<body bgcolor=white text=black link=black vlink=black alink=black marginwidth=0 marginheight=0 topmargin=0 leftmargin=0 rightmargin=0 bottommargin=0>
You can not blame my emotion because it will never fade away. I do not care about bad affinity. Its about me. Myself........


Visitor: hits.
Visitor online: online


These days the world's events are strange. They say this and they say that. There is no point arguning. I am better off dozing.....


NEWS
→Herald Tribune
→New York Post
→Washington Post
→Tempo
→Bisnis Indonesia
→Kompas
→Pantau
→MinergyNews
→Platts


DJOGJA's NEWS
→Kabare Jogja
→Gudang Info tt Yogya
→Angkringan
→Jawa Palace
→Primbon Jawa
→Sastra


JAZZ NEWS
→Horizon
→GRP
→Warta Jazz
→Jazz FM
→Dave Koz
→Fourplay
→Lee Ritenour



FILEs

  • January 2004
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • August 2005
  • September 2005
  • October 2005
  • November 2005
  • December 2005
  • January 2006
  • February 2006
  • March 2006
  • May 2006
  • June 2006
  • July 2006
  • August 2006
  • September 2006
  • October 2006
  • November 2006
  • December 2006
  • January 2007
  • March 2007
  • April 2007
  • May 2007
  • July 2007
  • August 2007
  • September 2007
  • October 2007
  • November 2007
  • December 2007
  • January 2008
  • February 2008
  • March 2008
  • April 2008
  • May 2008
  • June 2008
  • July 2008
  • August 2008
  • September 2008
  • October 2008
  • November 2008

































  •    
    Angin Savana
     
    Saturday, February 26, 2005

    MER 

    Kulepas sepatu dan membiarkan kaki telanjangku menyentuh dingin lantai marmer. Cekungan retak di sana sini penuh kubangan air, bekas sentuhan sayang sang hujan.

    Kaki telanjangku memutari dinginnya lantai dansa dengan bebasnya. Terasa dingin dan senyap malam itu. Namun rengkuhan sayap sang sunyi, mampu membuatku mendengar, bunyi gremisik helai terakhir daun kering, lepas dari dahan.

    Dalam pejaman mata, kubiarkan kakiku berdansa, tanganku terentang, tubuhku berputar, -seperti seorang sufi yang menarikan tari Mehfil- dalam sadarnya. Semakin dalam sensasi berputarku, di pekatnya mataku, justru terlihat jelas sulur-sulur berwarna-warni, layaknya lampu-lampu jalan yang menghias malam.

    Sulur-sulur yang bertumpang tindih, saling bertabrakan, dan mengeluarkan pijaran-pijaran listrik yang membuat dinding otakku berdenyut kencang. Semakin kencang aku berputar, semakin terasa kejutan listik dalam tiap labirin otakku.

    Sampai kini kucoba memahami apa yang terjadi. Se-takzim anak, mendengarkan petuah ibundanya. Tapi sungguh tak bisa. Pikiranku penuh, tak fokus, dan payah. Tetesan hujan yang mulai membasahi wajah, tubuh, dan diriku, tak lagi mampu menghapusnya.

    Dalam pagutan malam, dalam senandung derai hujan, rasa sejuk serasa enggan mampir. Benar tak ada, selain gigitan dingin yang makin menusuk belulang.

    Kepenatan ini sungguh di ambang batas. Menyiksaku dengan kejamnya, memagutku dengan sadisnya, melumatku dengan rakusnya, menyetubuhiku dengan liarnya.......




     
    Thursday, February 24, 2005
    Gamelan kaca yang ada di pendopo itu bisa bercerita padamu lebih banyak dari padaku. Mereka melagukan lagu kesayangan ku. Bukan sebuah lagu, juga bukan sebuah melodi, hanya suara-suara dan getaran-getaran lembut, berpadu, dan mengalir begitu saja.

    Tapi di saat yang sama terdengar begitu menentramkan sukma, mengalir begitu syahdunya. Tidak, tidak....., itu bukan semacam suara dari kaca, tembaga, atau kayu; itu adalah suara jiwa-jiwa manusia yang sedang berbicara kepada ku. Kadang gundah, kadang meratap, dan sangat jarang tertawa bahagia.

    Jiwaku terbang terbawa bersama desiran suara-suara itu. Suara gamelan, ke langit biru, melewati awan tipis, menerpa sinar gemintang, saat bunyi gong bergaung keras membawaku ke lembah gulita, ke jurang yang dalam, melewati belantara yang tak terjamah manusia.

    Dan jiwaku gementar ketakutan, kesakitan, dan perih.........


    Kartini



     
    Sunday, February 20, 2005

    Pelacur 

    Ini bukan lagi masalah benar atau salah, ketika seseorang memutuskan untuk melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan yang telah dipikirkannya. Pun, tak menyentuh penilaian benar atau salah, ketika seseorang memutuskan hubungan dengan pasangannya ketika kebersamaan menjadi
    tak lagi bermakna.

    Juga tak menjadi penilaian salah atau benar ketika dalam waktu bersamaan, seorang perempuan menjalin hubungan dengan dua, tiga, atau bahkan lima pria sekaligus. Bukan masalah penilaian benar atau salah, ketika sang perempuan menjadi tak perduli ketika benar atau salah dikaitkan dengan ukuran norma buatan manusia, yang seringkali memuakkan itu.

    Tak menjadi benar atau salah, ketika sang perempuan memutuskan mengakhiri hubungan dengan para pria itu, ketika memang merasa tak lagi perlu untuk berjalan bersama dengan mereka.


    Bahkan tak ada salah saat dari bibir indahnya terpaksa harus memaki, 'Anj*ng', ketika sang pria yang diputuskannya mengumpat, 'Kamu tak lebih dari pelacur borjuis,' sembari menuding hidung sang perempuan.

    Bukan lagi benar atau salah ketika sang pria yang merasa tercampakkan dan terkoyak harga dirinya, kemudian memuaskan diri dengan meneruskan umpatannya, 'Kau memang tak pernah memperjual belikan tubuhmu. Bahkan kau tak pernah menuntut apapun. Sikap, dan wawasan luasmu membuat para pria tunduk hormat. Tapi justru kamu pelacur yang sesungguhnya, ketika tega menyiksa hati para pria saat tak dapat memiliki hati, dan pikiranmu. Kau sungguh perempuan sadis yang tak berhati.'

    Karenanya, juga tak lagi menjadi salah atau benar, ketika kemudian dari bibir merekah sang perempuan, kembali melontarkan kata tak pantas yakni, 'Anj*ng egois' kepada sang pria.

    Juga sudah di luar batas pemikiran salah atau benar, ketika sang pria kemudian meralat kata-kata tak pantasnya itu sembari memeluk kuat-kuat sang perempuan, untuk menyatakan rasa bersalah yang sangat, dan berjuang dengan semangat '45 agar tak ditinggalkan.

    Pun, tak ada salah ketika dalam upayanya itu, sang pria dengan jamak mengeluarkan kata-kata obralan tak laku, seperti 'Aku tak dapat hidup tanpamu. Kau sangat berarti dalam hidupku, atau kau tak pernah merasakan sakitnya ditinggalkan oleh orang yang kau cintai.... another bla bla bla bla bla......'

    Juga, tidak lagi butuh pertimbangan benar atau salah pula, jika
    sang perempuan tak merasa perlu memberikan penjelasan panjang lebar
    kepada pria perengek itu, bahwa karena begitu banyaknya kepedihan yang dirasa, telah membekukan rasa cinta dalam hatinya. Sungguh tak butuh dijelaskan pada sang pria dalam pikiran sang perempuan tersusun larik-larik puisi si burung merak* yang dihafalnya diluar kepala.

    Pun tak menjadi perlu pula diterangkan oleh sang perempuan, bahwa yang tertinggal dalam hatinya kini hanya rasa asmara belaka, yang dengan mudah datang pergi, semudah menjentikkan jari.


    Sekali lagi tak akan menjadi penilaian benar atau salah, ketika seorang perempuan yang mempunyai kontrol, dan tahu benar apa yang diinginkannya, satu ketika berubah
    'dingin' tak berhati.

    Juga tak jadi salah atau benar, ketika sang perempuan lugu kemudian berubah hanya tertarik menjadi -layaknya- seorang putri raja yang hanya suka 'bermain-main', dan dengan mudah membuang mainan yang tak lagi disukai.

    Jadi, ini bukan lagi masalah benar atau salah, ketika sang perempuan pada dari awalnya tak pernah ada niat menjalin hubungan permanen. Dia tak berniat tinggal, melainkan hanya singgah. Singgah yang sesaat.

    Jadi jika memang ada yang terluka, bukan lagi menjadi salah atau benar, ketika bibir manis sang perempuan dengan ringan berucap, 'Maaf saja', sembari melangkah pergi tanpa sekalipun menengok ke belakang.

    Sungguhpun, dalam dingin dan pias pendaran mata sayu milik sang
    perempuan, nampak jelas luka yang tertoreh dalam hati itu masih terasa pedihnya.


    *
    Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
    menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
    Kau tak akan mengerti segala lukaku
    karena cinta telah sembunyikan pisaunya
    Membayangkan wajahmu adalah siksa
    Kesepian adalah ketakutan dan kelumpuhan
    Engkau telah menjadi racun bagi darahku
    Apabila aku dalam kangen dan sepi
    itulah berarti aku tungku tanpa api

    [by WS Rendra]





    .

     
    Wednesday, February 16, 2005
    "Aku akan merapikan dasimu. Biarkan aku mencobanya......"

    Saat itu, sang gadis baru berusia 15 tahun, dan itu adalah kata-kata pertamanya, setelah dia merenggut keperawanannya. Dia sendiri -yang waktu itu berusia 39 tahun- belum berkata apa-apa. Tak ada kata yang dapat dia ucapkan.

    Dia memeluknya erat dengan penuh kelembutan, membelai rambutnya, tetapi dia tetap tak bisa mengucapkan kata sepatahpun. Gadis itu menatap wajah dia, dengan sepasang matanya basah dan bercahaya, tetapi bukan karena tangisan.

    Dia menghindari tatapan matanya, dan bahkan ketika dia mengecup sang gadis. Selekasnya mata sang gadis tetap terbuka sampai dia membuatnya terpejam dengan kecupan di bibirnya.

    Suaranya mengalun manis, ada denting kekanak-kanakan dalam nada suaranya, manakala gadis itu menawarkan diri untuk mengikat dasinya. Dia merasakan seperti gelombang pertolongan. Barangkali dia mencoba lari dari diri sendiri, daripada menunjukkan sikap memaafkan, tapi sang gadis mengikat dasi itu dengan lembut, meskipun agak kesusuhan dibuatnya.

    "Selesai sudah anak manja. Sempurna bukan?"

    Sedikit aneh,ketika bocah kecil berusia 15 tahun, menyebut anak manja pada dia yang 25 tahun lebih tua darinya. Dia bangkit menuju cermin. Ikatan dasi itu sungguh sempurna. Dia hampir tak dapat menatap diri sendiri setelah menyetubuhi gadis semuda itu. Dari cemin, dia menatap wajah sang gadis. Dia terkesiap oleh kesegarannya, kecantikan yang tegas, kecerdasan terpancar dari rona wajahnya.

    Dia berbalik ke arah sang gadis. Gadis itu menyentuh bahunya, mendekapkan wajahnya ke dadanya, dan berkata, "aku mencintaimu. Kamu ternyata tipe orang yang selalu khawatir dengan penilaian orang lain, benarkan? Kamu seharusnya lebih berani. Kamu harus lebih bisa menjadi diri sendiri."

    Dan dia berkaca pada diri sendiri untuk menjawab kekalahan ini. Lama setelah itu, kata-kata sang gadis masih terngiang di telinganya. Dia merasa ucapan itu lahir dari perasaan cinta, karenanya bocah kecil ini bisa melihat karakter dan kehidupannya. Dia mengenang sang gadis itu ketika dia mencurahkan kata-kata itu.*




    * Utsukushisa To Kanashimi To by Yashunari Kawabata




     
    Tuesday, February 15, 2005
    Hujan,
    senja,
    tempat tidur,
    aroma cendana,
    sebuah buku,
    Jazz mengalun,
    secangkir teh,
    senyuman tersungging,
    lepaskan keinginan,

    Aku bahagia,
    tanpa beranja-anja........





    my room, Subuh

    .
    [Bahagiaku, saat tak lagi mencinta]

     
    Wednesday, February 09, 2005

    Dia 

    Sekilas,
    pembawaannya sama seperti dulu. Hanya terlihat jauh lebih matang, cerdas, dan meyakinkan. Pengetahuannya yang luas, bertambah dengan tempaan pengalaman dan petualangan yang tak pernah lelah menghampiri.

    Pesonanya pun tak jauh berubah.
    Tatapan mata nakal yang bikin jengah, senyum menggoda, tutur kata 'liar' penuh kekurangajaran, namun tau bersikap santun pada waktunya. Khas dia betul.

    Sit up 50 kali tak pernah ditinggalkannya.
    Dinikmatinya benar setiap butir peluh yang menetes dari kening. Setiap tetes yang mengalir perlahan, melawati mata, pipi, membasahi dada bidang, dan berakhir di perut six pack-nya.

    Sexy, mungkin kata yang tepat untuknya.

    Setelah sekian lama,
    bahkan cara dia memeluk dan memperlakukan perempuan pun masih sama. Begitu rapat, akrab, dan hangat. Sehangat aroma tubuhnya yang masih menyerbakkan wangi rempah dan cendana.

    Dia,
    seseorang yang sama saat kutemui 5 tahun yang lalu. Sosok yang selalu membuat hidupku nampak berwarna. Sungguh dia tak berubah, masih begitu menggairahkan.....


    .

     

    Keluarga itu..... 

    Belum genap seminggu, tanah itu masih basah. Mengapa masalah itu keluar? dan mengapa justru aku ikut terseret di dalamnya? Aku merasa tanggung jawabku usai, tepat setelah pemakaman Yosa dilaksanakan. Bahkan sebenarnya aku merasa tak perlu lagi bersinggungan dengan keluarga itu, setelah pertunanganku dengan Rangga putus.

    Tapi, perempuan itu sulit betul perangainya. Keluarga besar Wijaya bahkan menyerah menghadapinya. Bagaimana mereka bisa mengendalikannya, jika almarhum Rangga -yang menjadi suaminya saja- juga tak bisa menghadapinya.

    Ah, aku tak perduli. Itu masalah domestik mereka. Aku pikir tak perlu lagi ikut andil dalam masalah keluarga Wijaya. Pun, tak merasa perlu datang ke Bandung, jika memang tak ingin. Aku harus melepaskan diri dari keluarga itu. Tanggung jawab bukan lagi di pundakku, dan tak ada lagi keterikatan antara aku dan keluarga itu.

    Walau aku tahu, sungguh sulit mengatakan 'tidak' atas segala permintaan mereka.....





     
    Sunday, February 06, 2005

    Yos pergi 

    Yos tak berhasil melewati masa kritisnya. Menjelang Subuh, dia dipanggil oleh Pemiliknya Yang Sejati, di RS Advent, Cihampelas Bandung. Seorang bocah bernama Yosa Ramadhan Wijaya yang baru genap berusia 6 tahun, September nanti.

    Tak ada isak, atau air mata menetes, saat kepalanya mulai terkulai, dan tangan mungilnya perlahan mengendorkan genggamannya dari tanganku. Satu rasa kembali datang, menyesak hati, kaburkan semuanya. Satu rasa yang pernah kurasa saat ayahnya pergi mendahuluinya tepat setahun lalu, di RS ini juga.

    Saat Subuh ku datang mensujudi-Nya, di antara doa yang terucap, diantara ketafakuran yang dalam, terselip mohonku ku pada-Nya, "Mohon berikan keikhlasan yang sangat dalam diriku untuk melepaskannya Ya Alloh, dan mohon jangan lagi Kau pisahkan aku dari orang-orang yang kucintai."




     
    Saturday, February 05, 2005

    Yosa 

    Yosa sakit. Dia opname di Bandung. Padahal baru tadi malam aku sms-an dengan 'Bapak', dan menyebut-nyebut nama Yosa, sekalian bilang mau ke Bandung. Keluarga Yos baru beri tahuku setelah dua hari dia demam tinggi dan tak sadarkan diri.

    Ibunya seperti biasa tak perduli. Perempuan ini sungguh tak pernah berubah. Eyangnya mulai berinisiatif menelpon setelah Yos dalam halusinasinya mulai panggil namaku. Kata beliau -melalui telpon jam 3 pagi tadi-, keluarga Bandung tak mau lagi merepotkanku.

    Ya Tuhan, apalagi ini....




     
    Friday, February 04, 2005

    Avenue Club  

    Barusan dapat undangan dari manager pub di Avenue Club and Lounge yang ada di basement Hotel Sari Pan Pasific, buat ikutan ngramein acara dugem alias dunia gendheng di Club itu. Dia bilang acaranya bakal heboh dan cocok buat ngelewatin jumat malam ini. Acaranya mulai jam 21.00 sampai jam 2 pagi.

    Ku iyakan undangan itu, tanpa pasti akan datang atau tidak. Sampai sekarang masih di lapangan menyusun laporan. Kalau dipikir, malas juga datang. Sudah genap enam bulan ini aku tinggalkan dunia malam, dan memilih pulang ke rumah dan selarut apapun ku pulang, tetap kulakukan senam yoga sebagai obat insomnia-ku.

    Namun tak dosa juga kan, jika sesekali menyambangi kembali dunia gila yang dulu pernah kuakrabi. Mungkin jika sisi 'liar' dalam diri kembali berontak, dekat jam 21.00 nanti aku dapat berubah pikiran.

    Nantilah.....



     

    'Pecah' 

    Terasa beda. Penuh beban, tak terasa lagi ringannya. Bikin pusing, rumit hati, dan pikiran. Mengapa yang dulu ringan, berubah rentan, mudah pecah? Mengapa hal 'jelas' justru bikin salah tafsir?
    Amarahku sungguh telah kalahkan semua sendu mengharu biru.
    Tak tersisa, habis sudah.....


     
    Thursday, February 03, 2005

    Males, dan wawancara Daeng 

    Dapat kesempatan ngobrol dengan JK. Dikasih waktu 30 menit, tapi molor juga jadi sejam. Berat juga, walau ngobrolnya bareng para pejabat tinggi atau tepatnya pejabat teras kantor. Tapi, namanya juga prajurit. Begitu sampai kantor ya prajurit juga yang harus nyalin oborolan sejam itu secara non stop dari jam 4 sore baru kelar setengah sembilan malam. [eh, gak non stop juga ding. Di kasih jeda 10 menit buat ikutan nyerbu sajian gudeg Bu Tjitro yang dibawa salah satu teman yang menang lomba].

    Selesai nyalin, belum juga bisa pulang. Si bos minta ditemenin ngedit. [Weleh...weleh... benar-benar tidak sopan sophian. Doski datang ke kantor baru jam 15.00, minta ditemeni ngedit sama prajurit yang udah siaga satu sejak jam 07.00 teng. Belum lagi, tiap harinya aku harus bikin minimal 8 laporan ke kantor. Kadang kantor bisa bikin kram otak juga]

    Masih untung, salah satu petinggi berbaik hati menemani mengedit hasil wawancara orang nomor 2 di negeri ini. Akhirnya proses 'penyiksaan' selesai tepat jam 00.00. Belum lagi masuk ke lift, ditelpon Sam. Minta ditemenin makan bubur di Cikini. Pengen nolak, tapi mahluk dodol itu maksa. Ya udah, ngalah.

    Sampai di sana, belum juga sempet duduk, udah denger dia nyap-nyap. Dia yang super pakar dalam proses creative, mempermasalahkan kenapa postinganku akhir-akhir ini gak pake gambar.

    "Postingan you jadi kering Sava. Tak lagi menimbulkan rasa penasaran para pembaca. Daya tarik foto-foto yang kau sertakan dalam postinganmu itu semakin memperkaya apa yang kau tulis," katanya.

    Ku jawab, aku lagi malas nempatin dan milihin foto dalam blogku. Gimana gak males kalau proses nampilin foto itu cukup panjang dan butuh ketelitian. Ribet, dan gak cuman waton comot.

    "Selain itu, itu blog untuk konsumsi diriku sendiri. Kalau toh akhirnya dapat dibaca orang lain itu beda masalah. Aku posting untuk kepuasan diriku sendiri, dan bukan memuaskan keinginan orang," kataku.

    "Aduh Va, ini kritik membangun. You bisa ngambil sisi positif dari kritikan ini. Tapi selama you merasa itu blog pribadi ya terserah saja," katanya.

    "You...you...you...you... you-you kangkang? Enak aja lu panggil gue pake you you you.... Dasar tuyuuuulll," protesku balik padanya.

    "Biar tuyul asal simpatik Va," balasnya.

    "Haiyaa... gombal mukiyo tenanan," sahutku.

    Dari blogger, pembicaraan dengan Sam berkembang mulai kontroversi buku The Da Vinci Code, sampai persiapan istrinya yang akan melahirkan putra kedua minggu ini. Suasana selalu heboh bila ketemu dodol satu ini. Lewat jam 02.00 pagi, kami berpisah. Dia balik kantor karena proyek untuk bikin logo baru, -pesanan salah satu bank asing- belum kelar.

    Suasana pagi buta begini membuat berkendara dari Cikini ke Slipi hanya butuh waktu 20 menit saja. Banyak hal yang ingin kuceritakan, tapi malas juga. Mungkin karena otot punggungku masih terasa sakit luar biasa. Mungkin tak cukup dengan pijit, perlu ke dokter, tapi aku paling malas berurusan dengan dokter.
    Ah, sudahlah.