Teater Arena Taman Budaya Solo [TBS], malam itu tak banyak berubah. Hampir 20 tahun tak lagi kujejakkan kaki di sini. Dulu, saat masih SD seringkali perlombaan menggambar yang kuikuti diselenggarakan di tempat ini. Sekarang bukan karena perlombaan menggambar yang membawaku ke TBS.
Malam itu, aku ingin mendengarkan
Elizabeth D. Inandiak membacakan
Serat Centhini yang ditulis ulang olehnya.
Serat Centhini yang selalu menarik perhatianku dan pernah kutuangkan dalam
tulisan pula. Dalam pembacaan itu, dia berkolaborasi dengan seniman
Slamet Gundono. Ku tahu
Elly, -nama panggilan akrab Elizabeth yang sekarang tinggal di Yogyakarta-, bekerja keras hampir tujuh tahun lamanya untuk menterjemahkan
Serat Centhini atau
Suluk Tambanglaras dalam bahasa Indonesia.
Sebagai orang Jawa yang 'merasa' berkepentingan dengan
Centhini, kusedikit merasa jengah. Satu tanya menyeruak,
"Mengapa bukan orang pribumi yang menterjemahkannya, mengapa rasa memiliki satu budaya yang 'adhi luhung' sangat rendah pada generasi sekarang?" Satu pertanyaan klise dan membosankan memang.
Tapi ya sudahlah, mungkin generasi muda saat ini memang lebih suka dengan Opera-opera besar dibandingkan kethoprak, atau pembacaan serat-serat Jawa kuno.
Saat kudengarkan pembacaan terjemahan Serat Centhini dalam bab
Minggatnya Cebolang. Aku serasa tersihir ketika
Elly mendiskripsikan seorang Cebolang, dalam kalimat jernih dan tertata apik.
"Cebolang bertubuh luwes, licin layaknaya penari Ramayana dan berparas indah bagaikan gadis yang sedang mekar. Keelokannya yang kabur telah membakar semua budi dalam raganya, dan ini di luar kehendaknya. Sebab tiap kedipnya, tiap gerak tangannya, menyalakan nafsu wanita maupun pria yang tersentuh olehnya, walau tidak sengaja."Cebolang, -seperti yang kutahu dari cerita eyang putriku dulu-, adalah seorang anak Kiai Syekh Akhadiat. Pria tampan ini memilih minggat dan berpetualang mencari jati diri. Dia melakoni segala macam tindakan yang tak sesuai dengan pranata moral. Dia lampiaskan birahinya mulai dari janda, ronggeng, warok reog [pria], hingga adipati -yang saat ini terkenal dengan sebutan,-
gay.Dari awal sampai selesai pembacaan salah satu bab dari
Serat Centhini itu, serasa pemahamanku tentang serat yang sangat disukai pula oleh eyang putriku, semakin bertambah.
Dalam perjalanan pulang, kembali kubuka kitab kuno yang telah menguning di pangkuanku. Kitab itu adalah kitab yang sama dikirimkan ibuku, beberapa saat setelah eyang putri meninggal. Banyak aksara jawa yang tak lagi dapat kubaca. Namun keinginan untuk menambah pengetahuan tentang kitab ini semakin tinggi.
Dulu eyang putri pernah bilang, bahwa
Serat Centhini sangat menarik tidak hanya dilihat dari kevulgaran bercerita tentang seks.
Serat Centhini lebih dari sekedar seks. Kitab ini memang dapat disejajarkan dengan
Kamasutra, tapi mempunyai filosofi yang lebih dari itu.
"Jika bukan orang Jawa sendiri yang nguri-nguri-nya ya, siapa lagi tho Va?" kata eyangku dulu.Satu keprihatianku yang lain adalah saat mendengar beberapa komentar dari remaja tanggung yang bersamaan keluar dari TBS.
"Kagak ngerti artinya gue. Bahasa Jawa susahnya ampun-ampunan. Gue sempet ketiduran tadi," katanya.Satu komentar terselip di otakku. Betapa bersemangatnya kaum remaja mempelajari bahasa asing, dengan alasan untuk memenangkan kompetisi di era globalisasi. Di satu sisi, itu memang satu keharusan, tapi di sisi lain sungguh memprihatinkan bahwa bahasa adat sendiri dibilang susah dan mampu membuat orang yang mendengar tertidur.
Tak jadi hal yang aneh jika kemudian para ahli bahasa yang kebanyakan orang negeri seberang, yang merasa berkepentingan untuk menyelamatkan Bahasa Jawa. Pun tak mengherankan jika kondisi masih sama, satu saat nanti Bahasa Jawa kuno seperti Bahasa Kawi akan punah di negeri sendiri.
Menyedihkan tapi memang seperti itulah adanya......
[Max, cara bertuturku kali ini jauh dari kejernihan. Sungguh sulit dipahami. Aku sedang berusaha mengembalikan kejernihan berpikir, sehingga tulisanku mengalir kembali. Apa yang terjadi Max?].
|
Monday, April 18, 2005
|
Jazz, segelas Margarita, dan sepotong kenangan tentang Oz
|
Aku suka jazz. Jazz dengan keadilannya memberiku kesempatan berkhayal, mengembara sepanjang angan-angan. Jika hanya seorang pendengar mampu berbuat sesuatu karena Jazz, tidakkah itu sudah lebih dari cukup? Jazz is a feeling, more than anything else. Sepotong jazz, setenggak margarita, dan kaki yang mengetuk di lantai sembari kepala bergoyang menggelang ke sana kemarin dengan mata terpejam melayang-layang.
Mengapa tidak?
Jazz adalah jiwa yang berbicara, jiwa yang bergoyang, dan kata tak terucapkan. Jazz adalah suatu percakapan akrab terjadi seketika, spontan, tanpa rencana, penuh improvisasi. Begitu banyak orang merasa bahwa jazz adalah musik yang membingungkan. Satu ritme yang tak pernah jelas, dan sering kabur tak berirama, menularkan segala rasa, emosi yang diteriakkannya, jeritan yang dilengkingkannya, raungan yang menggemuruh memuntahkan kepahitan. Para pemain itu memang tak ingin memainkan lagu, tapi hanya ekspresi atas kata hatinya saja. Bagiku jazz bukan musik, tapi sebuah percakapan yang tak direncanakan. Ekspresi suasana hati pemainnya dengan seketika, penuh imporvisasi.
Mungkin aku merasa bahwa tatanan hidup hampir sama dengan Jazz. Penuh improvisasi, banyak peristiwa tak terduga yang harus selalu kuatasi. Kita tak pernah tahu ke mana hidup ini akan membawa pergi. Hidup selalu memberikan kejutan-kejutannya sendiri.
Pun, apa yang disebut cinta itu punya begitu banyak bentuk, yang kadangkala cukup merepotkan, dan seringkli tidak proporsional. Aku capek dengan urusan itu. Aku ingin menyelesaikan urusanku dengan semua itu. Aku ingin tutup buku.
Apa yang terjadi antara aku dan dia dulu? Seorang Oz?
Aku sudah lupa. Mungkin tepatnya berjuang keras melupakan. Harus mengingat-ingatnya lagi. Tapi sambil mengingat kembali, aku takut kalau perasaan yang menyakitkan itu kembali. Hampir tak percaya semua itu bisa terlupakan. Aku dulu sangat sakit hati.
Sekarang? Mungkin masih.
Betapa tersiksa melupakan apa yang telah terjadi. Bahkan untuk sekedar melupakan fragmen kecil di depan halte pun, sudah menyiksaku sedemikian rupa, memasungku dalam resah. Dia tak berhak, menyakitiku sedemikian rupa.
"I'm finish with man. I really do," hati kecilku meruntuk.
Alunan My Man's Gone Now dari tiupan terompet Miles Davis mulai merayapi malam, mengembara memenuhi lounge Mandarin Hotel KL.
Suara terompet yang merintih, merangkak, dan melata itu sungguh menemani setiap orang yang mengidap insomnia -sepertiku. Seringkali kupikir Jazz memang terbangun dari partikel malam, menemani orang yang menganggap tidur merupakan keajaiban terindah.
Ehmmm.... apakah Jazz adalah gambaran hidup, termasuk cinta?
Entahlah, mungkin aku mulai agak mabuk.
Ku habiskan margarita di gelas. Kulihat Bvlgari-ku menunjuk waktu tanpa kesalahan. Ku lemparkan sedikit tip ke atas meja, dan meninggalkan lounge dan kembali ke kamar hotel, dengan sedikit tergesa. Mengutip kata sesepuh yang, mungkin sudah terlelap di kamarnya masing-masing,"Va, besok hari besarmu."
Dalam satu detik kesadaran, kurasa bahwa aku tak lagi mabuk, namun cahaya bintang kejora di mataku mulai meredup. Aku tak pernah merasa besok adalah hari besar untukku.
Mandarin Hotel, Kuala Lumpur April 18' 05 -Thx Mas SG-
|
Tuesday, April 12, 2005
|
Only a week left to 19 April
|
 Outside the rain begins and it may never end Those memories long forgotten now So cry no more, ever more
Just close the window, calm the light And it will be all right No need to bother now Let it out, let it all begin
Once a story's told it can't help but grow old Learn how to pretend, for all's forgotten now relized We're alone, I am alone all alone
[I will learn to fall in love with you, as much as your promise for never give up on me. Only a week left, and then I am gonna be yours forever. Perhaps....]
.
|
|