<body bgcolor=white text=black link=black vlink=black alink=black marginwidth=0 marginheight=0 topmargin=0 leftmargin=0 rightmargin=0 bottommargin=0>
You can not blame my emotion because it will never fade away. I do not care about bad affinity. Its about me. Myself........


Visitor: hits.
Visitor online: online


These days the world's events are strange. They say this and they say that. There is no point arguning. I am better off dozing.....


NEWS
→Herald Tribune
→New York Post
→Washington Post
→Tempo
→Bisnis Indonesia
→Kompas
→Pantau
→MinergyNews
→Platts


DJOGJA's NEWS
→Kabare Jogja
→Gudang Info tt Yogya
→Angkringan
→Jawa Palace
→Primbon Jawa
→Sastra


JAZZ NEWS
→Horizon
→GRP
→Warta Jazz
→Jazz FM
→Dave Koz
→Fourplay
→Lee Ritenour



FILEs

  • January 2004
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • August 2005
  • September 2005
  • October 2005
  • November 2005
  • December 2005
  • January 2006
  • February 2006
  • March 2006
  • May 2006
  • June 2006
  • July 2006
  • August 2006
  • September 2006
  • October 2006
  • November 2006
  • December 2006
  • January 2007
  • March 2007
  • April 2007
  • May 2007
  • July 2007
  • August 2007
  • September 2007
  • October 2007
  • November 2007
  • December 2007
  • January 2008
  • February 2008
  • March 2008
  • April 2008
  • May 2008
  • June 2008
  • July 2008
  • August 2008
  • September 2008
  • October 2008
  • November 2008

































  •    
    Angin Savana
     
    Monday, March 29, 2004

    Sejenak : 'berhenti' dan 'merasa' 

    ketika embun menetes
    ketika hujan turun
    ketika aroma tanah
    menyetubuhi hutan

    Sejenak
    ingin ku
    'berhenti'
    dan
    'merasa'

    Kembali dalam 'rengkuh' dan men-sujudi- NYA


    [antara ku dan NYA]

     
    Thursday, March 25, 2004

    Haben Sie lust mitzukommen ein Restaurant? 

    Hallo
    Ja Hallo
    Entshuldigen Sie Her Braun
    Ich habe keinen lust tanzen heute nachmittag
    Ich lese gern
    Ehm.... Her Braun.... Sprechen Sie mine Deutch?

    Ja ja ja ja..... Actually you don't like dancing but you like reading books don't you?
    Yes I do
    Entshuldigen Sie Her Braun

    Ha ha ha ha, nichts zu danken
    Haben Sie lust mitzukommen ein Restaurant?

    Ja
    Sava, wann treffen wir uns?
    Wie ware es mit um zwai Uhr nachmittags. Geht das?
    Prima, danke schon
    Ich freue mich schon darauf

    Auf wiederhoren Herr Braun
    Auf wiederhoren Sava

    =====

    Pengakuan di telpon tadi malam dengan kenalan lama ku yang berasal dari negaranya Om Hitler itu cukup mengesankan. Jujur aku ketakutan dengan kata-kataku sendiri. Kenapa? Suatu kebodohan ketika tanpa sadar aku mengiyakan ajakannya kemarin siang untuk dansa hari Sabtu depan.

    Kenapa bodoh?
    Seorang Sava kan gak pernah bisa dansa. Eng ing eng

    Akhirnya jalan terbaik adalah menelponnya dan minta maaf [dengan bahasa Jerman yang pas-pasan campur bahasa Inggris dan untung gak ketambahan bahasa Jawa] akhirnya seorang Sava mengaku tak bisa berdansa.

    Kenyataannya seorang Herr Braun tak marah, bahkan memecah kebekuan dengan mengajak makan siang sambil ngobrol. Ah, dunia tak jadi runtuh rupaya.

    Selamat dah gw kali ini.


     
    Wednesday, March 24, 2004

    Mochten Sie tanzen am Samstag? 

    Guten tag Sava
    Guten tag, Her Braun
    Wie geht es Ihnen?
    Es geht mir gut danke, und Ihnen?
    Auch gut.
    Sava, tanzen sie gern?
    Ich tanzen gern
    Mochten Sie tanzen am samstag?
    Ja
    Ich freue mich schon darauf
    Vielen Dank. Auf Wiedersehen Sava.
    Auf Wiedersehen Her Braun

    Aaacchhhhhhhhhhh kenapa gw ngomong bisa dansa ama orang Jerman itu.
    Padahal kagak bisa. Begonya lagi kenapa mengiyakan ajakan buat dansa Sabtu depan?
    Aacchhhhhhh.... Sava kenapa kamu tiba-tiba jadi orang begoooo sedunia
    Sekali lagi aaccchhhhhh Sava lagi jadi orang begooooooooo

     
    Sunday, March 21, 2004

    Wong enom sing wani nranyak wong tuwone wong liyo 

    Gw gak tau gimana cara orang tua lu ngedidik lu,
    Tapi coba belajar untuk ngehargai orang lain.


    Orang tua?
    Apa arti orang tua?

    Orang tua adalah dua orang yang berjuang segenap tenaganya dengan segala suka dan duka membesarkan anak-anaknya tanpa mengeluh dan merasa anaknya adalah beban.

    Orang tua yang dari kelahiran dan sampai kita besar bahkan berkesempatan melihat anak-anak yang kita lahirkan teramat mulia kedudukannya.

    Orang tua mempunyai jalannya sendiri, dan anak mempunyai jalannya sendiri. Setiap masalah yang dihadapi orang tua dan anak adalah tanggung jawab masing-masing, yang tidak dapat dicampur adukkan dengan mudahnya.

    ====

    Seorang anak yang tak pernah tahu keadaan keluarga orang lain, mampu mengatakan hal seperti itu. Aku tahu kalimat itu terlontar karena kemarahan dan emosi yang mengungkungnya membuatnya mampu mengatakan hal itu.

    Aku tak pernah menyesali jika kemarahannya [sebagai orang yang bersalah dan membuatnya marah] dilontarkan langsung kepadaku. Aku coba beberapa hari ini aku melupakannya. Hai, kenapa harus terpengaruh dengan omongan anak kemarin sore?

    Ah, tapi aku terlalu sulit melakukannya. Aku tak tahu mengapa begitu.
    Ternyata baru malam ini aku temukan jawabannya.

    Aku tak marah dengan kata-katanya yang menyarankan agar lebih menghargai orang lain. Namun batinku teramat tersinggung dengan kata-katanya tentang orang tuaku. Bagaimana mungkin seorang kemarin sore yang secara tersirat menyatakan telah didik dengan benar, dan jelas berpendidikan tinggi tapi tak pernah tahu dan tak pernah mengenal seperti apa orang tuaku, dapat bermain-main tentang orang tuaku.

    Tentu saat dia diselimuti emosi sehingga melontarkan kata-kata itu, dia lupa bahwa setiap saat, setiap waktu, orang lain juga mampu melontarkan kata-kata yang sama di hadapannya. Ha ha ha ha ha Bumi yang makin menua ini ternyata masih mampu membuat orang terkekeh-kekeh dengan kejadian yang datang dan pergi sesuka perutnya.

    Ah apapun itu,

    Aku hanya berdoa

    Semoga dia ataupun keturunannya tidak pernah mengalami perjalanan seorang yatim yang hanya diberi kesempatan mengenal ayahnya selama 12 tahun saja.

    Semoga dia tidak pernah mengalami bertanggung jawab seorang diri atas jiwa dan kehidupan orang tua yang tinggal satu-satunya, sehingga dia bisa bebas berpetualangan dengan kehidupannya.

    Semoga dia tidak pernah mengalami bagaimana harus menelan kesedihan sendiri tanpa bisa mengabarkan kepada orang tua tunggalnya hal-hal sedih, hanya karena takut ditinggalkan untuk kedua kalinya.


    =====

    Duh Gusti ingkang Dumadi, Moho Suci lan Welas Asih. Kulo nyuwun pangaksami ingkang seagenginpun dumateng Panjenengan, menawi kula kesupen lan dumateng sedoyo kemawon lepat kula.
    Wonten sambung rapetipun perkawis kala wingi, Kulo nyuwun saestu, rencang kula dipun paringi pepadang lang dipun emutaken. Diemutaken menawi piyambakipun njih gadah tiyang sepuh.
    Tiyang sepuh ingkang mboten saget sewiyah-wiyah dipun singkang2 kalihan tembung
    ingkang mboten sakmestinipun.

    Namung Panjenengan ingkang kagungan kekiyatan ngemutakan piyambakipun. Lan namung dumteng Panjengan ingkang mangertos menopo ingkang wonten batos kula. Kula namung tiyang estri ingkang sampun mboten gadah romo lang kedarang-darang sanget. Sepindah malih nyuwun pangaksami.

    Amien.


     
    Tuesday, March 16, 2004

    Radio Negeri Biru 

    Hari ini AR merasa ingin mati.
    Capek ia menjalani hidup.
    Tubuhnya lunglai,
    kekuatannya selama berpuluh tahun sebagai seorang pengembara kehidupan,
    lenyap begitu saja.

    AR bahkan sudah berpikir untuk mengakhiri hidupnya yang melelahkan.
    Naik ke sebuah gedung bertingkat 12 atau 15 dan melemparkan diri dari atapnya.

    Tubuhnya akan melayang tertarik oleh gaya gravitasi bumi dan hancur berkeping-keping
    begitu mendarat di aspal jalanan yang panas
    (_).


    [Sedikit tanya terlintas di labirin otak]

    Apakah hari ini hari yang baik untuk mati?

    -----

    Sedikit epilog dari Buku Radio Biru yang aku beli belum lama ini. Kebetulan gedung tempatku bekerja berada di lantai 15. Seringkali ketika beban menghimpit, saat itu kulangkahkan kaki ke heli pad yang ada tepat di atas lantai kantorku.

    Tak banyak orang tahu, tempat itu adalah tempat paling menyenangkan yang pernah aku rasakan. Kenapa tidak, disaat angin malam berhembus kencang, dan ramainya kemacetan di bawah sana, teriakan keras sekedar melepaskan beban yang menghimpit tak kan mengganggu sekeliling.

    Aku bebas dengan diriku.
    Aku bebas dengan inginku.
    Aku bebas dengan sendiriku.
    Saat itu, hanya sendiri dan tak meragu.

     
    Tuesday, March 02, 2004

    Pamit ? Masih perlukah? 

    PAMIT ?

    Sepertinya menjadi kata terakhir
    yang
    tak penting untukku
    Toh, tak ada artinya

    Ini bukan suatu perpisahan selamanya
    Ini bukan kepastian
    Ini bukan kepergian
    dan
    Ini bukan kepindahan

    Ini hanya suatu kunjungan
    sejenak
    sekejap
    yang tak perlu mengucap Selamat tinggal

    PADANYA ?

    Ah, tak perlu
    dia bukan siapaku
    dia bukan artiku
    dia bukan jiwaku
    dia bukan indahku
    dia bukan ku

    dia hanya mimpiku
    dia hanya inginku
    dia hanya rinduku
    dia hanya anganku
    dia hanya bayangku
    dia hanya untuk nya

    (I'm leaving on a jetplane,
    I don't know when I'll be back again
    Oh babe I had to go)

    Janis Joplin, Leaving on a jetplane

     
    Monday, March 01, 2004

    Romanji Diary and Sad Toys 

    I went to bed about midnight, but I could not sleep.
    I happened to remember that in a bamboo trunk in a corner of the room there was a bundle of letters .
    When I remembered it, I felt as if I had been lit up by the spring moon in a dark forest.

    My poor friend could not understand the deep yearning and pain in life.
    Feeling unbearably lonely.

    I returned to my room....
    Realizing that the friend who I had thought understood me as thoroughly as I had him was unable, ultimately, to understand to anguish and pain at the bottom of my heart made me feel unbearably dreary.

    We are each separate.......
    This thought left me indescribably sad.

    Suddenly (want to) walking at midnight
    And wanting to cry for no reason at all -
    I (just) pull this quilt over my head.




    Takuboku Ishikawa, 1909


    (For You only, and forgive me also)



    .