|
Sunday, July 24, 2005
|
Kembali ke Beijing
|
 Tiket keberangkatan berikut kamar di Shanggri-La hotel tempatku menginap di Beijing selama seminggu pada Agustus nanti, sudah dipastikan. Hari ini, tiket Singapore Airlines dan seluruh dokumen perjalanan ke Negeri Tirai Bambu itu sudah di tanganku. Yup, sejak dua bulan lalu, aku meminta agar bos mau menandatangani berkas cuti yang berlaku Agustus itu. Awalnya dia enggan memberikannya, namun setelah separuh trik rayuan dan 'paksaan' kukerahkan, luluh juga si bos. Bahkan ketika berkas cuti yang ditandatangani oleh Kabag SDM, dan dikembalikan kepadanya, sembari bercanda dia sempat berkomentar, "Wah, gue kemarin kok jadi menandatanganin surat cutinya si Sava ya. Pasti waktu itu proses tandatangannya di bawah ancaman nih."Komentar itu ditimpali oleh si Bos lain penguasa desk Politik. "Aduh, lu jangan kebangetan donk. Si Sava udah perlu cuti tuh. Mukanya aja udah macem orang kena penuaan dini. Bisa mati berdiri anak buah, ente suruh kerja rodi siang malam kagak berhenti-berhenti." Celetukan itu ditimpali tawa oleh teman-teman yang kebetulan udah pada landing di kompartemen nasional. Seminggu lebih aku akan meninggalkan Jakarta. Mulai tanggal 13 Agustus, aku tinggalkan metropolitan, menuju Djogja untuk sowan ibu, dan nyekar suwargi bapak. Pagi harinya kembali ke Jakarta, dan malam harinya langsung bertolak ke Beijing. Sebenarnya keberangkatanku ini menimbulkan tanda tanya di benak beberapa orang. Mengapa? karena sebagian orang menganggap keberangkatanku ini mengikuti lawatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang tanggal 27-30 Juli ini bertolak ke Beijing, untuk membicarakan masalah bilateral seperti sektor energi, perdagangan, ekonomi. Arya -my beloved fiancee- dalam salah satu telponnya menyatakan awalnya pada hari Kamis, Presiden SBY akan mengikuti acara China Energy Forum.Jelas, sebagai salah satu pengimpor LNG terbesar dari Indonesia, China ingin melihat visi dan misi Presiden yang pernah menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Namun entah mengapa acara itu batal dan diganti dengan acara Business Forum antara Kadin China dan Kadin Indonesia. Anyway,tempat kerjaku seperti biasanya tak diundang oleh Pak Beye melawat. Bagiku tak jadi masalah. Menurutku mengikuti Presiden dan masuk ke main group rombongan Kepresidenan bukan hal yang menyenangkan. Memang benar, semua orang akan memandang takjub ketika seseorang dapat ikut rombongan Kepresidenan. Namun apakah mereka tahu, mengikuti Presiden melawat ke negara lain adalah BEKERJA KERAS, bukan BELANJA BEBAS. Yah, mungkin bagi orang yang kecentilan, bisalah dipakai sebagai ajang tebar-tebar pesona colek-colek gratisan.Karena keberangkatanku ke Beijing ini hampir bersamaan dengan keberangkatan Kepala Negara, akhirnya terjadilah kesalah pahaman dan pertanyaan yang mengacu pada situasi saling pointing fingger. Sebelum aku mengambil tiket ke Beijing tadi, seorang teman dari Group media di Kedoya sempat mempertanyakan keberangkatanku ke Beijing, dengan nada tak bersahabat. "Va, dari 18 media yang diundang untuk mengikuti perjalanan Presiden SBY bukannya kantor lu gak diajak? Kok bisa-bisanya kamu ikutan jalan. Duit dari mana lu?" tanyanya sinis. Tak kulayani pertanyaannya selain tetap tersenyum dan meninggalkannya. Begitu malas aku melayani pertanyaan yang menjurus hal tak jelas seperti itu. Padahal di belakangku dia asyik melanjutkan acara ber- was wes wos alias rumpitawati tentang keberangkatan personalku ke Beijing itu. "Dasar kacrut..... emangnya gue gak bisa jalan-jalan kemana pun dengan duit sendiri? Apakah gue harus selalu nunggu undangan dari Presiden untuk bisa jalan-jalan keluar negeri? Jelek-jelek gini, penguasa mabes Djogja tak akan pernah biarin anaknya kleleran. Wah, kasiaaan deh luuu," runtukku habis-habisan. Ternyata masalah jealous terhadap orang yang bisa keluar negeri seperti yang kutemui di lapangan ini, tak jauh beda dengan yang dilakukan oleh segelintir orang di kantorku. Aku heran, mengapa ketika ada seorang berangkat keluar negeri apalagi bersama Presiden, selalu dianggap akan mendapatkan hal yang menyenangkan. Padahal apa yang didapat, selain capek, capek, dan capek. Tak mungkin kan mereka ngiri dengan jatah satu cup ice cream Haggen Dazs yang dibagikan para pramugari di pesawat Kepresidenan itu? Oalah Gustiiii... lha wong cuman ice cream Rp25 ribu doang lho, kok jadi ribut. Padahal hotel, makan, dan tetek bengek lain selama jalan ikut Presiden yang ditanggung sendiri lho. Ato orang-orang itu pada ngiri karena kalau kebetulan kami ngikut lawatan Kenegaraan, selalu punya kesempatan foto sama Presiden? Wah jan ndesit tenan.  Ah sudahlah. Capek mikirin orang-orang sirik. Yang penting, Agustus nanti, aku bebas tugas untuk mewartakan perayaan HUT Kemerdekaan di Istana Merdeka. Aku akan punya lebih banyak waktu untuk memikirkan kehidupanku sendiri, sembari berjalan-jalan melihat Tample of Heaven, atau sibuk nyari barang lucu-lucu di The Panjiayuan Flea Market yang terletak di west side of the Panjiayuan Bridge sebelah selatan the capital's East Third Ring Road, bersama Arya, tentunya. .
|
Monday, July 18, 2005
|
E-commerce dan Dot.Com
|
Mengapa sulit betul mengembangkan e-commerce di Indonesia? Sangat jarang satu e-commerce yang menggunakan layangan online by internet menjadi booming di Indoensia kecuali situs yang berbau seks, tentunya.  Banyaklah situs-situs berita maupun pelayanan jasa yang setengah mati bertahan di era cyber ini. Malah, beberapa situs berita yang sudah tak lagi kuat bertahan seperti Copytime.com, Lippostar.com langsung menutup perusahaannya, dan para pemegang sahamnya langsung banting stir mengalokasikan dananya ke sektor lain. Adalah beberapa yang masih bertahan dan menjadi referensi pembaca seperti contohlah Detik.com, Bisnis.com, Tempointeraktif.com, atau Kompas.com.Redaktur senior Kompas dan juga Pimpinan dari Kompas.com, Ninok Leksono Dermawan pernah bilang kalau pada akhirnya KCM memposisikan diri sebagai media online pendamping dari media induknya yakni KOMPAS. Jelas, bagi media sebesar Kompas, subsidi silang untuk perusahaan cucu, cicit, sampai canggah tak jadi masalah besar.  Surat kabar ekonomi Bisnis Indonesia yang memiliki site khusus untuk berita breaking news jelas menempatkan Bisnis.com sebagai pendamping holding-nya, dan melayani para pelanggan yang kebanyakan para ekonom untuk mengakses langsung pergerakan saham di bursa. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah di tengah derasnya arus informasi dan teknologi ini, mengapa media online masih harus setengah mati bertahan? Secara nasional, -di luar Jakarta tentunya,- media online, bukan jadi bahan rujukan bahkan shoping by online yang sudah sangat biasa dilakukan masih jadi hal yang asing. Jika dikatakan media online kurang mempersenjatai para reporter dengan sarana yang cukup, ya tidak juga. Buktinya, Pemimpin redaksi Detik.com, Budiono Darsono setiap tahun selalu mengganti ponsel para reporter di lapangan dengan gadget terbaru. Budiono juga berencana mempersenjatai para prajurit garda depannya dengan Blackbarry, gadget keluaran terbaru dari Indosat. Harapan para reporter dapat menerima dan mengecek email di mana saja tanpa repot-repot membuka connect internet terlebih dahulu. Apakah ini satu bukti bahwa pembaca di Indonesia masih setia dengan koran pagi untuk mendapatkan informasi aktual? Padahal beberapa lembaga survei menyatakan jumlah pembaca di Indonesia secara nasional sejak 2004 sudah berkurang hampir 50% dari tahun sebelumnya, karena hobi membaca beralih ke kegiatan menonton televisi. .
|
Sunday, July 17, 2005
|
Sri
|
Sri tak lagi bekerja membantu ibuku. 20 tahun sudah dia mengabdi kepada keluarga kami. Keluh kesah tak pernah terucap dari mulutnya. Dia bukan pemarah, dan tahu benar tabiat dari setiap anggota keluarga kami, sampai tabiat 10 orang anak kos di rumah ibuku. Sri punya gaya khas, yakni segera menutupi mulutnya dengan tangan ketika digoda habis anak-anak kos, sekedar menyembunyikan giginya yang ompong. Keluargaku pun tak menganggapnya sebagai pembantu rumah tangga biasa. Sri sudah seperti keluarga sendiri.
Hingga satu hari dia menghadap ibuku dan minta pamit pulang ke desa. Dia bilang dirinya sudah mulai menua, dan tak lagi dapat membantu keluargaku seperti dulu. Dia juga bilang kondisinya yang tak lagi muda justru menjadi beban keluargaku. Ibuku bersungguh-sungguh menahan dia agar tak pulang ke desa.
Bukannya sadis atau kejam, Sri tak punya anak, apalagi sanak. Dulu pernah dikawin siri oleh seorang pejuang 45, tapi meninggal kena peluru Belanda waktu ikut serangan fajar di Kota Baru. Dia hanya punya sepetak sawah dan rumah kecil di kawasan selatan Gunung Kidul.
Masih kuingat benar, untuk mencari air bersih di desa itu harus berjalan sejauh lima kilometer sembari menggendong gentong tanah liat yang sungguh berat bagi tubuh renta Sri.
Ibuku khawatir betul dengan permintaan Sri ini, namun beliau juga tak kuasa mendengarkan rengekan pembantu paling senior di rumah Djogja itu. Tak hanya ibu yang menahan keinginan pergi si Srinthil ini [panggilan eyang kakung dan eyang putriku dulu padanya], tapi para pembantu yunior, supir, dan anak-anak kos rela berjuang dengan semangat empat lima mencegah kepergiannya.
Sampai akhirnya, April lalu sebelum aku berangkat ke Kuala Lumpur, kusempatkan ngobrol dengannya. Sri memohon padaku untuk bicara dengan ibu agar dirinya diizinkan pulang ke desa. Berulang kali dia bilang hatinya sungguh rindu melihat sawah dan rumah kecilnya itu. Ketika aku bilang ibu mencemaskan kesendiriannya dan kondisinya yang mulai sakit-sakitan, dan akan merasa bersalah padanya, Sri justru menanggapinya dengan senyum.
Senyuman yang menghiasi wajah kriputnya membuatku sedikit tersentak. Waktu kupandang wajahnya, sungguh ternyata sisa-sisa kecantikan di masa muda masih terlihat jelas di usia senjanya, bahkan aura dari kebersihan hatinya memancar. Masih kuingat kalimat-kalimat Sri saat dia minta pamit.
"Jeng nganten,* wonten mangsanipun tiyang gesang meniko madep sareh. Mboten malih kesanggahan perkawis kadonyan. Nyuwun pangaksami menawi kulo nyuwun mantuk. Mboten ateges kulo kacang ninggal lanjaran. Namung kulo nyuwun mantuk wangsul nggunung. Jeng nganten kulo aturi matur dumateng Ndoro putri."**
Akhirnya, seminggu setelah acara keluarga di Kuala Lumpur selesai, Sri pamit pulang. Dengan langkah mantap dia meninggalkan rumah yang selama tiga generasi menjadi tempatnya berbagai suka duka.
Tadi malam, aku mendapatkan kabar dari Ibuku kalau Sri sudah menghadap sang Khalik, tepat dalam posisi sujud saat menunaikan sholat Subuh di surau tak jauh dari rumahnya. Sungguh, aku masih mengingat keteduhan begitu dalam di balik tatapan dan senyuman Sri, saat dia meminta izin untuk kembali ke desa.
Kembali aku disadarkan oleh satu cuplikan sederhana dari kejadian sehari-hari, di mana aku harus tetap menunduk dan tak lupa pada yang Maha dari segalanya.
"Matur nuwun Sri."
Catt: * Keluargaku yang sudah modern masih menyisakan tradisi Jawa yang feodal. Panggilan Jawa seperti jeng nganten, den nganten, ndoro putri, ndoro kakung yang menandakan strata sosial masih di pakai baik di keluargaku maupun keluarga besarku. Panggilan Jawa itu cukup membuatku teramat sangat risih, tapi begitu susah mengubah apalagi menghapus sisa2 feodalism di keluargaku.
** "Mbak, ada waktunya manusia itu mulai menunduk bertafakur. Sudah tak lagi memikirkan masalah keduniawian. Mohon maaf kalau karenanya saya meminta pulang. Bukan berarti saya kacang lupa kulitnya, namun saya tetap minta izin pulang. Saya minta mbak berbicara dengan ibu."
.
|
Friday, July 15, 2005
|
Hujan, Malam, Fajar, Senja, dan Mendung
|
Gia, wanita yang mencintai hujan Dibiarkan setiap tetesan air dari kaki langit bergulir pelan menyentuh wajah, hidung, bibir, leher dan berakhir di dadanya, bersama kenangan saat menikmati hujan yang mengguyur langit Jakarta, dalam hangat pelukan Gie
Gie, pria pembenci hujan, namun pecinta malam sejati Senantiasa menikmati sapuan dingin nan lembut angin malam yang menyapa setiap jengkal pori-pori di tubuhnya, dengan sepenggal kenangan saat menghabiskan malam melumat dan memagut rakus bibir Gii
Gii, wanita yang merindukan fajar Setiap saat menikmati kilauan keemasan sang surya yang malu-malu mengintip dibalik kaki-kaki langit, seiring datangnya sekeping kenangan saat hatinya telah 'tersentuh' tanpa batas oleh Gio
Gio, pria pembenci hujan, malam, dan fajar, tapi pemuja senja abadi Selalu menyediakan waktu menikmati semburat ungu jingga yang memulas angkasa, sembari menyenandungkan sebait lagu, "senja itu ku datang padamu" untuk seorang Giu
Giu, perempuan bukan penyayang cuaca, tak pula kekasih musim Namun dia selalu merasai kepuasan sangat dalam dirinya saat langit berubah temaram seiring melambatnya putaran waktu, -tepat sedetik sebelum rintik hujan menetes perlahan menyentuh permadani hijau sang Illahi,- sembari menyeduh teh tubruk gula batu dan pisang bakar untuk, .......dirinya sendiri.
KA Argobromo tujuan Djogja, seat 9A
.
|
Monday, July 11, 2005
|
Sifat rendah hati seorang Umar Kayam
|
Kemarin malam pulang larut. Symphony Rachmaninoff Rahapsody thame of Paganini op 43 variation XVIII yang kupikir dapat sedikit menenangkan pikiran, justru tak kuasa mendamaikanku. Akhirnya ku coba sekuat tenaga berkonsentrasi menyelesaikan 'Jalan Menikung'-nya Umar Kayam.
Ternyata keinginan itu tak terkabul, tergantikan kegiatan melamun dan bertanya pada diri sendiri. Kegiatan melamun yang datang saat aku mulai terpukau dengan kesederhanaan Pak Kayam menggambarkan suasana Sunnybrook, AS, di bulan September pada paragaraf awal di hal. 19.  "Pada akhir bulan September, musim gugur, di mana langit mulai sedikit mengelabu, cuaca yang mulai menjadi lebih dingin dari bulan Agustus, musim panas yang mencapai titik hawa panas yang tertinggi, tiba-tiba hawa yang mulai sejuk itu naik lagi sedikit menjadi hangat-hangat sejuk........
.....tetapi pada musim panas yang sekejap itulah, kira-kira hanya sebulan, alam Connecticut memamerkan wajahnya yang cantik. Daun-daun pepohonan yang akan pada berguguran, mengubah warna mereka dari hijau tua menjadi hijau kekuning-kuningan, kuning tua, kadang-kadang juga coklat, bahkan ungu untuk gugur berserakan di tanah........ seluruhnya mengalami metamorforsis warna yang demikian...... Sunnybrook memamerkan keutuhan warnanya yang nyaris lengkap."
Bagiku, Umar Kayam adalah satu dari sedikit penulis yang mampu menggambarkan hal-hal di sekitar dengan kalimat sederhana, namun jernih, runtut, dan mengalir. Dia tak pernah berusaha menjejal-jejalkan semua pengalaman, atau kemampuan yang dimilikinya, -supaya dianggap cerdas- oleh pembaca dalam setiap karyanya.
Tapi justru dengan cara penulisan sederhananya, pembaca mengerti dengan sendirinya bahwa dia seorang penulis cerdas, berwawasan luas, dan sangat peka terhadap bahasa. Lebih penting lagi, sosok Kayam dapat menekan ego-nya sehingga sangat rendah hati dalam setiap tulisannya.
Being humble is very difficult for a lot of writter.
Sungguh sangat tak mudah menulis dengan rasa rendah hati dan sekaligus mendiskripsikan sesuatu fenomena dalam satu bentuk tulisan secara sederhana, tapi mengalir dan jernih.  Si Jeng, -sahabatku yang merasa telat membaca karya-karya Pak Kayam-, menyatakan seorang Umar Kayam adalah sosok humble dengan kecerdasan terpancar dari kesederhanaan tulisannya. Kayam penulis cerdas tanpa perlu menempelkan tulisan CERDAS 'dijidatnya' layaknya kebanyakan penulis muda saat ini.
Argumen serupa aku dapatkan ketika ngobrol dengan Goenawan Mohammad di Sositet Yogyakarta saat peringatan 1.000 hari meninggalnya Pak Kayam, tiga tahun lalu. GM menyatakan, "......beliau seorang penulis yang pandai menyusun cerita secara hemat tapi efektif dalam karyanya, seperti garis-garis yang tak sepenuhnya selesai tapi justru bisa menahan kita untuk membacanya..."
Dari karya-karya Pak Kayam aku belajar keras untuk menulis dengan sederhana, mengalir, detail tapi tak bertele-tele, dan rendah hati. Selain itu, aku tak pernah berpikir tentang gaya penulisan. Gaya menjadi hal terakhir yang kupikirkan.
Masmimar Mangiang -mantan Pemred Neraca- pernah mengatakan seringkali penulis baru banyak menghabiskan waktu untuk mencari gayanya. Padahal, teknik penulisan masih amburadul dan keragaman berbahasa masih sedikit. "Gaya akan terbentuk dengan sendirinya. Pembaca yang akan menilainya. Pembaca yang cerdas dan teliti akan mengetahui dengan sendirinya bahwa satu tulisan dibuat oleh si A, si B, atau si C."
Intinya, aku masih harus banyak belajar menulis, menulis, menulis, dan menulis. Serta berusaha keras untuk menekan egoku dan berusaha menjadi humble dalam tulisanku.
**** Sedikit menyimpang dari konteks tulisanku di atas. Mungkin ini patut disebut sebagai protes.
Aku mempunyai banyak teman yang berprofesi sebagai wartawan. Namun ketika mereka menduduki jabatan struktural, menjadi jarang menulis. Jika sempat menulis pun, tak akan lebih dari satu paragraf. [Mungkin kegiatan menulis itu terpaksa mereka lakukan sekedar menambal kekosongan halaman koran karena tak ada iklan].
Sungguh susah ketika seorang wartawan berubah menjadi pejabat struktural. Tak lagi sibuk menulis, tapi justru diributkan dengan tetek bengek administrasi. Jika begitu, bukankan profesi wartawan struktural kurang lebih sama dengan pekerjaan Pakde Mangunkarso yang pegawai administrasi kecamatan pinggir Kali Code itu?????? Haissy, mbelgedhes....
.
|
Thursday, July 07, 2005
|
Kumembeng kang waspo
|

Udan deres wor tinerentes waspo panggrantese tangis ngeleb pipiku ajur ambyar ambyur mak tes tumetes nggrantes......
my room, July 6'2005 (Sujiwo Tedjo)
.
|
|
| | | | |