<body bgcolor=white text=black link=black vlink=black alink=black marginwidth=0 marginheight=0 topmargin=0 leftmargin=0 rightmargin=0 bottommargin=0>
You can not blame my emotion because it will never fade away. I do not care about bad affinity. Its about me. Myself........


Visitor: hits.
Visitor online: online


These days the world's events are strange. They say this and they say that. There is no point arguning. I am better off dozing.....


NEWS
→Herald Tribune
→New York Post
→Washington Post
→Tempo
→Bisnis Indonesia
→Kompas
→Pantau
→MinergyNews
→Platts


DJOGJA's NEWS
→Kabare Jogja
→Gudang Info tt Yogya
→Angkringan
→Jawa Palace
→Primbon Jawa
→Sastra


JAZZ NEWS
→Horizon
→GRP
→Warta Jazz
→Jazz FM
→Dave Koz
→Fourplay
→Lee Ritenour



FILEs

  • January 2004
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • August 2005
  • September 2005
  • October 2005
  • November 2005
  • December 2005
  • January 2006
  • February 2006
  • March 2006
  • May 2006
  • June 2006
  • July 2006
  • August 2006
  • September 2006
  • October 2006
  • November 2006
  • December 2006
  • January 2007
  • March 2007
  • April 2007
  • May 2007
  • July 2007
  • August 2007
  • September 2007
  • October 2007
  • November 2007
  • December 2007
  • January 2008
  • February 2008
  • March 2008
  • April 2008
  • May 2008
  • June 2008
  • July 2008
  • August 2008
  • September 2008
  • October 2008
  • November 2008

































  •    
    Angin Savana
     
    Saturday, December 25, 2004

    'Ngeyel' 

    Di hari libur Natal ini, aku memilih untuk tinggal di kost. Salah satu hal yang sedikit membingungkan seisi kost, saudara sepupuku di Manggarai sana, termasuk juga pembantu rumah tangga di tempat tinggalku di bilangan Menteng Prada.

    Entah mengapa, liburan ini aku berpikir untuk menjadi pembantu rumah tangga, laiknya si Inem pelayan sexy. Kesibukan rumah tangga yang biasa dilakukan ibu-ibu seperti mencuci pakaian, menjemur, nyetrika, masak, hingga mencuci dan mengecek mesin mobil kulakukan hari ini.

    Begitu kunikmati semuanya, walau peluh bercucuran dan sembari melayani pertanyaan keheranan dari kaum-kaum yang jarang melihat Sava di rumah jika libur, hingga sabar mendengarkan protes yang bertebaran.

    Ah, aku tak perduli..... hingga satu saat ketika aku sedang duduk di beranda untuk sedikit melepas lelah, kulihat mobil yang sangat kukenal parkir tepat di depan kostku.

    Tleser...tleser....ciiiit....beep...bep...bep...bep...

    Suara pintu mobil di tutup. Ketika kulihat siapa yang datang, langsung aku berjalan menuju kamarku di lantai atas. Tepat di belakangku aku diikuti oleh sosok yang sangat kusayangi, kuhormati, dan kucintai... IBU ku.

    Belum lagi sampai membuka pintu, kudengar nada dan irama omelan beliau mengiringi langkah-langkah kami.

    "Kenapa kamu masih bertahan di sini. Rumah ini tak layak buat kamu. Kamu sudah ibu sediakan tempat yang lebih layak dan baik. Kamu tak perlu repot mencuci, setrika, masak... dan bla bla bla bla bla.....," seperti hujan deras kalimat itu keluar.

    Ku diam, dan membuka pintu kamar.
    Begitu masuk di kamar, omelan itu masih terus berlanjut. Hanya saja semakin melebar kemana-mana dan beberapa diantaranya agak memerahkan telinga.

    "Sava, ibu dari dulu tak pernah bisa mengerti dengan pilihanmu bergaya bohemian seperti ini. Kenapa kamu tak kunjung keluar dari pekerjaanmu. Kamu sudah layak mengambil alih pekerjaan ibu. Pekerjaan itu jauh lebih jelas dan menjanjikan dibandingkan dengan pekerjaanmu sekarang..... another bla bla bla bla bla bla bla," persis seperti air bah komentar Ibu ku itu.

    Heeemfffff......
    Ku hela nafas panjang mendengar ucapan beliau yang memang seringkali dilontarkan kepadaku. Ibuku memang tak pernah setuju dengan pilihan pekerjaanku sekarang. Beliau masih memegang prinsip yang begitu terkenal di jaman dulu, bahwa pekerjaan yang kutekuni saat ini tak akan membuatku menjadi 'orang'.

    "Pekerjaan kamu ini tak akan bisa membuatmu hidup Va. Ibu tak mengerti kenapa kamu keras kepala seperti ini."

    Tak tahu mengapa, aku yang -menurut teman-temanku- sangat ngeyel dan keras kepala, kali ini tak berkata apa-apa. Hari ini aku begitu malas berdebat. Aku merasa capek untuk ngeyel. Toh, masalah ini juga sering menjadi bahan pembicaraan kami berdua, -selain dikejar-kejar kapan nikah, tentunya- [ehm...ehm...ehm.....]

    Sampai ibuku pulang dari kostku diiringi dengan dua sepupuku, aku hanya menjawab semua pertanyaan beliau apa adanya. Bahkan ketika ibuku kemudian menyampaikan rencananya untuk menjual satu hunian di kawasan Menteng Prada yang kadang ku sambangipun, tak sedikit mendapatkan protesku.

    "Vaa....Va.... mbok kamu itu ya jangan ngeyel banget. Kalau bukan kamu, ya siapa lagiiii, yang bakal mbantu Ibu tho.....Oalah Bocah, aku kok ra mudheng ndelok laku pikirmu. Wis, Ibu dino iki kundur Djogja. Kowe ati-ati, ojo lali sholat lan poso yo Nduk," tutur beliau sembari mengusap kepalaku sebelum masuk ke mobil.

    Ya, aku anak perempuan satu-satunya yang beliau miliki. Anak perempuan bandel, dan susah dimengerti. Aku sadar bahwa sampai saat ini belum banyak hal yang dapat kuberikan kepada beliau.

    Begitu banyak sikapku yang membuat beliau terluka, bahkan ketika SMA, aku sempat berkata kepada beliau, "Bu, aku tak ingin menikah." Satu hal yang kulontarkan ketika ku melihat ketika adik ibuku selama hidupnya menderita karena prilaku suaminya. Satu kata yang terlontar ketika ku melihat adik lelaki ibuku memukul istrinya.

    "Bu, kenapa aku harus hidup berdua, jika aku hanya mendapatkan kesedihan sepanjang hidupku nanti?" kataku pada beliau. Kata-kata yang tentunya menyakitkan beliau, karena sampai saat ini aku tak pernah mendapatkan jawaban dari bibirnya -kecuali memalingkan muka dan meninggalkanku sendiri- saat itu.

    Hingga pada akhirnya satu malam ketika kami berdua, beliau berkomentar pendek, "Ojo yo Nduk, cah ayu. Kabeh lelakon nang urip bebrayan ora podho koyo sing dilakoni tante lan om mu. Ojo nganti urip dhewe yo Nduk, meski kowe iso ngadek nang sikilmu dhewe tembe mburine mengko. Menungso wis digariske urip bebrayan, wong wedok kudu manunggal sawiji karo tiyang kakung. Kabeh masalah ono dalan dinggo ngrampungke. Ojo wedi, ojo mandek. Nek uwis kebanjur klebus le nyabrang kali, kudu diteruske tekan pinggir. Ojo nganti muspro opo sing mbok bangun nanggo pati geni kuwi. Tenan yo Nduk, ojo duwe pikiran meneh arep urip dhewe."

    Masalah pekerjaanku, yang dibenci beliau habis-habisan...... Jelas, -untuk sekarang ini- aku begitu bangga dan puas dengan pekerjaanku ini, dan dengan pekerjaan ini aku tahu cara menulis buku.

    Di tengah-tengah perbedaan pandangan kami, sebenarnya kami satu. Kami sama-sama keras kepala dan 'ngeyel', dengan pandangan yang kami percaya. Namun di antara perbedaan itu, sungguh aku sangat mencintai dan menyayangi beliau.

    Di dasar hatiku aku ingin membahagiakannya, dengan caraku sendiri, dengan kekuatanku sendiri.....tanpa perlu menyentuh fasilitas 'itu'.

    Jika orang mengatakan bahwa aku sedang menguji sampai di mana kekuatanku untuk berdiri sendiri, mungkin benar. Setidaknya izinkan aku membuktikan bahwa aku mampu. Aku tak ingin terluka lagi. Semua sudah cukup, aku ingin bahagia dengan kesederhanaanku.

     
    Tuesday, December 21, 2004

    'Panggil aku Ayu saja' 

    Kemarin malam, di Sukoarjo Kafe Hotel Sahid, saat diriku dan teman kerjaku pusing membahas matriks-matriks yang tergambar dalam layar laptop ku,
    sedikit tersentak dengan alunan suara merdu yang berasal dari panggung di sudut cafe itu.

    Penyanyi perempuan itu masih muda. Kulitnya yang sawo matang, tapi terlihat bersih terawat. Malam itu dia mengenakan gaun panjang berwarna gelap, dengan taburan payet warna senada di bagian dada. Rambutnya yang hitam panjang terurai sebahu.

    Tak seperti penyanyi kafe yang sering kulihat. Penampilannya dan gayanya
    yang sopan, jauh dari kata 'menghebohkan'membuatku dan temanku menghentikan kesibukanku.

    Ketika 'break' kulihat dia menghampiri para tamu yang tak terlalu banyak datang berkunjung. Kulihat dia tak pernah lepas untuk melemparkan senyum dan tetap bersikap sopan. Jauh dari sikap 'mengundang.'

    Ketika sampai di meja kami, kulihat dia kembali melemparkan senyum dan menyapa kami dengan suara merdunya. "Selamat malam, sedang bekerja rupanya?" lemparan pertanyaannya membuat temanku tertarik untuk menanggapinya.

    "Ya beginilah, kaum pekerja harus memeras keringat untuk bekerja sampai larut malam," jawab temanku.

    Di sambutnya jawaban temanku itu dengan tawanya yang renyah.

    "Silahkan bergabung kalau tidak berkeberatan," undangku.

    Tanpa ba bi bu, dia langsung mendudukkan pantatnya di kursi rotan tepat dihadapanku. Tak berapa lama, pelayan di sukoarjo Kafe membawakannya sepoci teh lengkap dengan gula halus.

    "Maaf, boleh saya merokok?" tanyanya.

    "Silahkan mbak," kataku.

    "Panggil saya Ayu. Ayu saja," katanya sembari menyalakan rokok methol-nya. Dalam setengah jam ke dapan -sampai dia kembali bekerja menghibur para tamu yang bertandang ke Sukoarjo Kafe- banyak cerita mengalir diantara kami. Dari awal dia hadir di dunia hiburan, hingga pilihan lagu oldies yang selalu dia bawakan.

    Tak terasa setengah jam berlalu cepat. Personil band yang lain mulai menempati posisinya masing- masing. Ayu pun pamit dan beranjak menuju panggung.

    Ketika semua personil sudah siap, sang biduan berkata, "lagu ini untuk teman-teman baru saya yang ada di sana. Terima kasih untuk ngobrolnya."

    Saat itu juga para pemain band mulai memainkan peralatannya masing-masing. Saat itu kudengar suara lembut Ayu kembali membahana. Lagu tahun 80-an yang lembut.

    Cinta yang tulus di dalam hatiku
    Tlah bersemi karenamu
    Hati yang suram kini tiada lagi
    Tlah bersinar karenamu

    Semua yang ada padamu
    Membuat diriku tiada berdaya
    Hanyalah bagimu, hanyalah untukmu
    Seluruh hidup dan cintaku


    Kupejamkan mata untuk menikmati alunan merdu suaranya. Saat mataku terpejam, bukan terbayang sosok Ayu yang berdiri di sana, tapi sosok Nunung Wardiman yang membawakan 'Kau yang kusayang.' Malam itu di Sukoarjo Kafe Hotel Sahid.



     
    Sunday, December 19, 2004

    Silly Moran Nitwit Wishes 

    Ring.... ringg.... ringgg....

    A : Hallo

    Q : Sava, what do you want for New Year?

    A : him

    Q : For all this time??

    A : Yup

    Q : That's all?

    A : Yes, all I want for New Year is him

    Q : Still???

    A : [Sigh mode on] Still

    Q : O U C H... you blady nitwit. Forget about him.

    Klik.....



     
    Wednesday, December 15, 2004
    Tak perlu lagi berdebat. Aku hanya ingin kau pergi dan lupakanku.
    Itu saja.....





     
    Monday, December 13, 2004

    Beautiful recline 


    Laydown on the floor
    when I heard song from the empty street
    breaking clamly trough my window glass

    I love the lyrics
    I love the melody
    I love the ritme

    and

    I love you too
    I do miss you somuch.....


    [in the middle of medical blood test on the silly hospital]

     
    Sunday, December 12, 2004

    Ritual orang sakit 

    "Va, obatnya gw kasih tiga macem. Yang satu, lu makan tiga kali sehari, satunya dua kali sehari, dan yang terakhir bentuknya syrup juga tiga kali sehari. Ketiganya dimakan dan diminum setelah makan ya."

    "Yaichh"

    "Udah, gak usah pasang muka memelas yang biasa jadi andalan lu itu. Kagak mempan di gw. Mau, gak mau, sempat gak sempat lu harus paksain makan obat. Jangan sekalipun lupa. Gw gak mau denger alasan lu lupa makan lagi. Lu, gw kasih surat istirahat selama tiga hari buat istirahat 'ngejar-ngejar' orang."

    "Yaichh...yaichhhh......"

    "Satu hal lagi, buat sementara ini lu kagak boleh ikutan aktivitas yang membuat lelah luar biasa seperti arung jeram atau jalan-jalan keluar kota. K E C U A L I kalau lu mau pingsan lagi kayak semalam. OK."

    "Yaichh....yaichhh....yaichhh....."

    =========

    Jumat malam, ketika lagi ngumpul di rumah temen buat jalan bareng ke Sukabumi, The Mighty Sava jatuh pingsan, gara-gara kecapean dan flu berat. Agenda ikutan arung jeram di Citarik Sukabumi bareng-bareng teman-teman mapala waktu kuliah di Djogja dulu terpaksa batal dengan cukup sukses.

    Dua hari libur yang mestinya buat nglakuin kegiatan yang memacu adrenalin, terpaksa diganti dengan acara tidur manis alis terkapar di rumah. Acara yang bikin bete ini ditambah dengan bonus mendengarkan kegiatan 'pemaksaan dan pengingatan' berulang-ulang yang dilakukan oleh sohib gw [yang kebetulan dokter] untuk minum obat. Hal yang membuatku semakin sebal adalah aku tak bisa dan tak sanggup melawannya... arrrrrrggggghhhh......

    Sedikit yang menggembirakan ketika Sabtu malam, gw dapat kesempatan lepas dari 'pengawasan' [wong sang pengawasnya lagi malam mingguan ama sang pacar] untuk ikut 'kabur' dengan seorang teman ke warung-nya DODO buat makan bakmi rebus.

    Saat sakit seperti ini, selalu membuatku teringat dengan ritual perawatan orang sakit yang dilakukan ibu di Djogja. Biasanya, jika tahu gw atau bokap sakit flu atau demam, maka ibu segera membuatkan kami sop kaldu ayam panas atau bakmi 'godhok' alias bakmi rebus yang dihiasi dengan irisan cabai rawit di atasnya.
    Menu itu menjadi semakin lengkap ketika gw minum teh panas dengan gula batu buatan beliau.

    Biasanya, sehabis makan gw langsung disuruh kembali berbaring dan diselimuti rapat-rapat sampai ke leher untuk mendapatkan keringat. Kata orang tua, untuk sembuh dari flu atau demam harus dicari cara agar penderita berkeringat. Percaya tak percaya, ketika terbangun dan keringat keluar dari tubuh gw, memang terasa ringan. Flu dan demam serasa tak separah sebelumnya.

    Sayang, ibu gw ada nun jauh di sono. Coba kalau di sini.... Wah.....bakalan terjamin deh kesejahteraan gw ketika sakit.

    Inget kata Rudi -temen masa kuliah- ,"Vaaa....va... lu tuh kalau ada orang sakit, perhatiannya minta ampun. Ngomel sono, ngomel sini. Lha Lu sendiri kagak jaga diri sendiri. Sekarang tiba giliran lu sakit, wah manjaaanya minta ampun deh."

    Kalau gw pikir, emang bener sih kata si Rudi..... setiap gw sakit, mesti inget 'treatment' nyokap gw. Fieeewww.... gw kok jadi sok melankolis gini sih..... [manis bin manja binti kolokan mode on]

    Ach, so what gitu lhoooooo.....


     
    Thursday, December 09, 2004

    RB: Love Poem 




    'It's so nice to wake up in the morning all alone
    and not have to tell sombody you love them,
    when you don't love them anymore.....'









    .


     

    Last dance in Berlin V 

    Perjalanan kembali menuju Adlon Hotel -sama seperti perjalananku dari Frankfurt menuju Berlin-, tak ada sepatah kata terucap di antara kami. Sampai pada akhirnya dia memecah kebisuan.

    "Is there someone else? Pardon me Sava," tanyanya.

    Ku tetap diam dan memalingkan wajah keluar jendela mobil. Suasana keramaian yang dilakukan warga Berlin menyambut Natal tak menjadi perhatianku. Ragaku ada di sini, tapi aku tak tahu pikiranku ada di mana.

    "Is he listen to you Va? Is he 'know' you? Is he equal and can become someone to discuss about anything, treat you nicely?"

    "Va, as long as he worthed to you, and love you, thats my be your prince charming. I won't regreat it. You deserve to have someone strong, smart, and can treat you like you do to him. Why you keep silence Va?"


    Sampai dia mengantarkanku sampai ke pintu kamar hotel, aku masih belum mampu menjawab semua pertanyaannya. Dia juga tak berusaha untuk mendesakku untuk menjawabnya. Aku masih terdiam lesu.

    Seandainya dia tahu, siapa sosok yang mengganggu pikiranku selama ini. Sosok yang telah mempora porandakan hatiku yang baru saja aku tata, dan kurapikan. Sosok yang mempunyai talenta besar, tapi ah sudahlah........

    Dengan sosok itu, serasa aku tak pernah dapat menahan diri untuk tak berdebat dengannya. Saat dengannya, aku sangat susah bagiku untuk menahan diri memprotes keadaan dirinya yang seringkali tak rapi dan bersikap serampangan. Saat dengan dirinya, begitu sulit bagiku untuk bersikap acuh dan tak memberi perhatianku padanya.


    Aku masih terdiam, sampai dari speaker yang ada di ujung lorong hotel terdengar lembut suara yang sangat akrab di telingaku. Suara 'Shirley Bassy'. Aku dengar dia menyanyikan 'The old fashion way.' Salah satu lagu yang ada dalam kumpulan album 'Never Never Never.'Suaranya begitu romantis, begitu lembut, sampai akhirnya tersadar sudah berada dalam rengkuhannya. [Mengapa lagu itu? Satu kebetulan yang semakin mempertebal ingatanku pada sosok di sana]

    Dance in the old fashion way
    When you stay in my arms
    and melt together........ [THE OLD FASHION WAY]


    Saat itu semakin jelas dalam hatiku, bahwa Rere sudah menjelma seutuhnya menjadi seorang sahabat. Kami memang berdansa, sangat dekat dan akrab [hanya di depan kamar hotel, dan diiringi suara Shirley Bassy dari speaker di lorong hotel] namun sudah tak ada 'rasa' lagi bagiku untuknya. Dia hanya teman, dan ketika lagu itu usai, dengan sopannya dia melepaskan ku dari pelukknya.

    "Terima kasih buat The Last Dance untukku Va. Maafkan aku. Aku salah meninggalkanmu. Gute Nacht Maine Leibe." katanya seraya melambaikan tangan. Ku masih mengawasinya sampai sosok tinggi besarnya itu menghilang di ujung lorong.

    Dalam hati ku berharap, 'Semoga kau penuhi janjimu Mas, untuk tidak berbuat seperti dulu lagi. Sudah cukup, dan lebih baik seperti ini.'

    Malam itu, aku packing kembali semua barang dan bajuku. Besok aku kembali menuju Jakarta. Aku akan kembali lagi bersentuhan dengan rutinitas hidupku. Aku teguhkan hatiku untuk tak lagi melakukan hal itu lagi. Satu masalah selesai, dan untuk sosok di Jakarta aku tak pernah tahu dan juga tak akan perduli dengan apa yang dilakukannya lagi.

    Dengan sosok di Jakarta itu, sungguh aku tak pernah membenci dirinya. Aku hanya tak pernah dapat mentolerir sikap dan prilakunya. Aku tak pernah membencinya, aku hanya jatuh kasihan padanya.

    Kubaca lagi kata-kata yang terjalin menjadi kalimat, yang tergurat di atas lembaran catatanku. Satu ungkapan yang terbentuk saat labirin otakku teringat pada sosok di Jakarta itu.


    But mostly, I hate the way
    I don't even hate you,
    Not even close,
    Not even little bit,
    Not even at all.....


    [My last day in Berlin]


     

    Dinner in Berlin IV 

    Kembali ku eratkan overcoat ku, malam ini cuaca Berlin semakin dingin. Malam itu dibawanya aku menuju Steignberger Berlin yang mempunyai restoran terkenal dengan nama The Louis. Saat itu, aku dibawanya menuju satu ruang yang ku rasa sudah dipesannya untuk dinner denganku.

    Ketika aku masuk, ku lihat hanya satu meja dan dua kursi yang terletak di tengah
    ruangan. Di pojok ruang, kulihat ada pemain piano yang mengangguk padanya dan bersiap-siap mengiringi acara dinner kami. Ketika kami sudah duduk, dua pelayan datang melayani sembari membawa menu.

    "Wie becommen Sie," tutur pelayan itu lembut.

    Ku lihat dia memesan beberapa makanan khas Eropa yang sebenarnya tak terlalu ku suka. [Ah, sudahlah.... sekali-kali adaptasi. Di Jerman jelas bakalan susah nyari Pecel Madiun seperti di Gondangdia kan]

    Acara dinner malam itu berlangsung lancar, dan banyak hal yang kubicarakan dengannya. Utamanya, tentang cincin bermata berlian tunggal yang dikirimkan padaku belum lama ini.

    "Va, aku mengirimkan untukmu bukan karena apa-apa. Ini tanda persahabatan kita. Aku tak menuntutmu lebih. Memang aku sekarang sudah 'sendiri' lagi, tapi aku benar-benar tidak menuntutmu, aku tahu aku sudah menyakitimu. Maaf," katanya.

    "Mas, itu masa lalu, tolong jangan ungkit lagi. Aku tak mau mengingatnya, terlalu berlebihan pemberianmu ini. Tolong terima kembali, aku tak sanggup menerimanya," [menye'...menyek' mode on]

    Banyak yang kami bicarakan memang, dan terlalu panjang untuk aku tulis, toh aku juga malas untuk menulisnya lagi. Dia memang banyak bercerita tentang apa yang terjadi dengannya selama satu tahun ini. Banyak hal, dan itu tak membuatku 'kembali' jatuh hati padanya. Semua sudah flat habis, tak tersisa. Bagiku, dia hanya seorang sahabat, yang dulu memang pernah mengisi hatiku.

    Tiba-tiba ku denting piano mendayu-dayu mengalunkan 'Moon River'. Ku ingat Emi Fujita dalam albumnya Camomile Blend menyanyikannya lembut. Ku teguk Pappermint Tea-ku. Ah, aku kembali teringat pada sosok di sana. Sedang apa dia malam ini?

    "Liebe, masih ingatkah kamu ketika aku akan pergi ke Bangkok, kita meliat dvd Breakfast at Tiffany?"

    "Yup, Audrey Hepburn memerankannya dengan baik. Lagu Moon River memang cocok untuk film itu. Aku juga ingat kita menangis bareng saat itu."

    "Oh no, Am I craying?"

    "Yes you did."

    "Didn't"

    "Did"

    "Didn't"

    "Did"

    Tiba-tiba kami tersadar dan tertawa lebar bersama-sama.

    "Sava, you still the same person. Stubborn and don't like to be defeated."

    Di tengah-tengah tawa bersama itu, kulihat ponselku berkedap-kedip dan kulihat ada sms masuk. Sms dari seorang teman untuk menanyakan acara. Tak kubalas sms itu. Namun ketika akan aku matikan ponselku, terusik hatiku untuk melihat sms terakhir dari dia yang saat ini ada di Jakarta.

    Message

    Inbox

    Open

    "Apa yang terjadi denganmu?"

    Sender

    Oxxxx
    0815xxxxxx



    Back

    Open

    "Langit Jakarta penuh dengan asmara"

    Sender

    Oxxxx
    0815xxxxxx


    Hmmmmpfff....

    Kuhela nafas panjang
    Ku termenung, tak terasa semua melayang. Serasa kesedihan datang tiba-tiba dan membuatku semakin yakni bahwa dirinyalah yang 'maya.'

    Batin ku ingin berteriak, Mengapa dia masih ada padaku?

    Ku tersadar ketika lengan kokoh itu merengkuhku, dan melihatku sedikit berkaca-kaca.

    "Are you Ok? Hi, whats happened my dear? I am right here now. Its ok...."

    Ku tatap matanya dan kurasakan dia tahu apa yang terjadi padaku. Tanpa kata, tanpa tanya kembali, dia mengandeng tanganku dan meninggalkan 'The Louis', kembali ke hotel.



     
    Wednesday, December 08, 2004

    Night in Berlin III 


    Apakah kamu pernah merasa satu hari dalam dirimu menjadi perempuan yang sexy dan semakin bangga dengan diri kamu sendiri?

    Atau kamu pernah merasakan satu hari dalam dirimu, kamu sadar mempunyai sex appeal yang selama ini tak pernah kau sadari?

    Pernahkan dalam satu hari dalam dirimu, kamu merasakan bahwa sebenarnya tidak ada perempuan yang jelek di dunia ini?

    Dan apakah kamu pernah mengalami satu hari dalam hidupmu kamu tersadar bahwa kamu berubah menjadi perempuan yang 'sesungguhnya'?

    Ya, aku mengalaminya.
    dan,
    aku bahagia dapat mengalaminya.

    Malam itu, aku melakukan hal yang jarang ku lakukan selama ini.
    Apa itu?

    DANDAN


    Malam itu, aku ber-make up, mengembangkan rambut agar nampak bervolume, menyapukan kuas dari blush on di pipiku tipis-tipis. Memakai gaun malam dengan model lurus sederhana berwarna gelap, potongan leher dengan bentuk U.

    Ketika ku pandang penampilanku di kaca yang berukuran setinggi tubuh manusia itu. "My Gosh, what happened with me. This is me.... myself? Am I wrong?" tanyaku.

    Seandainya kaca itu adalah kaca ajaib seperti dalam cerita Cinderella, mungkin dia akan mencubitku dan menyadarkan bahwa sosok yang terpantul di kaca itu adalah aku. "Oh mirror mirror on the wall, what happened to me?"

    Tepat jam 8 pm, ku dengar pintu hotel diketuk.

    Dengan bertelanjang kaki, ku buka pintu, kutemukan dia berdiri di sana, lengkap dengan taxedo hitamnya. Dia masih setampan dulu. Pembawaannya yang dewasa, matang yang ku suka.

    Kulihat dia sedikit terkejut memandangku [ku tak heran, karena selama dia berhubungan denganku, tak pernah sekalipun dia melihatku memakai rok, atau bahkan berdandan. Jangankan dia yang terkejut, aku juga kaget ngeliat diriku sendiri yang malam ini ehm...ehm.... another geer... -so what gitu lhooo-...]

    "You're so beautiful Leibe. You don't even change, still like a simple but ellegance style" [Tuh kan, apa gw bilang. Bingung mikir ini, beneran omongan jujur,atau sekedar gombal-isasi, yang biasa dikatakan para pria].

    He he he he.... Oh, come on Mas. Don't give me a piece a crap like that. You know that I'm very distrub by those kind wired fuc*ing word. I am not Julia Roberts in Pretty Woman if that what you mean. Please come on in and have a sit."

    Ketika aku membalikan badan, dirasa dia meraih tanganku dan dia berkata, "Nope, this isn't piece of fuc*ing crap Leibe. You do great, you are beautiful indeed."

    "Yes, I do great and beautiful. Simple but ellegance. Why don't you realize that before Mas... ha ha ha ha...." Ku tertawa sembari melepaskan peganggannya. Sungguh aku tak kuasa memandang matanya.

    'Ya Allah, mengapa ini terjadi kembali kepadaku,' bisiku dalam hati.

    Segera ku keluarkan dan kupakai sepatu high heel 7 centi dari koper, dan meraih tas genggam dengan warna gelap senada dengan bajuku.

    "Ok, We still having a dinner or what," kataku saat melihat dia masih berdiri di ambang pintu hotel.

    "Pardon me maine Liebe. Shall we?"

    Di raihnya tanganku, dan dihelanya untuk memegang tangannya. Saat itu aku merasa anganku melayang dan membuatku merasa seperti putri dalam dongeng HC. Anderson.

    Arrrrrgggggghhhhhhh lagiiiiiii......


     
    Tuesday, December 07, 2004

    The Treptower Park Berlin II 

    Cuaca Berlin disetiap Desember memang sangat tidak bersahabat. Cuaca yang sangat dingin di bawah 7 derajat celcius, sempat pembuluh darah di hidungku pecah hingga berdarah alias mimisan. Belum lagi hawa dingin juga membuat bibirku yang sexy ini [gedubrak... krompyang] menjadi pecah-pecah.

    Aku jadi teringat kata Laras ketika melihat bibirku kering, "Va, lu kurang vitamin C sih.... Vit C alias Cium," kata dia sembari tertawa terbahak-bahak.

    Hal itu ditambah dengan makanan yang benar-benar membuatku sama sekali tak berselera. Namun hal itu tak menyurutkan langkahku untuk berjalan-jalan di sekitar hotel. Mumpung, kapan lagi.

    Banyak hal yang menarik ku temui di tempat-tempat perbelanjaan di kawasan Unter Den Linden. Selain kafe-kafe tempat makan, banyak toko-toko souvenir yang memberikan diskon besar-besaran menyambut Natal dan Tahun Baru.
    Namun dengan mata uang Euro yang nilai tukarnya sangat tinggi itu, maka diskon sebesar apapun sedikit tak berpengaruh padaku [Tetep muahal euy].

    Sedikit yang membuatku kecewa, di jalan itu, aku tak menemukan kios yang menjual buku-buku yang biasa kukunjungi ketika aku keluar negeri. Buku-buku yang ditawarkan hanya sebatas buku tentang tourism guide.

    Namun kekecewaan itu terbayar ketika ku temukan satu hal yang menyenangkan di sini. Satu hal yang membuatku sedikit berterima kasih padanya, ketika dia menempatkanku di hotel yang lingkungan sekitarnya merupakan kawasan Budaya dan sastra. Ah, dia masih mengingat salah satu kesukaanku itu rupanya.

    Kulihat di sekitar The Treptower Park dengan naik bus S8 menuju stasiun Ostkrevz, dan pindah ke bus S3 ke arah Kopenick, aku sampai di Freiheit strase. Di sana kutemukan sebuah pusat kebudayaan. Ketika aku masuk, petugas di sana menawarkan wine untuk penghangat tubuh [namun dengan sangat menyesal kutolak tawaran itu...inget... inget.... 40 hari sholat kagak diterima euy]

    Di pusat kebudayaan itu aku berkesempatan menikmati The Caudeville show. Tak jauh dari Freiheit, aku gunakan waktuku untuk menikmati sebuah teater yang menyuguhkan pertunjukan seperti kabaret dengan menggunakan dialek bahasa Jerman asli [mungkin kalau bahasa Jawa, seperti bahasa Kawi]. Di situ aku melihat pertunjukan teater asli Jerman yang diberi judul Heart and Snout. [Jujur, setelah melihat pertujukan itu, tak banyak yang dapat ku mengerti. Dengan kosakata Jermanku yang masih pas-pasan, sangat tak sebanding dengan bahasa yang disuguhkan. Tak apa, hal itu semakin memacuku untuk memperdalam bahasa Jermanku]

    Ketika ku kembali ke Hotel, kutemui dia sudah duduk di lounge lobby hotel. Ketika dia melihatku, dia langsung menghentikan kesibukannya mengutak-kutik PDA-nya. Dia tersenyum memandangku. "You still the same maine Liebe. You never feel tired and always use your time balance between business and leissure."

    "Ha ha ha ha.... you do know me better Mas," jawabku.

    "By the way, ini kalau kamu berkenan dan if you are not tired, would you joined me for having dinner tonight Liebe?"

    "OK, met me around 8 pm?"

    "OK, Danke Schon und Auf Wiedersehen Liebe," katanya sembari sekilas kulihat binar senang terpancar di matanya. Ah.... dia masih sama, dengan tatapan matanya yang dulu pernah aku suka.

    Another Arrrrrrrgggggggghhhhhhhh........


     
    Sunday, December 05, 2004

    Berlin I 

    Liebe

    Hi Mas, Wie geht es ihnen?

    Auch gut, und ihnen

    Sehr gut

    Sosok itu tak berubah, setelah hampir satu tahun aku tak melihatnya. Mungkin hanya nampak matanya yang mulai terlihat lelah dibalik kacamata minusnya itu. Di ambilnya traveling back-ku, dan ditunjukkan jalan keluar dari Frankfurt Airport. Ketika keluar dari airport, segera ku eratkan overcoatku. Suhu yang mencapai 6 derajat celcius menyambutku dan membuatku sedikit menggigil. Satu hal yang takkan pernah kurasakan di tanah air.

    Dari Frankfurt, kami masih harus menempuh 5 jam perjalanan menuju Berlin. 14 jam perjalanan, plus transit dua jam di Kuala Lumpur membuat tubuhku terasa amat penat. Tak banyak hal yang kami bicarakan dalam perjalanan 5 jam itu. Aku lebih banyak ngobrol dengan Pak Taufan -sopir pribadinya yang ikut diboyong ke Jerman-. Memang sesekali dia menimpali pembicaraan kami, tapi kulihat dia nampak jengah, dan [kalau boleh sedikit geer.... ehm... ehm...] beberapa kali dia mencuri pandang padaku [aduh gedubraks].

    Sesampainya di Berlin, kami langsung menuju Adlon Kempinski Hotel yang ada di Unter Den Linden. Untuk mencapainya, kami harus melalui The Treptower Park yang berada di tepi sungai Spree. Aku beruntung dapat melihat tempat ini. Entah mengapa, walaupun aku seorang muslim, namun aku merasakan suasana Natal yang sesungguhnya. Salju yang bertebaran, membuat tanah, atap, pohon, dan apapun berselimutkan warna putih. Permukaan sungai Spree yang membeku, menjadi tempat bermain ice skeeting untuk anak-anak dan adult. Sungguh menyenangkan, dalam telingaku sayup-sayup seperti ku dengar suara merdu Sarah Brightman menyanyikan Ave Maria.

    Setelah kami menyelesaikan masalah check in, dia mengantarkanku ke kamar.

    "Call me, when you need me. We can't discuss it right now, you look so tired after take a long flight. Just try to get some rest first maine Liebe, and please don't argue me."

    "Danke Mas." kataku sambil menutup pintu, ketika dia meninggalkanku untuk pulang ke rumahnya.

    Setelah ku cek semua fasilitas di hotel itu, kemudian ku rebahkan tubuhku di pembaringan. Capek fisik dan pikiran, itu aku saat ini. Ku raih laptop ku, dan kumulai menulis, namun saat itu kembali terbesit sedikit tanya dalam benakku, "Sedang apa dia di sana? Apakah dia disibukkan menjawab sms dari para penggemarnya? Atau masih sibuk mencari foto penyanyi yang diciumnya di Pulau Dua Resto, untuk dimasukkan dalam kolom 'Nama dan Peristiwa' edisi Natal?"

    Arrrrrrgggggghhhhhhh.......



     
    Saturday, December 04, 2004

    Kosong 

    Saat aku nikmati
    salju putih yang menghampar sepanjang mata memandang

    Saat rasakan dinginnya salju
    meleleh dalam genggaman

    Saat berada dalam keindahan nyata
    berdampingan dengan seseorang yang mencintaiku

    Saat senyum tersungging di bibir,
    Saat hangat dekapan terasa,

    Seindah apapun itu,
    Sebahagia apapun itu,

    Sejauh apapun ku tinggalkannya,
    Sekeras apapun ku coba lupakannya,
    Sebesar apapun ku obati luka yang tertoreh,

    Mengapa?

    Justru aku teringat sosok maya yang ada di sana.....


    [The Treptower Park, Berlin. Between me, him, and 'him']

     
    Thursday, December 02, 2004

    Packing and travelling 

    Tak seperti keberangkatanku ke luar negeri sebelumnya. Keberangkatanku kali ini kulakukan dengan berat hati dan sedikit menyisakan banyak tanya yang tak mungkin terjawab, sebelum aku datang ke sana.

    Ku terduduk di atas pembaringan. Pandanganku menatap nanar pada kotak kecil yang semalam kuletakkan di atas meja di sebelah ranjangku. Kuraih kotak kecil itu, dan ketika kubuka, masih kutemukan sebentuk cincin model sederhana dengan tahta satu berlian di atasnya.

    Masih kuingat semalam aku tak habis berpikir maksud dari pemberian ini. Kubaca tulisan tangan yang amat kukenal, yang tergores di atas kertas lembut berwarna krem itu, 'I am a river with no bridge now.'

    Hmmf.....

    Mengapa hal seperti tak pernah berhenti terjadi padaku? Ku amati kembali isi koporku. Di dalamnya tak lagi berisi blazer, kemeja, celana panjang, atau peralatan yang tak pernah ketinggalan kubawa ketika melakukan tugas ke luar negeri. Di dalam kopor itu sekarang tersusun rapi over coat, gaun malam, dan sepatu high heel ku. Di beauty case ku juga nampak padat, karena sengaja kumasukkan blush on, maskara, eye shadow. Juga tak ketinggalan beberapa peralatan mandi dari beberapa produk mark spencer dan the body shop.

    Ku sedikit terbengong-bengong dengan barang bawaanku kali ini, sangat feminim, sangat perempuan. Ah, sudahlah.... so what gitu lhoooo... Akukan perempuan juga.

    Another Hmmmff.... Hmmmmff.... and Hmmmmmff....

    Sempat terlintas dalam benakku jika Violet, atau Laras atau si Atta, atau si Roi tahu apa isi dalam koperku ini. Si Sava, yang mirip Xena the Warrior Princes itu pakai gaun malam???? Hahhhh..... terbayang, mereka akan kompak saling membelalakkan dua mata dan mulut mereka terngangga lebar.

    Apalah itu, aku menetapkan hatiku untuk berangkat akhir pekan ini untuk menemuinya dan mengembalikan pemberiannya. Aku bukan orang tepat untuk menerimanya, hanya orang yang berada di sisinya yang paling tepat dan lebih tepat untuk menerimanya.

    Tut... tut... tut... tut...
    Bunyi sms membuyarkan lamunanku.

    View
    Open


    'ML BARENG AJA YUK'

    Sender:
    Oxxxx
    0815xxxxxxxx


    Kembali kuhela nafas panjang. Terheran dan terpaku.

    Tut.... tut... tut....

    ML

    Tut... tut... tut....

    ML ML ML

    Tut.... tut... tut...

    ITAH ITAH TELEMO ha ha hi hi

    Tut... tut... tut...

    Raung

    Tut... tut... tut....

    Tkus

    Tut... tut.... tut...

    Cndil

    Tut.... tut... tut...

    Kuhela nafas panjang. Ku mencoba menetralkan apa yang ada di otakku dengan melakukan hitungan mundur. Sepuluh.... sembilan.... delapan.... tujuh.... enam.... lima.... empat.... tiga... dua.... satu....

    Arrrgggghhhhhh......

    Mengapa pria ini semakin lama berubah menjadi kekanak-kanakan, dan kasar.
    Satu sikap yang kupikir mungkin dipakainya untuk mendapatkan perhatian. Satu sikap yang semakin lama berubah menjadi hal yang biasa dan membosankan.

    Segera kututup semua ingatanku tentang pria matang nan malang, namun mempunyai talenta luar biasa ini. Bagiku, -setelah semua yang terjadi- dia hanya pas sebagai intermezo singkat dalam hidupku.

    Ku bergegas menyelesaikan ritual merapikan isi koporku, sekaligus ku cek ulang semua dokumen keberangkatanku.
    Jumat malam ini aku berangkat.
    Hanya satu perhatianku saat ini, Aku ingin fokus menyelesaikan masalahku dengan dia yang berada ada nun jauh di sana. Itu pasti....



     

    'Never Never Never' 

    Jumat malam lalu, dalam perjalanan pulang dari News Cafe Kemang, sepanjang jalan kucoba menikmati lenggangnya Jakarta di waktu malam. Malam itu, sengaja ku menyetir mobil dengan kecepatan rendah. Ketika ku mulai jenuh dengan kaset yang kuputar di tape mobil, ku coba dengarkan siaran radio. Ketika ku mencari-cari frekuensi radio, ku menghentikan pencarian ketika ku dengar alunan lembut Vikki Carr menyenandungkan lagu Spanyol, Grande Grande Grande.

    Sedikit berbagi rasa, lagu Grande Grande Grande merupakan lagu dari Italia yang dinyanyikan pertama kali oleh biduanita, Mina. Aransemen lagu ini ditulis oleh Tony Renis, dan lirik versi Italianya dibuat oleh dua bersaudara, Alberto Testa dan Fabio Testa.

    Lagu ini menjadi sangat terkenal ketika dirilis pada 1973 di Inggris dan liriknya diubah oleh Norman Newell. Oleh Newell, lagu ini kemudian diberikan judul baru yakni Never Never Never. Lagu ini pulalah yang kemudian melambungkan nama Shirley Bassy, yang dengan karakter vokalnya yang kuat membawa tembang ini masuk dalam posisi ke delapan dalam top charts di Inggris selama beberapa waktu. Lagu ini direkam ulang pada 1984, yang dinyayikan kembali oleh Shirley Bassy dengan iringan London Symphony Orchestra, dan masuk dalam album I Am what I Am.

    Begitu menariknya lagu ini, membuat Groove Armada merilis Never Never Never pada September 2000 dalam The Remix Album Diamonds are Forever. Tak kurang-kurang, penyanyi bervokal tinggi Celine Dion bersama Luciano Pacarotti pada 1997 memasukkan lagu ini dalam album the best-nya Lets Talk about Love dengan sedikit mengubah lirik lagu, dan memberikan judul baru yakni I Hate You than I Love You.

    Tak kurang-kurang, penyanyi Belgia, Sandra Kim pada 1993 bahkan merekam ulang lagu ini dalam dua bahasa, yakni Prancis yang diberi judul Les Sixties dan Belanda yang diberi titel Sixties. Tak ketinggalan pada 2001, penyanyi Belgia lainnya Frank Galan turut mengeluarkan lagu Never Never Never dalam versi Inggris dan Spanyol. Dalam lagu itu, dia melantunkan duet dengan Dana Winner.

    Lantunan suara Carr memang terasa berbeda dengan warna vokal Bassey yang akhir-akhir ini sering kudengar. Suara Carr jauh lebih mudah dicerna dan lebih modern dibandingkan dengan suara Bassey. Jelas, perbedaan itu terletak pada karakter suara, penghayatan terhadap lagu, dan juga gaya mereka dalam membawakan lagu itu.

    Ku akui terkadang lagu oldies yang menjadi kegemaran para sesepuh atau para orang tua, beberapa diantaranya masih enak di dengar. Lagu-lagu lama yang cenderung timeless itu, diantaranya sepertinya dapat ditoleransi oleh telinga anak-anak jaman sekarang.

    Hmmff....
    sesaat ku hela nafas panjang. Jalan Jakarta yang kulalui semakin lenggang. Pancaran lampu-lampu jalan yang temaraman cukup membangkitkan renjana dalam hatiku.
    Sekejap kuteringat pada seseorang di sana.....

    Impossible to live with you, but I know I could never live without you
    For whatever you do, I never never never want to be in love with anyone but you....... [NEVER NEVER NEVER]