<body bgcolor=white text=black link=black vlink=black alink=black marginwidth=0 marginheight=0 topmargin=0 leftmargin=0 rightmargin=0 bottommargin=0>
You can not blame my emotion because it will never fade away. I do not care about bad affinity. Its about me. Myself........


Visitor: hits.
Visitor online: online


These days the world's events are strange. They say this and they say that. There is no point arguning. I am better off dozing.....


NEWS
→Herald Tribune
→New York Post
→Washington Post
→Tempo
→Bisnis Indonesia
→Kompas
→Pantau
→MinergyNews
→Platts


DJOGJA's NEWS
→Kabare Jogja
→Gudang Info tt Yogya
→Angkringan
→Jawa Palace
→Primbon Jawa
→Sastra


JAZZ NEWS
→Horizon
→GRP
→Warta Jazz
→Jazz FM
→Dave Koz
→Fourplay
→Lee Ritenour



FILEs

  • January 2004
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • August 2005
  • September 2005
  • October 2005
  • November 2005
  • December 2005
  • January 2006
  • February 2006
  • March 2006
  • May 2006
  • June 2006
  • July 2006
  • August 2006
  • September 2006
  • October 2006
  • November 2006
  • December 2006
  • January 2007
  • March 2007
  • April 2007
  • May 2007
  • July 2007
  • August 2007
  • September 2007
  • October 2007
  • November 2007
  • December 2007
  • January 2008
  • February 2008
  • March 2008
  • April 2008
  • May 2008
  • June 2008
  • July 2008
  • August 2008
  • September 2008
  • October 2008
  • November 2008

































  •    
    Angin Savana
     
    Tuesday, February 14, 2006

    Nyaman 

    Lumayan dapat pulang dari kantor lebih awal. Jalanan lumayan lengang hari ini. Tak lebih dari 15 menit sampai ke rumah, Ryu telpon minta aku datang ke Ritz Carlton. "Kepengen ngobrol sebelum balik ke Jepang," katanya. Ya sudah, sebagai
    tuan rumah yang baik dan benar, aku mendatanginya ke hotel dibilangan Kuningan itu. Sedikit malas sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi, besok pagi dia sudah harus kembali ke Jepang. Itung-itung balas budi atas kesabarannya merawatku
    ketika masuk rumah sakit akhir bulan lalu.

    Ngobrol dengan Ryu tak pernah bisa sebentar. Terbukti ketika aku baru diizinkannya pulang ketika jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Awalnya aku tak diizinkannya pulang. "Tidur di sini saja. Sudah pagi, apa kata orang
    kalau melihatmu pulang pagi," larangnya.

    Memang benar, tapi aku malas tidur di hotel. Aku pingin pulang dan tidur di rumah. Seperti biasa, Ryu mengalah setelah aku memasang muka memelas. Dalam perjalanan pulang, sengaja tak kuhidupkan pendingin mobil. Hawa dini hari lebih
    menyejukkan dibanding pendingin mobil. Di perempatan Pejompongan terpaksa berhenti karena lampu merah. Seraya iseng, tanganku secara acak tumpukan compact disk di dashbord. Di situ kutemukan cd tanpa sampul. Entah lagu siapa. Tanpa pikir panjang kumasukkan dalam otomatic player mobil.

    Terdengar suara berat milik Iga Mawarni. Tembang lawas yang telah lama tak kudengar. Awalnya kudengar sedikit aneh, tapi lantunan melankolis milik Iga nampak serasi dengan suasana dini hari. Seringkali lagu yang bertemu dengan hawa yang tepat,
    membuat suasana hati menjadi nyaman.

    Atau mungkin karena suasana hatiku serupa yang digambarkan Iga dalam lagunya ini?
    Kalau boleh, untuk kali ini aku tak akan menjawabnya. Aku hanya ingin menikmatinya dalam senyap, tanpa tanya, tanpa beban.



    Ada cinta tak terucap
    Bersembunyi dalam dada
    Dan terlihat dari mata
    Aku jatuh cinta

    Betapa indah rasanya
    Bila dia juga cinta
    Bila dia juga sayang
    Sayang sama saya

    Jatuh cinta oh rasanya
    Membuatku jadi gila
    Aku terlena terbuai cinta
    Angan melayang tinggi diawan
    oh..oh.. biar... biar saja
    Walaupun dia mungkin tak cinta

    Ngomong ngomong soal cinta
    Memang agak susah ngomong
    Walau dia tidak cinta
    Aku tetap cinta dia

    Jatuh cinta oh rasanya
    Membuatku jadi gila
    Aku terlena terbuai cinta
    Angan melayang tinggi diawan
    oh..oh.. biar... biar saja
    Walaupun dia mungkin tak cinta

    Ngomong ngomong soal cinta
    Memang agak susah ngomong
    Walau dia tidak cinta
    Aku tetap cinta dia
    oh..oh..
    Masih tetap ku berharap
    Dia juga cinta saya



    .

     
    Sunday, February 12, 2006

    One night stand phenomena 

    Dialog I
    Aku menginginkanmu karena kau tahu betapa aku mencintaimu
    Aku perlu bukti atas cintamu
    Aku berjanji akan membawamu ketempat sangat indah yang tak pernah kau rasakan sebelumnya.


    Dialog II
    Biarkan semua berjalan seperti apa adanya.
    Jika kau menginginkan lakukanlah, jika tidak siap jangan engkau paksakan.


    Dialog III
    Aku menginginkanmu hanya malam ini
    Begitupun aku....


    ======

    Fenomena sex before married adalah satu hal yang jamak di kota-kota besar. Bukan sekarang ini saja sex before married menjadi satu wabah di masyarakat kita. Mungkin dahulu sex before married tidak dilangsir sevulgar sekarang ini.

    Di era '80 an, fenomena sex before married terbuka dihadapan publik. Yah, walaupun [sekali lagi] belum sevulgar sekarang, tapi hal tersebut memang terjadi.

    Pada tahun-tahun itu, generasi bunga muncul. Aktivitas mabuk, menghisap ganja dan sex bebas adalah salah satu bagian gaya hidup pada waktu itu. Jika membaca kembali sejumlah laporan dari para psikolog waktu itu, gaya hidup generasi bunga muncul karena kurang diperhatikan orang tua.

    Orang tua dianggap tidak memperhatikan lagi mereka. Ayah yang sibuk mengurusi bisnis dan para simpanannya, ibu yang menghabiskan waktu berorganisasi dan segala jenis arisan, membuat sang anak kesepian dan mencari jati dirinya.

    Klise?
    Mungkin.

    Sex before married selalu jadi hal menarik untuk dibahas. Bagaimana tidak ketika melihat mahasiswa yang bolos kuliah, dan rela curi2 kesempatan dari ibu kost di siang hari untuk sekedar melampiaskan libidonya.

    Apakah hal tersebut wajar?
    Selalu pertanyaan itu tidak pernah terjawab dengan puas.

    Mengapa?
    Jelas, dari pandangan norma, agama maupun aturan2 apapun itu, sex before married adalah hal yang ditabukan. Singkatnya aktivitas t e r l a r a n g.

    Namun dari padangan individu yang melakukan ataupun orang2 moderat, dari sudut pandang mereka, sex before married adalah hal wajar dan hak dari orang yang melakukannya. Toh, mereka juga yang menanggung segala konsekuensinya.

    Kehamilan atau pengguguran kandungan adalah hal yang biasa saja, bahkan lumrah.

    =====

    Para eksekutif muda yang bertebaran di metropolitan ataupun di daerah-daerah industri, dapat dikatakan sadar dengan konsekuensinya. Tinggal komitemen antara kedua belah pihak, apakah akan berlanjut atau hanya sekali pakai langsung 'buang'???

    Mereka yang sudah mempunyai pendapatan tetap mudah dan resikonya justru lebih kecil dibandingkan dengan pasangan yang masih mengandalkan uang saku dari orang tua.

    =====

    Pria?

    Ah, mudah. Para pria yang sudah berkeluarga dan beranak pinak berlusin-lusin pun, di dunia luar dapat dengan mudah mengenalkan dirinya sebagai seorang single and availlable. Kata temanku, 'cowoq mah gampang. Kagak pernah keliatan bekasnya.'
    Ibarat kelapa, makin tua makin banyak santannya.



    Perempuan?

    Tentunya tak semudah itu kan?
    Mungkin dengan perawatan diri yang habis-habisan di tempat perawatan tubuh, melakukan aktivitas sex berkali-kali tak menjadi masalah juga. Walau sudah tak lagi perawan, jika muka dan body dipoles abis masih banyak orang suka.

    Namun apakah wajah dan tubuh mereka tidak akan berubah bentuk dalam 10 atau 20 tahun ke depan?
    Apakah para perempuan yang kebanyakan hidup mapan dan bermasa depan baik ini akan menghabiskan separuh hidupnya dari satu pria ke pria yang lain?

    Apakah saat ini pernah tergambar dalam benak mereka, pertanyaan klise yang terselip di setiap pertengkaran suami istri... 'Aku mendapatkanmu tak perawan lagi, apa yang aku harapkan dari mu. Aku menyesal mendapatkanmu?'

    [Ah, kalau ada pria yang berkata seperti itu adalah patut jika dia digampar habis-habisan]
    Ah, perempuan. Ibarat buah, semakin tua semakin banyak keriputnya.

    Memang tidak adil, tapi seperti itulah adanya.

    Beberapa pria yang memperawani para gadis sebelum menikah, ketika menikah dia akan menuntut perempuan yang masih perawan.

    Adilkah?
    Jelas tidak, tapi [sekali lagi] begitulah adanya.

    'Ah, tidak semua pria menuntut keperawanan perempuan yang dinikahinya.'

    Ya, tapi apa yang diberikan seorang perempuan pada malam pertama pernikahannya pada seorang pria yang 'dicintainya'? Apakah sang suami cukup puas dengan kata, 'Maaf Mas, engkau bukan yang pertama mendapatkannya, tapi malam ini kau akan mendapatkan service memuaskan dariku.'

    Ooops....

    Di akui atau tidak, setinggi apapun kedudukan para perempuan. Serealistis apapun keputusan yang diambilnya, kerugian terbesar selalu ditanggung perempuan.

    [For my beloved friend Ratri with her regrets, lonelyness and emptyness]

     
    Wednesday, February 01, 2006

    Mengapa selalu Kenapa dan Mengapa? 

    Pernahkan terlintas dalam benak untuk sekedar menayakan, mengapa orang selalu merasa perlu butuh penjelasan atas kondisi atau keputusan yang diambil orang lain?

    Kenapa kamu memilih warna hitam, bukankah biru lebih bagus?
    Mengapa kamu makan bakmi, padahal ada pasta enak di sini?
    Kenapa kamu belum menikah, padahal kekasih kamu sudah menginginkannya?
    Mengapa kamu jadi kurus, padahal justru kamu lebih sexy dg badanmu yg padat?
    Kenapa kamu beli apartemen, padahal membeli rumah jauh lebih menjanjikan?

    Kenapa, kenapa, kenapa.....
    Mengapa, mengapa, mengapa.....

    Awalan kalimat tanya yang seringkali dikemukakan pada saat yang tak tepat. Terlebih lagi jika kita kemudian ikut repot menjelaskannya kepada orang-orang yang tak tepat pula.

    Tak semua kondisi dan keputusan yang diambil perlu dijelaskan. Seringkali
    satu hal dilakukan tanpa perlu repot menjawab pertanyaan Kenapa, dan Mengapa
    justru lebih baik.

    .