengang. Semudah itukah seseorang mengubah orientasi seksualnya hanya karena kesendirian.
Aku butuh ketenangan, aku tak mungkin lagi sendiri. Aku lelah dengan kesendirian, aku ingin bersandar sejenak. Aku tidak pernah mendapatkan itu dari pria lajang, dan aku capek bermain dengan pria2 beristri, ujarnya.
= = = =
Fenomena kesendirian ternyata menjadi satu hal yang unik. Mengapa unik?
Ketika seseorang menjadi lelah dengan kesendiriannya seringkali menjadi pemicu untuk berbuat nekat dan cenderung bertindak penuh kebodohan.
Kesendirian ternyata mampu membuat orang terbungkuk-bungkuk mengasihani diri sendiri. Kesendirian bisa membuat orang miris dan tidak rasional untuk memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya sendiri.
Hal yang paling penting, ternyata kesendirian mampu mengubah seseorang mengubah orientasi seksual yang sebelumnya normal menjadi tak lagi normal.
Sebegitu parahkan kondisi orang yang sendiri? Tidak pernahkan mereka sadar bahwa seringkali kesendirian menjadi sesuatu yang indah dalam hal-hal tertentu? Pernahkah mereka sadar jika akan ada upah yang diberikan oleh-Nya atas kesabaran menunggu?
= = = =
Hari ini Dee mengajakku bertemu kembali.
Suasana sangat menyenangkan. Perbincangan, perdebatan dari masalah vonis bebas Akbar Tandjung sampai fenomena cd bajakan di Menteng menjadi hal menarik.
Namun perbincangan yang menarik itu tiba-tiba berubah menjadi hal yang mengejutkan ketika tiba-tiba Dee bilang, Sava, maukah engkau menjadi seseorang yang istimewa di hatiku, lebih dari ikatan sahabat yang selama ini kita lakukan?
Ingin aku pingsan dengan sukses
Aku tertegun dan tak bisa berkata-kata.
|
Friday, February 13, 2004
|
Hidup toh hanya sekedar pilihan
|
Kemana?
Selandia Baru
Jauh sekali
Ya, tapi dengan gaji US$1.500 per bulan, dan sedikit hemat dalam waktu dua tahun kamu akan jadi jutawan kaya di Jakarta
Aku tak tahu
Ayolah, cuman dua tahun. Ini bukan waktu lama.
Kamu akan mendapatkan banyak pengalaman di sana, dibandingkan dengan pekerjaanmu di Jakarta. Ini tawaran menarik yang tidak akan datang dua kali.
Apa yang membuat kalian percaya padaku?
Kamu punya potensi besar. Kamu tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang kamu inginkan. Aku percaya kamu mampu. Kamu punya bakat. Jangan kamu sia-siakan kelebihanmu dengan terkurung di gedung pengap berlantai 15 itu.
Aku perlu waktu
Aku tahu. Aku beri kamu waktu sampai akhir bulan ini, dan aku datang untuk menagih jawabanmu.
Pembicaraan di salah satu kamar di Four Session Regent Apartement itu berakhir. Waktu sudah dekat jam 12 malam, akupun permisi pulang. Sang pemilik apartemen rupaya tidak membiarkan aku yang kecapekan sehabis jalan ke Bogor untuk pulang sendiri. Dengan Jaguar-nya aku diantarkannya aku pulang sampai ke depan rumah.
Kamu orang tersulit yang pernah aku temui Sava. Tapi, mohon pikirkan tawaran itu. Aku harap engkau menerimanya.
Hanya anggukan yang jadi jawabanku saat itu. Akhir Februari sudah semakin dekat dan aku belum mempunyai jawaban atas pertanyaan itu. Aku tahu dengan menerima pekerjaan itu, semuanya akan berjalan sempurna. Aku bisa kuliah lagi, bolak balik keluar negeri, dan impianku untuk menyambangi Paris akan terkabul.
Aku gamang......
Belum lama ini, jajaran orang-orang baik di kantor mengajukan surat pengunduran diri. Orang-orang yang aku bisa membuatku tertawa di tengah kejengahanku menghadapi pekerjaan, satu per satu meninggalkan kantor.
Aku jengah.......
Aku bosan dengan pekerjaan ini. Aku bosan dengan kantor yang penuh intrik. Aku bosan dengan masalah remeh temeh tak berguna. Aku bosan menghadapi orang-orang yang sok sensitif. Aku bosan mengalirkan energiku untuk orang-orang yang selalu ingin dimaklumi atas kekonyolan yang dibuatnya. Aku bosan bekerja dengan orang-orang yang tak punya semangat kerja. Aku bosan dengan orang-orang yang pada akhirnya membuat aku menyalahkan diriku sendiri.
Aku ingin menerimanya, tapi apakah seseorang yang sudah mulai menua di sana mau melepaskanku pergi??
Apakah beliau yang sudah waktunya menggendong cucu itu mengikhlaskanku mencari pengalaman di negeri orang??
Aku tak tahu. Apapun jawabnya, hidup toh hanya sekedar pilihan. Pilihan antara ya dan tidak....
|
Monday, February 09, 2004
|
Dialog
|
Aku rindu kamu
Aku tahu
Aku cinta kamu
Aku tahu
Cium aku
Gak mau
Kenapa?
Mulutmu bau....
|
Sunday, February 08, 2004
|
Only a piace of Day dreaming
|
You can not measure it
You can not weight it
You can only feel it
Thats LOVE.....
(Four Session Regent Apartement
Early February 2004 10.30)
|
Wednesday, February 04, 2004
|
Writting Block
|
Apa itu Writting Block?
Apakah Writting Block masuk dalam kategori virus mematikan sekaliber flu burung yang menghebohkan itu?
Sedemikian ganaskah Writting Block jika penulis sekaliber Stephen King pun lebih dari lima tahun pernah mengalaminya?
Writting Block bukan lagi hal aneh bagi orang-orang yang berprofesi
sebagai penulis [kata seorang temanku yang kebetulan berprofesi sebagai penulis].
Writting Block adalah satu kondisi dimana seorang penulis tidak lagi dapat menuangkan pemikirannya dalam bentuk tulisan dalam jangka waktu tertentu.
Terlalu banyak ide yang mengisi sel-sel otak atau memeras otak terlalu keras dapat memicu datangnya writting block. Tanda-tanda dihinggapi writting block ketika sang penulis menjadi terlalu capek dan enggan berpikir berat.
Sebagian besar penulis menganggap bahwa writting block hantu paling menakutkan dibandingkan hantu dalam artian sesungguhnya.
Bagaimanan tidak, jika menulis menjadi satu hal yang penting dan membawa kepuasan dalam hidup seseorang, dan tiba-tiba sesuatu yang penting itu tidak lagi dapat dia lakukan.
Namun saat ini, writting block oleh sebagian penulis dijadikan kambing hitam untuk menghindar dari pekerjaan dan batas waktu ketat yang diberikan editor.
Writting block bahkan dijadikan ajang meningkatkan gengsi seorang penulis. Oleh orang-orang yang -maaf- dapat dikatakan tidak bertanggung jawab, penulis yang terkena syndrome writting block justru dianggap hebat karena akan 'dituduh' menelorkan karya besar sepanjang sejarah penulisannya.
Tidak bisa dipungkiri, karena penulis yang sembuh dari penyakit writting block seringkali menciptakan karya yang lain dari pada yang lain. Tak jarang ciptaannya menjadi best seller.
Namun pernahkan terpikir ketika di satu sisi writting block ditanggapi sebagai ajang menaikkan gengsi, di sisi lain hal itu justru dikhawatirkan oleh penulis yang benar-benar menggantungkan hidupnya dari hasil tulisannya.
Writting block bagi mereka, merupakan monster yang akan sanggup menghancurkan hidupnya.
Bukan saja hidupnya tapi bahkan kelangsungan hidup keluarganya. Gara-gara writting block, dapur rumah mereka tidak lagi berasap......
[Thx ya Yos, buat ngobrolnya. Aku yakin suatu saat nanti kamu akan dikejar-kejar orang untuk diminta tanda tangan di atas lembaran terdepan buku karanganmu]
|
|
POLITIK: Memberdayakan atau Memperdayakan II
|
"Saya juga mewakili suara saya sendiri?"
"Lho, kami kan tidak mengerti tujuannya. Jadi apa dasar keberatannya?"
"Silahkan saja kalo mau protes."
"Nah, itu harus diluruskan,"
"Lho saya kan sudah bilang dari dulu"
"Ini kan juga terjadi dengan kantor yang lain, mereka hanya punya hak suara tapi tidak mengubah semua suara tersebut,"
"Tapi karyawan punya hak untuk mengajukan protes, mau 10% atau mo 20% terserah yang penting itu suara kita,"
"Bukan begitu masalahnya. Maksudnya adalah akomodasikan suara kami."
"Ya terserah, yang penting saya hadir mengajukan suara. Itu yang penting."
Suara riuh memenuhi ruangan kecil di lantai lima. Ruangan yang berukuran 6 kali tiga itu bukan penuh oleh orang tapi dipadati dengan suara keras dari tujuh orang di dalamnya.
Hanya ada satu kesimpulan yang menguasai sel-sel otakku waktu itu.
Kami diperalat...........
|
|
POLITIK: Memberdayakan atau Memperdayakan I
|
Mengapa manusia berpolitik?
Suatu pertanyaan mengawang-awang yang sebenarnya tidak perlu aku pertanyakan kembali.
Tiga setengah tahun aku berkubang dalam segala macam teori dan ilmu politik, dengan segala macam impian utopis untuk membuat segala sesuatu menjadi lebih baik.
Mengapa mausia berpolitik ?
Karena manusia mahluk politik. Dari lahir, hidup dan mati dia tidak lepas dari kondisi politik.
Dulu aku akan mati-matian membela bahwa politik tidak jahat, tapi manusialah yang membuat politik itu menjadi jahat. Tapi sekarang semuanya menjadi luruh, tanpa batas tak pernah bisa terpisahkan. politik, impian dan kekuasaan.
Bagaimana orang berdiam diri tapi sesungguhnya dia berpolitik, karena diam itu sendiri juga berpolitik?
Suatu kerancuan, sesuatu yang butuh pemahaman, atau sesuatu yang memang tidak mungkin dipahami?
Kalaupun kita ingin memahami, kita butuh energi untuk itu. Energi besar untuk memahami sesuatu yang abstrak dan bahkan tidak dapat dipahami, oleh bentuk pikiran manusia yang sudah terkondisikan memikirkan suatu yang riil.
Tak heran jika pengarang buku autobiografi Lenin sempat terkagum-kagum ketika mendiskripsikan dalam tulisannya bahwa batok kepala Lenin (ketika akan diawetkan oleh para peneliti USSR), ditemukan kadar kapur yang cukup tinggi, gara-gara terlalu memikirkan hal yang bersifat abstrak cenderung utopis untuk diwujudkan.
Jikalau mampu mewujudkannyapun tatanana harmonis yang kita dambakan tidak akan pernah sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan. Ironis sekali bukan?
Atau ini termasuk salah satu pemikiran yang pesimistis?
Bodohnya, aku sendiripun tak tahu.
|
|
Bening
|
Have you ever been in love with someone who was not alone anymore....
with someone who could never return your feelings?
And though you knew, still you could never forget him?
And have you ever felt that you would give the world for the one you love....
even though you knew that he might not care, or even if he cared he would still leave?
Have you ever been there, touched by the power of love, a mixture of unexplainable smile, cries and laughter altogether?
If you have, you'll know that there's nothing more confusing yet beautiful experience in life. Treasure it before you realize it's not there anymore.....
|
|
| | | | | | | | |