|
Saturday, February 26, 2005
|
MER
|
 Kulepas sepatu dan membiarkan kaki telanjangku menyentuh dingin lantai marmer. Cekungan retak di sana sini penuh kubangan air, bekas sentuhan sayang sang hujan.
Kaki telanjangku memutari dinginnya lantai dansa dengan bebasnya. Terasa dingin dan senyap malam itu. Namun rengkuhan sayap sang sunyi, mampu membuatku mendengar, bunyi gremisik helai terakhir daun kering, lepas dari dahan.
Dalam pejaman mata, kubiarkan kakiku berdansa, tanganku terentang, tubuhku berputar, -seperti seorang sufi yang menarikan tari Mehfil- dalam sadarnya. Semakin dalam sensasi berputarku, di pekatnya mataku, justru terlihat jelas sulur-sulur berwarna-warni, layaknya lampu-lampu jalan yang menghias malam.
Sulur-sulur yang bertumpang tindih, saling bertabrakan, dan mengeluarkan pijaran-pijaran listrik yang membuat dinding otakku berdenyut kencang. Semakin kencang aku berputar, semakin terasa kejutan listik dalam tiap labirin otakku.
Sampai kini kucoba memahami apa yang terjadi. Se-takzim anak, mendengarkan petuah ibundanya. Tapi sungguh tak bisa. Pikiranku penuh, tak fokus, dan payah. Tetesan hujan yang mulai membasahi wajah, tubuh, dan diriku, tak lagi mampu menghapusnya.
Dalam pagutan malam, dalam senandung derai hujan, rasa sejuk serasa enggan mampir. Benar tak ada, selain gigitan dingin yang makin menusuk belulang.
Kepenatan ini sungguh di ambang batas. Menyiksaku dengan kejamnya, memagutku dengan sadisnya, melumatku dengan rakusnya, menyetubuhiku dengan liarnya.......
|
Thursday, February 24, 2005
|
|
|
 Gamelan kaca yang ada di pendopo itu bisa bercerita padamu lebih banyak dari padaku. Mereka melagukan lagu kesayangan ku. Bukan sebuah lagu, juga bukan sebuah melodi, hanya suara-suara dan getaran-getaran lembut, berpadu, dan mengalir begitu saja.
Tapi di saat yang sama terdengar begitu menentramkan sukma, mengalir begitu syahdunya. Tidak, tidak....., itu bukan semacam suara dari kaca, tembaga, atau kayu; itu adalah suara jiwa-jiwa manusia yang sedang berbicara kepada ku. Kadang gundah, kadang meratap, dan sangat jarang tertawa bahagia.
Jiwaku terbang terbawa bersama desiran suara-suara itu. Suara gamelan, ke langit biru, melewati awan tipis, menerpa sinar gemintang, saat bunyi gong bergaung keras membawaku ke lembah gulita, ke jurang yang dalam, melewati belantara yang tak terjamah manusia.
Dan jiwaku gementar ketakutan, kesakitan, dan perih.........
Kartini
|
Sunday, February 20, 2005
|
Pelacur
|
 Ini bukan lagi masalah benar atau salah, ketika seseorang memutuskan untuk melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan yang telah dipikirkannya. Pun, tak menyentuh penilaian benar atau salah, ketika seseorang memutuskan hubungan dengan pasangannya ketika kebersamaan menjadi tak lagi bermakna.
Juga tak menjadi penilaian salah atau benar ketika dalam waktu bersamaan, seorang perempuan menjalin hubungan dengan dua, tiga, atau bahkan lima pria sekaligus. Bukan masalah penilaian benar atau salah, ketika sang perempuan menjadi tak perduli ketika benar atau salah dikaitkan dengan ukuran norma buatan manusia, yang seringkali memuakkan itu.
Tak menjadi benar atau salah, ketika sang perempuan memutuskan mengakhiri hubungan dengan para pria itu, ketika memang merasa tak lagi perlu untuk berjalan bersama dengan mereka. Bahkan tak ada salah saat dari bibir indahnya terpaksa harus memaki, 'Anj*ng', ketika sang pria yang diputuskannya mengumpat, 'Kamu tak lebih dari pelacur borjuis,' sembari menuding hidung sang perempuan.
Bukan lagi benar atau salah ketika sang pria yang merasa tercampakkan dan terkoyak harga dirinya, kemudian memuaskan diri dengan meneruskan umpatannya, 'Kau memang tak pernah memperjual belikan tubuhmu. Bahkan kau tak pernah menuntut apapun. Sikap, dan wawasan luasmu membuat para pria tunduk hormat. Tapi justru kamu pelacur yang sesungguhnya, ketika tega menyiksa hati para pria saat tak dapat memiliki hati, dan pikiranmu. Kau sungguh perempuan sadis yang tak berhati.'
Karenanya, juga tak lagi menjadi salah atau benar, ketika kemudian dari bibir merekah sang perempuan, kembali melontarkan kata tak pantas yakni, 'Anj*ng egois' kepada sang pria.
Juga sudah di luar batas pemikiran salah atau benar, ketika sang pria kemudian meralat kata-kata tak pantasnya itu sembari memeluk kuat-kuat sang perempuan, untuk menyatakan rasa bersalah yang sangat, dan berjuang dengan semangat '45 agar tak ditinggalkan.
Pun, tak ada salah ketika dalam upayanya itu, sang pria dengan jamak mengeluarkan kata-kata obralan tak laku, seperti 'Aku tak dapat hidup tanpamu. Kau sangat berarti dalam hidupku, atau kau tak pernah merasakan sakitnya ditinggalkan oleh orang yang kau cintai.... another bla bla bla bla bla......'
Juga, tidak lagi butuh pertimbangan benar atau salah pula, jika sang perempuan tak merasa perlu memberikan penjelasan panjang lebar kepada pria perengek itu, bahwa karena begitu banyaknya kepedihan yang dirasa, telah membekukan rasa cinta dalam hatinya. Sungguh tak butuh dijelaskan pada sang pria dalam pikiran sang perempuan tersusun larik-larik puisi si burung merak* yang dihafalnya diluar kepala.
Pun tak menjadi perlu pula diterangkan oleh sang perempuan, bahwa yang tertinggal dalam hatinya kini hanya rasa asmara belaka, yang dengan mudah datang pergi, semudah menjentikkan jari.
 Sekali lagi tak akan menjadi penilaian benar atau salah, ketika seorang perempuan yang mempunyai kontrol, dan tahu benar apa yang diinginkannya, satu ketika berubah 'dingin' tak berhati.
Juga tak jadi salah atau benar, ketika sang perempuan lugu kemudian berubah hanya tertarik menjadi -layaknya- seorang putri raja yang hanya suka 'bermain-main', dan dengan mudah membuang mainan yang tak lagi disukai.
Jadi, ini bukan lagi masalah benar atau salah, ketika sang perempuan pada dari awalnya tak pernah ada niat menjalin hubungan permanen. Dia tak berniat tinggal, melainkan hanya singgah. Singgah yang sesaat.
Jadi jika memang ada yang terluka, bukan lagi menjadi salah atau benar, ketika bibir manis sang perempuan dengan ringan berucap, 'Maaf saja', sembari melangkah pergi tanpa sekalipun menengok ke belakang.
Sungguhpun, dalam dingin dan pias pendaran mata sayu milik sang perempuan, nampak jelas luka yang tertoreh dalam hati itu masih terasa pedihnya.
* Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku menghadapi kemerdekaan tanpa cinta Kau tak akan mengerti segala lukaku karena cinta telah sembunyikan pisaunya Membayangkan wajahmu adalah siksa Kesepian adalah ketakutan dan kelumpuhan Engkau telah menjadi racun bagi darahku Apabila aku dalam kangen dan sepi itulah berarti aku tungku tanpa api [by WS Rendra].
|
Wednesday, February 16, 2005
|
|
|
"Aku akan merapikan dasimu. Biarkan aku mencobanya......" Saat itu, sang gadis baru berusia 15 tahun, dan itu adalah kata-kata pertamanya, setelah dia merenggut keperawanannya. Dia sendiri -yang waktu itu berusia 39 tahun- belum berkata apa-apa. Tak ada kata yang dapat dia ucapkan.
Dia memeluknya erat dengan penuh kelembutan, membelai rambutnya, tetapi dia tetap tak bisa mengucapkan kata sepatahpun. Gadis itu menatap wajah dia, dengan sepasang matanya basah dan bercahaya, tetapi bukan karena tangisan.
Dia menghindari tatapan matanya, dan bahkan ketika dia mengecup sang gadis. Selekasnya mata sang gadis tetap terbuka sampai dia membuatnya terpejam dengan kecupan di bibirnya.
Suaranya mengalun manis, ada denting kekanak-kanakan dalam nada suaranya, manakala gadis itu menawarkan diri untuk mengikat dasinya. Dia merasakan seperti gelombang pertolongan. Barangkali dia mencoba lari dari diri sendiri, daripada menunjukkan sikap memaafkan, tapi sang gadis mengikat dasi itu dengan lembut, meskipun agak kesusuhan dibuatnya.
"Selesai sudah anak manja. Sempurna bukan?"
Sedikit aneh,ketika bocah kecil berusia 15 tahun, menyebut anak manja pada dia yang 25 tahun lebih tua darinya. Dia bangkit menuju cermin. Ikatan dasi itu sungguh sempurna. Dia hampir tak dapat menatap diri sendiri setelah menyetubuhi gadis semuda itu. Dari cemin, dia menatap wajah sang gadis. Dia terkesiap oleh kesegarannya, kecantikan yang tegas, kecerdasan terpancar dari rona wajahnya.
Dia berbalik ke arah sang gadis. Gadis itu menyentuh bahunya, mendekapkan wajahnya ke dadanya, dan berkata, "aku mencintaimu. Kamu ternyata tipe orang yang selalu khawatir dengan penilaian orang lain, benarkan? Kamu seharusnya lebih berani. Kamu harus lebih bisa menjadi diri sendiri."
Dan dia berkaca pada diri sendiri untuk menjawab kekalahan ini. Lama setelah itu, kata-kata sang gadis masih terngiang di telinganya. Dia merasa ucapan itu lahir dari perasaan cinta, karenanya bocah kecil ini bisa melihat karakter dan kehidupannya. Dia mengenang sang gadis itu ketika dia mencurahkan kata-kata itu.*
* Utsukushisa To Kanashimi To by Yashunari Kawabata
|
Tuesday, February 15, 2005
|
|
|
Hujan, senja, tempat tidur, aroma cendana, sebuah buku, Jazz mengalun, secangkir teh, senyuman tersungging, lepaskan keinginan,
Aku bahagia, tanpa beranja-anja........my room, Subuh . [Bahagiaku, saat tak lagi mencinta]
|
Wednesday, February 09, 2005
|
Dia
|
Sekilas, pembawaannya sama seperti dulu. Hanya terlihat jauh lebih matang, cerdas, dan meyakinkan. Pengetahuannya yang luas, bertambah dengan tempaan pengalaman dan petualangan yang tak pernah lelah menghampiri. Pesonanya pun tak jauh berubah. Tatapan mata nakal yang bikin jengah, senyum menggoda, tutur kata 'liar' penuh kekurangajaran, namun tau bersikap santun pada waktunya. Khas dia betul. Sit up 50 kali tak pernah ditinggalkannya. Dinikmatinya benar setiap butir peluh yang menetes dari kening. Setiap tetes yang mengalir perlahan, melawati mata, pipi, membasahi dada bidang, dan berakhir di perut six pack-nya. Sexy, mungkin kata yang tepat untuknya. Setelah sekian lama, bahkan cara dia memeluk dan memperlakukan perempuan pun masih sama. Begitu rapat, akrab, dan hangat. Sehangat aroma tubuhnya yang masih menyerbakkan wangi rempah dan cendana. Dia, seseorang yang sama saat kutemui 5 tahun yang lalu. Sosok yang selalu membuat hidupku nampak berwarna. Sungguh dia tak berubah, masih begitu menggairahkan..... .
|
|
Keluarga itu.....
|
Belum genap seminggu, tanah itu masih basah. Mengapa masalah itu keluar? dan mengapa justru aku ikut terseret di dalamnya? Aku merasa tanggung jawabku usai, tepat setelah pemakaman Yosa dilaksanakan. Bahkan sebenarnya aku merasa tak perlu lagi bersinggungan dengan keluarga itu, setelah pertunanganku dengan Rangga putus.
Tapi, perempuan itu sulit betul perangainya. Keluarga besar Wijaya bahkan menyerah menghadapinya. Bagaimana mereka bisa mengendalikannya, jika almarhum Rangga -yang menjadi suaminya saja- juga tak bisa menghadapinya.
Ah, aku tak perduli. Itu masalah domestik mereka. Aku pikir tak perlu lagi ikut andil dalam masalah keluarga Wijaya. Pun, tak merasa perlu datang ke Bandung, jika memang tak ingin. Aku harus melepaskan diri dari keluarga itu. Tanggung jawab bukan lagi di pundakku, dan tak ada lagi keterikatan antara aku dan keluarga itu.
Walau aku tahu, sungguh sulit mengatakan 'tidak' atas segala permintaan mereka.....
|
Sunday, February 06, 2005
|
Yos pergi
|
Yos tak berhasil melewati masa kritisnya. Menjelang Subuh, dia dipanggil oleh Pemiliknya Yang Sejati, di RS Advent, Cihampelas Bandung. Seorang bocah bernama Yosa Ramadhan Wijaya yang baru genap berusia 6 tahun, September nanti.
Tak ada isak, atau air mata menetes, saat kepalanya mulai terkulai, dan tangan mungilnya perlahan mengendorkan genggamannya dari tanganku. Satu rasa kembali datang, menyesak hati, kaburkan semuanya. Satu rasa yang pernah kurasa saat ayahnya pergi mendahuluinya tepat setahun lalu, di RS ini juga.
Saat Subuh ku datang mensujudi-Nya, di antara doa yang terucap, diantara ketafakuran yang dalam, terselip mohonku ku pada-Nya, "Mohon berikan keikhlasan yang sangat dalam diriku untuk melepaskannya Ya Alloh, dan mohon jangan lagi Kau pisahkan aku dari orang-orang yang kucintai."
|
Saturday, February 05, 2005
|
Yosa
|
Yosa sakit. Dia opname di Bandung. Padahal baru tadi malam aku sms-an dengan 'Bapak', dan menyebut-nyebut nama Yosa, sekalian bilang mau ke Bandung. Keluarga Yos baru beri tahuku setelah dua hari dia demam tinggi dan tak sadarkan diri.
Ibunya seperti biasa tak perduli. Perempuan ini sungguh tak pernah berubah. Eyangnya mulai berinisiatif menelpon setelah Yos dalam halusinasinya mulai panggil namaku. Kata beliau -melalui telpon jam 3 pagi tadi-, keluarga Bandung tak mau lagi merepotkanku.
Ya Tuhan, apalagi ini....
|
Friday, February 04, 2005
|
Avenue Club
|
Barusan dapat undangan dari manager pub di Avenue Club and Lounge yang ada di basement Hotel Sari Pan Pasific, buat ikutan ngramein acara dugem alias dunia gendheng di Club itu. Dia bilang acaranya bakal heboh dan cocok buat ngelewatin jumat malam ini. Acaranya mulai jam 21.00 sampai jam 2 pagi.
Ku iyakan undangan itu, tanpa pasti akan datang atau tidak. Sampai sekarang masih di lapangan menyusun laporan. Kalau dipikir, malas juga datang. Sudah genap enam bulan ini aku tinggalkan dunia malam, dan memilih pulang ke rumah dan selarut apapun ku pulang, tetap kulakukan senam yoga sebagai obat insomnia-ku.
Namun tak dosa juga kan, jika sesekali menyambangi kembali dunia gila yang dulu pernah kuakrabi. Mungkin jika sisi 'liar' dalam diri kembali berontak, dekat jam 21.00 nanti aku dapat berubah pikiran.
Nantilah.....
|
|
'Pecah'
|
Terasa beda. Penuh beban, tak terasa lagi ringannya. Bikin pusing, rumit hati, dan pikiran. Mengapa yang dulu ringan, berubah rentan, mudah pecah? Mengapa hal 'jelas' justru bikin salah tafsir?
Amarahku sungguh telah kalahkan semua sendu mengharu biru.
Tak tersisa, habis sudah.....
|
Thursday, February 03, 2005
|
Males, dan wawancara Daeng
|
Dapat kesempatan ngobrol dengan JK. Dikasih waktu 30 menit, tapi molor juga jadi sejam. Berat juga, walau ngobrolnya bareng para pejabat tinggi atau tepatnya pejabat teras kantor. Tapi, namanya juga prajurit. Begitu sampai kantor ya prajurit juga yang harus nyalin oborolan sejam itu secara non stop dari jam 4 sore baru kelar setengah sembilan malam. [eh, gak non stop juga ding. Di kasih jeda 10 menit buat ikutan nyerbu sajian gudeg Bu Tjitro yang dibawa salah satu teman yang menang lomba].Selesai nyalin, belum juga bisa pulang. Si bos minta ditemenin ngedit. [Weleh...weleh... benar-benar tidak sopan sophian. Doski datang ke kantor baru jam 15.00, minta ditemeni ngedit sama prajurit yang udah siaga satu sejak jam 07.00 teng. Belum lagi, tiap harinya aku harus bikin minimal 8 laporan ke kantor. Kadang kantor bisa bikin kram otak juga]Masih untung, salah satu petinggi berbaik hati menemani mengedit hasil wawancara orang nomor 2 di negeri ini. Akhirnya proses 'penyiksaan' selesai tepat jam 00.00. Belum lagi masuk ke lift, ditelpon Sam. Minta ditemenin makan bubur di Cikini. Pengen nolak, tapi mahluk dodol itu maksa. Ya udah, ngalah. Sampai di sana, belum juga sempet duduk, udah denger dia nyap-nyap. Dia yang super pakar dalam proses creative, mempermasalahkan kenapa postinganku akhir-akhir ini gak pake gambar. "Postingan you jadi kering Sava. Tak lagi menimbulkan rasa penasaran para pembaca. Daya tarik foto-foto yang kau sertakan dalam postinganmu itu semakin memperkaya apa yang kau tulis," katanya. Ku jawab, aku lagi malas nempatin dan milihin foto dalam blogku. Gimana gak males kalau proses nampilin foto itu cukup panjang dan butuh ketelitian. Ribet, dan gak cuman waton comot. "Selain itu, itu blog untuk konsumsi diriku sendiri. Kalau toh akhirnya dapat dibaca orang lain itu beda masalah. Aku posting untuk kepuasan diriku sendiri, dan bukan memuaskan keinginan orang," kataku. "Aduh Va, ini kritik membangun. You bisa ngambil sisi positif dari kritikan ini. Tapi selama you merasa itu blog pribadi ya terserah saja," katanya." You...you...you...you... you-you kangkang? Enak aja lu panggil gue pake you you you.... Dasar tuyuuuulll," protesku balik padanya. "Biar tuyul asal simpatik Va," balasnya."Haiyaa... gombal mukiyo tenanan," sahutku. Dari blogger, pembicaraan dengan Sam berkembang mulai kontroversi buku The Da Vinci Code, sampai persiapan istrinya yang akan melahirkan putra kedua minggu ini. Suasana selalu heboh bila ketemu dodol satu ini. Lewat jam 02.00 pagi, kami berpisah. Dia balik kantor karena proyek untuk bikin logo baru, -pesanan salah satu bank asing- belum kelar. Suasana pagi buta begini membuat berkendara dari Cikini ke Slipi hanya butuh waktu 20 menit saja. Banyak hal yang ingin kuceritakan, tapi malas juga. Mungkin karena otot punggungku masih terasa sakit luar biasa. Mungkin tak cukup dengan pijit, perlu ke dokter, tapi aku paling malas berurusan dengan dokter. Ah, sudahlah.
|
|
| | | | | | | | | | |