<body bgcolor=white text=black link=black vlink=black alink=black marginwidth=0 marginheight=0 topmargin=0 leftmargin=0 rightmargin=0 bottommargin=0>
You can not blame my emotion because it will never fade away. I do not care about bad affinity. Its about me. Myself........


Visitor: hits.
Visitor online: online


These days the world's events are strange. They say this and they say that. There is no point arguning. I am better off dozing.....


NEWS
→Herald Tribune
→New York Post
→Washington Post
→Tempo
→Bisnis Indonesia
→Kompas
→Pantau
→MinergyNews
→Platts


DJOGJA's NEWS
→Kabare Jogja
→Gudang Info tt Yogya
→Angkringan
→Jawa Palace
→Primbon Jawa
→Sastra


JAZZ NEWS
→Horizon
→GRP
→Warta Jazz
→Jazz FM
→Dave Koz
→Fourplay
→Lee Ritenour



FILEs

  • January 2004
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • August 2005
  • September 2005
  • October 2005
  • November 2005
  • December 2005
  • January 2006
  • February 2006
  • March 2006
  • May 2006
  • June 2006
  • July 2006
  • August 2006
  • September 2006
  • October 2006
  • November 2006
  • December 2006
  • January 2007
  • March 2007
  • April 2007
  • May 2007
  • July 2007
  • August 2007
  • September 2007
  • October 2007
  • November 2007
  • December 2007
  • January 2008
  • February 2008
  • March 2008
  • April 2008
  • May 2008
  • June 2008
  • July 2008
  • August 2008
  • September 2008
  • October 2008
  • November 2008

































  •    
    Angin Savana
     
    Tuesday, October 26, 2004

    'Feel so Light and confortable' 

    Sekejap,
    hari ini,
    entah mengapa
    dalam pesawat yang membawaku kembali ke Jakarta,
    pikiranku teringat satu masa dalam perjalananku di saat bintang berjatuhan dari langit-langit pesawat semalam suntuk.

    Sedikit 'lelap' melanda, dan sangat membahagiakan bagi seorang penderita insomnia seberat aku. Saat itu, terlihat sisa curah salju di atas kota New York ketika pesawat yang kutumpangi mendarat landasan.

    Butiran salju masih melayang-layang di udara. Sisa musim dingin belum pergi.
    Buru-buru kurapatkan defenderku, dan kueratkan genggaman pada tas punggung hitamku,
    dan kakiku menapak pada eskalator. Mataku menatap nanar dengan kesibukan sekitar.

    Bandara JFK menyapa hangat seperti sahabat lama. Satu suasana wajar dan familar, dan berbeda dengan situasi yang cenderung membosankan yang kurasakan ketika menjejakkan kaki di Changi Airport.

    Keakraban waktu itu sedikit berpengaruh pada diriku. Sedikit rasa suram yang terbawa dari Jakarta terasa lepas tak tahu kemana. Semua ringan, terbang, dan melayang. Sergapan hawa dingin di luar tak menyurutkan langkahku, pun resah pada orang-orang tinggi besar, berkulit putih maupun hitam hilang begitu saja.

    Hingga akhirnya ku temukan diriku terduduk dan makan scramble egg, kentang goreng, dan camomille tea, dan segelas orange juice. Makanan tak sehat yang justru amat mengenyangkan.



    Sendiri di megapolitan seperti New York hanya dengan mengandalkan laptop sebagai sahabat setia, atau sesekali ngobrol tak berujung sekaligus berjalan-jalan dengan rekan yang lama tinggal di sana, dan sekaligus menghamburkan ratusan ribu dollar dalam waktu seminggu bukan hal yang setiap hari dapat terjadi.

    Saat itu, aku banyak terdiam mengamati, tersenyum, tertawa, ngobrol, marah, pun tak luput sedikit 'jaga image' ketika bertemu bule yang mirip George Clooney atau sekelas Robert Redford.

    Waktu itu aku merasa, hidupku ringan, tanpa beban, walau banyak banyak keributan di belahan dunia sana, di mana negeriku atau tepatnya di Djogja tempat lahirku berada.
    Ah, aku terlalu malas menceritakan yang terjadi.
    Itu masa lalu, walau sampai saat ini masih menghantuiku.
    Biarkan aku bernostalgia dengan rasa nyaman dan ringanku waktu itu.

    dan,
    Ssssstttttttt....
    jangan ceritakan kisahku ini pada siapapun.

    Saat itu keindahan benar-benar seperti tetesan salju yang mengalir di antara jari jemari tanganku. Mencari ruangan dan berhenti pada tujuannya. Dingin tapi terasa nyaman.

    Saat itu aku sendiri, tak mencari, tak menanti, tak berharap, namun hatiku sungguh sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada dia yang tak pernah aku harap, tak pernah ingin ku miliki, tak pernah ku tuntut,
    Yang sampai saat ini aku tak tahu siapa...........



     
    Monday, October 25, 2004

    Derita 




    Seorang pengecut merekyasa cinta
    dalam khayal dan kata-kata dusta
    Ia telah lama mengidap derita
    kepuasannya dari tangan nista











    .

     
    Saturday, October 16, 2004

    Diam 



    Diam
    tak mesti tak berkata

    Diam
    tak mesti tak bergerak

    Diam
    tak mesti berarti bisu

    Diam
    tak mesti berarti mati

    Diam
    juga merenung

    Diam
    juga berpikir

    Diam
    juga malu

    Diam
    juga marah


    Maka jangan bangkitkan marah pada yang diam
    engkau tak dapat mengukur kekuatan merenung
    yang berkubu di diamnya orang yang berpikir


    [Dalam 'diam' ku pun, 'rasa' itu masih ada]

     

    'Sheer Simplicity' 

    You comes like surprise ice on the water
    You comes like surprise ice at dawn

    Deprived of the light and colours, the world ends at your window tree
    Darkness create these illusions, but pale days can teach you to see

    Rain falls,
    but no life is given
    Weekpass,
    no progress is made

    Pass sometimes takes you with soft hands,
    and all that surrounds you will fade

    All this is what it is
    You and me alone ---- sheer simplicity



    [For you Mas]


     
    Friday, October 15, 2004

    Sepiring pisang goreng dan secangkir teh manis 

    Setiap hari, setiap pagi, di jam dan tempat yang sama selalu ku lihat sepiring pisang goreng dan secangkir teh manis yang masih mengebul.

    Setiap pagi, di atas meja makan selalu kulihat secangkir teh manis yang keharuman aromanya menguar dan membuatku terbangun.

    Setiap pagi, di atas meja makan selalu kulihat sepiring pisang goreng yang harumnya selalu membuatku berselera mencomotnya, walau dalam keadaan masih setengah sadar setelah bangun dari tidur.

    Setiap hari, setiap pagi,
    selalu kulihat dua orang yang kusayangi mengobrol di meja makan, menyambut pagi dengan berbicara hal yang tak ada bobotnya, tapi selalu diselingi tawa dan pandangan mata yang tak pernah lepas dari keduanya.

    Dua orang yang sangat ku sayang dan ku cinta, ayahku dan ibuku.
    Pernah satu pagi, ketika ku terbangun. Memang bukan terbangun karena kesadaranku atau panggilan ibuku yang selalu terdengar ketika aku malas bangun.

    Namun aroma teh tubruk dengan gula batu, berbaur dengan aroma pisang goreng panas dari penggorengan yang membuatku tersadar. Saat itu juga aku bangkit dan berlari menuju ruang makan.


    Tiba-tiba saja........ Brraaaaaakkkkkkk......aduuuuuhhhhhhh.........

    Ku temukan diriku kembali tak sadar karena menabrak pintu kamar tidar yang ternyata belum terbuka. Saat itu aku merasa antara sadar dan tidak, dan terdengar suara orang berlarian menuju kamar tidurku.

    "O alah Mbak, wong kamu itu lho. Bar tangi turu, nyawane durung ngumpul kok yo wis playon. Iki rak mesti mung goro-goro mambu gedhang goreng karo teh kagungane bapakmu tho."

    Suara lembut itu terdengar, aku hanya bisa mengangguk dan mengusap jidatku yang benjol dengan sukses, setelah bertanding dengan pintu.

    Waktu itu, ayahku memandangku di pintu sambil membawa sepotong pisang goreng dan berkata, "Mbak Sava, mau pisang goreng? Ini ayah bawakan. Ini pisang goreng yang paling enak sedunia, dan tidak dapat ditandingi oleh warung atau restoran manapun."

    "Kamu tahu kenapa pisang ini sangat istimewa Mbak? Karena dibuat ibumu dengan resep yang gak akan pernah dimiliki oleh restoran manapun."


    Waktu itu, aku tak mengerti apa arti kata-kata ayahku. Yang kutangkap saat itu, ayahku mengatakannya dengan kata-kata yang tak pernah aku dengar sebelumnya, dan pandangannya tak lepas dari ibuku. Yang kuingat waktu itu, ibuku tersenyum [asli manis banget] sambil mengusap-usap jidatku yang benjol.

    Wah, ya aku rak tidak mudheng tho, dengan kata-kata ayahku itu. Lha wong, bar kejedher lawang, isih 'hayup-hayupben' weh, malah pidato masalah filsafat. Wong bocah umur 8 tahun je

    Akhirnya setelah aku SMP, aku baru tahu apa yang dimaksud resep oleh ayahku. Satu pagi, setelah sholat subuh kutemukan ibuku sibuk di dapur dengan si mbak. Ibuku terlihat sibuk mengaduk adonan dalam baskom tanggung seraya ngobrol dengan si mbak.

    Hal janggal terjadi, ketika ku tahu si mbak yang biasanya memasak semua masakan di rumah, tak ikut dalam kegiatan ceremonial 'mengulet' tepung dalam baskom itu.

    Ku hampiri ibuku dan 'nangkring'di atas meja di mana kegiatan fantastik nan nJawa-ni itu. Bu, kenapa sih harus sibuk-sibuk 'ngulat-ngulet' sendiri. Padahal ibu kan juga mau kerja. Kok ya mau repot-repot gitu sih. Kan ada mbak-nya?"

    "Va, kamu mungkin tidak melihat hal itu sekarang, tapi nanti kalau kamu sudah besar. Sesibuk-sibuknya pekerjaanmu nanti, kamu mesti punya waktu untuk mengerjakan sendiri.

    Utamanya, hal yang berhubungan dengan suamimu. Tidak semua hal bisa kamu kasih ke mbaknya. Kamu harus tahu walau hanya pisang goreng, tapi suamimu akan merasa rasa yang berbeda ketika kamu membuat sendiri dari pada dibuat oleh orang lain.

    Rasanya berbeda Va, apalagi ketika kamu membuatnya tanpa rasa terpaksa, penuh kerelaan dan cinta. Satu hal sederhana yang kamu berikan pada orang yang kamu sayangi dan hormati, akan menjadi luar biasa maknanya.

    Nah, sudah kamu temeni ayahmu di teras sana. Dari pada 'ngurusuhi' ibu, ayo jangan 'nangkring' di meja. Ra ilok."


    Tak tahu,
    mengapa malam ini sejenak aku teringat kisah itu. Aku terlalu malas mencari sebabnya. Capek.

    Yang aku tahu hanya satu, aku pun akan melakukannya pada orang yang aku sayangi dan hormati.

    Sepiring pisang goreng, dan secangkir teh tubruk hangat. Atau mungkin secangkir Camomille blend tea untuknya. Satu hal yang sederhana akan kuberikannya setiap pagi, sembari berdua berbicara hal-hal kosong dan tertawa bersama. Mengawali pagi dengan hal dan langkah ringan, sebelum akhirnya kembali bertarung dalam satu realitas hidup di Jakarta.

     
    Tuesday, October 12, 2004

    Semu Keindahan Terwujud 

    Cinta memberi,
    tak meminta

    Cinta menguatkan,
    tidak melemahkan

    Cinta melembutkan,
    tidak menegangkan

    Cinta diserahkan,
    tidak diperjualkan


    Cinta menafikan keraguan,
    menumbuhkan ketegaran
    Cinta menghapus prasangka,
    memelihara saling hormat
    Cinta menyudahi perumusuhan,
    memulai perdamaian
    Cinta melenyapkan rasa takut,
    menambahkan rasa percaya diri

    Cinta tidak membutuhkan apa-apa lagi,
    sebab dalam cinta semua keindahan terwujud


    by Remy Sylado



     
    Saturday, October 09, 2004

    'Solitaire' 

    Sava,
    berhentilah 'berlari'
    sejenak
    duduk di sini, temani aku
    ada secangkir teh hangat dan sedikit roti bakar untukmu

    Sava,
    berhentilah 'mengejar'
    sebentar
    berbaring di sini, akrabi aku
    ada bantal empuk untuk penyangga kepalamu

    Sava,
    berhentilah 'mencari'
    sekejap
    bersandarlah di sini,
    tumpahkan segala 'letih' mu

    Sava,
    manusia selalu butuh 'berhenti' walau sedetik

    ===

    Mas,
    aku ingin berhenti 'berlari'
    sejenak
    duduk di sana, temani mu
    rasakan secangkir teh hangat dan sedikit roti bakarmu

    Mas,
    aku ingin berhenti 'mengejar'
    sebentar
    barbaring di sana, akrabi mu
    rasakan bantal empukmu menyangga kepalaku

    Mas,
    aku ingin berhenti 'mencari'
    sekejap
    bersandar di sana
    tumpahkan segala 'letihku'

    tapi,
    aku belum ingin 'berhenti'
    sampai ada seutas tali kuat mengikat erat
    tubuhku
    mengoyakku agar henti lariku dengan segala cariku

    sampai terkikis habis yang 'apa' terselip di tiap sisi sel otak
    sampai terdelusi seluruhnya 'apa' yang mengalir dari setiap labirin tubuhku

    Aku menanti saat itu
    Aku butuh itu

    Namun apa yang kubutuhkan
    belum hadir di sini

    sampai saat itu tiba,
    aku hanya dapat 'berlari'
    dan
    terus'berlari' menjauh

    [Mimpi menjadi nyata, namun apa arti Nyata yang hanya impian]


     

    'BIRU' 


    Bersimpuh
    Memeluk kaki
    Sembunyikan wajah

    Terisak tanpa suara
    Tersedu tanpa harapan
    Tersedan tanpa tujuan

    Hari ini
    Aku menangis,
    tanpa iringan hujan yang basahi kaki langit.......



    [Buat seseorang yang sedang 'terkekeh-kekeh' di sana. Mentertawakan kebodohan seorang Sava. Last month, that little rascal share his motto to me. 'Sava, I give you my simple motto and you should remember that motto everyday in your life and you gonna be alright. 'If I am not for myself, then who will be for me? Life only a piece of joke. If We don't laugh, We'll get sick.'. You right Rascal. If I hear you from the first time, the situation isn't end up like this. So sorry.']






     
    Sunday, October 03, 2004

    'Sepiku Lariku' 


    Ketika semua menjadi biasa
    sesuatu yang hilang
    betapapun indahnya,
    menjadi tak terasa

    Semua terbang
    ringan
    Tak lagi ada sesal
    Tak lagi ada duka
    Tak lagi ada tetesan air mata

    Tak ada lagi yang merapuh
    karena memang tak pernah ada yang rapuh

    Merasakannya barang sesaat
    Mereguknya sebentar
    Merengkuhnya sekejap

    Bahagia sesaat,
    terganti mutlak oleh sang sepi
    menaburkan hampa yang menguar
    berpagut dengan bumi

    Saat itu datang,
    keterasingan memuakkan justru terasa nyaman dan bersahabat


    [My love for you so honest, faithfull, and exclusive. Let me love you with my own way]