Dialog I Aku menginginkanmu karena kau tahu betapa aku mencintaimu
Aku perlu bukti atas cintamu
Aku berjanji akan membawamu ketempat sangat indah yang tak pernah kau rasakan sebelumnya.Dialog IIBiarkan semua berjalan seperti apa adanya.
Jika kau menginginkan lakukanlah, jika tidak siap jangan engkau paksakan.Dialog IIIAku menginginkanmu hanya malam ini
Begitupun aku....======
Fenomena sex before married adalah satu hal yang jamak di kota-kota besar. Bukan sekarang ini saja sex before married menjadi satu wabah di masyarakat kita. Mungkin dahulu sex before married tidak dilangsir sevulgar sekarang ini.
Di era '80 an, fenomena sex before married terbuka dihadapan publik. Yah, walaupun [sekali lagi] belum sevulgar sekarang, tapi hal tersebut memang terjadi.
Pada tahun-tahun itu, generasi bunga muncul. Aktivitas mabuk, menghisap ganja dan sex bebas adalah salah satu bagian gaya hidup pada waktu itu. Jika membaca kembali sejumlah laporan dari para psikolog waktu itu, gaya hidup generasi bunga muncul karena kurang diperhatikan orang tua.
Orang tua dianggap tidak memperhatikan lagi mereka. Ayah yang sibuk mengurusi bisnis dan para simpanannya, ibu yang menghabiskan waktu berorganisasi dan segala jenis arisan, membuat sang anak kesepian dan mencari jati dirinya.
Klise?Mungkin.
Sex before married selalu jadi hal menarik untuk dibahas. Bagaimana tidak ketika melihat mahasiswa yang bolos kuliah, dan rela curi2 kesempatan dari ibu kost di siang hari untuk sekedar melampiaskan libidonya.
Apakah hal tersebut wajar?Selalu pertanyaan itu tidak pernah terjawab dengan puas.
Mengapa?Jelas, dari pandangan norma, agama maupun aturan2 apapun itu, sex before married adalah hal yang ditabukan. Singkatnya aktivitas
t e r l a r a n g.Namun dari padangan individu yang melakukan ataupun orang2 moderat, dari sudut pandang mereka, sex before married adalah hal wajar dan hak dari orang yang melakukannya. Toh, mereka juga yang menanggung segala konsekuensinya.
Kehamilan atau pengguguran kandungan adalah hal yang biasa saja, bahkan lumrah.
=====
Para eksekutif muda yang bertebaran di metropolitan ataupun di daerah-daerah industri, dapat dikatakan sadar dengan konsekuensinya. Tinggal komitemen antara kedua belah pihak, apakah akan berlanjut atau hanya sekali pakai langsung
'buang'???
Mereka yang sudah mempunyai pendapatan tetap mudah dan resikonya justru lebih kecil dibandingkan dengan pasangan yang masih mengandalkan uang saku dari orang tua.
=====
Pria?Ah, mudah. Para pria yang sudah berkeluarga dan beranak pinak berlusin-lusin pun, di dunia luar dapat dengan mudah mengenalkan dirinya sebagai seorang single and availlable. Kata temanku, 'cowoq mah gampang. Kagak pernah keliatan bekasnya.'
Ibarat kelapa, makin tua makin banyak santannya.
Perempuan?Tentunya tak semudah itu kan?
Mungkin dengan perawatan diri yang habis-habisan di tempat perawatan tubuh, melakukan aktivitas sex berkali-kali tak menjadi masalah juga. Walau sudah tak lagi perawan, jika muka dan body dipoles abis masih banyak orang suka.
Namun apakah wajah dan tubuh mereka tidak akan berubah bentuk dalam 10 atau 20 tahun ke depan?
Apakah para perempuan yang kebanyakan hidup mapan dan bermasa depan baik ini akan menghabiskan separuh hidupnya dari satu pria ke pria yang lain?
Apakah saat ini pernah tergambar dalam benak mereka, pertanyaan klise yang terselip di setiap pertengkaran suami istri...
'Aku mendapatkanmu tak perawan lagi, apa yang aku harapkan dari mu. Aku menyesal mendapatkanmu?'[Ah, kalau ada pria yang berkata seperti itu adalah patut jika dia digampar habis-habisan]
Ah, perempuan.
Ibarat buah, semakin tua semakin banyak keriputnya.Memang tidak adil, tapi seperti itulah adanya.
Beberapa pria yang
memperawani para gadis sebelum menikah, ketika menikah dia akan menuntut perempuan yang masih perawan.
Adilkah? Jelas tidak, tapi [sekali lagi] begitulah adanya.
'Ah, tidak semua pria menuntut keperawanan perempuan yang dinikahinya.'Ya, tapi apa yang diberikan seorang perempuan pada malam pertama pernikahannya pada seorang pria yang 'dicintainya'? Apakah sang suami cukup puas dengan kata
, 'Maaf Mas, engkau bukan yang pertama mendapatkannya, tapi malam ini kau akan mendapatkan service memuaskan dariku.'Ooops.... Di akui atau tidak, setinggi apapun kedudukan para perempuan. Serealistis apapun keputusan yang diambilnya, kerugian terbesar selalu ditanggung perempuan.
[For my beloved friend Ratri with her regrets, lonelyness and emptyness]