
Dia lahir 9 Maret 1953, tepatnya di Magelang, Jawa Tengah, tiga hari setelah penguasa Uni Soviet, Joseph Stalin tutup usia. Mungkin karena peristiwa itu, orang tuanya terinspirasi memberi nama baptis sang diktator pada bayi lelaki mereka. Jadilah bayi berweton Senin Pahing menyandang nama resmi, Joseph Darso.
Sejak kecil hingga usia lebih setengah abad ini, Darso sering dibuat kesal oleh orang2 yang selalu kaprah menuliskan nama baptisnya. Memang, sesuai EYD, para pegawai birokrasi dari tingkat kelurahan hingga imigrasi akan menuliskan nama baptisnya dengan YOSEP bukan JOSEPH.
Darso tak suka itu.
Dia lebih senang jika nama depannya dituliskan sesuai dengan ejaan lama. "Lebih indah," katanya singkat. Aku teringat, saat iseng menanyakan apa arti namanya, dia menjawab dengan terbahak. "Ya, nggak tahu, dan aku juga tak mau tahu. Tak ingin ambil pusing," jawabnya seraya mengacak rambutku.
Aku pun tak ingat lagi apa yang dia katakan padaku selanjutnya.
Bagiku, kehidupan Darso sungguh semarak betul.
Usia kami terpaut sangat jauh, 25 tahun.
Untuk menghormatinya, aku memanggilnya dengan sebutan Pak, meski dia sempat protes dan memintaku memanggilnya dengan Om. "Kok kamu panggil aku Pak? Panggil Om saja. Paling pada akhirnya nanti kamu cuman panggil aku dengan nama saja. Tak ada embel2 Pak atau Om lagi. Seperti Leony atau Agnes," ujarnya.
Darso beralasan, tak jarang perempuan2 yang entah sepantar atau jauh lebih muda darinya, pada awal perkenalan selalu memanggilnya dengan Pak, tiba-tiba berubah memanggilnya Om, dan pada akhirnya hanya menyisakan nama saja.
Padanya, aku berkeras memanggilnya Pak. Sepertinya menjadi hal yang membuatku risih jika harus memanggilnya dengan sebutan Om. Selain masalah kesopanan, sebutan Om seringkali berkonotasi miring. "Seperti sebutan pada Om2 senang yang sering mangkal di bar2 dangdut atau club tua macam Tanamur saja," ucapku waktu itu.

Rentang usia yang jauh tak membuat kami sulit berkomunikasi. Ngobrol dengannya memang sangat menyenangkan. Pengalamannya yang luas, kisah dari hobi jalan2nya [sekaligus hobinya membuat panik teman satu rombongan, karena sering ngilang jalan2 sendiri tanpa pamit], dan cerita2 lucunya yang selalu mengundang tawa, membuat jarak antara kami makin samar.
Pada awal pertemuan kami, dia banyak bercerita mengenai masa kecil. Cerita tentang keluarga besar di Magelang dan Sulawesi, kehidupan di Seminari, hijrah ke Jakarta, hingga para perempuan yang datang dan pergi darinya.
Beberapa kali kami jalan sekedar mencari makan di T-box cafe, gudeg Bu Tjitro, Ragusa, makanan Jepang di Ateri, atau di warung Nasgor Kebagusan selepas kerja. Ngobrol hingga waktu jelang dini hari, dan bertahan di meja saji sampai pemilik warung 'mengusir' kami dengan aksi beres2nya, atau baru berhenti ngobrol ketika dia merasa kakinya ngilu karena duduk di mobil kecil yang tak leluasa menyelonjorkan kakinya. Tak heran jika pilihan mobilnya selalu model kendaraan niaga bermodel besar dan dapat menampung orang sekelurahan. Jika tank scorpio dijual bebas, mungkin dia menjadi salah satu konsumen pertama.
Biasanya, sebelum aku mengantarkannya pulang ke kantor -mengambil mobil-, atau dia mengantarku pulang, kami selalu membeli roti atau martabak buat oleh2 untuk orang rumahnya. Padaku Darso sempat cerita, sebelum di Bintaro dia sempat tinggal di Ciledug.
Satu alasan kuat memang yang membuat dia harus pindah. Hal yang hanya dia sendiri yang berhak mengutarakan alasan kepindahannya itu. Satu argumen yang dapat saja sama dengan alasan mengapa dipilihnya satu atau dua lukisan S. Sudjojono menggantung berjejer dengan lukisan karya Affandi atau Basuki Abdullah di dinding rumahnya yang cukup luas di Bintaro.
Aku pikir alasannya bukan karena Darso ingin menyaingi Istana Kepresidenan, yang juga memajang karya pelukis seangkatan Affandi dan Basuki Abdullah itu di salah satu tembok Istana Negara. Mungkin nama Pak Djon memiliki nilai sentimentil tersendiri baginya. Nilai sentimental yang sangat pribadi dan -sekali lagi- hanya Darso atau si Roki, anjing kampung kesayangannya yang tahu.
Lingkungan rumah di mana dia tinggal sangat menarik. Rapi, ramah dan jauh dari kesan egois, seperti kompleks perumahan di Pondok Indah. Konsep rumahnya -menurutku- dibuat dengan ide Jawa modern, tapi entah mengapa, dalam benakku, rumah yang mempunyai soko [atap] sampai tiga biji itu, justru terlihat seperti padepokan milik Brama Kumbara di serial Satria Madangkara. Dia memang nyentrik. Senyentrik mengapa dia berkeras bahwa rumah yang ditinggalinya saat ini bukan rumahnya.
Layaknya orang-orang yang lahir di awal2 Kemerdekaan, kegemarannya bermusik tak jauh dari hal2 yang berbau tembang kenangan. Yah, sebut saja lagu yang didendangkan Bob Tutupoly, Broery Marantika, Denok Wahyudi atau Shirley Bessy masuk dalam playlist-nya. Penyanyi paling muda yang kukenal dan disukainya hanya Chrisye dan musisi setingkat Keenan Nasution atau Deddy Dukun. Mungkin juga alasannya karena dia pernah jadi salah satu juri dalam acara cipta lagu Prambors di era 80-an. [Aduuuh, jaduuull buanget gak seeeh]

Kegemarannya pada lagu2 lama, tak pernah dicurahkannya dengan menyanyi di atas panggung, tapi dikompensasikannya dengan bernyanyi ketika menelpon perempuan yang sedang dekat dengannya. Mungkin karena kehabisan bahan cerita, menginspirasinya untuk menyanyikan lagu dengan bait2 yang seringkali tak hapal atau dinyanyikan ngawur, dengan suaranya yang mirip almarhum eyang kakung ku. Khas suara eyang2 yang bernada tinggi, seperempatnya cempreng, dua pertiganya mendesah, selebihnya fales di sana sini.
Jika ada pooling pria paling gombal sedunia, Darso bisa jadi salah satu nominator, dan masuk jajaran tiga besar.
Walau dia pecinta lagu lawas, tak semua lagu dia suka. Darso bilang, dia sangat benci lagu Setangkai Anggrek Bulan. [Jelas bukan lagu TOP 40 di jaman milenium] Seperti biasa ketika ditanya alasannya dia menjawab tak tahu. "Yah, sebel saja. Ketika aku menahan marah atau sangat emosi, pasti nyanyi lagu itu."
Gaya rayuannya yang lain adalah seringkali mengirimkan sms kepada perempuan yang berisi satu kata seperti CA [cium aku atau cah ayu], SAY, IMU [I miss U], ILU [I Love You], LUV, ML [Make Love], Cium, Cintaku padamu [gubrakksss] atau Muuaaahh, dsb dsb dst dst....., sampai kalimat makian seperti CNDIL, Cukuring, dst dst dsb dsb....., yang dilontarkannya jika dia merasa tak mendapat perhatian atau terabaikan. Dia sangat pandai mengutak-atik kata dan huruf. Saking pandainya, banyak orang tak tahu maksudnya.
Ketika sedang merayu, tak jarang Darso mengirimkan juga sebait puisi melalui sms. Contohnya saja seperti, 'Senja itu ku datang padamu,' atau 'Langit Jakarta bertaburkan asmara.' [Gombaaaallllll] Bagi perempuan yang tak tahu dan kadung terkapar olehnya, puisi kiriman Darso pasti dianggap orisinil karyanya. Eiiit, jangan salah, tak jarang dia mengutip sebait, dua bait lirik dari lagu2 jaman kompeni, atau mendapatkan kata2 ajaib penuh rayuan itu dari teman2nya.
Sungguh, dia tak banyak tahu tentang kata atau kalimat gaul jika tak mendapatkan dari teman. Sekali lagi harap maklum. Faktor usia seringkali membuat orang jadi tak kreatif atau tak jarang seringkali menggunakan gaya2 yang sudah tak up to date dan cenderung norak.
Darso yang ku kenal tak pernah menyerah jika sudah punya keinginan. Dia juga punya banyak teman, dari semua kalangan. Meskipun down to earth, tapi dia juga suka dipuja. Dia suka menjadi pembeda dari yang lainnya. Dia selalu keluar rumah dengan penampilan rapi, dengan baju dan celana panjang yang dipilihnya sendiri. Dia tak suka membawa tentengan kecuali tas ransel yang dipakainya untuk membawa makanan dari rumah. "Ribet, dan seringkali barang ketinggalan. Kayak kacamata ini, udah berapa kali ketinggalan. Makanya aku gantungin aja dileher. Maklumlah sudah berumur," selorohnya waktu itu.
Darso sangat rapi. Walaupun pria, dia sangat rutin melakukan facial, creambath, dan totok wajah. Sepertinya dia mengerti benar, bahwa raut wajahnya yang kebapakan itu adalah asetnya yang perlu dilindungi. Mungkin juga perlu diasuransikan.
Yep, jika boleh dikatakan, Darso tergolong sebagai pria paruh baya yang sangat metroseksual. Akan tetapi, walaupun dia selalu berpenampilan rapi, tapi seleranya dalam memilih warna baju, jas atau dasi [mohon maaf] selalu membuat silau mata, saking jreng-nya. Tak mengherankan jika dia disebut anomali.
Tapi aku salut dengannya. Apapun kata orang tentang penampilannya, dia tetap cuek bebek, atau lebih tepatnya keras kepala.
Terkadang, berhadapan dengan Darso, membuatku merasa sedikit inferior. Mungkin karena pengalamannya yang segudang, dan banyak hal yang diketahuinya. Entah mengapa, aku yang merasa seringkali overconfident dengan diri sendiri jadi speechless dibuatnya. Minimal selain beberapa bahasa daerah dan Inggris, bahasa latin pun di mengertinya. Aku tak tahu, apakah dia juga menguasai Jerman sepertiku, atau bahasa lainnya.
Ah, selalu banyak kejutan yang datang darinya.
Satu hal yang membuatku merasa selalu lebih unggul darinya yakni diskusi tentang teknologi termasuk penggunaan gadget baru. Minimal cara menggunakan fasilitas bluetooth di ponsel untuk transfer data atau foto, atau sekedar membuat situs baru di internet.
Darso yang kutahu sangat Gatek. Hingga pertemuan terakhirku dengannya, dia masih memakai ponsel standar yang digunakannya sangat minimalis sekedar memenuhi kebutuhan dalam bertelpon, berkirim sms, atau sesekali menyorotkan senter yang menjadi asesoris ponsel Nokia seri 1 nya itu.
Beberapa kali aku sering mendengar beberapa teman yang mencibir karena ponsel minimalisnya itu. Namun aku tahu pasti, semua ponsel hi end - advance dari merk gak jelas sampai merk Vertu pun mampu dibelinya. Namun dia tak butuh itu. Dia hanya butuh barang yang sesuai dengan fungsinya, dan memenuhi kebutuhannya. Tapi memang benar, jika satu saat aku melihatnya menggunakan PDA Phone sejenis O2 mini Atom [yang membuatku ngiler] atau minimal ponsel hi-end yang digunakan sangat maksimal, sungguh akan tercengang betul aku dibuatnya.
Pada awal hingga sampai terakhir kedekatan kami, banyak sekali teman2 dekatnya bercerita padaku mengenai kejahilan Darso.
Jahil?
Yep, meskipun usia sudah hampir setengah abad, Darso adalah orang yang super jahil, dan sangat tega-an.

Rekan2 kerjanya banyak bercerita, Darso adalah orang yang tidak tahan sendikitpun untuk membiarkan perempuan2, utamanya perempuan setengah tua lewat begitu saja di depan matanya. Bahkan sampai seorang rekan perempuan dari kantor yang berbeda pernah berkomentar pedas, "Haah, si Darsooo??? Dia itu, lihat kambing perempuan dibedaki aja udah termehe-mehe, apalagi liat perempuan STNK [Setengah Tuwa Ning Kenceng], mana tahan. Emang dasar sableng."
Nama Darso sangat terkenal di lapangan tempat ku ditugaskan saat ini. Ada, atau tak terlihat kehadirannya akan selalu mengundang para perempuan -utamanya yang satu angkatan dengannya pada jaman Orba- untuk menceritakan kelakuannya di hadapan rekan2 baru, yang belum pernah mengenalnya.
Seakan tak pernah berhenti untuk membicarakan sosok bernama Darso ini. Rekannya yang lain bercerita, Darso hampir di-tahbis-kan dan mengucapkan Sakramen Imammat untuk menjadi pastor. Mendengar cerita itu, seorang rekan perempuan yang dulu pernah dijahili Darso ketika bersama-sama berkunjung ke Belanda justru berucap syukur. "Syukurlah, mungkin Tuhan tahu bagaimana kelakuannya. Darso dulu pernah bilang, dia pernah pacaran dengan perempuan Minang. Darso sampai datang ke sana dan ikut sholat untuk meraih simpati keluarga pacaranya. Saking mantapnya jadi salah kiblat. Wis jan rodo gemblung."
Seorang rekan lain yang pernah mengadukan prilaku Darso secara langsung ke atasannya bercerita Darso pernah kena batunya. Katanya, satu hari Darso akan berobat ke dokter. Tapi, belum sampai 10 menit masuk ke ruangan dokter, dia bergegas keluar karena tahu dokter wanita yang akan mengobatinya adalah perempuan yang dulu pernah dia sakiti hatinya. "Dia takut obatnya diracun sama dokter itu," cerita si rekan dengan logat batak kental sembari tertawa terbahak.
Si rekan itu semakin bersemangat bercerita ketika Darso pernah menunjukkan satu rumah milik mantan pejabat di bilangan Blok S, di mana dulu istri dan anak perempuan pejabat itu sekaligus pernah dia pacari. "Namanya aja tinggal di jalan Birah, tinggal ditambah abjad I aja langsung tancap gas deh. Udah gitu, si Darso cerita dengan nada bangga lagi," timpal kawanku itu.
Yang aku heran, walaupun sudah terkenal jahil, dan pandai bercerita, masih banyak orang yang percaya dikibulin Darso. Satu saat ketika dia sedang bermain golf, teman main golf-nya bertanya padanya,"So, aku lihat kamu tetap energik dengan usia lebih setengah abad. Apa resepnya? Sepertinya vitalitas juga tak berkurang."
Darso dengan nada menyakinkan menyatakan dirinya mengkonsumsi obat-obatan dari merk terkenal tapi sangat terbatas produksinya. Dia menyakinkan jika mengkonsumsi obat itu, maka sang teman yang sudah merasa nampak tua dan lelah dengan keringat mengucur deras, akan kembali seperti pria berusia 17 tahun. Sebagai percobaan, diberinya dua jenis obat kepada temannya itu.
Mungkin karena tersugesti, sang teman merasa perbedaan mendasar dalam tubuhnya. Ketika bertemu Darso di padang golf beberapa waktu kemudian, dengan bangga sang teman menceritakan khasiat dari obat itu. Dia percaya setengah mati, obat kuat itu membuat staminanya meningkat dan vitalitas-nya memuncak, dan dia minta tambahan obat itu lagi pada Darso.
Padahal sambil tertawa-tawa Darso bilang pada teman-temannya yang lain, kalau obat yang diberikannya bukan obat kuat apalagi sekelas viagra, tapi hanya vitamin B complex dan vitaman C dosis tinggi.
Kisah paling populer dan selalu diulang berkali2 oleh rekan2 seangkatan Darso adalah saat dia meninggalkan seorang rekan perempuan yang sedang hamil di pinggir jalan dalam kondisi hujan deras, gara2 artis yang sedang dekat dengannya menelpon dan ingin segera bertemu dengannya.

Cerita itu nyaris menjadi legenda tentang kepopuleran Darso dalam memikat sekaligus merontokkan hati para perempuan.
Artis? Ya, sebagai seorang yang senior dan seringkali melintang di dunia hiburan, Darso memiliki kenalan artis angkatan tahun kiblik. Cerita dia yang menyangkut para artis pun tak kalah menarik. Kisah tentang si bibir sexy Meriam Berlina, Ayu Azahari, Camelia Malik, Cici Paramida, pelukis Astari, Lenny Marlina, Ully Artha dan segudang lain yang pernah 'dekat' dengannya selalu ditanggapi dengan riuh.
"Ah, sebelum grup Ratu ciptain lagu TTM, Darso sudah nglakuin duluan. Bagi Darso, TTM artinya Teman tapi Mesra, tapi bagi perempuan2 yang ditinggalkannya, TTM artinya Tampar tapi Mesra," seloroh seorang rekan yang pernah menemaninya makan di salah satu warung terminal Bogor.
Satu hal yang kudengar dari seorang teman yang lama mengenalnya sejak tahun 80-an, Darso terkenal sangat royal. Keroyalannya itu tak jarang dimanfaatkan orang yang kebanyakan perempuan yang sedang dekat dengannya. Yah, tapi tak apalah, toh dia juga suka kok. Sama seperti kesenangannya melihat perempuan yang berbetis indah, dan berdada sexy. [Suittt, suitt.. uhuiii]
Yang pasti, setiap cerita mengenai Darso kembali diceritakan oleh rekan seangkatannya, hampir semua rekan senior atau junior yang duduk mendengarkan cerita tentangnya, akan menggelengkan kepala dan tertawa riuh. Sungguh aku yakin, jika Darso berada di dalam ruangan itupun, dia pasti ikut tertawa dan segera menimpali cerita itu dengan kisah2nya yang tak kalah seru. Entah cerita penyelewengan yang dilakukan oleh para pejabat, artis, atau cerita2 lain yang hanya orang2 tertentu yang mengetahuinya.
Darso yang kukenal, memang tak pernah marah ketika mendapatkan celaan dari teman2 yang lain. Semiring apapun celaan itu, dia selalu menangapinya dengan tawa, atau kadang menampilkan mimik cemberut yang justru makin mengundang tawa. Paling dia akan mengeluarkan komentar khasnya, "ngawur."
Aaahh, dia selalu suka menyembunyikan kekesalannya dalam hati saja. Aku tahu, jika dia marah, dia sanggup membuat benjol kepala orang. Darso yang kutahu sebenarnya pria yang sangat sensitif. Tak jarang kutemukan pandangan mata jenakanya berubah kosong meratap, terbinar sepi.
Dia merasa ketika kecil orang tuanya membedakan dirinya dengan kakak lelakinya. Dengan nada sangat datar dia menceritakan kakak lelakinya jauh lebih tampan dan dianggap orang tuanya lebih pintar darinya.
"Aku sering dipanggil si hidung tomat. Jika orang lain kebetulan bertemu dengan keluargaku, dan berbicara tentang capaianku sekarang ini, orang rumah malah bingung dan tak percaya. Mereka justru bilang itu bukan saya, bagian keluarga mereka tapi Darso anak dari keluarga lain," katanya satu saat ketika kami makan bersama.
Dia juga bilang, neneknya yang di Sulawesi selalu menganggapnya anak Jawa, kebalikan dengan neneknya yang orang Jawa, yang justru menganggapnya anak Sulawesi. "Tapi aku senang karena sebanarnya lebih dari saudara2ku. Mengapa, ya karena aku anak keturanan Sulawesi yang bisa berbahasa Jawa. Ibuku sangat suka itu," katanya sembari menderai tawa ketika bercerita tentang kelebihannya.
===
Tak ada nada cemburu atau dendam ketika dia bercerita kenangan masa kecilnya. Tapi, dia tak bisa menyembunyikan kekecewannya itu. Ya, Darso memang sensitif, sepeka dia dengan perempuan2 yang bernama Elly. Nama yang sangat membekas, walau mungkin yang ditemuinya bukan peremuan yang sama.
Kekecewaan yang seringkali datang dan pergi dari hidupnya membuat sifatnya cenderung tak tertebak, tak stabil, rentan, dan selalu bertindak seenaknya. Mungkin cerminan minimnya penghargaan yang diterimanya ketika muda dulu. Seringkali aku berpikir, jika saja dia dapat 'ditolong' dari awal, atau setidaknya ada orang yang mengerti karakternya, mungkin tak akan seperti ini.
Namun mungkin juga Darso pada dasarnya sangat pandai mengarang cerita, mendramatisirnya sehingga membuat orang tertipu dan berempati padanya. Tak jarang sifatnya yang ceria, perkataannya yang lembut, tiba2 berubah kasar menyakitkan cenderung norak. Dia buat para perempuan kagum dengan ceritanya, dan gayanya yang unik tapi kampungan, dan setelah perempuan itu jatuh padanya, dia meninggalkannya hanya dengan ucapan,
"maaf, aku akan lebih egois dari ini jika kita bersama, dan aku punya tanggung jawab yang besar di rumah."Memang tak butuh waktu lama untuk mengenal Darso.
Cerita2nya yang mengundang tawa, lambat laun berubah membosankan karena selalu diulang2 dan tak pernah ada hal baru. Dia cenderung menceritakan keberhasilannya mengencani para perempuan terkenal, atau hal2 yang dirasanya akan membuat orang terkagum2 padanya. Tak perlu butuh waktu lama pula untuk segera meninggalkan dirinya karena bosan dengan cerita2 dan tak tahan dengan sifatnya yang memaksa dan egois. Jika dia merasa tak tertarik dengan cerita lawan bicaranya, dengan tega dia akan memotong cerita itu, dan ganti dia yang bercerita. Dia tak butuh mendengar, dia butuh didengarkan.
[Keluh]Sekarang sudah sangat kasep untuk membuka cara pikir atau membawa Darso ke dimensi lain yang berbeda dengan cara pandang yang dimilikinya saat ini. Sepertinya semua terlambat dan melambat. Sama seperti metabolisme dirinya yang mulai melambat sehingga tubuhnya mulai bertambah berat, karena tak mampu mencerna
junk food yang masuk dalam tubuhnya. Makanan sehat sangat jarang disantapnya, kecuali saat membawa makanan dari rumah. Mungkin yang menolong kesehatannya adalah hobi main golf dan berenang di kolam pada halaman belakang rumahnya.
Anyway,aku yakin jika Darso membaca posting-an ini, dia pasti berkomentar sedikit sengak,
"memangnya kamu siapa? Menghakimi orang seenaknya sendiri. Lha, kamu sendiri gimana. Memangnya kamu hakim dari mBantul apa."Darso seorang master.
Dia sangat pandai membalikkan posisinya dari seorang yang diduga sangat kejam [prilaku] menjadi seorang suci. Dia dengan mudahnya mengejar para perempuan, dan setelah perempuan itu didapatkan, dia akan bebas melenggang pergi dengan segala kepuasannya. Ketika sang perempuan merasa kehilangan dan mencarinya, Darso dengan segala keahliannya akan mengirimkan sms berisi khotbah dan pesan2, agar perempuan itu sadar dan mengisi sepi, rindu, dan cintanya dengan datang kepada Tuhannya.
He's master. Truly Master,..... Master of gombal van mbelgedhes.

Pernah sebersit tanya mampir ke otakku. Seandainya dia melakukan pengakuan dosa, sampai berapa lama pastor melarangnya menerima komuni, sebagai hukuman atas apa yang dilakukannya.
Mungkin juga dia merasa berdosa. Jelas dia punya rasa takut. Seperti kengeriannya ketika bercerita ada seorang istri yang ditinggal pergi suaminya begitu saja. Sang istri itu belum rela meninggalkan dunia jika suaminya belum mendapatkan balasan atas dosa2nya. Darso cerita, sang istri itu baru meninggal dengan tenang, setelah suaminya mendapatkan hukuman dan meminta maaf padanya. [Ngenes bener ceritanya, kayak sinetron]
Ah, sudahlah.....
itu memang urusannya dengan Tuhan-nya.
Aku juga tak mau ambil pusing.
Kekuatan ego dan juga ketidak konsistenannya yang sangat besar, membuat tak semua orang tahan berada di dekatnya. Hanya orang2 yang mempunyai ketulusan dan kesabaran yang lebih, mampu bertahan hidup mendampinginya.
"Aku sudah letih. Coba saja, jika aku pacaran lagi, dan sehari aku tak menelpon, pasti ribut besar. Va, aku pria yang mudah jatuh cinta, dan sering membuat perempuan menangis. Aku akan lebih egois dari ini. Ceritamu tentang pakde Mangunkarso itu benar," katanya menjelang sahur tahun lalu.
Aku bisa saja salah, tapi bagiku, Darso adalah orang yang merindukan kasih sayang. Dia tak akan tahan tinggal dalam kesepian. Namun hidupnya yang ibarat layang-layang, membuat dia harus membayar banyak atas apa yang dilakukannya. Banyak perempuan yang berempati padanya, tapi dia bukan jenis orang yang dapat bertahan dalam satu kondisi yang sama seumur hidupnya.
Dia pria yang sangat dinamis dan bebas. Kehidupan sosialnya, di semua hal di luar hal pribadinya sangat baik, a.l. dia aktif di Paguyuban Wa****an Katholik Indonesia. Tapi dia sangat keras dengan dirinya. Dia hidup dalam dunia dan aturan2 yang dibuatnya sendiri. Darso yang lembut akan berubah menjadi orang yang paling tak punya hati, ketika ada hal yang tak lagi sejalan dengan keinginannya. Dia pembosan, walau dalam hati dia mungkin tak ingin menyakiti orang lain.
Dia kerapkali melupakan hal penting, hanya karena hal sepele datang padanya. Ibarat menulis, tulisannya seringkali ruwet dan melebar kemana-mana. Dia tak lagi fokus. Mungkin karena dia tak dapat lagi menerima tambahan beban. Bebannya sudah terlalu berat, dan yang tersisa padanya hanyalah keinginan bersenang-senang. Dia sudah terlalu lelah, dan sikapnya yang seenaknya adalah satu-satunya pelampiasan yang dapat dilakukannya.
Saat yang tak dapat diduga, dia berubah menjadi anak kecil manja yang kehilangan mainannya. Perempuan yang tak mempunyai kemampuan 'menerima' Darso apa adanya akan menganggapnya sebagai Don Juan kelas kakap dan layak mendapatkan penghargaan sebagai pria menyebalkan sejagat raya.
Sampai saat ini aku meyakini kalau Darso dulu punya cinta. Satu2nya cinta yang dimilikinya hilang setelah diberikan entah pada siapa. Rasa kehilangan membuat tak ada ruang baru untuk orang baru hadir mengisi hatinya. Darso sendiri mungkin terlalu malas untuk membangun cinta baru di hati yang mungkin dapat diberikan pada perempuan yang tepat. Atau karena justru terlalu cinta dengan dirinya sendiri, dia terlambat untuk menyadari bahwa perempuan yang dimilikinya adalah yang terbaik untuknya. Giliaran Darso mulai jatuh cinta, sang perempuan pergi jauh darinya. Yah,Darso selalu kehilangan momen, gara2 dia sia-siakan waktunya.

Atau mungkin dia tak lagi mau diributkan dengan tetek bengek percintaan yang seringkali ribet. Sakitnya yang membuatnya harus tertib melakukan check up di RS Pondok Indah, atau mengawasi cara makannya, mungkin sudah cukup memusingkannya. Belum lagi masa depan teriakan kecil yang selalu menyambutnya saat dia pulang. Selarut apapun, teriakan kecil itu masih sangat butuh perhatiannya dengan kondisinya yang tak lagi muda. Semua itu membuatnya tak bergairah menjalin asmara dengan cara yang semestinya.
Yah, kalau bisa beli sate, kenapa harus repot memelihara kambing atau ayam? Kurang lebihnya seperti itulah bahasanya. Sedikit menjurus? Mungkin, setua apapun Darso toh tetap lelaki normal, dan berhak untuk melakukan kegiatan biologisnya. Yah, lebih baik lagi jika dilakukan dengan perempuan yang dimilikinya.
Bagiku, dia selalu orang menjadi orang yang baik, dan sebagai orang tua, dia layak untuk dihormati, meski aku tak lagi dapat membedakan apa yang dia katakan adalah jujur atau hanya sekedar memuaskan ego kelakiannya saja. Tapi ya sudahlah, tak perlu lagi dibahas.

Di antara daftar ketidak jujuran dan sikap angin2annya, sekali aku berkesempatan menemukan kebenaran yang sangat, keluar dari dalam hatinya. Kejujuran seiring redup binar matanya saat bercerita tentang kondisinya yang sebenarnya tentang dirinya di Suwiryo. Di Suwiryo pula Darso menjadi orang yang paling tak punya hati, membuat perempuan menjadi tak berharga diri.
Aku tak punya keinginan apapun padanya. Dia bebas, tak dapat dimiliki. Tapi kadang justru aku jatuh kasihan padanya. Kekecewaan, direndahkan, ditinggalkan, dan kesenangan semu yang dikejarnya membentuknya menjadi sosok yang..... UNIK.
Tapi ya sudahlah.
Akankah banyak perempuan sakit hati padanya? Tentu saja. Namun kurasa tak lagi perlu untuk membalaskannya. Setidaknya pernah seorang perempuan muda belia yang bersabar tak begitu saja meninggalkannya saat sikapnya yang manis nan jenaka itu berubah menjadi sadis tak berperasaan.
Hari ini dia genap 53 tahun. Apa yang diraihnya sekarang ini adalah impian bagi orang lain. Aku berdoa, semoga dia bahagia dengan segala pilihan dan keinginan yang tak pernah disesalinya.
Mungkin selama ini aku salah menilainya. Aku terbawa persepsi orang terhadap dirinya, yang mungkin benar, tapi juga dapat juga salah. Apapun itu, aku belajar banyak darinya.
Sosok Darso yang sangat unik, nyentrik, anomali. Kombinasi kehidupannya sangat ramai sekaligus juga sunyi. Orang sering salah memperlakukan dan menilainya. Memang, penilaian manusia pada manusia lainnya tergantung persepsi dalam otak masing-masing. Ada yang menganggap dia menarik, cerdas, sampai ada yang menganggapnya psikopat yang tak punya hati. Terserah saja orang menilainya.
Dendam?
Tentu banyak perempuan yang sakit hati atas sikapnya yang menyebalkan itu. Tapi ya sudahlah. Buat apa balas dendam. Buang2 waktu saja. Toh jika para perempuan bersatu dan ingin balas dendam padanya, empat orang satpam penunggu rumahnya tak akan mampu menghalangi niat para perempuan yang gelap mata karena merasa tertipu oleh rayuan pulau kelapanya. Darso memang nyentrik, tapi juga Master of gombal, mbelgedhesssss, dargombessss, rembessssss.
Bagiku,
seorang Joseph Darso dengan segala sikap yang dimilikinya, dia adalah pria baik dan bertanggung jawab. Sepi memang sering mengetuk pintu hatinya, namun jangan salah paham, jangan pernah jatuh cinta padanya. Dia tak perlu lagi cinta, dia tak lagi perlu kasih sayang, dia hanya butuh perhatian, dan rasa tak ditinggalkan, apalagi terabaikan.
Itu saja.
.