|
Tuesday, October 26, 2004
|
'Feel so Light and confortable'
|
Sekejap,
hari ini,
entah mengapa
dalam pesawat yang membawaku kembali ke Jakarta,
pikiranku teringat satu masa dalam perjalananku di saat bintang berjatuhan dari langit-langit pesawat semalam suntuk.
Sedikit 'lelap' melanda, dan sangat membahagiakan bagi seorang penderita insomnia seberat aku. Saat itu, terlihat sisa curah salju di atas kota New York ketika pesawat yang kutumpangi mendarat landasan.
Butiran salju masih melayang-layang di udara. Sisa musim dingin belum pergi.
Buru-buru kurapatkan defenderku, dan kueratkan genggaman pada tas punggung hitamku,
dan kakiku menapak pada eskalator. Mataku menatap nanar dengan kesibukan sekitar.
Bandara JFK menyapa hangat seperti sahabat lama. Satu suasana wajar dan familar, dan berbeda dengan situasi yang cenderung membosankan yang kurasakan ketika menjejakkan kaki di Changi Airport.
Keakraban waktu itu sedikit berpengaruh pada diriku. Sedikit rasa suram yang terbawa dari Jakarta terasa lepas tak tahu kemana. Semua ringan, terbang, dan melayang. Sergapan hawa dingin di luar tak menyurutkan langkahku, pun resah pada orang-orang tinggi besar, berkulit putih maupun hitam hilang begitu saja.
Hingga akhirnya ku temukan diriku terduduk dan makan scramble egg, kentang goreng, dan camomille tea, dan segelas orange juice. Makanan tak sehat yang justru amat mengenyangkan.

Sendiri di megapolitan seperti New York hanya dengan mengandalkan laptop sebagai sahabat setia, atau sesekali ngobrol tak berujung sekaligus berjalan-jalan dengan rekan yang lama tinggal di sana, dan sekaligus menghamburkan ratusan ribu dollar dalam waktu seminggu bukan hal yang setiap hari dapat terjadi.
Saat itu, aku banyak terdiam mengamati, tersenyum, tertawa, ngobrol, marah, pun tak luput sedikit 'jaga image' ketika bertemu bule yang mirip George Clooney atau sekelas Robert Redford.
Waktu itu aku merasa, hidupku ringan, tanpa beban, walau banyak banyak keributan di belahan dunia sana, di mana negeriku atau tepatnya di Djogja tempat lahirku berada.
Ah, aku terlalu malas menceritakan yang terjadi.
Itu masa lalu, walau sampai saat ini masih menghantuiku.
Biarkan aku bernostalgia dengan rasa nyaman dan ringanku waktu itu.
dan,
Ssssstttttttt....
jangan ceritakan kisahku ini pada siapapun.
Saat itu keindahan benar-benar seperti tetesan salju yang mengalir di antara jari jemari tanganku. Mencari ruangan dan berhenti pada tujuannya. Dingin tapi terasa nyaman.
Saat itu aku sendiri, tak mencari, tak menanti, tak berharap, namun hatiku sungguh sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada dia yang tak pernah aku harap, tak pernah ingin ku miliki, tak pernah ku tuntut,
Yang sampai saat ini aku tak tahu siapa...........
|
Monday, October 25, 2004
|
Derita
|

Seorang pengecut merekyasa cinta
dalam khayal dan kata-kata dusta
Ia telah lama mengidap derita
kepuasannya dari tangan nista
.
|
Saturday, October 16, 2004
|
Diam
|

Diam
tak mesti tak berkata
Diam
tak mesti tak bergerak
Diam
tak mesti berarti bisu
Diam
tak mesti berarti mati
Diam
juga merenung
Diam
juga berpikir
Diam
juga malu
Diam
juga marah
Maka jangan bangkitkan marah pada yang diam
engkau tak dapat mengukur kekuatan merenung
yang berkubu di diamnya orang yang berpikir
[Dalam 'diam' ku pun, 'rasa' itu masih ada]
|
|
'Sheer Simplicity'
|
 You comes like surprise ice on the water
You comes like surprise ice at dawn
Deprived of the light and colours, the world ends at your window tree
Darkness create these illusions, but pale days can teach you to see
Rain falls,
but no life is given
Weekpass,
no progress is made
Pass sometimes takes you with soft hands,
and all that surrounds you will fade
All this is what it is
You and me alone ---- sheer simplicity
[For you Mas]
|
Friday, October 15, 2004
|
Sepiring pisang goreng dan secangkir teh manis
|
 Setiap hari, setiap pagi, di jam dan tempat yang sama selalu ku lihat sepiring pisang goreng dan secangkir teh manis yang masih mengebul.
Setiap pagi, di atas meja makan selalu kulihat secangkir teh manis yang keharuman aromanya menguar dan membuatku terbangun.
Setiap pagi, di atas meja makan selalu kulihat sepiring pisang goreng yang harumnya selalu membuatku berselera mencomotnya, walau dalam keadaan masih setengah sadar setelah bangun dari tidur.
Setiap hari, setiap pagi,
selalu kulihat dua orang yang kusayangi mengobrol di meja makan, menyambut pagi dengan berbicara hal yang tak ada bobotnya, tapi selalu diselingi tawa dan pandangan mata yang tak pernah lepas dari keduanya.
Dua orang yang sangat ku sayang dan ku cinta, ayahku dan ibuku.
Pernah satu pagi, ketika ku terbangun. Memang bukan terbangun karena kesadaranku atau panggilan ibuku yang selalu terdengar ketika aku malas bangun.
Namun aroma teh tubruk dengan gula batu, berbaur dengan aroma pisang goreng panas dari penggorengan yang membuatku tersadar. Saat itu juga aku bangkit dan berlari menuju ruang makan.
Tiba-tiba saja........ Brraaaaaakkkkkkk......aduuuuuhhhhhhh.........
Ku temukan diriku kembali tak sadar karena menabrak pintu kamar tidar yang ternyata belum terbuka. Saat itu aku merasa antara sadar dan tidak, dan terdengar suara orang berlarian menuju kamar tidurku.
"O alah Mbak, wong kamu itu lho. Bar tangi turu, nyawane durung ngumpul kok yo wis playon. Iki rak mesti mung goro-goro mambu gedhang goreng karo teh kagungane bapakmu tho."
Suara lembut itu terdengar, aku hanya bisa mengangguk dan mengusap jidatku yang benjol dengan sukses, setelah bertanding dengan pintu.
 Waktu itu, ayahku memandangku di pintu sambil membawa sepotong pisang goreng dan berkata, "Mbak Sava, mau pisang goreng? Ini ayah bawakan. Ini pisang goreng yang paling enak sedunia, dan tidak dapat ditandingi oleh warung atau restoran manapun."
"Kamu tahu kenapa pisang ini sangat istimewa Mbak? Karena dibuat ibumu dengan resep yang gak akan pernah dimiliki oleh restoran manapun."
Waktu itu, aku tak mengerti apa arti kata-kata ayahku. Yang kutangkap saat itu, ayahku mengatakannya dengan kata-kata yang tak pernah aku dengar sebelumnya, dan pandangannya tak lepas dari ibuku. Yang kuingat waktu itu, ibuku tersenyum [asli manis banget] sambil mengusap-usap jidatku yang benjol.
Wah, ya aku rak tidak mudheng tho, dengan kata-kata ayahku itu. Lha wong, bar kejedher lawang, isih 'hayup-hayupben' weh, malah pidato masalah filsafat. Wong bocah umur 8 tahun je
Akhirnya setelah aku SMP, aku baru tahu apa yang dimaksud resep oleh ayahku. Satu pagi, setelah sholat subuh kutemukan ibuku sibuk di dapur dengan si mbak. Ibuku terlihat sibuk mengaduk adonan dalam baskom tanggung seraya ngobrol dengan si mbak.
Hal janggal terjadi, ketika ku tahu si mbak yang biasanya memasak semua masakan di rumah, tak ikut dalam kegiatan ceremonial 'mengulet' tepung dalam baskom itu.
Ku hampiri ibuku dan 'nangkring'di atas meja di mana kegiatan fantastik nan nJawa-ni itu. Bu, kenapa sih harus sibuk-sibuk 'ngulat-ngulet' sendiri. Padahal ibu kan juga mau kerja. Kok ya mau repot-repot gitu sih. Kan ada mbak-nya?"
"Va, kamu mungkin tidak melihat hal itu sekarang, tapi nanti kalau kamu sudah besar. Sesibuk-sibuknya pekerjaanmu nanti, kamu mesti punya waktu untuk mengerjakan sendiri.
Utamanya, hal yang berhubungan dengan suamimu. Tidak semua hal bisa kamu kasih ke mbaknya. Kamu harus tahu walau hanya pisang goreng, tapi suamimu akan merasa rasa yang berbeda ketika kamu membuat sendiri dari pada dibuat oleh orang lain.
Rasanya berbeda Va, apalagi ketika kamu membuatnya tanpa rasa terpaksa, penuh kerelaan dan cinta. Satu hal sederhana yang kamu berikan pada orang yang kamu sayangi dan hormati, akan menjadi luar biasa maknanya.
Nah, sudah kamu temeni ayahmu di teras sana. Dari pada 'ngurusuhi' ibu, ayo jangan 'nangkring' di meja. Ra ilok."
Tak tahu,
mengapa malam ini sejenak aku teringat kisah itu. Aku terlalu malas mencari sebabnya. Capek.
Yang aku tahu hanya satu, aku pun akan melakukannya pada orang yang aku sayangi dan hormati.
Sepiring pisang goreng, dan secangkir teh tubruk hangat. Atau mungkin secangkir Camomille blend tea untuknya. Satu hal yang sederhana akan kuberikannya setiap pagi, sembari berdua berbicara hal-hal kosong dan tertawa bersama. Mengawali pagi dengan hal dan langkah ringan, sebelum akhirnya kembali bertarung dalam satu realitas hidup di Jakarta.
|
Tuesday, October 12, 2004
|
Semu Keindahan Terwujud
|
 Cinta memberi,
tak meminta
Cinta menguatkan,
tidak melemahkan
Cinta melembutkan,
tidak menegangkan
Cinta diserahkan,
tidak diperjualkan
Cinta menafikan keraguan,
menumbuhkan ketegaran
Cinta menghapus prasangka,
memelihara saling hormat
Cinta menyudahi perumusuhan,
memulai perdamaian
Cinta melenyapkan rasa takut,
menambahkan rasa percaya diri
Cinta tidak membutuhkan apa-apa lagi,
sebab dalam cinta semua keindahan terwujud
by Remy Sylado
|
Saturday, October 09, 2004
|
'Solitaire'
|
 Sava,
berhentilah 'berlari'
sejenak
duduk di sini, temani aku
ada secangkir teh hangat dan sedikit roti bakar untukmu
Sava,
berhentilah 'mengejar'
sebentar
berbaring di sini, akrabi aku
ada bantal empuk untuk penyangga kepalamu
Sava,
berhentilah 'mencari'
sekejap
bersandarlah di sini,
tumpahkan segala 'letih' mu
Sava,
manusia selalu butuh 'berhenti' walau sedetik
===
Mas,
aku ingin berhenti 'berlari'
sejenak
duduk di sana, temani mu
rasakan secangkir teh hangat dan sedikit roti bakarmu
Mas,
aku ingin berhenti 'mengejar'
sebentar
barbaring di sana, akrabi mu
rasakan bantal empukmu menyangga kepalaku
Mas,
aku ingin berhenti 'mencari'
sekejap
bersandar di sana
tumpahkan segala 'letihku'
tapi,
aku belum ingin 'berhenti'
sampai ada seutas tali kuat mengikat erat
tubuhku
mengoyakku agar henti lariku dengan segala cariku
sampai terkikis habis yang 'apa' terselip di tiap sisi sel otak
sampai terdelusi seluruhnya 'apa' yang mengalir dari setiap labirin tubuhku
Aku menanti saat itu
Aku butuh itu
Namun apa yang kubutuhkan
belum hadir di sini
sampai saat itu tiba,
aku hanya dapat 'berlari'
dan
terus'berlari' menjauh
[Mimpi menjadi nyata, namun apa arti Nyata yang hanya impian]
|
|
'BIRU'
|

Bersimpuh
Memeluk kaki
Sembunyikan wajah
Terisak tanpa suara
Tersedu tanpa harapan
Tersedan tanpa tujuan
Hari ini
Aku menangis,
tanpa iringan hujan yang basahi kaki langit.......
[Buat seseorang yang sedang 'terkekeh-kekeh' di sana. Mentertawakan kebodohan seorang Sava. Last month, that little rascal share his motto to me. 'Sava, I give you my simple motto and you should remember that motto everyday in your life and you gonna be alright. 'If I am not for myself, then who will be for me? Life only a piece of joke. If We don't laugh, We'll get sick.'. You right Rascal. If I hear you from the first time, the situation isn't end up like this. So sorry.']
|
Sunday, October 03, 2004
|
'Sepiku Lariku'
|

Ketika semua menjadi biasa
sesuatu yang hilang
betapapun indahnya,
menjadi tak terasa
Semua terbang
ringan
Tak lagi ada sesal
Tak lagi ada duka
Tak lagi ada tetesan air mata
Tak ada lagi yang merapuh
karena memang tak pernah ada yang rapuh
Merasakannya barang sesaat
Mereguknya sebentar
Merengkuhnya sekejap
Bahagia sesaat,
terganti mutlak oleh sang sepi
menaburkan hampa yang menguar
berpagut dengan bumi
Saat itu datang,
keterasingan memuakkan justru terasa nyaman dan bersahabat
[My love for you so honest, faithfull, and exclusive. Let me love you with my own way]
|
|
| | | | | | | |