Aku cemas benar,
tanpa alasan tanpa akibat.Seperti biasa di awal Januari, Ryu selalu menelpon untuk mengabarkan rencana rutin kedatangannya setiap satu tahun sekali. Dia kaget ketika tahu aku sakit. Yang membuatnya semakin panik ketika tak terdengar suara apapun dariku. Ya, tiga hari penuh aku tak bisa bicara. Radang tenggorokan yang menyertai datangnya typus dan maag membuatku kehilangan suara.
Kedatangannya dari Jepang yang direncanakan akhir bulan ini, di majukan segera. Ryu datang tepat ketika kondisiku sedang parah2nya. Badan lemas, demam, dan sering terasa mati rasa.
Olehnya aku dibawa langsung ke rumahnya di Bogor. Istirahat penuh, dan dia minta supaya pembantunya melayaniku dengan baik. Ryu orang yang baik. Benar kata ayahku dulu, walau Ryu orang Jepang, tapi sikapnya jauh lebih Indonesia dari orang pribumi sendiri. Kebaikannya aku lihat ketika dengan bijaknya dia mencegah ibuku untuk datang ke Jakarta.
"Tak perlu repot, kondisinya masih tertangani. Saya yang merawatnya, sebelum nanti saya datang bertemu mbakyu di Djogja," katanya ketika meyakinkan ibuku.
Ryu tahu benar kalau ibuku saat ini sudah tak boleh lagi mendengar berita yang mengagetkan karena alasan kesehatan. Hal ini pula yang selalu menjadi fokus utamaku ketika menghadapi satu masalah. Seringkali aku terpaksa mengatakan kepada ibu bahwa kondisiku baik2 saja di Jakarta. Padahal tak selalu demikian.
White lies, pikirku mencari pembenaran. Heeemmmfff, berbohong kepada ibu. Betapa gilanya apa yang kulakukan.
Selama bersama Ryu, selain mengawasi makan dan meminum obat dari dokter, dia juga memberikanku ramuan yang dibuatnya dalam bentuk teh. Tak tahu apa saja bahan2nya. Dia hanya bilang, ramuan itu baik untuk mempercepat proses kesembuhanku, terutama untuk tenggorokan. Sebagai seorang ahli reiki, dia tak hanya membuatkanku teh setiap malam, tapi juga memberikan pijitan di punggung untuk melancarkan peredaran darahku.
Mungkin ini hanya salah satu stimulus saja, karena kurasakan tubuhku yang sangat lemas dan bahkan tak kuat berjalan, pulih sedikit demi sedikit.
Satu saat, ketika suaraku sudah mulai pulih seperti sedia kala, dia banyak menemaniku dengan cerita2nya. Maklum, Ryu dengan sengaja mengambil ponselku, dan melarang pembantunya memberikan surat kabar dan bahkan segera mengganti
channel televisi yang sedang menyajikan berita, dengan
cartoon channel, atau dimatikan dan menyimpan
remote di balik saku bajunya.
Minggu ini, setelah dia mengantarkanku untuk
check up ulang di Pondok Indah
dia bilang padaku. "Sava, sakitmu timbul bukan karena penyakit, tapi dari sini," ujarnya sambil pelan memegang keningku.
Ya, aku cemas betul, dan tak tahu apa yang kucemaskan.
Banyak hal yang datang dan akhirnya menyisakan lelah luar biasa dalam otakku.
Jika hal itu terjadi, aku memilih untuk diam dan berusaha bermain-main dengan hal-hal yang menyisakan lelah itu. Terus kulakukan sampai akhirnya aku baru tertidur, menjelang matahari terbit.
Banyak hal yang disarankan Ryu padaku. Pria sahabat lama almarhum ayahku itu seakan tahu apa yang kupikirkan. 70 tahun mengarungi kehidupan jelas dia sangat paham dengan kusut masainya dunia ini.
"Va, lupakan saja. Berusaha ikhlaskan saja. Ikhlas, tapi tak hanya di bibir dan pikiran. Ikhlas dalam batin. Kamu mampu Va. Jangan kau perturutkan perasaan itu. Menara yang sedang kau bangun dengan susah payah akan ambruk begitu saja. Jika kamu hancur, kamu akan membawa sekelilingmu juga. Jangan cemaskan apa yang tak perlu kau cemaskan. Cukup sudah kau berkorban. Jangan lagi kau berjalan di atas bara. Lepaskan ya.
Well, Life is unfair sometimes, but time will tell that life is unfair sometimes. We must accepted, be able to forgive, dan forget," katanya waktu itu.
Lepaskan......
Ya, aku ingin melepaskan semua kecemasan dan kekesalan itu.
Ikhlaskan,
tak hanya di bibir dan pikiran, tapi hati.
tapi,
betapa susahnya.....
.