|
Sunday, June 13, 2004
|
Glayengan
|
 Suatu pagi entah angin apa yang membuatku datang secepat ini ke kantor. Aku yakin sepagi ini, rekan2 sekerjaku masih asyik memeluk guling dan menarik selimut sampai batas kepala meneruskan kenyamanannya tidur di lautan kapuk.
Semalam seorang teman lama dari SMA di Djogja dulu datang ke rumahku dengan membawa gaya banyolan khas kota gudeg. Kawan perempuan yang sudah 10 tahun tak jumpa adalah seorang yang ramai, ramah, sehingga banyak menjadi tumpuan curhat teman2 SMA ku dahulu.
"Va, kowe ud tau belon, Si Paijo yang dulu jadi juara kelas semasa masih SMA sekarang jadi tukang kredit di pasar Kota Gede. Si Dul Kamidi yang anaknya juragan perak, gara-gara bapaknya bangkrut...krut... sekarang mung jadi tukang palak di stasiun Tugu. Terus, Si Sakimin yang dulu jadi orang rodo bloon kecampuran pah poh se-kelas sekarang jadi staf bank BCA. Si Parto Becak yang dulu waktu sekolah hanya punya ngelmu pengeyelan turunan dari bapaknya yang tukang becak tapi tangguh tan kiniro itu, sekarang jadi manajer tim bal-balan di Yogya. Tho opo ora hebat?"
Waktu itu aku hanya tersenyum dan yang terbesit dalam pikiranku adalah, 'masing-masing sudah digariskan rezekinya. Cukup gak cukup itu kan pikiran orang yang bersangkutan. Yang penting nerimo ing pandum. Lha kok njur rodho kecampuran unsur2 iri bin dengki srei lho.'
Tanpa mengindahkan mukaku yang agak merah kuning hijau [emang traffic light] kurang sarujuk alias berseberangan fraksi dengannya, sang teman tetap meneruskan cerita dengan semangat '45.
Yah, apalah dayaku melihat teman yg ud 10 thn gak ketemu walopun agak mengesalkan tapi tetap saja diterima.... wong in the name of pertemanan je.... Semangat sisterhood tinggalan kraton Ngayogjokarto Hadiningrat-kan tetap mendarah daging dan perlu tetap nguri-uri kabudayanwalo sudah pindah di kota metropolitan.
Tapi, apa yang terjadi kemudian?
Lha kok, tiba-tiba mak bedunduk ceritanya yang menggebu-gebu itu berhenti. Aku terkejut dan bertanya-tanya mengapa semangat pejuangnya untuk bercerita berhenti mendadak. Tiba-tiba aku dengar suara yang cukup melodius muncul dari sel-sel perutnya. Suara melodius sekaligus mencekam, lha wong suaranya mak kruek...kruek...kruek kok.
Dengan sedikit pringisan dia bilang, "Va, ada orang jualan bakso ideran ato gak ya. Aku dari pagi belum makan he he he he......"
Lha bertindak sebagai tuan rumah yang baik dan benar, aku langsung tanggep ing sasmito langsung gruwalan naik ke kamar kerja di lantai dua, untuk ngambil duit sekenanya, nyamber sandal jepit, dan langsung turun lagi terus mak brebat lari agak kephontal-phontal menuju warung baksonya Pakde Siman yang asli Purworedjo itu, beli bakso seporsi.
Setelah insiden perut yang melodius bin serem binti ngisin-ngisini itu selesai, cerita langsung dilanjutkan. Wah ya harus diteruskan, wong jelas gimana gak dilanjutkan, teneh aku yang rugi bandar, udah direwangi biyayakan lari nyari energi tambahan buat ibu dalang edan ituje....
Sang tamu yang enggan disebutkan namanya itu, dengan gustonya melahap bunderan bakso yang segede-gede bal pingpong itu. Wah kok ya aku jadi ikut-ikutan lapar ya... whee lha dalah.... Anyway, dengan mulut yang mucu-mucu kamisosolen glindingan bakso, dia melanjutkan rumpian tentang teman-teman SMA kami.
"Va, kamu tahu gak gendhuk Sri yang anaknya ibu kantin yang bodinya semlohe bin semok binti bohay dulu itu, sekarang nikah sama kontraktor yang dulu ikutan bangun perumahan elit di Merapi View itu lho. Wah jan, cokro panggilingan tenan kok. Sekarang dia urip mulyo, padahal dulu dia sering dikerjain temen-temen cowoq kita ketika nimba air buat bikin kuah mie. Inget gak?"
"Terus kamu kelingan sama si Sam dengan kacamata lodhong-nya saking tebelnya, dia kok ya cepet payu. Bojonya si Sam itu cakepnya jan ngedap-dapi tenanan, wong pernah jadi mantan finalis putri Gardena lho. Aku heran kok mau-maunya nikah sama si Sam yang cungkring dengan kacamata lodhong kayak profesor itu. Ning ya memang, gitu-gitu si Sam kan punya tanah berhektar-hektar di mBantul."
Wah, aku jadi semakin mengerutkan bathuk kok lama-lama pembicaraan jadi semakin dalam nyerempet-nyerempet wilayah dalam negeri orang lain nih. Kok ya tiba-tiba semakin deg-degan nih jantung.
"Lha terus si Denok yang pancen dhebleng itu, sekarang sudah punya anak kembar. Aku sering ketemu dia lho Va. Ketemunya mesti dia lagi pas nge-pit onthel, ato mbonceng pit montor sama bojonya ke warung pak Kromo Mangun beli lawuh gudeg krecek buat anak-anaknya yang masih sak piyik2."
Dag dig dug detak jatungku makin kuenceeenggggg.........
"Terus Si Putri yang dulu sampai direwangi pesto gede2an karena kerja di BRI, sekarang udah keluar. Katanya sih suaminya ngelarang dia kerja. Lha ya layak, wong Putri memang gandes kenes gitu. Suaminya cemburuan baget. Jadinya sekarang dia nrimo di rumah jadi ibu rumah tangga, ning ya dia masih sering kangen pengen kerja di luar, apalagi dia sampai sekarang belum punya momongan. Lha si anu...... si anu......... dan si anu.... sekarang bla bla bla bla bli bli bli bli.........."
"Sekarang ini semua teman-teman sekelas kita di SMA sudah pada mulyo, kondang ya kerjanya, ya keluarganya. Lha sekarang kamu ki piye. Kowe ki nyambut gawe uwis, yo wis mulai rodho mulyo. Lha ning....kapan tho Sava. Kedatanganku ke Jkt ini pada dasarnya, INTINYA juga membawa misi dari teman-teman untuk menanyakan kapan kowe mulai nyebar undangan."
DHUAAAARRRRRRR.......LHAAAA..... rak tenan thooooooooo...... pada akhirnya aku rak ya mung kecipratanpertanyaan klise itu tho. Pantesan kok jantungku deg degan terus-terusan. Lha ya piye? Aku rak ya mung cuman bisa mringis thenger-thenger deleg-delegkena lemparan pertanyaannya dia yang tepat sasaran itu tho, ya jelas sambil ndongo... O alah Gustiiiii.... paringonO sabar.
Mungkin masalah ini yang membikinku gak bisa tidur nyaman sehingga memutuskan masuk kantor sepagi ini.
P.S. untuk kepentingan dan keamanan dalam negeri para pihak, nama2 yang dicantumkan dalam story ini adalah samaran alias sudah diubah dari nama asli ke yang buatan. Jadi, mohon maklum yee....
|
Monday, June 07, 2004
|
Cerita dari seorang teman Sava di sana
|
When a person's vagina, anus, or mouth is forcibly penetrated by a penis or an object, it is rape. A person who is raped may be exposed to HIV.
 Kamar itu begitu mewah, dengan gaya penataan minimalis seperti yang aku suka. Tidak terlalu lebar tapi memang cocok dihuni satu orang. Letak kamar mandi yang barhadapan dengan ruang ganti lengkap dengan kaca setinggi orang untuk sekedar mematut diri memang suatu kemewahan yang berbeda.
Seringkali aku menemukan bentuk ruangan yang sama dengan ruangan ini, seperti di beberapa apartemen yang pernah kusambangi. Namun ruangan ini berbeda, dan jelas sangat berbeda.
Hari itu sangat melelahkan. Kubuka minibar yang terletak tepat di depan tempat tidur itu. Fieeuww... lengkap berjejer minuman dari yang non alkohol sampai beralkhol. Bentuk botol yang mini cenderung imut itu memang menarik hati.
Jelas tak mungkin aku menegak isinya. Pertama, bukan peminum, dua, 40 hari sholat gak diterima euy. Akhirnya kutemukan kantung kecil earl gray tea. Segera kubuat teh yang menjadi salah satu favoritku itu.
Matahari baru saja tenggelam dan waktu masih menunjukkan pukul 18.00. Terasa sangat penat, dan lelah, tapi mata belum mau bersahabat untuk sekedar ikut beristirahat di kasur empuk itu.
Bip...bip...bip...bip....
Suara telpon menggema di seluruh penjuru ruangan kecil itu. Aku angkat dan di seberang sana kudapatkan suara temanku, 'tolong kamu ke turun ke bawah. Bos ngadain meeting dadakan nih.'
Bergegas kusambar jaketku, toh aku juga masih berpakaian lengkap dan langsung keluar kamar. Di bawah kutemui para anggota meeting yang hanya enam orang itu sudah siap duduk memutari meja marmer. Kumenggabungkan diri dan turut larut dalam meeting malam yang diluar jadwal itu.
Diskusi berkembang alot, banyak konsep yang harus dipersiapkan untuk jadi pedoman pekerjaan kami ke depan. Ah, akhirnya diskusi itu pun selesai. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.50.
Kami semua berbondong-bondong kembali ke kamar masing-masing untuk sekedar merebahkan badan memulihkan kesegaran. Begitupun aku. Kulangkahkan kaki menuju kamar, dan ketika kubuka pintu kamar, dan segera masuk ke kamar tidur. Namun bukan main terkejutnya aku ketika di tempat tidur kutemukan dia.
'Kamu.... apa yang kamu lakukan di sini. Bagaimana kamu bisa masuk di sini?" berondongan pertanyaanku meluncur tanpa mengenal titik koma seperti dalam cara berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
'Menemui kamu, karena aku kangen padamu.'
'Kita sudah tak ada hubungan apa-apa lagi. Sekarang kamu keluar dari kamar ini. Cepaaat." teriakku gusar.
Ternyata pria di depanku tetap cuek dengan teriakanku dan balik memandangku dengan mata tajamnya [mata yang dulu pernah membuatku suka].
'Aku kangen padamu dan aku ingin denganmu pagi ini.'
 Aku menjadi semakin gugup dengan prilakunya itu. Dari pandangan matanya sudah tak kutemui lagi mata yang bersahabat dan membuatku aman, justru mata itu penuh dengan tatapan iblis yang menakutkan. Dari bau badannya dan bau mulutnya menguar aroma Chivas Regal.
Pria itu langsung maju dan memelukku erat dan menjatuhkanku di atas tempat tidur itu. Menindihku dengan kuatnya. Aku berontak, dan semakin kalap. Semakin keras aku teriak, semakin erat dekapannya.
Aku menangis, memukulnya dan berdoa dengan segenap rasa 'Ya Allah, tolong bantu aku.'
Anganku melayang ke semua orang,
'Ibu bantu aku,'
'Bapak, tolong aku,'
'Mas bantu aku, lepaskan aku darinya. Aku mohon Mas, tolong bantu aku.'
Semua orang yang ada dalam benakku tentu tak kan datang.
Dengan segala kekuatan yang tersisa aku harus lepas darinya. Aku berhasil lepas setelah mencakar, menendangnya.
Aku lari ke pintu dan menggedor kamar yang berjarak dua kamar di sebelah kiriku. Sepanjang lorong pria yang pernah ku kenal itu masih mengejarku, dan menarik tubuhku. Teman-temanku yang ternyata masih ngobrol di kamar itu membuka pintu dan melihatku dalam posisi dibekap dan ditarik-tarik oleh pria yang tak dikenal, sontak langsung menghajar pria itu.
Aku ditarik masuk ke kamar mereka, dan selebihnya aku sudah tak tahu apa yang terjadi. Mungkin aku pingsan, aku tak tahu.
Setelah aku sadar, ternyata aku sudah berada dalam mobil kembali ke Jakarta. Sepanjang jalan aku tak bisa berkata-kata. Dua orang teman yang mengantarkanku pulang tak berucap apapun, terlihat kentara mereka berusaha keras menahan diri untuk tak mencoba memuaskan nafsu bertanyanya atas apa yang kualami.
Aku terkejut, marah, sedih, terlecehkan, dan tak tahu harus berbuat apa.
Saat itu aku teringat pada seseorang, ah, namun apa dayaku toh dia tak akan ada di sampingku. Aku hanya teringat sms yang dia kirim dari Jakarta sebelum aku tertidur, 'pulang, hati-hati. Sholat, tidur. Gak usah mikir macam-macam dulu.'
Sayup-sayup ku dengar lembut suara Lionel Richi yang mengalun dari stereo mobil....
Now sound funny but I just can's stand the pain
but
Why I'm easy,
I'm easy like sunday morning
That's why I'm easy.....
|
Wednesday, June 02, 2004
|
Na na na na na na..... singing in the rain
|
I'm singing in the rain
Just singing in the rain
with happy feeling
'cause
I just find out that you never be mine.....
na na na na na......never be mine
na na na na na..... you never be mine
I know that I have a badly crush on you
but you.... na na na na na na...... absolutely never be mine
So,
I am free from this heavy feeling
Now,
just singing in the rain
What a glorious feeling
I'm happy again
I walk on the rain
with happy feeling
[inspired by Jammie Culum]
|
|
| |