|
Monday, November 29, 2004
|
Arrrrrgggghhhhh........
|
Ku pandang ponsel di atas meja itu
Ku raih
Terpaku ku menatap layar monitornya
Ku hela nafas panjang
dan
Ku letakkan kembali
sembari membanting tubuh di atas sofa besar di sudut kamarku
Rasa sebah menjalar di dalam dada
Ku raih remote tv,
Ku tekan tombol channel
Kembali ku hela nafas panjang
Tak ada yang menarik
Akhirnya,
Sedikit tergesa ku raih buku yang ada di atas meja
dan ku paksa otakku untuk berkonsentrasi membaca setiap rangkaian kata
yang ada dalam setiap lembar buku itu

Namun semua itu tak berhasil kulakukan
Tak ada satu katapun yang kupahami
Seakan aku berubah menjadi orang terbodoh sedunia
Ku banting buku tebal itu ke lantai
dan
akhirnya
kembali kuraih ponsel di atas meja kaca itu
Kembali ku pandang layar monitornya
Setelah berkali-kali menghela nafas
Akhirnya.....
kuputuskan juga untuk mengirimkan sms padanya
Mulailah jemariku menari-nari di atas tombol-tombol ponselku
Message
Write Message
'My love for you is a journey,
starting at forever and ending at never.....'
Ku pandang kembali untaian kata yang terjalin menjadi kalimat sederhana itu
Kembali ku hembuskan nafas panjang
Ku terpaku
Send the Message?
Kalimat tanya yang terpampang di layar monitor ponselku itu
kembali membuatku ragu
Cukup lama ku terpaku, sampai akhirnya ku hapus
setiap kata per kata yang sudah ku jalin menjadi sebuah kalimat sederhana itu
Sungguh, aku tak kuasa mengirimnya
Sungguh, itu bukan untuknya
Dia yang tak pernah tahu cara menghormati perempuan
Dia yang tak pernah lagi mengerti cara menjaga perasaan perempuan
Sungguh, dia tak layak mendapatkannya
Ku hela kembali nafas panjang, dan
Arrrggghhhhh......
|
Friday, November 26, 2004
|
'Free for all desire'
|
 Suasana apartemen di Four Session Regent di bilangan Kuningan itu masih tetap sama. Sama seperti saat terakhir ketika aku terakhir kali datang. Penjagaan ketat dan cenderung 'rese' membuatku seringkali menghindar untuk berkunjung ke sana. Namun tadi malam, satu hal penting memaksaku melangkahkan kaki kembali ketempat itu.
"Mbak Sava, apa kabar? Lama tak berjumpa. Mari mbak sudah ditunggu," basa-basi ringan yang menguap begitu saja.
Begitu pintu terbuka untukku, kulihat sosok yang tak berubah fisiknya walau usianya semakin merambat naik. Sosok itu duduk di atas tikar yang mirip tatami menghadap sebuah meja kecil yang di atasnya sudah tersaji seperangkat cangkir dan teko Jepang untuk menyajikan teh.
Bagi pria dengan usia 65 tahun, sosok itu masih tampak muda dan 'charming'. Dia semakin nampak menawan dengan yukata hitam yang dikenakannya.
"Mari Sava, come and join me for having a simple tea ceremony in metropolitan like your city," tuturnya sembari mengedipkan mata kepada dua orang kepercayaannya yang ada di ruangan itu.
Saat yang sama kulihat, sang asisten yang menyapaku tadi dan dua kepercayaannya segera keluar dari ruangan itu.
Ku segera bersimpuh dan duduk berhadapan dengan pria ini. Saat kupandang
sosok itu melakuan ritual kecil seperti yang dilakukan dalam upacara minum teh yang pernah kulihat pada tradisi minum teh di Jepang. Apa yang dilakukan memang lebih sederhana dan tidak serumit yang dilakukan pada tradisi aslinya. Namun ku lihat hal itu tidak mengurangi detail dan keanggunan proses itu sendiri.
Tak berapa lama, ku dipersilahkan untuk meminum teh tradisional Jepang yang warnanya bening kehijauan. Pahit awalnya, namun ketika masuk pangkal tenggorokan sedikit terasa manis. Pada tegukan kedua, teh itu tak terasa sepahit seperti awalnya.
 Sosok itu memandangku sambil tersenyum. Kukenal dia adalah orang paling sabar yang pernah kutemui selain ayahku. Sosok Ryu Fukuda adalah orang asli Jepang merupakan salah satu orang yang banyak memberikan banyak 'makanan' pada otakku.
Dia adalah teman diskusi dan ngobrol tentang banyak hal. Pengetahuan yang luas, pengalaman yang banyak, dan juga kegemaran membaca buku, membuatku betah berlama-lama ngobrol dengannya. Di usia senjanya ini, tak menyurutkan keinginannya untuk tetap belajar dan menyempatkan diri membaca. Banyaknya pengalaman dan tempaan hidup, serta kesabaran yang tinggi, membuat dia tak pernah sekalipun kulihat merasa kesal saat aku merasa tak satu pandangan dengannya.
Seringkali dalam diskusi panjang kami, -saat aku merasa tak puas dan mendebat apa yang disampaikannya-, dia tetap menerima rasa ketidakpuasanku dengan senyum dan kesabaran. Biasanya, dia akan menghentikan diskusi kami sebentar dengan bicara hal-hal ringan, dan kemudian kembali lagi mencari berdiskusi atas hal yang membuat kami berbeda pandangan. Bagiku, Ryu adalah satu sosok yang seakan-akan tak pernah mengizinkan sedikitpun gelombang emosi bahkan amarah masuk dalam dirinya.
Malam itu, aku tergelitik untuk mencoba menanyakan padanya apa yang membuat dirinya mampu menahan emosi dengan sedemikian baiknya. Dalam ceritanya, Ryu mengakui bahwa ketika dia seusiaku pun dirinya tak jauh beda denganku. Seorang muda yang tak lepas dari rasa emosi. Ketidaksabaran dan dorongan emosional tinggi, menurut dia, membuat sesorang melakukan tindakan bodoh yang merugikan orang itu sendiri.
Sosok yang pernah mempunyai catatan hitam dalam sejarah hidupnya ini juga mengatakan bahwa emosi tidak hanya tercermin dari amarah, namun juga nafsu. "Seberapa banyak manusia bisa mengendalikan emosinya, hal tersebut termasuk juga mengendalikan nafsu. Pengendalian tak terbatas hanya rasa marah, tapi termasuk keinginan bertindak, bersikap, bertutur kata yang berlebihan. Di dalamnya termasuk juga menahan diri dari masalah biologis."
"Sangat wajar ketika orang menjadi bernafsu atas segala hal yang belum dimilikinya. Adalah satu hal yang sah jika orang itu mengejar untuk memiliki apa yang belum didapatkannya. Namun adalah satu keindahan ketika orang merasa bahwa dirinya sudah cukup untuk kehidupannya."
 Sava, manusia memang dimiliki nafsu oleh Allah. Namun jika manusia dapat menerapkannya dengan tepat dan wajar, utamanya tidak mengganggu kepentingan manusia lain, maka semua jadi lebih damai.
Hidup akan menjadi tentram. Kamu akan berserah, dan lebih fokus untuk mengejar semua
pencapaianmu. Nafsu itu adalah energi besar yang akan menjadi positif, namun juga dapat menjadi negatif dan menghancurkan dirimu sendiri.
Kedamaian hidup pun dapat dirasakan selain manusia sudah dapat mengendalikan nafsunya, sudah dapat merasakan bahwa apa yang dimilikinya sudah cukup untuk dirinya sendiri dan sedikit tersisa untuk orang lain.
Sava, memang berat ketika pertama kali kamu melaksanakannya. Namun jika kamu selalu bertafakur dan tak lupa memandang ke bawah, maka hal tersebut tak akan terlalu berat dilakukan. Semoga jika hal tersebut kamu lakuan maka kamu dapat merasakan kembali indahnya tertidur lelap. Insomnia-mu bukan karena masalah dari luar, tapi bersarang dari pikiranmu sendiri. Lepaskan semua sejenak dan jangan pernah lupa untuk selalu ingat pada-NYA.
Aku sudah tua, Sava. Sudah tak tersia apapun lagi di dunia ini untukku. Dunia ini sekarang hanya menyediakan dirinya untuk orang-orang muda sepertimu. Dunia ini tahu
apa yang kamu dan manusia perlukan. Pergunakan dunia ini untuk kedamaianmu
sebelum engkau ditinggalkannya. Jangan tergiur oleh pesona sekejap yang hanya fana. Itu tak akan berlangsung lama Sava.
Kamu hanya menghabiskan waktumu. Jangan sampai kamu masih 'berlari' menghabiskan waktu dan kemudian terpaku menyesali kebodohanmu, di saat orang lain sudah mendapatkan kedamaiannya.
Tertegun aku mendengar kata-kata Ryu. Sampai siang ini aku belum dapat melupakan apa yang ucapkannya semalam. Pertemuanku dengannya selalu menjadi istimewa karena dia seakan dapat mengerti apa yang aku rasakan, tanpa aku perlu katakan.
Jarang aku temukan sosok yang matang dan bijak seperti itu. Sosok bijak yang seringkali aku lupakan karena kesibukan kerjaku. Sosok yang setiap setahun sekali menyempatkan diri datang ke Indonesia untuk melakukan tabur bunga dan berdoa di depan makam almarhumah istrinya.
Ketika aku berpamitan dengannya, Ryu menjabat erat tanganku dan memberikan sebuah buku yang sudah tua dan mulai menguning. "Baca buku ini, dan hanya kamu sendiri yang dapat mengartikan apa yang ada di dalamnya. Semoga kamu mendapatkan apa yang kamu cari Sava."
Dalam perjalanan pulang aku baca buku itu, dan di dalamnya aku temukan goresan tangan Ryu,
 The universe knows what it wants you to be as it,
so you think you never understand its motivations
Do not deceive yourself with false knowing
Accept your fate as the beingness of you yourself
Accept freedom of youself as total being
for not confuse the two, 'cause they are the same
The best thing in your life that
when you are can scream and yeald loudly to the sky
"I am free for all desire...."
.
|
|
'Panjat Genteng'
|
 Jangan lakukan, tar jatuh.
Aduh, tenang aja lagi. Gak terlalu tinggi. Kalau gak gini, bakalan kebanjiran terus.
Tunggu pak Min kenapa sih?
Ah, lama. Belum tentu dia juga datang.
Tapi kan kamu....
Gedubrrrrakk... Gedubruuuk...
Aduuuuuhhhh Gustttiiiiiiiii......
Vaaaa....
Pagi ini, kenekatanku kembali muncul gara-gara kekesalan akibat derasnya hujan yang mengguyur Jakarta, membuat salah satu ruang di dalam rumah, tepatnya kamarku yang kebetulan aku pakai sebagai tempat kerja tergenang air.
Cukup mengesalkan memang, ketika sepulang dari kerja tadi malam, kulihat buku-bukuku terendam air. Tak terhitung berapa jumlah buku terendam itu, begitu pula beberapa berkas kerjaan yang berisi informasi yang belum sempat aku tuangkan dalam tulisan.
Yang paling menjengkelkan pula, sepupuku yang seharusnya bertanggung jawab atas rumah itu memilih untuk menghilang dan pergi pagi-pagi sekali ke kantor dengan alasan ada meeting pagi [hal yang tak pernah terjadi sebelumnya, wong dia selalu malas ikut meeting dan selalu cari alasan konyol untuk bisa datang ke kantor siang hari].
 Malam itu juga, aku menelpon tukang serba bisa yang biasanya membantu-bantu di rumah untuk meminta tolong memperbaiki atap.
Namun entah kenapa, mungkin masih dalam suasana lebaran, Pak Min yang biasanya selalu tepat waktu dan sigap membenahi kerusakan yang ada di rumah, tak bisa on time kali ini.
Mengingat ketakutan kalau nanti kembali datang hujan, maka aku putuskan untuk naik ke atap memperbaiki genteng yang rusak. Ah, pasti ini ada genteng yang mlorot, pikirku.
Sepulang dari pasar mengantar Laras - temanku yang kebetulan tadi malam menginap- mencari sarapan, maka dengan semangat 45, aku ambil tangga bambu dan mulai naik ke atas. Namun dasar lagi apes, belum lagi sampai ke bagian genteng yang mlorot, malah aku yang terpeleset dan jatuh 'bedebam' menimpa beberapa genteng.
Akibat semangat yang cukup heroik itu, maka aku telak mendapatkan bonus berupa tanda memar hitam keungu-unguan di dengkul kiriku plus nyeri di sekujur tubuh. Apalah itu, namanya juga halangan, yang penting sekarang genteng yang mlorot sudah kembali
di tempatnya semula. Walau, aku juga harus mengganti empat genteng di atap yang pecah gara-gara bodi-ku yang agak sexy ini terjatuh di atasnya.
Sembari nyengir kesakitan, dan mendapat sedikit wejangan -lebih tepatnya omelan- dari Laras.
Untuuuung kamu gak jatuh ke lantai.
Untuuuunng cuman memar sama 'benjut-benjut' sedikit.
Untuuuuuung kepalanya gak terantuk.
Coba kalau ibu kamu tahu gimana????
Coba kalau kamu gegar otak gimana???
Coba kalau kaki kamu patah dan gak bisa turun, gimana aku nolongin kamu??
Kamu tuh lho, mbok nyari keahlian yang bermanfaat,
udah segede ini masih hobi 'penenkan'.
Nyari kemahiran itu yang bisa dijadiin side job, bukan malah menyengsarakan. Nyari side job kok mbenerin genteng.
Nyadar donk, nyadar Vaaa...
dan,
bla bla bla bla bla.....
Kudengarkan omelan Laras sambil sesekali meringis menahan nyeri. Omelan itu baru
berhenti ketika dia melepasku pergi berangkat kerja tadi siang. Sambil berjalan
menuju garasi, dalam hati aku begitu tak sabar menanti datangnya hujan untuk melihat hasil kerjaku dalam memperbaiki genteng.
Pagiku yang indah ini dimulai dengan aktivitas sederhana dan sedikit menyakitkan rupanya.
|
Monday, November 22, 2004
|
Tanaka
|
 Day in, day out
as they lie in my window of glass
these forests at Ueno
and not once do they weary me
Until yesterday
that house stood
and now in ruins it is,
white beads of dew on the Susuki grass
Only this very night
have I been wedded to you,
and with dawn farewell
- How short is our short lived happiness
It was chaos
that split itself in two one to become heaven,
the other earth
- of earth only is this figrue of me-
Invalid though I be,
No loneliness do I feel on seing
these chrysanthemums in bloom
under the pouring rain...........
[Between myself and the rain. I love so]
|
Friday, November 19, 2004
|
'Beraja'
|
 Beraja,
ribuan hari dihabiskannya untukku
jutaan waktu dilewatkannya 'tuk menungguku
Beraja, beraja,
sampaikan padanya
untuk 'lepaskanku'
hati ini sudah tertutup rapat untuknya
Beraja, beraja, beraja,
kabarkan padanya
waktuku [hanya] tersisa untuk
merunduk
bertafakur
menunggu
'diriku' datang kembali 'tuk menyatu dengan ragaku
Beraja, beraja, beraja, beraja,
Aku ingin
di sini
sendiri .......
|
Friday, November 12, 2004
|
Lebaran: ritual atau pemaknaan
|
 Ketika kutapakkan kakiku di Adisutjipto sore itu, terasa kental suasana Jawa yang menyelimutiku. "Selamat datang, sugeng rawuh Mbak." Seorang petugas bandara yang berdiri di pintu lengkap dengan setelan batik motif truntum menyapaku ramah.
"Tumben, petugas bandara Adisutjipto menyapa ramah. Biasanya tamu yang berjubel datang selalu dicuekin begitu saja," pikirku. Setelah ku ambil traveling bag-ku, segera kulangkahkan kaki menuju pemesanan taxi bandara.
"Kemana Mbak?"
"Taman Siswa Pak."
"Tigang ndoso gangsal njih Mbak."
Segera kuangsurkan lembaran uang untuk membayar biaya taxiku ke rumah.
Di pool, aku disambut kembali dengan senyuman dari sopir taxi yang akan membawaku menuju rumah.
"Lha kok mbawa tas sedikit tho Mbak. Biasanya kalau yang pada mudik bawaannya pating regendeng lho." tanya sang supir dengan logat Jawa medhok-nya.
"Iya Pak, memang cuman sengaja bawa satu traveling bag. Males bawanya, ribet," sahutku pendek.
"Wah, ya memang praktis Mbak. Ning apa ya nggak mbawa oleh-oleh buat keluarga yang di Djogja. Wong kalau sudah lama ndak ketemu biasanya selain kangen sama orangnya, juga kangen sama oleh-olehnya," berondong sang supir.
Aku hanya menjawab dengan tawa mendengar berondongan pertanyaan dari sang supir. Saat itu aku lebih berkonsentrasi melihat jalan di sebelah kanan dan kiriku. Jalan dari bandara menuju rumahku agak tersendat karena kulihat banyak rombongan anak-anak bertakbiran di sepanjang jalan.
 Allahu Akbar, Allahu Akbar, la Illaha Illallah hu Allahu Akbar, Allahu Akbar walilah Ilham.
Suara takbir dan tahmid yang berkumandang sahut menyahut membuatku terasa tergugah waktu itu. Tak terasa bulu kudukku berdiri, dan saat itu juga aku merasa bahwa diriku hanya kecil di Hadapan-Nya. Bagaikan debu yang begitu saja hilang terbawa angin.
Ketika masuk pelataran rumah, kulihat lampu beranda sudah menyala. Suasana taman masih seperti yang dulu saat kutinggalkan. Maghrib itu memang terlihat terang. Ternyata pohon sawo kecik yang dulu sering ku panjat ketika masih kecil sudah ditebang. Tak tahu mengapa, mungkin karena dahannya mulai menyentuh kawat-kawat baja yang mengalirkan listrik dari PLN.
"Wah sing ditunggu-tunggu wis tekan," tegur halus dari ibuku ketika ku merunduk dan mencium punggung tangannya. Ku jawab dengan senyum waktu itu. Tiba-tiba keheningan suasana itu pecah dengan teriakan dari lorong dalam kamarku.
"Tanteeeee Savvvaaaaaaaaaa...................," teriakan yang dibarengi dengan serbuan para little rascal yang sudah memenuhi rumahku sejak satu hari sebelum kepulanganku.
12 anak kemudian mengelilingiku sembari adik-adik ibuku serta sepupu-sepupuku datang menyambut. Ah, malam ini akan semakin panjang dan ramai rupanya.
Memang benar, malam lebaran yang biasanya fokus semua keluarga pergi ke Purworejo dimana eyang putriku yang asli Yogyakarta itu memilih untuk tinggal di sana, sekarang berpindah ke rumahku. Wajar, setelah eyang putriku meninggal, ibuku sebagai anak tertua dari sembilan bersaudara jelas menjadi tujuan untuk bersilahturahmi.
Banyak hal yang ingin ku ceritakan di sini. Tapi, aku merasa tak sanggup lagi. Begitu capek dan malas rasanya. Yogyakarta, tempat kelahiranku yang ku benci sekaligus ku rindukan selalu mengelilingiku dengan pertanyaan yang sama. Pun, seperti pertanyaan dari saudara-saudaraku tentang kapan aku menikah atau mengapa aku menolak lamaran dari si A, si B, atau si C, padahal mereka bla...bla....bla...bla...bla....
Pertanyaan bertubi-tubi dan membosankan itu, kemarin ku jawab dengan singkat, "Masih pengen ikut menyukseskan program pemerintah untuk mengurangi kepadatan penduduk."
Ku jawab pertanyaan itu sambil ngloyor pergi, dan masuk ke kamar untuk merapikan berkas-berkas yang ku perlukan untuk tugas ke Singapura esok pagi harinya. [Yup, lebaran pertama aku ke Yk, lebaran kedua aku harus berangkat ke negeri seberang untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan, dan kembali lagi ke Yk pada hari ketiga].
Lebaran, tahun ini, sama sekali belum mampu mengubah kesan-kesanku tentang Yogyakarta dan keluarga besarku yang selama ini membekas dalam labirin otakku. Satu ikatan persaudaraan yang dibangun dengan segala 'syarat' yang memuakkan dan menjemukan. Satu hal yang melawan kepercayaanku di mana aku merasa selalu merasa bahwa ikatan persaudaraan dan juga kasih sayang hanya dapat terwujud ketika diberikan tanpa syarat.
Semua masih tetap sama, dan enggan untuk berubah, sedangkan di sini aku merasa perubahan itu datang dan pergi mengikuti putaran waktu yang tak akan pernah mundur. Sekali lagi aku merasa, diriku anomali dari semuanya. Aku memang selalu dipandang hidup tak wajar dan tak mungkin tak akan pernah wajar.
Ach, aku tak perduli dengan pandangan itu. Terlalu lama aku hidup dengan memikirkan pandangan orang lain terhadapku. Aku jemu. Aku bahagia dengan hidupku sekarang, dengan diriku sendiri, apa adanya. Aku berubah karena aku ingin. Aku tak perduli lagi pandangan itu.
Lebaran..... Lebaran...... bagiku bukan lagi satu ritual bersilahturahmi saling maaf memaafkan. Lebih dari itu, Lebaran bagi ku merupakan satu hari kekebasan yang membebaskan bagi diriku sendiri dan orang yang merasakan 'kebebasan' dan mengerti makna 'kebebasan' itu. 'Kebebasan' atau 'Kemenangan' sekaligus rasa 'Syukur' atas berkah dan rahmat yang diberikan Nya, padaku, sampai hari ini, detik ini....
|
Wednesday, November 10, 2004
|
To be here and to be now
|
 I'd like to runaway from you, [and] if you never found me [its OK]. I'd like to break the chains you put around me, [and I know I will do that]
You stay away and all I do is wonder why the hell I wait for you
But when did common sense prevail for lovers when we knew it never will
You never treat me like you should, so what's the good of loving as I do
Alhough you always laugh at love, nothing else would be good enough for you
[It possible] to live with you, [and] I know I could [...] live without you
For whatever you do, I never, never, never want to be in love with anyone [like] you
You make me laugh
You make me cry
You make me live
You make me die, for you
You make me sing,
You make me sad,
You make me glad,
You make me mad, for you
I love you, hate you, love you, hate you......
Alunan suara dari Shirley bessey dengan lagunya Never, Never, Never yang ku dengar lewat cd yang mengalun lembut lewat Hifi di sudut kamarku sedikit mengingatkanku pada satu sosok yang sampai saat ini aku anggap berkarakter unik.
Begitu berat untuk untukku menceritakan sosok ini, -pun banyak waktu terlewatkan hanya dengan diam sambil menghela nafas tak berkesudahan- sebelum kurangkai kalimat tuk menggambarkan dirinya. Malam itu, ku buka jendela kamar, dan kulihat bunga teratai putih dalam pot besar di sudut taman mulai mekar. Sambil memandang hujan turun rintik-rintik di luar sana, kumencoba me-refresh kembali ingatanku tentang sosok itu.
Untukku sediri, setelah semua yang aku alami, sampailah aku pada satu titik di mana berhubungan dengan lawan jenis merupakan satu hal yang membosankan dan
menghabiskan waktu. Satu hal yang penting tapi bukan prioritas lagi.
Aku mulai merasa bahwa adjustment atau pendekatan merupakan satu hal yang menghabiskan energi dan mulai tak menarik lagi. Ibaratnya sebuah buku yang dibaca tak selesai dan lama tak terjamah oleh pembacanya, ketika akan mulai membaca lagi maka harus mulai dari bab awal karena pemiliknya lupa dengan cerita mulanya.
Setahun ini aku putuskan untuk hidup penuh ketenangan seperti air sungai yang mengalir tenang di permukaan, walaupun [aku tahu] di kedalaman sana begitu deras arusnya.
Aku coba untuk meninggalkan semua hingar bingar 'relationship' yang mulai tak berujung. Ku coba tinggalkan kehidupan malam yang kuakrabi sebagai teman untuk menghibur diriku dan insomniaku. Ku coba untuk menahan semua sisi 'keliaran' dan 'kenekatan' ku.
Hingga satu ketika aku bertemu dengan sosok yang sangat unik dalam pandanganku. Sosok dengan segala macam sikap, pembawaan, dan juga segala 'kegombalan' yang menjadi andalannya. Satu keunikan yang kembali mengingatkanku pada sosok lain yang dulu pernah ku akrabi namun sudah lama tak terlupakan.
Pertama ku melihatnya, tak tahu mengapa apa yang ada dalam hatinya atau prilakunya tergambar begitu saja dan jelasnya dalam pikiranku. Tak pernah aku mencoba untuk berakrab-akrab dengannya, walau pada akhirnya aku dapat sedikit 'menyentuh'nya.
Dia begitu muda dengan usia hampir separuh abad-nya. Dia dengan mudahnya tersenyum dan tertawa lepas walau pada saat yang sama dia membawa beban berat dalam benaknya.
Dia begitu mencintai dunianya, walaupun [katanya] kepedihan selalu datang dan pergi dari dirinya. Tempaan kesedihan dan kegembiraan yang seling berganti dalam hidupnya membuat dia menjadi satu pribadi tak utuh. Seperti puzzle yang tak dapat berwujud menjadi gambar karena satu potong puzzle hilang. Itulah dia. 'Something missing on him.'
Kepribadiaan tak utuh yang membuat tawa lepasnya tiba-tiba berubah menjadi terawang kepedihan yang menyesakkan. Dalam kegamangan diri di batas usia senjanya, begitu banyak tanya yang terlintas dalam benakku.
Mengapa dia ditinggalkan?
Mengapa dia dicintai sekaligus dibenci?
Mengapa dia tak pernah berempati?
Mengapa dia selalu membuat orang kecewa?
Mengapa dia begitu keras kepala dan menjadi kasar tiba-tiba?
Mengapa dia tak pernah mau berbicara dengan tuntas?
Mengapa dia terlalu angkuh saat dia membutuhkan pertolongan?
Mengapa dia dengan atau tanpa kesadaran menyakiti hati orang yang dekat dengannya?
Tak pernah ada jawab atas tanya itu.
Pun, tak pernah ada tanya yang keluar dari mulutku ketika berhadapan dengannya. Suatu yang kupikir tak banyak berguna, karena aku tak pernah tahu jawaban yang dia lontarkan satu hal yang jujur atau tidak. Satu hal yang kunilai tak perlu ditanyakan, jika pertanyaan yang kulontarkan justru membuat seseorang berbohong ketika menjawabnya.
Hidupnya bagaikan pergantian siang dan malam yang hanya terhitung dalam putaran detik. Satu malam, dia akan menjadi pribadi yang sangat menyenangkan dan penuh kejujuran yang orang dekat dengannya ingin memperhatikannya tak berkesudahan. Namun pada pagi harinya, dia akan berubah menjadi sosok yang berbeda, sangat ketus dan tak perduli dengan sekelilingnya. Ibarat Sybil yang mempunyai 12 kepribadian yang pandai memanipulasi orang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
 Di usianya yang sangat dewasa itu, ada kesadaran dalam diriku akan sangat susah untuk mengubah hal-hal buruk yang sudah mengkristal dalam dirinya. Satu hal yang tak gampang, ketika orang lain memandangnya sebagai sosok yang tak rapi, atau butuh perhatian, butuh pengakuan akan dirinya, namun dia dengan mudah berlagak menjadi orang paling tak perduli dan tak butuh apapun di dunia ini. Aku lihat dirinya belum menjadi pribadi yang seimbang.
Satu ketika dia akan menjadi orang yang mengaku paling punya 'hati', tapi saat itu juga dia dapat berubah menjadi orang yang paling tak punya 'hati'. Satu saat dia akan menjadi orang yang paling naif sedunia, tapi pada saat yang sama dia akan menjadi orang yang paling hypokrit sejagat raya.
Aku tak lama mengenalnya, namun ketika berada di sisinya, seakan aku telah tahu dirinya. Sosok itu begitu akrab, nyaman, namun juga perlu 'reserve' yang besar untuk berhadapan dengannya. Dia sosok yang tak mudah tertebak keinginan dan kemauannya. Pola pikir yang selalu berubah dan cepat gamang menghadapi hal yang ada di depannya. Tak pernah fokus dan selalu berubah dalam hitungan detik, itulah dia. Di sisi lain, dia adalah pribadi yang sudah mulai letih untuk berjuang mendapatkan apa yang sudah dapat menjadi haknya. Dia mulai menjadi orang yang tak pernah mau ngoyo dalam hidupnya.
Dia yang tak lagi punya energi dan melakukan tindakan yang dapat memacu adrenalin dalam tubuhnya. Dia yang mulai merasa kurang percaya diri dan tak yakin dengan atas beberapa hal yang dia lakuakan.
Dia dengan segala komentarnya yang cukup nJawani seperti, "Ah, mosok, aku tak seperti itu. Aduh enak banget. Kamu ngawur. Duh, kurang ajar kamu ya -Atau sekedar kata-kata ngeyel- Aku tidak seperti itu, dsb....dsb....dsb...."
Apalah itu, aku tak berusaha meributkannya. Itu pilihannya, dan pasti berdasar atas pertimbangan yang tak semua orang berhak tahu kecuali dia sendiri mengizinkan orang untuk tahu alasannya.
Apapun yang ada dalam dirinya termasuk kenekatan, kekonyolan, kecuekan, dan perilaku seenaknya sendiri itu, selalu aku anggap sebagai sisi keunikan darinya. Dia dengan prinsip bahwa hidup ini adalah saat ini, saat sekarang ini. Life is to be here, and to be now. Membuatku belajar dan harus berpikir ulang dalam segala tindakanku. Jujur aku banyak belajar darinya.
Dia sosok dengan keunikan besar, dengan bakat yang luar biasa, dengan berjuta pengalaman, dengan kemanisan kata, prilaku, bahkan cara berjalan, menatap, tertawa, dan memperlakukan lawan bicaranya, adalah orang yang tak mudah begitu saja dilupakan.
Dia mempunyai bakat besar yang seringkali dia lupakan karena prilakunya yang tak pernah fokus atau sedikit menjadi dewasa.
Dengan segela apa yang dimilikinya, seorang Sava yang selalu berjalan dengan logika dan begitu percaya dengan prinsip now or never dalam semua tindakannya, masih menghormatinya dan menganggapnya sahabat yang equal.
Di tengah serbuan kata-katanya yang jujur, serius, becanda atau yang paling 'ngeres' sekalipun, aku menganggap itu keunikannya. Itu pilihannya, dan hanya dia sendiri yang dapat mengubahnya.
Di mataku, dia seorang sahabat yang tak mudah untuk membuka 'pintunya' walaupun bertubi-tubi ketukan mengarah ke 'pintunya' dari para tamu antri datang untuk bertandang. Dia dengan segala keunikan dan kelebihannya tak kan mudah dilupakan orang, sampai saat orang-orang itu pun bosan dan satu per satu pergi meninggalkannya........
Tersadar aku dari lamunanku. Shirley Bessy sudah tak terdengar lagi. Namun masih terngiang dalam telingaku ketika sosok itu menyanyikan Never, Never, Never dengan suara alto-nya. Lagu yang dia suka dan tak pernah lupa ia senandungkan setiap saat.
Lagu yang aku anggap merupakan gambaran yang tepat untuk melukiskan sosoknya. Lagu yang tepat menceritakan rasa kesakitan dan kedukaan yang selalu ditutup-tutupinya selama ini. Duka yang mungkin datang karena prilakunya sendiri.
Ketika rasa sakit dan duka itu datang, justru dia tak pernah mencoba untuk mengobati, dan memang tak pernah ada niat darinya untuk menyembuhkan. Mungkin juga sebagai cara menghukum dirinya. Cukup menyesakkan memang, ketika sosok yang sangat berbakat, tak lagi diakui atau dipandang oleh sekeliling dan teman-teman terdekatnya, akibat prilakunya sendiri yang pada akhirnya membuat sosok itu jatuh terhempas.
[Dalam diamku, aku masih di sini, dan tetap akan di sini, sembari sedikit meluangkan waktuku untuk mendengarkanmu, dengan segala perubahan yang ada dalam diriku sendiri]
|
Tuesday, November 09, 2004
|
Insomnia
|

Tut tut tut tut tut......
Bunyi ponsel di atas meja sebelah tempat tidurku berbunyi menjelang subuh.
"Va, lagi ngopo? Wis sahur durung? Kowe rak ora opo-opo to Nduk?" berondongan pertanyaan menyapa lembut gendang telingaku saat itu.
"Bibar sahur bu. Kulo mboten menopo-menopo kok. Wonten menopo to bu?" sahutku.
"Ibu ora ngerti. Pirang-pirang ndino iki kok sajak kepikiran awakmu to Nduk. Tenan kowe ora opo-opo tho. Sehat to?" suara itu kembali menyapaku.
"Mboten menopo-menopo. Alhamdullilah sehat bu. Mbok bilih ibu kangen dumateng kulo," kataku.
"Ah kowe ki lho. Sava, gek-gek insomniamu kumat meneh yo? Mesti rak kumat meneh to Nduk. Ayo rasah endo, matur karo ibu. Ibu ora opo-opo kok. Opo tho sing mbok pikir?" tanya suara lembut itu.
"Ah mboten kok bu. Kula sae kemawon. Mboten wonten menopo-menopo. Sak estu," [Duh Gusti, ampuni aku. Gw bo'ong ama nyokap gw dah]
"Yo wis, mungkin ibu yo nyat kangen tenan karo anak wedok siji iki.
Mbok gek ndang bali to cah ayu. Ibu selak kangen. Gaweanmu akeh temen to, akhir-akhir iki. Ibu mireng kowe yo wis arang ngrumat omah cedak stasiun sepur kae tho?
Mung kadang-kadang wae kowe teko.
Bocah kok ngeyelan lan atos banget. Ibu wis kit mbiyen ora tau sarujuk karo gaya bohemian-mu kuwi, mung swargi Rama-mu sing mebelani kowe terus to nduk. Yo wis, ibu wis kesel ngandani. Sing ngati-ati cah ayu. Riyoyo bali yo Va. Ibu kangen." [Wah, perintah dari mabes Ngayogjokarto yang gak pernah dapat ku tolak]
"Inggih bu."
Pembicaraan singkat dua malam lalu masih tersisa jelas dalam ingatanku. Ibuku menelpon menjelang subuh, adalah satu hal yang baru pertama kali terjadi. Aku masih teringat bahwa selama tiga malam sama sekali aku tak pernah sedikitpun dapat memincingkan mataku.
Saat tubuhku, pikiranku merasa lelah dan ingin terlelap, betapa sulit dua mata indah yang diberikan Allah ini terpejam.
Dulu, ketika aku tak bisa tertidur, ayah dan ibuku akan membawaku keluar rumah dan melihat bintang. Kami bersama duduk di beranda belakang rumah, dan aku berada dalam dekapan ayahku. Saat itu, ibuku akan membawa sepiring pisang goreng, dan segelas teh panas dengan gula batu untuk ayahku.
Jika tak juga mataku dapat terpejam, ibuku akan mendongengkan cerita si Kancil nyolong timun, Aji Saka, atau Raden Panji Asmorobangun. Ayahku -jika aku masih belum juga terlelap- akan mendekapku makin erat dan mengusap-usap rambutku sampai terpejam.
Sungguh suasana sederhana yang tak mungkin ku dapat kembali.
Sekarang, suasana malam dengan langit berbintang tak pernah lagi terasa akrab sebagai teman tidurku. Bagi penderita insomnia parah sepertiku bintang-bintang menjadi teman akrab yang menemaniku terjaga sampai pagi. Seorang sahabat pernah menceramahiku panjang lebar mengenai insomnia ini.
"Va, .... kamu tahu gak. Insomnia itu terbagi tiga. Insomnia ringan, menengah, dan berat. Kamu tahu gak, yang paling berat itu tanda-tandanya sampai tidak bisa tidur. Biasanya para penderita insomnia berat itu mempunyai mempunyai beban pikiran yang banyak dalam waktu bersamaan."
Waktu itu aku hanya bisa menghembuskan nafas panjang dan berkata, "Yah, itu aku."
"Terus Va, kamu juga tahu gak, kalau penderita insomnia itu punya kecenderungan untuk bunuh diri, tiga kali lebih banyak dari pada orang yang bisa tidur normal. Kamu tuh mikir apa tho. Wong hidup udah sulit, kenapa harus dibikin sulit. Mbok coba ke dokter berobat."
Aku menanggapi sarannya waktu itu hanya dengan senyum kecut. Aku mengakhiri pembicaraan itu dengan, "OK Mas, thank buat advice-nya. Besok aku datang ke kantor Mas deh, dan ceramahi aku lebih lengkap lagi. Bye." [Aku berharap kata-kata itu adalah the end of our coversation].
Namun....
Ha ha ha ha ha, "Savaaa... Sava, kamu masih sama dengan yang dulu. Sava yang keras kepala, ngeyel, dan terlalu angkuh buat minta tolong. Anyway, aku dan teman-teman selalu siap bantu kamu. Jangan pernah sungkan ya Va. Jangan lupa ke dokter buat nyembuhin insomnia kamu. Bahaya kalau keterusan. We are really concern about you. Bye fighter.
Aku masih bisa tersenyum kecut waktu itu. Sahabatku itu tak tahu dan tak kan pernah tahu, betapa begitu banyak cara yang aku tempuh agar aku dapat tidur. Dari cara medis, sampai cara kuno mengawang-awang pun aku coba. Dari cara logis sampai meditasi pun aku tempuh. Tak juga manjur.
Malam-malam saat aku tak dapat memincingkan mata barang sejenak itu, selalu aku gunakan untuk pergi dan menjauh dari keramaian seperti masa SMA dulu. Pulang kantor selalu di atas jam 22.00.
Tanpa rencana, -jika aku tak dapat 'membajak' teman-temanku untuk jalan-jalan malam- maka aku akan ngeloyor pergi ke Bogor, ke Bandung, atau hanya sekedar nongkrong di Menteng, ke Tea Addict di bilangan Kebayoran, main bilyar di Gillian's, ke Jamz, Zoom Cafe untuk denger Jazz, atau ke Sturbucks Thamrin untuk sekedar menyeruput peppermint tea yang sedap itu.
Atau jika aku merasa terlalu penat jalan, aku akan menghabiskan malam panjangku dengan berbaring di ranjang sambil mendengarkan suara lembut Emi Fujita atau Peppy Kamadatu dari Hifi-ku sambil menyelesaikan pekerjaan atau membaca buku. Jelas dengan harapan dapat terlelap sebentar.
Kemarin aku mencoba menelan pil kecil yang dikatakan dapat membuatku tertidur. Ya, memang aku bisa tertidur, walau hanya satu jam. Sekali dan terakhir itu aku mencobanya.
Kenapa?
Entah, kesadaran ku mengatakan bahwa jika aku terus menegaknya maka aku akan tergantung pada pil kecil itu. Bukan jawaban atas masalah yang aku dapatkan,
justru tambahan masalah yang akan menghimpitku.
Jakarta memang satu kota yang menjanjikan semuanya. Apapun yang kita perlukan dalam 24 jam akan tersedia. Metropolitan dengan dampaknya yang luar biasa. Ayahku pernah berkata, "sebelum tidur janganlah kita berpikir yang macam-macam. Itu jika tak ingin mimpi buruk atau tidur tak tenang."
Memang benar, satu hal yang wajar memang, jika jam biologisku mulai kacau dan tak pernah berkompromi karena otakku terlalu penuh bahkan overload. Bagaimana dapat tidur tenang, ketika banyak hal terjejal di setiap labirin otak. Bagaimana bisa tidur tenang ketika otak selalu bekerja mencari jawab atas tanya kita.
Kapan dapat melintasi jalan di Jakarta tanpa macet? Bagaimana hasil presentasi anak buah di hadapan klien kemarin? Aduh, jangan-jangan kekasihku tahu dia ku duakan? Aduh kunci mobil aku taruh di mana ya?
Otak kita selalu bekerja keras menjawab pertanyaan kita. Mungkin hanya tinggal kita memilih, apakah mencoba menutup mata, atau membiarkannya tetap terbuka?
Sampai saat ini aku belum dapat menjawabnya. Aku masih tetap Sava, si manusia malam keras kepala yang susah tidur. Saat ini aku masih mencari cara untuk tidur, suatu kenikmatan yang mungkin sudah aku lupakan bagaimana rasanya.
|
Friday, November 05, 2004
|
Eleutheria*
|
 Eleutheria,
Eleutheria,
Ku bilang padamu,
Ku masih mengasihinya,
Ku masih menyayanginya,
Ku masih mencintainya,
Eleutheria,
Eleutheria,
karena itu,
Aku merelakannya,
Aku melepaskannya,
Aku membebaskannya,
Eleutheria,
Eleutheria,
Aku tak lagi perduli pandangannya padaku
Aku tak lagi perduli apa yang dia pikirkan terhadapku
Aku tak lagi perduli sikapnya padaku nanti
Eleutheria,
Eleutheria,
aku hanya tahu,
Aku tak lagi merasa terpenjara karenanya
Aku bebas saat aku membebaskannya
Aku lepas
Aku lega
ketika aku membiarkannya mencari jalannya sendiri
pun mencari kebebasannya
di saat
hati jatuh cinta padanya....sangat
Saat aku melepaskannya,
justru cintaku yang membebaskan diriku sendiri
Eleutheria,
Eleutheria,
Aku masih di sini bersamamu
masih duduk di atas rumput
memandang teratai putih terapung di atas danau
Menengadahkan muka
merasakan rintik-rintik hujan mulai turun ke bumi
Eleutheria,
Eleutheria,
Aku masih di sini denganmu
berada di depan perapian
dalam rumah kayu di di depan danau saat hujan turun
di temani
secangkir coklat susu
sebelum aku tertidur
itupun jika aku bisa terlelap
Eleutheria,
Eleutheria,
Aku tak perduli
terlelap
atau tak,
Aku saat ini, ada di sini, masih di sini, bersamamu
saat cintaku padanya menuntunku 'tuk membebaskannya
Eleutheria,
Eleutheria,
sungguh aku terbebas karenanya.
[* Eleutheria, sebuah kata dari bahasa Yunani yang berarti Kebebasan]
|
|
| | | | | | | |