Va, Pantja sudah 'pergi'.
Ikhlas-in 'kepergiannya' ya.
Suara lembut itu terdengar sangat jelas masuk ke gendang telingaku. Saat itu serasa berita yang terkabar melalui suara lembut yang terdengar melalui kumparan-kumparan maya di ponsel itu, sangat menyengat dan membuat sel-sel otakku seperti dihajar palu bertubi-tubi.
Aku pulang mbak, sekarang juga.
Malam belum terlalu larut, masih diambang jam 10 malam ketika berita itu ku dengar.
Segera kumatikan ponsel, kusambar jaket, kuraih dompet, kunci mobil, dan langsung menghambur ke garasi. Belum sempat kunyalakan mesin mobil, kudengar bel di rumah berbunyi. Dari garasi langsung kulihat Ara berdiri dan berteriak, 'Aku ikut ke Mas Pantja, Va. Pakai mobilku saja.'
Malam itu juga kami berdua langsung berangkat menuju Surabaya. Tol Cikampek yang kami lalui sangat ramai. Bus-bus antar kota serasa berkejaran mengejar waktu untuk sampai ke tujuan. Perlombaan adu cepat itu jelas tak pernah terpikir sedikitpun oleh kami berdua. Kesadaran bahwa kami ternyata juga masuk sebagai peserta perlombaan kebut-kebutan itu.
Sepanjang perjalanan panjang itu tak banyak kalimat yang terucap. Tak ada dialog, masing-masing berkutat dengan pikirannya sendiri. Ara, sahabat dekatku semenjak SD itu banyak terdiam dan sering terlihat menghapus air matanya. Sesekali juga dia memegang tangan kiriku yang sibuk mengoper persneling untuk menambah kecepatan ford escape-nya.
Keadaanku pun tak jauh berbeda dengannya.
Banyak hal berkecamuk dalam pikiranku. Hanya ada satu keinginan kuat dalam hatiku malam itu.
Aku harus melihat Pantja untuk terakhir kalinya, sebelum dia kembali dan bersatu lagi dengan bumi. Aku harus memegang tangannya, walau dia tak akan dapat lagi tersenyum atau sekedar mengusap rambutku seperti yang bisa ayah kami lakukan padaku, dulu.
Di mataku Pantja seorang pria sederhana yang tak pernah mengeluh dengan kehidupannya. Dia jalani hidup dengan apa adanya. Dia terima apa yang didapatkannya dengan keikhlasan dan kepasarahan penuh.
Sejenak aku teringat pada belum lama ini aku datang padanya tanpa rencana, tanpa persiapan, tanpa tujuan aku ke airport dan tanpa kusadar sudah ada tiket dengan tujuan Surabaya di tanganku. Dengan wajah kuyu dan DIAM aku datang padanya, dan di depan pintu dia menyambutku dengan senyuman manis dan seraya mengusap lembut kepalaku.
Celoteh sederhana terlontar darinya, 'ah, dasar Angin. Datang dan pergi tak terlihat, hanya hembusannya saja yang terasa.'
Semalam suntuk kami ngobrol di atas tikar yang digelar menghadap taman asri
di belakang rumahnya. Seperti biasa dengan kemanjaan sangat, ku sandarkan kepalaku dan sekaligus semua 'beban' di pundaknya. Semua keluh kesahku, omelanku, kengototanku, ketidakpuasanku tentang apapun disikapinya dengan dewasa sambil sesekali mencomot singkong goreng yang dibuat mbak Ratri istrinya.
Aku masih ingat pada pertemuan kami terakhir -saat dia mengantarkanku ke airport untuk kembali ke Jakarta-, Pantja sempat berucap, 'Va, kamu perempuan paling rumit yang pernah aku temukan. Tak akan mudah orang mengerti apa yang kau inginkan sebenarnya. Di balik senyummu, candamu, sekaligus kecerdasanmu, banyak misteri yang kau sembunyikan. Kamu salah satu perempuan yang sangat kucintai selain Ibu, dan mbakyu-mu. Jika boleh aku ingin melihatmu sekali saja berhenti 'berlari' dan 'berlari' adikku."
Pantja kakak angkatku yang kuanggap sebagai saudara kandungku sendiri. Kuingat kehadiran Pantja di tengah-tengah keluarga kami merupakan saat paling menjengkelkan saat itu.
Di mataku dia tak lebih dari Si kurus dengan kulit hitam legam tak terurus namun
bermata jenaka datang bersama Ayah ke rumah. Aku tak tahu apa yang terjadi dengannya, tak ada satu pembicaraan apapun tentang Pantja saat itu. Terakhir ku tahu, ibu dari Pantja menitipkan dia ke orang tuaku karena akan berangkat
menjadi buruh pabrik sepatu di Tangerang. Sejak saat itu tak pernah sekalipun ada kabar apapun dari ibu Pantja.
Kehadiran Pantja saat itu sempat mengusikku.
Sampai satu ketika semasa aku masih kelas 4 SD, sepeda balapku direbut paksa oleh kekak kelas yang kebetulan sekelas dengan Pantja, hingga aku terjatuh. Pantja yang melihat kejadian itu langsung memukul temannya dan terjadi perkelahian.
Aku masih ingat dia berkali-kali berkata, 'jangan ganggu adikku.' sambil tak henti memukul dan menangkis balasan dari teman sekelasnya itu. Akibat perkelahian itu, Pantja diskors seminggu tak boleh masuk sekolah, sedangkan aku mendapatkan bekas luka yang masih terlihat sampai aku dewasa.

Ku tersadar dari lamunanku ketika Ara menyalakan lagu dari stereo mobil. Sayup-sayup terdengar lembut suara Dionne Warwick yang melantunkan What's a Friend are for.
In good times, and bad times
I'll be on your side forever more'
thats a friend are for.........
Pantja memang kakak terbaik yang pernah aku miliki. Dia sosok cerdas, dan berwibawa, sama seperti alamarhum ayahku. Mereka berdua adalah para pria yang mampu membuatku tertawa dan memandang tantangan hidup menjadi ringan ketika mendengar canda mereka.
Sejak kejadian di SD itu, kami berdua tak pernah terpisahkan. Hanya sampai SMP dia tinggal dengaku dan orang tuaku. Dia kemudian diambil oleh adik Ibunya untuk dibawa ke Surabaya tanpa alasan yang jelas.
Walau terpisah jarak dan waktu, hubunganku dengannya tak pernah terpisahkan. Bahkan ketika ibu seringkali tak dapat membendung amarah beliau karena aku tak pernah ada di rumah semenjak ayah meninggal. Ku tak pernah ambil perduli dengan semuanya, bahkan omelan Ibuku.
Ku sibukan diri dengan segudang aktivitas yang tak pernah henti. Selalu sibuk dengan OSIS, selalu sibuk dengan mengurusi mading sekolah, selalu tak pernah ada di rumah untuk menutupi kejengahanku. Sikap yang sama dan terbawa sampai aku kuliah dan bekerja saat ini.
Hanya Pantja yang dapat menyabarkan beliau. Hanya pantja yang mengerti mengapa aku selalu keluar dari rumah, mengapa aku membenci Yogya, mengapa aku selalu menolak hadir dalam acara yang diselenggarakan keluarga besarku, bahkan mengapa aku selalu mencari jalan terjauh dari sekolah untuk kembali ke rumah.
Hanya Pantja yang mengerti alasanku menjadi anak 'badung' setidaknya dimata Ibu dan keluarga besar- ku di Yogyakarta.
Hanya Pantja yang pertama kali datang ke Jakarta di tengah-tengah kesibukannya dan
menungguku di kantor selama 8 jam, hanya untuk melihat keadaanku setelah tahu Rangga meninggalkannku dan menikah dengan orang lain.
Selain ayah, hanya dia yang mampu menyabarkan amarahku. Pun ketika aku memaksa tinggal di Jakarta dan menolak semua fasilitas yang ditawarkan Ibu, dan lebih memilih pekerjaan yang ditentang habis-habisan oleh Ibu, Pantja dengan kesabarannya memberikan pengertian pada beliau.
Pantja yang menyadarkan Ibu, bahwa sebenarnya aku dan beliau adalah dua perempuan yang mirip. Kesadaran bahwa kami adalah dua orang perempuan yang Keras kepala, independen dan sama-sama susah dimengerti.
Pantja dengan tatapan mata jenakanya mampu mengerti apa yang terjadi denganku tanpa perlu bertanya dan memberondongiku dengan sejuta hal yang bertele-tele.
Dari seorang Pantja aku belajar untuk tahu bagaimana membuat pancake yang enak, bagaimana menggoreng pisang tak gosong tapi berwarna kuning keemasan, bagaimana membuat sayur asem dan sambal trasi yang enak.
'Jadi perempuan modern ya modern, tapi jangan hanya menekuri laptop, ketemu mitra, dan presentasi sana sini. Kamu juga perlu belajar masak dan jangan ngomel ketika nyetrika pakaian. Ok kamu bisa nyuci mobil dan ke bengkel atau hangin' around cafe to cafe, tapi kerjaan rumah tangga juga mesti gape dong.'
Kalimat itu dia lontarkan sambil tertawa ketika melihatku kewalahan mengaduk adonan untuk membuat biskuit kayu manis andalannya.
Saat itulah aku seringkali merasa sebal dengan olokan sekaligus tertawanya yang manis itu. Seringkali di setiap acara memasak selalu diselingi perang tepung. Jika kesal seringkali kulemparkan bubuk tepung ke arahnya, dan karena dia cekatan menghindar maka temparan tepung itu meleset dan mengotori hampir setiap bagian dapur.
Jika hal tersebut terjadi, maka Mbak Ratri atau Ibu [jika datang berkunjung] giliran berteriak-teriak panik. Jelas bukan panik karena pertengkaran iseng kami berdua, tapi panik melihat dapur yang kotor [maklum ibu-ibu].
Perang-perangan itu terjadi tak hanya di dapur, pun terjadi ketika Pantja menggangguku saat mencuci mobil. Hasilnya bukan mobil menjadi bersih tapi justru semakin kotor karena kami berdua terlibat semprot-semprotan air ledeng.
Tak terasa, menjelang jam 3 pagi kami sampai di Cirebon, dan beristirahat sejenak di kedai 24 jam di pinggir jalan. Ara tampak lesu. Pelupuk matanya tampak membesar dan bengkak karena deraian air mata yang tak berkesudahan. Bagi Ara, Pantja adalah pria pertama yang dicintainya. Jika bukan karena sudah dijodohkan oleh orang tuanya, mungkin Ara saat ini sudah menjadi kakak iparku.
Di pinggir jalan itu ku tengadahkan kepalaku ke atas, dan saat itu kulihat
bintang-bintang yang bertaburan di langit luas menyambutku.
Bintang, ah.... Pantja sangat mencintai keadaan ketika langit gelap dan berbintang.
'Va, aku suka ketika bintang-bintang bertaburan di langit.'
'Ah, Mas mesti melihat di Kalbar. Di sana Mas dapat melihat bintang sampai kaki langit. Pandangan tak akan terhalang gedung dan aspal. Sejauh mata memandang hanya kegelapan padang Savana dan bintang kesukaanmu itu. Mangkanya jangan keluar negeri terus, di daerah masih banyak tempat-tempat yang indah dan mengagumkan.'
'Kamu beruntung dapat melihatnya ya, aku ingin melihatnya juga. Cuman tak tahu kapan. Aku hanya sebal ketika bintang di langit hilang karena hujan datang. Hujan yang kamu suka Va.'
'Lho, aroma tanah ketika bercampur dengan air hujan yang turun pertama kali sangat eksotis Mas. Parfum paling mahalpun tak ada yang dapat menandinginya. Itu parfum alami, made in SANA.'
'Jelas, tak pernah ada yang menandinginya adiku,'katanya seraya mencubit hidungku yang tak dia lepaskan sebelum aku berteriak-teriak sengau.

Ah, pantja. Mengapa hujan dan bintang tak pernah dapat tampil bersama dalam satu panggung jagat raya?
Sejenak aku ingat pesannya untuk bertafakur dan tak lupa sholat. Jangan lari lagi Sava. Percayalah aku pernah ada di tempatmu. Jangan cari di luar, tapi cari apa yang ingin kamu cari dalam dirimu.
Kenangan tentang Pantja yang datang dan pergi itu membuatku hanya bertahan selama 20 menit di Cirebon. Semakin banyak kenangan tentang Pantja, semakin kuat rasa untuk segera datang melihatnya.
Ku teguk sisa capucino dari bekal yang dibawa Ara. Aku bukan pecinta kopi, tapi justru minuman yang disuka oleh Pantja itu menjadi penolong saat-saat seperti ini. 'Va, hidup belum lengkap kalau pagi gak ngopi,' katanya.'Ah, tapi cafein akan membuat sel-sel otakmu lemah big bro,' sahutku tak mau kalah.Dengan segala sisa tenaga dan konsentrasi aku berhasil mencapai kota Semarang sekitar jam 8 pagi. Kami berdua beristirahat sebentar untuk makan pagi. Serasa makanan yang tersuguhkan di hadapanku hampir tak dapat kutelan. Hanya kupaksakan diriku untuk menghabiskan segelas teh manis dengan gula batu untuk sekedar memulihkan tenaga.
Ketika memasuk tol Genuk menuju Pati, Ara menggantikanku menyetir mobil. Aku gunakan kesempatan untuk sedikit memejamkan mata yang tetap tak mau terpejam. Menjelang memasuki Tuban, aku kembali berada di belakang kemudi. Jalanan sangat jelek tak semulus jalan raya menuju Semarang.
Dalam hatiku sedikit memaki pada pemda yang tak memperbaiki sarana jalan utama yang sangat vital karena dilalu berbagai kendaraan dengan PAD-nya.
'Dasar birokrat, di pusat atau di daerah sama saja,' runtukku dalam hati.Menjelang ashar jam 3 sore aku masuk surabaya, aku sampai ke rumah Pantja.
Mobil kutinggalkan begitu saja di halaman depan rumah yang sudah ramai dengan para tamu. Tak perduli dengan teriakan orang-orang yang tak mengenal ku sebagai adik Panja, tak kuhirukan seruan mereka untuk mematikan mesin dan memarkirkan mobil.
Ku menghambur ke dalam rumah. Di ruang depan kulihat Pantja berada di sana. Di selimuti kain batik sidomukti milik Ibuku. Kulihat saudara-saudara yang melihatku
terlihat
over acting seakan-akan berlomba-lomba memeluk, menangis, dan mengasihaniku.
Aku jengah
Aku sebah
Tangis mereka terdengar seperti para peserta perlombaan koor yang minta perhatian juri.
Aku terdiam dan mataku menatap nanar ke sosok yang tak lagi bergerak itu.
Kupandang Ibuku, yang terisak dipelukan mbak Ratri.
Kulihat beliau nampak makin menua dengan kerudung hitamnya itu.
Tak jauh beda, Mbak Ratri yang mandiri itu tampak begitu menderita di balik tangis tak berkesudahan itu.
Saat akan ku hampiri jasad Pantja, kulihat Raka anak semata wayang kakakku itu duduk memeluk kaki di mendekat ke tembok. Tak ada orang yang mengawasi anak 10 tahun itu. Dia yang selalu ceria tampak bingung tak bertenaga dan memandang orang-orang yang duduk memenuhi ruang tamu rumahnya dengan pandangan kosong.
Kudekati dia, ku duduk didekatnya dan kuusap kepalanya. Tanpa sepatah katapun dia sandarkan kepalanya ke pundakku. Ingatanku melayang satu kejadian saat aku
berusia 14 tahun ketika Ayah meninggal dunia.
Tak ada yang memperhatikanku. Pun ketika tak setetes air mata jatuh
dari pelupuk mataku. Semua sibuk dengan tugasnya masing-masing. Aku duduk di
dekat tembok bertopang dagu, yang kemudian Pantja datang padaku dan mengusap kepalaku dengan sayang seraya berkata,
'Ikhlaskan ayah ya Va. Ikhlaskan beliau bertemu KEKASIH-nya.'Seperti film layar lebar yang sudah usang dan dipaksa untuk diputar ulang, tak sadar
apa yang kulakukan kepada Raka adalah hal yang sama dengan yang dilakukan Pantja pada ku dulu.
Sampai di jasad itu menyatu dengan tanahpun aku masih serasa tak tersadarkan dengan kepergiannya. Bagaikan mimpi tak ada berawal dan tak berakhir.
Saat itu aku tersentak dan langsung mengambil air wudhu dan sholat Ashar. Doa terpanjang kuucap untuk meringankan kepergiannya, dan mungkin yang paling tepat adalah doa untuk menenangkan diriku sendiri.
Perasaanku kosong, pun ketika aku menghadapi kemarahan saudara-saudara ketika kubilang aku akan kembali hari itu juga. Tak sopan memang, tapi mungkin ini yang terbaik.
Aku tak sanggup melihat tangis, aku tak sanggup melihat semua.
Aku jengah, aku tak punya ketenangan sama sekali di rumah yang biasanya membuatku betah duduk berjam-jam bercanda dengan Pantja, Raka dan Mbak Ratri.
Bahkan ketika saudara jauhku dengan keras menudingku tak berperasaan dan lebih mementingkan kerja dibandingkan selamatan meninggalnya kakakku. Atau ketika adik ibuku dengan kalimat pedas mengatakan aku tak punya rasa sedih sama sekali dengan kepergian Pantja, aku hanya diam tak berkomentar.
Hatiku sedikit lega ketika memandang ke Ibu, beliau mengangguk dan ketika aku memeluknya untuk pamit, perempuan yang sangat aku sayangi itu berbisik padaku,
'biarkan air mata itu jatuh Nduk. Kamu tak akan sanggup menahannya Sava.'Tak kuperdulikan lagi pandangan sinis dan cibiran dari keluarga besarku. Aku melenggang pulang ke Jakarta ketika langit mulai suram dan gelap.
Kejam? Mungkin.
Bagiku ini yang terbaik.
Tak dapat dilogika? Tak perlu, karena memang tak ada yang perlu dilogika.
Menyesal? Mengapa menyesal ketika aku justru mendapatkan restu dari ibuku tersayang, di mana surga berada di telapak kakinya.

Mungkin beliau sudah mulai mengenal sikap aneh dari anak perempuan satu-satunya ini. Jika iya, tak lepas dari kampanye Pantja dan Mbak Ratri juga. Ku ingat kata-kata Pantja di mana satu saat orang perlu diberi kesempatan dengan kesendiriannya dan bermain dengan didirnya sendiri dan tak perlu memikirkan komentar orang lain.
Di pesawat yang membawaku ke Jakarta, dari jendela pesawat kulihat langit malam cerah berbintang.
Di sana seakan kulihat sosok Pantja di antara bintang. Sambil tersenyum manis dan dengan mata jenakanya mengawasi perjalananku dia seperti berujar, 'Promise me, this moment you aren't runaway again Sava.'
Saat itu terasa pelupuk mataku memanas, saat batinku berucap, 'maaf, aku tak dapat berjanji Mas.'
Hari ini aku pun terhempas lagi......
[Maaf postingan kali ini teramat panjang dan mungkin membosankan dan membuat jengah, aku tak tahu semua mengalir begitu saja. Hampir seperti tak perlu berpikir. MAAF]