|
Monday, May 31, 2004
|
Myself and I
|

I wanna be high, so high
I wanna be free to know
the things I do allright
I wanna be free Just free
|
Friday, May 28, 2004
|
Egoku Egomu
|
 Kesibukan kerja benar-benar tak terbendung akhir-akhir ini. Dua tiga tugas harus aku selesaikan dalam satu waktu yang sama. Aktivitas yang tinggi cuaca yang 'tak konsisten' alias separuh hujan separuh panas, membuatku harus menghirup udara dari mulut dengan sukses. Mengapa? flu berat bo'.
Anyway, di hari Jumat malam ketika pekerjaan sudah selesai dan waktu tenggat kerjaan terlampaui, aku menyambangi rekan kerjaku di desknya. Violet rekan kerjaku itu rupanya sudah menyelesaikan pekerjaannya pula dan terlihat membuka-buka email. Kami bercerita hal-hal kosong sebagai pengisi rasa penat setelah seharian didera pekerjaan tak henti. Tak lama kemudian datang rekan kerja yang lain turut meramaikan suasana.
Di tengah-tengah obrolan mengawang-awang tersebut, tiba-tiba datanglah bos besar yang tanpa ada angin tanpa ada badai mengubah bahan cerita kami menjadi diskusi besar tentang jomblo.
"Hei, kalian ini para wanita [dia bilang wanita ya bukan perempuan], sudah hari jumat begini masih di kantor. Jalan-jalan donk keluar cari pacar. Kalo kayak gini terus kapan kalian kawin [tolong digaris bawahi kalo dia bilang kawin dan bukan nikah]."
Waktu itu kami hanya tertawa mendengar bahan pembicaraan yang diusungnya. Sampai pada akhirnya kami berdua berreaksi keras ketika dia menggotong alasan baru yang menurutku sangat tak masuk akal.
"Aku tahu mengapa kalian belum laku-laku juga [aduh sakit banget deh rasanya, emangnya kalo aku pacaran ato lagi berhubungan dengan pria lain harus pake warta berita ke seluruh penjuru kantor]. Kalian tuh jangan ajak para pria ke plaza senayan. Kalo mau ngetes mereka ya ajak ke pasar induk tanah abang. Disitu tempat menguji kesetiaan dan kesusahan."
Sang bos meneruskan khotbahnya kepada kami dengan mencontohkan, "sekarang begini, pria yang suka pada kalian taruhlah gajinya hanya Rp2,5 juta per bulan. Sekarang kalian ajak ke Plaza Senayan ya jelas tekor, beda kalo kalian ajak ke pasar tanah abang ato mangga dua."
Lebih lanjut lagi sang bos dengan semangat 45 nya mengatakan, "jika tabungan kalian sudah cukup nanti setaraf dengan kenaikan pangkat kalian, jangan dulu beli rumah ato mobil. Itu sangat tabu dihadapan pria. Pria akan turun gengsinya kalo ngeliat kalian sudah punya rumah. Mendingan mereka cari wanita lain untuk dikawini. Level kalian terlalu tinggi harus diturunkan. Jangan sampai tar gak laku-laku. Ini masalah harga diri pria yang sudah dari kodratnya gak bisa dilawan. Waktu kalian sebagai wanita terlalu pendek dan nanti akhirnya malah gak kawin-kawin."
========
 Jujur saja ketika aku mendengar tuturan kalimat sang bos ingin rasanya aku mengambil batu bata ato sepatu untuk kulemparkan ke kepalanya hingga benjol2. Aku rasa hal yang sama juga dirasakan oleh temanku violet, yang saat itu berusaha keras menahan emosinya ketika memberikan argumen pada sang bos.
Aku merasa mengapa masih banyak pandangan picik dari para pria tentang masalah-masalah material seperti ini.
MAAF yang akan aku paparkan di sini belum semua aku sudah dapatkan sekarang, tapi apa yang akan aku jelaskan di sini akan kucoba berikan alasan atas tindakanku itu.
Pertama, ketika aku merasa mempunyai saving yang cukup, jelas dari pada aku gunakan belanja yang tak bermanfaat alangkah baiknya aku jadikan dp untuk beli rumah kecil di dekat danau seperti yang aku impikan selama ini.
Alasannya, dari pada aku kost atau kontrak terus menerus tetap saja rugi karena kamar kost itu tak bakalan jadi milikku.
Kedua, anggapan bahwa mengapa perempuan harus beli rumah, padahal pria mempunyai kewajiban untuk membelikan rumah bagi istrinya nanti. Pandangan itu tak salah, bagiku pribadi pria yang akan menikahiku nanti memang pada akhirnya harus menyediakan kebutuhan primer yakni rumah itu. Toh kalo nanti rumah ada dua, bisa saja rumah yang sudah ku beli itu dikontrakkan dan jadi ada tambahan penghasilan bagi kami berdua.
Ketiga, mengapa pria selalu takut dengan perempuan yang sudah mempunyai karir mapan dan penghasilan yang lebih besar dari mereka. Ada hal yang sampai saat ini tak ku mengerti. Aku mempunyai pengalaman selepas aku berpisah dengan almarhum mantan tunanganku, beberapa pria mencoba untuk dekat, tapi ketika dia tahu aku sedikit lebih, mereka langsung 'jiper' dan gak berani menghubungiku.
Sikap-sikap pengecut ini semakin memantapkan anggapanku bahwa pria ini tak serius mendekatiku. Bagaimana mungkin pria dianggap bertanggung jawab dan mampu menghadapi masalah besar di depan, jika baru melihat luar perempuan yang ditaksirnya langsung 'jiper' dan lari tunggang langgang.
Perlu aku garis bawahi di sini, pria2 tipe ini bisanya melancarkan rayuan mautnya dengan berondongan kalimat2 yang diambil dari kumpulan paket gombal [aku sebut itu kumpulan paket gombal] seperti sudah makan belum, jangan terlalu capek ya, jangan telat bobo' tar sakit, jangan telat makannya, dsb dsb dsb.........
Mengapa aku sebut itu kumpulan paket gombal? Para pria cenderung mengobral kata-kata tersebut, sehingga bagiku sudah tak bermakna apapun, alias basi abis. Aku merasa kalimat itu menjadi berarti ketika dikatakan pada waktu dan tempat yang tepat. Ketika tak dikatakan pada waktu yang tepat, justru terlihat obral dan murah.
Ada banyak pendapat bahwa aku terlalu cuek dan tak sensitif dengan pria. Mungkin benar, tapi apakah seberharga itu ketika aku menunggu para pria itu dan mengesampingkan kesempatanku untuk meneruskan kuliah dan mencapai puncak karirku yang saat ini ada di depan mata.
Apakah aku harus berjalan di tempat dan menunggu pria yang tepat untuk menikahiku, atau mengubah seorang Sava menjadi bukan dirinya agar para pria mau menikah denganku?
Ah terlalu picik pandangan itu.
Mengapa pria selalu ketakutan ketika perempuan sudah mencapai jenjang karirnya atau mendapatkan apa yang belum mereka dapatkan. Mengapa selalu ada ketakutan bahwa perempuan akan menjajah mereka dengan segala hal yang sudah kami dapatkan terlebih dahulu.
Mengapa pria tidak mencoba membalik pola pikir mereka dengan mengatakan bahwa, "Ok diluar istriku memang lebih tinggi kedudukan dan penghasilannya dibandingkan aku, tapi di rumah aku adalah kepala rumah tangga yang harus dihormati."
 Seorang sahabat dekat pernah berkata, "perempuan mandiri itu memang terlihat kuat di depan, karena mereka sendiri dan harus menyelesaikan masalahnya saat itu juga. Namun, dalam hati kecilnya mereka rapuh dan butuh tempat bersandar."
Malam itu aku mencoba mereview kembali apa yang terjadi pada diriku sendiri. Aku memang masih sendiri, sejauh ini aku berbahagia dengan kesendirianku. Aku sendiri, bukan berarti tak butuh pria. Aku tak butuh pria dengan kebodohan, kebohongan dan menina bobokan aku dengan segala lagu gombalnya. Aku butuh pria yang bertanggung jawab, jujur, nyambung diajak diskusi dan bisa membuatku tertawa. [aku rasa harapanku itu tak terlalu berlebihan].
Tiba-tiba aku ingat salah satu pesan ibuku, "Sava, kamu boleh menjadi perempuan mandiri dan berkarir sesuai pencapaianmu atau menjadi pemimpin. Tapi kamu harus ingat, ketika kamu pulang ke rumah, kamu harus menanggalkan semuannya, karena kamu mempunyai pemimpin yang lebih tinggi yaitu suamimu. Sesuai kodrat, kamu harus melayaninya karena itu adalah ibadah dari seorang istri kepada suami seberapapun beratnya."
.
|
Sunday, May 23, 2004
|
BUTA, TULI, BISU
|
 Belum lama ini, ada e mail yang masuk ke inbox gw. Tanpa berupaya untuk mendiskreditkan satu pihak dengan pihak yang lain, gw rasa info ini bermanfaat juga jadi bacaan sebelum tidur.
Siapapaun orang yang nantinya terpilih jadi RI1 dan RI2, adalah orang-orang yang buta, tuli dan bisu. BUTA dalam artian tidak pernah membiarkan hal2 salah ada didepan mata. TULI dalam artian tidak pernah membiarkan hal2 yang buruk terdengar di telinga. BISU dalam artian tidak pernah mengatakan hal-hal yang menyesatkan dan justru meresahkan rakyat yang dipimpinnya.
Mencuplik pesan para penerbit, "Isi di luar tanggung jawab pemosting" ^_^
==========
Di bawah ini bocoran dari diskusi Team Sukses Salah Satu Capres 2004 diwebsitenya yang penuh password yang berhasil dijebol oleh hackers nasionalis.
Waspadalah...!, Waspadalah.... !
*********************************************************************
SBY, Berkah atau Bencana ?
Menengok ke Belakang
Sebetulnya sebuah majalah berita mingguan ternama sudah mengendus geliat mengusung SBY ke RI 1 sejak Juli 2001, tepatnya sejak SBY gagal menjadi wapres menggantikan MSP yang naik ke RI 1. Kegagalan yang kemudian disikapidengan rapat-rapat intensif di berbagai tempat untuk sebuah tujuan besar, RI-1.
Lewat SB (Kepala Pusat Penelitian Pranata Pembangunan UI)dan pentolan-pentolan GMKR (Gerakan Mengembalikan Kedaulatan Rakyat) seperti IT dan SS (keduanya Guru Besar UI), serta di back up oleh jenderal-jenderal loyalis SBY, diantaranya SS dan M,serta jaringan pengusaha "hitam' (contoh kecil, S.P.M Y, AA,seseorang yang disebut-sebut pengelola togel KUDA LARI yang beredar luas di Jawa tengah setiap hari), dan juga memperoleh aliran dana dari luar negeri yang disebut-sebut berasal dari dua organisasi yang sangat berpengaruh di AS yaitu AIPAC (American-Israeli Public affairs Comittee) dan ADL (Anti-Defamation League)., sejak pertengahan 2002. Mahasiswa-mahasiswa Indonesia di AS sudah mencium aliran dana seperti ini, karena memang di AS diumumkan, hanya saja mereka tidak peduli karena yakin Demokrat tidak memiliki basis massa jelas. Tersebutlah JR menjadi penyumbang
cukup besar buat Demokrat, disamping itu JR berhasil mengumpulkan ratusan pengusaha di LN untuk berpartisipasi embesarkan Demokrat, yang tentu saja mereka pengusaha-pengusaha yang "sealiran" dengan sepak terjang JR.
Siasat Kuda Troya
Dibesarkan di lingkungan militer, beristrikan putri Bpk Sarwo Edi Wibowo, menjadi SBY sangat lihai bermain di dunia inteljen. Didukung oleh tim sukses bayangan yang memback up lewat corong media massa, SBY mulai bermain secara hati-hati untuk posisi RI 1 dengan menjadi anak manis dihadapan MSP, yang karena keterbatasan intelektual banyak menggantungkan urusan negara ke pundak SBY. Tak aneh di lingkungan istana, SBY merupakan 'godfather' untuk semua urusan. Sehingga untuk urusan internal PDIP pun MSP tidak segan-segan meminta pertimbangan SBY. Lingkungan ring 1 MSP yakin bahwa ontran-ontran disekitar pemilihan gubenur di berbagai darah, yang berakibat friksi internal dan pemecatan kader sedikit banyak merupakan buah kerja SBY. Sumber di istana mencontohkan kasus pemilihan gubenur DKI yang terkenal dengan proyek Busway-nya. Meskipun hasil rapat DPD PDIP 100 % menginginkan kader PDIP yang maju, namun karena bisikan SBY, MSP tega mengorbankan pendukungnya.
SBY bisa mempengaruhi MSP karena sebagai Menko Polkam dia memiliki setumpuk dokumen perihal "ancaman" yang potensial terjadi di sekitar pemilu. Dengan lihai SBY menyakinkan MSP bahwa sosok militer-lah yang pas menjadi gubenur untuk menghadapi pemilu, padahal ditentang habis-habisan oleh kelompok R.B.J maupun geng pengusahaa minyak nasional AP. Tujuan SBY jelas, menggerogoti massa PDIP dengan membuat kekecewaan di akar rumput. Keberhasilan scenario SBY di DKI, membuat SBY kembali bermain di pemilihan gubenur Sumatera Selatan, Jawa tengah, dan Bali. Rekomendasi MSP untuk pilgub berlawanan dengan kehendak arus bawah PDIP. Di Jawa tengah, bahkan sampai berlarut-larut, DI Sumatera Selatan sampai pada pemecatan kader. Kerja keras SBY ternyata berbuah manis, hasil pemilu legislative 2004 membuktikan di 4 propinsi tadi, yang sebelumnya basis terkuat PDIP, partai Demokrat cukup banyak mendulang suara.
Sementara MSP sama sekali tidak tahu, padahal sebetulnya MSP bisa belajar dari GD betapa pada masa GD pun SBY telah "menikam" GD dengan mundur sebagai menko Polkam ketika situasi negara makin memanas, kesadaran baru ada ketika CL (seseorang yang disebut-sebut "king maker" di lingkungan TK) mengungkapkannya. Sayangnya, TK merespon dengan membabi buta di media massa dengan tidak berani mengungkapkan keadaan sebenarnya soal SBY, TK malah membuat blunder dengan mencari 'alasan' lain untuk melampiaskan kemarahannya dengan menyebut SBY seperti anak TK.
Mendekap sekaligus memenjarakan
SBY juga terlihat bersih di mata sebagian besar umat Islam. Sebab, SBY memang mencitrakan dirinya tidak pernah "menyakiti" umat Islam. SBY bisa bermain cantik karena memiliki tim untuk itu. Disamping BIN lewat HP, SBY juga mempunyai sumber di lingkungan BIA yang rajin
menyuplai informasi-informasi A1. Padahal, disebut-sebut oleh lingkungan dalam kapolri betapa selama ini Dai Bachtiar Cuma menjalankan tugas atas desakan menko Polkam untuk menangkapi aktivis-aktivis muslim yang di duga garis keras. Penangkapan Baasyir pun atas permintaan Menko Polkam. Isunya, Kapolri sendiri segan menangkap Baasyir karena memang keterlibatannya masih teramat sumir. Namun SBY ngotot, apalagi Indonesia (SBY?) juga mendapat tekanan dari luar negeri untuk menangkap Baasyir. Semua "penculikan" aktivis
muslim dan pengungkapan jaringan teroris bisa berjalan "lancar" karena pejabat nomor satu di Kepolisian DB mendapat suplay informasi A1 dari SBY. Kini setelah SBY makin
diatas angin, pihak-pihak asing makin berani menekan SBY untuk menjalankan agendanya.
Dua hari setelah pemilu 5 April, SBY
pergi ke AS untuk menemui Ricahrd Perle, Paul Wolfowitz(SBY berhubungan "baik' sejak PW menjadi Dubes di Indonesia) dan Dauglas Feith, yang konon ke-3nya merupakan pejabat yang sangat berpengaruh di Pentagon. Hebatnya, SBY tidak pernah tersentuh sementara Dai bachtiar harus rela menerima caci maki dari pendukung Baasyir. Bahkan di sebagian umat Islam "garis keras", DB dicitrakan sebagai petinggi kepolisian yang cuma menurut pada pesanan 'sponsor" LN.
SBY bisa nampak begitu 'baik' dimata umat Islam karena SBY memang pernah di Gontor dan yang paling mendukung karena hubungan dekatnya dengan AA G. Lewat AA G pula SBY bisa merangkul petinggi-petinggi PKS, termasuk HNW. Sebab bagi sebagian kader PKS, AA G telah memiliki tempat tersendiri di hati mereka. Saking dekatnya, lagu kampanye PKS pun mengambil dari AA G, "jagalah hati". Kedekatan AA G dan SBY terjalin sejak lama. Makanya
tidaklah heran, SBY-lah yang mengajak AA Gym berceramah di daerah konflik misalnya Apakah AA G tahu kalau namanya dimanfaatkan, entahlah. Hanya Tuhan dan AA G yang tahu.
Menebar Harapan
SBY juga dikenal senang menebar harapan kepada semua pihak. Untuk memuluskan siasatnya ke RI 1, tidak segan-segan SBY mengumbar harapan. Jauh sebelum masa kampanye, dihadapan tim sukses AR, SBY bersedia menjadi cawapres. Kemudian di hadapan Gus Dur, SBY mau tampil menjadi jurkam tamu di kampanye PKB. Di hadapan petinggi Golkar, SBY mengaku mau dijadikan
cawapres. Bahkan ketika ditanya MSP pun, SBY mengaku mau dicawapreskan. Ternyata semua itu tidak lebih dari siasat belaka. Siasat untuk menyiapkan payung seandainya partai Demokrat gagal mendulang suara, disamping itu juga sebagai magnet untuk menegaskan bahwa SBY diterima dimana-mana dan diminati. Tentu saja SBY tidak bisa begitu kalau tidak didukung oleh tim media yang hebat. LSI disebut-sebut sebagai lembaga survei yang secara kontinyu 'mendongkrak' populritas SBY dengan rangkaian pengumuman hasil poolingnya.
Sesuatu yang sebetulnya biasa-biasa menjadi 'luar biasa" karena dikemas dalam bentuk pencitraan lewat media massa.
Menggoyang Pesaing
Kelihaian SBY dan tim sukses-nya kembali terbukti ketika SBY berhasil merayu HNW untuk mengajak AR membentuk PPB. Ketika poros diumumkan, sontak saat itu juga tim media SBY menyebar berita bahwa AR tidak berubah, masih terus senang bikin poros-porosan. Di media massa, ditulislah kembali kenangan soal Poros-porosan dengan harapan agar masyarakat makin anti pati terhadap AR. Mestinya cukup aneh manuver HNW ini. Setelah runtang runtung
dengan SBY, tanpa isyarat tertentu kok mendadak mengajak AR membentuk PPB. Untunglah, AR menyadari goyangan SBY. Konon karena di beritahu tim Gus Dur. Makanya, meski GD pernah "sakit hati" ke AR, GD tetap tampil menggandeng AR di media massa untuk mengkonter bahwa AR tidak sendirian. Saat itu juga diumukan bahwa PPB dibubarkan. Dan AR kemudian bertemu dengan sejumlah tokoh seperti Alwi Shihab, Eros J, Rahmawati dan lain-lain. Pesannya jelas ditujukan ke SBY. HNW pun "berakting" lagi dengan buru-buru menjenguk
Baasyir di tahanan untuk meredam kegelisahan pada sebagain kader PKS bahwa HNW dibawah kendali SBY. SBY juga menggoyang Golkar dengan merayu JK. Walaupun sebenarnya, goyangan ke Golkar ini sudah diantisipasi oleh AT. Sebab Golkar dengan partai Demokrat sebetulnya sama, identik dan seide. Lewat RM (yang berhasil menelorkan hysteria konvensi partai Golkar di masyarakat), AT dibisiki untuk melepaskan JK. Karena Golkar sedang melakukan diaspora kemana-mana.
Sangatlah bodoh kalau tim sukses SBY tidak tahu akan hal ini. Namun banyak kalangan yakin, SBY memiliki plan B. Setelah gagal merayu Sultan HB sebagai wapres, pilihan ke JK jelas paling realistis. Apalagi SBY berhasil memasukan orangnya ke tim Kalla yaitu AA. Ada yang menarik soal goyangan SBY ini. Untuk meredam goyangan ke PKB, GD buru-buru menempel ketat W. Sebab data inteljen menyebutkan, kalau konvensi Golkar berlangsung bersih, W sangat berpeluang menang. Dan pihak BIA sudah membuat laporan lengkap bahwa untuk pilihan Presiden, W [Jendral yang oleh mahasiswa dikatakan tersangkut kasus Semanggi] disebut-sebut berpeluang menang.
Kalau SBY dan W maju, militer akan terpecah dua suaranya. Dan garis komando jadi susah dijalankan. Meski tentara tidak memilih, garis komando terbukti efektif mendongkrak suara. Pemilu legislative 5 April membuktikan, di lingkungan militer dan under bow-nya, partai Demokrat selalu juara.
Penutup
Hadirnya SBY di pemilu presiden bukan kerja sehari dua hari. Juga sangat bertentangan dengan akal sehat kalau SBY bisa berkibar hanya karena didholimi TK dengan sebutan anak TK. Sebetulnya, ini adalah buah kerja lama yang terencanakan dengan rapi, sistematis dan terskenario. Akhirnya, mari disikapi dengan kritis. Percaya begitu saja atau serta merta menolak ini akibatnya sama, sama-sama CELAKA!
[Non-text portions of this message have been removed]
IKLAN LAYANAN DARI "ForkomNet" ADMINISTRATOR
|
Sunday, May 16, 2004
|
Work on the sky
|
 Apaaa?? Keluar kota lagi??? Ampun deh, kemarin barusan pulang jadi rimbawan di Kalteng, dua minggu lalu kamu baru pulang dari Sydney sekarang kamu mau jalan lagi ke anjungan lepas pantai? Ampuuun deh Sa. Kapan kamu punya waktu buat dirimu sendiri, di luar kerja, kerja dan kerja????
seterusnya, bla...bla...bla...bla...bla...
Omelan itu aku dengan sepanjang hari menjelang keberangkatanku ke Indramayu mengunjungi kilang Balongan milik PT Pertamina akhir pekan lalu. Senyum dan hanya bisa tersenyum sebagai tanggapan omelannya yang berpanjang lebar itu.
Aku tahu, dia begitu perhatian denganku karena persahabatan yang sudah kami bangun sejak TK sampai sekarang dipertemukan kerja di metropolitan ini. Pertemanan yang seakan turut 'melegalkan' segala omelannya kepadaku.
Larasati memang sahabat terbaikku di luar teman-temanku yang lain.
Kuakui omelan dia tentangku begitu benar adanya. Kebenaran yang diusungnya kepadaku itu tak pernah bisa aku sangkal. Dengan polos, omelan nada tinggi sekaligus cemprengnya seakan bebas menuding dan membeberkan prilaku seorang Sava dengan segala kegilaan, kegigihan, sekaligus kebodohannya.
Kamu gak pernah punya waktu untuk dirimu sendiri. Liburpun kamu tak pernah nikmati untuk dirimu sendiri. Orang lain libur eh malah kamu kerja. Padahal kamu tuh bisa menyisihkan waktu untuk dirimu sendiri jika ada niat...
Ah, omelan seorang Larasati jadi seringkali aku dengar akhir2 ini. Setiap saat aku menelpon atau berkesempatan berkunjung ke rumahnya, tak lepas aku dengan serbuan omelannya. Apapun itu, aku tahu dia berniat baik karena dia memang seorang sahabat yang cukup mengerti keberadaan seorang Sava.
Kebaikannya dan perhatiannya pun tercermin di tengah omelannya. Sambil mengomel tangannya tak berhenti mengaduk adonan untuk membuatkanku roti manis, atau sekedar mengaduk teh Earl Gray panas yang kusuka.
Ketika ku bermain dengan anak perempuannya yang baru berusia tiga tahun, dia selalu bilang, "Rani, besok kalo jadi wanita karir jangan sampai kayak Tante Sava ya. Lupa waktu, lupa diri sendiri, jangan2 rambut juga sudah mulai beruban walo umur masih 25."
Kembali, aku memang hanya bisa tersenyum dan tertawa mendengar omelannya. Mungkin hanya Mas Bram [suami Larasati] yang selalu setia membelaku dari omelan istri manisnya itu. Kasihan, katanya.
Mungkin benar aku terlalu memforsir diriku sendiri, tapi aku pikir pencapaianku masih banyak. Dan aku tak akan berhenti sebelum semua tak bisa aku lewati lagi. Ketika berhadapan dengan salah satu keluarga Salim pun aku tak mau berhenti dan mem-peti es-kan sejenak kasus itu.
Capek??? Mungkin sudah jadi makanan sehari-hari. Bagiku ini resiko yang harus ku tanggung atas pekerjaan yang kulakukan saat ini.
[Lara, kamu benar aku capek, tapi aku belum mau berhenti hanya di sini. Masih terlalu sore buatku untuk beristirahat]
|
Thursday, May 13, 2004
|
OBROLAN WARUNG KOPI
|
 Cuaca agak suram sore itu. Jakarta terliat lengang setelah diguyur hujan seharian. Duduk sendiri di Starbucks Cafe Setiabudi, menekuri berkas-berkas kerjaan yang harus segera diselesaikan.
Kopi latte di gelas langsing itu tinggal separuh. Heran, ibu kota yang terkenal garang dan di mana orang-orangnya memegang teguh time is money, jadi loyo.
Jelas bukan salah hujan dan salah Ella Fitzgerald, penyanyi jazz kondang yang sengaja dipasang cd-nya oleh orang Sturbucks untuk menemani konsumen mendengarkan alunan vokal jazz-nya yang kental sembari merasakan penguasa waktu di sore itu merayap pelan.
Tiba-tiba pintu Cafe dibuka dengan keras, cenderung kasar. Serombongan pria dan wanita datang dan memilih tempat duduk di belakangku.
Aroma parfum mahal menguar di ruangan. Sejenak bau kopi yang tajam terkalahkan oleh Bvlgari, Armani, dan entah dari merek apa lagi. Yang jelas bukan parfum made in Tanah Abang yang dijual lima ribuan setiap CC nya.
Ada hal yang menarik yang dapat dijadikan kesimpulan dari pembicaraan mereka sore itu. (Bukan bermaksud menguping. Gimana gak kedengaran kalau ngomongnya super keras sampai seluruh ruangan Starbucks yang sempit itu terdengar).
Ternyata, di tengah-tengah kemajuan teknologi dan modernisasi yang digambarkan dengan mode, pergaulan dan entah apa lagi, satu yang tidak berubah bahwa.......
Selemah apapun pria, ternyata dia bisa menutupi kelemahannya itu dengan egonya. Sebaliknya sekuat apapun wanita, ternyata dia tidak dapat menutupi betapa rapuhnya dia.
Pembicaraan mengenai hal ini pun pada akhirnya tidak ada jawaban yang cukup memuaskan bagiku. Mengapa tidak? Kalau pada akhirnya hanya dijawab bahwa man from Mars and woman from Venus. Kesimpulan mereka adalah pria dan wanita berbeda. Kodrat menyatakan pria selalu di atas dan wanita selalu di bawah.
Dalam perjalanan pulang, aku mencoba mempertanyakan apa beda Pria dan Wanita? Memang benar banyak orang mencibir mendengar itu semua.
"Ya jelas beda, semodern apapun wanita itu, dia dikodratkan berada dibelakang laki2 sedangkan pria selemah apapun harus berada di depan wanita karena mereka pemimpin?" kata mereka.
Kata-kata itu terdengar sangat asing bagiku, terlalu naif dan bodoh.
Aku bukan penganut paham feminisme, dan aku juga tidak seratus persen menyetujui pendapat mereka, tapi ada satu hal yang aku setujui.
Semua manusia diciptakan sama, baik pria maupun wanita sama di mata Allah. Jadi apa sih yang sebenarnya menjadi perbedaan itu semua?
Apakah dari fisik? Memang secara fisik kedua mahluk itu berbeda bentuk tapi hati dan rasa? Sama, satu.
Mengapa harus ngotot mempermasalahkan bahwa pria harus selalu di atas dan wanita yang di bawah?
Bukankah, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan tapi mengapa semua itu dipermasalahkan? Kenapa tidak dipertemukan untuk dijadikan satu kekuatan?
Para pria dan wanita yang kebetulan ku temui di Starbucks Cafe itu, mungkin hanya segelintir orang yang mempunyai padangan berbeda dari yang lainnya. Jelas saja mereka tidak bisa dikatakan mewakili isi kepala para penghuni Jakarta yang maunya dikatakan moderat ini.
Walau hanya kaum minoritas, mereka juga punya hak berpendapat juga kan?
|
Tuesday, May 11, 2004
|
Seth
|
Seth, aku letih
Aku tahu
Seth, kenapa tak 'satu'?
Karena memang tak bisa 'satu'
Mengapa terjadi?
Aku tak tahu
Apa yang terjadi?
Tak perlu dikatakan
Apa yang kau mau?
Kamu
Seth....
Hanya ini yang bisa aku tawarkan kepadamu
Mengapa?
Karena aku mencintaimu,........ dan nya
Seth.....
MAAF
|
Sunday, May 09, 2004
|
Gay dan kesembuhannya
|
 Kemarin, seorang teman akrabku mengajak bertemu. Cukup lama juga tak bertemu dengan bapak yang matang, murah senyum, dan cukup sensitif dengan perasaan orang lain ini. Tak perlu berpikir lama untuk mengiyakan ajakannya di Sabtu pagi itu.
Selepas lari pagi, dan datang ke kantor sebentar, aku menemuinya di Cafe Wien Plaza Senayan. Ah, ternyata dia masih seperti yang dulu. Tak berubah, hanya mungkin terlihat lebih kekar dengan perut six pack-nya.
Cukup lama juga ngobrol dengan dia. Sampai satu saat dia mengabarkan hal yang cukup mengejutkanku. "Sava, aku akan menikah akhir bulan ini. Aku harap kamu bisa datang melihatnya."
Wow......
Bagi orang kebanyakan, kabar dari seorang sahabat tentang pernikahannya bukan satu hal yang mengejutkan lagi. Yah, tidak mengejutkan lagi jika yang menikah adalah pasangan lawan jenis. Namun jika yang menikah adalah sesama jenis, bagiku masih cukup wajar jika yang mendengarnya tercengang dibuatnya.
"Selamat. Kamu akan menikah dengan 'dia' kah? Tentunya kamu akan menikah di Belanda kan? Gak mungkin di Indo."
"Kami akan menikah di sini Sava. Di Jakarta. Istriku sama seperti kamu Sava."
Witt.... eng ing eng..... gw bingung neh.....
"Ya, Sava, istriku seorang perempuan sama sepertimu. Aku sudah sembuh Sava. Aku mencintainya dan ingin menikahinya. Aku ingin meninggalkan pilihanku sebagai seorang gay."
Whaaa.........
=====
Dari perbincanganku dengan seorang teman yang [dulu] memilih untuk mempunyai orientasi sexsual menyimpang aku tahu bahwa guy atau lesbian dapat disembuhkan.
Temanku bercerita bahwa pada dasarnya semua orang mempunyai kecenderungan untuk menjadi gay atau lesbin [sama dengan postinganku terdahulu]. Namun demikian, tergantung dari kemampuan masing-masing orang untuk menekannya atau membiarkannya 'menjadi'.
Temanku tadi menceritakan panjang lebar bahwa kesembuhannya tidak lepas dari peran calon istrinya. Peran calon istrinya dalam hal ini lebih pada cara 'memperlakukan' dan 'melayani' temanku tadi.
[Perlu aku garis bawahi di sini, bahwa mereka penganut paham sex before merried]
Intinya kesembuhan dari para gay dan lesbian ini selain berasal dari dorongan nurani masing-masing untuk sadar dan kembali ke 'jalan yang benar' ataupun agama, ternyata diperlukan dukungan dari banyak pihak. Utamanya jelas berasal dari pasangan lain jenis.
Menurut dia, jika pasangan lain jenis dapat memberikan kebahagian, perlakukan dan pelayangan yang lebih baik atau setidaknya sama dengan yang dia dapatkan dari pasangan sesama jenis, maka mereka akan sembuh. Lebih vulgar lagi, pasangan lawan jenis tahu dan mampu memperlakukan pasangan ketika berhubungan sexsual, sehingga dapat memberikan kepuasan lebih.
Kesembuhan ini, diartikan sembuh dan tidak kembali lagi ke orientasi sexsual yang menyimpang.
Ternyata memang mudah untuk mengembalikan seseorang yang berorientasi sex menyimpang 'back on track'.
Yup, itu dipandang dari kacamata pasangan yang berorientasi sexsual menyimpang.
Sekarang tergantung dari sudut pandang pasangan normal dan mempunyai pasangan yang [pernah atau sedang] berorientasi sex menyimpang. Benar, banyak pengorbanan yang dilakukan -khususnya- jka pasangan normal ini seorang perempuan.
Dari survai yang pernah dilakukan temanku tadi [kebetulan dia juga aktif di LSM gay lesbian], hampir 80% perempuan akan langsung memutuskan hubungan ketika tahu pasangannya seorang gay.
Sedangkan untuk pria, resistensinya sangat kecil. Pria cenderung masih menerima jika perempuan yang dinikahinya adalah mantan lesbian. [Dengan catatan tentunya sang perempuan sudah insyaf].
Perlakukan atau katakanlah service yang cukup memuaskan memang sedikit menyulitkan, bahkan menjadi sangat menyulitkan jika perempuan normal yg mempunyai pasangan menyimpang tergolong belum berpengalaman dalam melakukan hubungan sexsual.
Jadi, semua tergantung kepada komitmen masing-masing memang. Menyikapi fenomena gay dan lesbian memang masih cukup 'membingungkan'. Bukan saja bagi orang-orang awam yang tidak pernah bersinggungan dengan mereka.
Bagikupun masih cukup sulit memahaminya, walaupun beberapa temanku kebetulan memilih dan 'nyaman' dengan orientasi sexsual yang menyimpang seperti itu. Mungkin memang tidak perlu dipahami, hanya perlu untuk diketahui.
Sayup-sayup aku dengar lagu Amazing -nya penyanyi gay George Michael [penyanyi yang dulu bagiku gambaran pria keren sedunia.... dan tak pernah lepas pandanganku darinya ketika bertemu di Savoy Hotel di Inggris enam bulan yang lalu] menemani langkah kakiku yang melenggang pulang.
The day you walked in and changed my life
I think it's amazing,
The way that love can set you free
Celebrate, this life with you baby
I think you should celebrate
Don't put your love in chains baby
No no, walk in the midday sun
I thought I was dreaming
I think it's amazing
I think you're amazing
I said celebrate the loce of the one you're with
As this life gets colder
And the devil inside
Tells you to give up.....
|
Sunday, May 02, 2004
|
Perjalanan
|
 Aku bisa melihatnya.
Hanya di tempat ini aku bisa melihat kaki langit dengan pandangan lega tak terhalang satu gedungpun.
Malam itu dalam perjalanan pulang, kulihat langit bertaburkan bintang.
Terang dan terasa dekat. Aku tak pernah merasakannya di Jakarta.
Di Jakarta aku selalu 'putus asa' melihat ke langit hanya untuk mencari tahu mana bintang yang berbentuk layang2 yang seringkali dijadikan pedoman untuk bercocok tanam. Alm Eyangku dulu pernah bilang kalau perlu juga bagi generasi muda mengerti sedikit masalah ilmu pranoto mongso [ilmu perbintangan].
Ah, di sini ternyata aku bisa melihat jajaran bintang yang membentuk layang-layang, yang selain orang Jawa, ternyata digunakan orang dayak sebagai pedoman mulai bercocok tanam. Bintang itu bejajar tiga dan salah satunya memendarkan cahaya lebih terang. Di langit luas di tengah padang savana itu aku lihat bintang lain membentuk gambar2 berpola dan makna.
Bintang bertebaran di hamparan langit maghrib yang terbentang. Sang kaki langit pun dapat kulihat waktu itu. Sangat luas, dan sejauh mata memandang hanya langit dan langit.
Sedikit tanya, mengapa di tempat jauh dan terpencil seperti ini justru aku bisa merasakan 'kekuatan' Nya?
Bahkan ketika bus berjalan melambat karena di sisi kiri jalan yang ternyata menganga jurang terlihat truk pengangkut kayu jatuh terbalikpun, aku tetap merasakan 'kekuasaan' Nya.
Ah, apa karena akibat ramalan dari orang dayak itu?
Sama sekali aku mempercayainya.
Aku hanya mengamini apa yang dikatakannya.
Perjalananku ke wilayah Seruyan Hulu yang melewati Nanga Pinoh sekitar 12 jam dari Pontianak kali ini memang sangat menakjubkan. Seperti biasa aku tak merasa tersiksa dengan perjalananannya. Toh, setiap tugas, 'bos besar' selalu mengikhlaskanku pergi ke tempat2 terpencil, pedalaman, dan penuh petualangan.
Dalam bus aku teringat ucapan seorang kawan akrab, "Kapan kamu berhenti ber-Petualangan Sherina?"
Waktu itu aku hanya tersenyum.
Batinku berkata, aku pun tak tahu. Ada perasaan sebah memang, tapi justru aku menikmati saat2 penuh penderitaan itu. Bahkan ketika tanpa sadar tanganku telah digigit oleh lintah dan darah mengucur deras, aku pun menikmatinya.
Lima hari sudah aku berada di perbatasan Kalbar-Kalsel nun jauh di tengah hutan belantara, dan mencoba mengakrabi dan berinteraksi dengan beberapa suku dayak pedalaman yang jauh dari modernitas, membuatku semakin jauh berpikir pula. Ada kesadaran bahwa ternyata aku masih diberikan kehidupan yang lebih baik oleh Nya.
Kepolosan mereka dan juga kepasrahan mereka terhadap kehidupan merupakan hal yang tak pernah dimengerti oleh orang2 kota. Orang2 kota [termasuk aku di dalamnya], mungkin selalu menuding bahwa mereka tidak bisa hidup tanpa sentuhan modernitas.
Ternyata, tudingan itu salah besar.
Justru dengan kepolosan dan kepasarahan itu, mereka bertahan untuk hidup.
[Untuk semua warga dayak hindu kaharingan di Nagah Pinok dan sepanjang sungai Malawi]
|
|
| | | | | | |