<body bgcolor=white text=black link=black vlink=black alink=black marginwidth=0 marginheight=0 topmargin=0 leftmargin=0 rightmargin=0 bottommargin=0>
You can not blame my emotion because it will never fade away. I do not care about bad affinity. Its about me. Myself........


Visitor: hits.
Visitor online: online


These days the world's events are strange. They say this and they say that. There is no point arguning. I am better off dozing.....


NEWS
→Herald Tribune
→New York Post
→Washington Post
→Tempo
→Bisnis Indonesia
→Kompas
→Pantau
→MinergyNews
→Platts


DJOGJA's NEWS
→Kabare Jogja
→Gudang Info tt Yogya
→Angkringan
→Jawa Palace
→Primbon Jawa
→Sastra


JAZZ NEWS
→Horizon
→GRP
→Warta Jazz
→Jazz FM
→Dave Koz
→Fourplay
→Lee Ritenour



FILEs

  • January 2004
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • August 2005
  • September 2005
  • October 2005
  • November 2005
  • December 2005
  • January 2006
  • February 2006
  • March 2006
  • May 2006
  • June 2006
  • July 2006
  • August 2006
  • September 2006
  • October 2006
  • November 2006
  • December 2006
  • January 2007
  • March 2007
  • April 2007
  • May 2007
  • July 2007
  • August 2007
  • September 2007
  • October 2007
  • November 2007
  • December 2007
  • January 2008
  • February 2008
  • March 2008
  • April 2008
  • May 2008
  • June 2008
  • July 2008
  • August 2008
  • September 2008
  • October 2008
  • November 2008

































  •    
    Angin Savana
     
    Friday, May 26, 2006

    Ketika Ryu Fukuda 'pergi' 

    Tempat untuk memperabukan jenasah ini sudah sepi sejak setengah jam yang lalu. Aku duduk di sudut ruang, berdampingan dengan seorang perempuan berkimono gelap -yang aku pun tak tahu siapa dia. Perempuan ini tak henti2nya menyeka air matanya dengan sapu tangan putih bermotif bunga2 sakura.

    Kamis lalu, menjelang Subuh, ibuku menelpon untuk mengabarkan Ryu masuk Mt Elizabeth Hospital. Berita itu membatalkan rencanaku untuk pulang ke Djogja. Tiket Taksaka berganti dengan tiket SQ. Dari kehadiranku sampai saat terakhir, Ryu tak pernah sadar, tubuh tuanya terlentang tak berdaya di pembaringan. Alat bantu pernafasan menutup sebagian raut wajahnya. Aku cemas benar dengan kondisinya. Jika boleh jujur, aku takut dia 'pergi'.

    Puluhan tahun, seorang Ryu Fukuda menjadi bagian terdekat dari keluarga kami. Dia sudah kuanggap sebagai pengganti ayahku. Aku banyak belajar darinya. Belajar bagaimana bersabar, bersikap, berekspresi, dan menerima segala kebahagiaan dan kesedihan hidup, dengan tetap tersenyum ceria.

    Hari ini jenasah Ryu diperabukan. Dia tak berhasil melewati masa kritisnya. Subuh tadi dia 'pergi'. Mungkin dia sudah capek berjuang melawan serangan jantung yang tak hanya sekali menyerangnya.

    Masih tergambar jelas dalam ingatanku ketika Januari lalu, dia mempercepat rencana kedatangannya ke Indonesia, untuk sekedar merawat ketika tahu aku terkapar karena typus. Aku masih ingat saat ketika kami masih bercanda di Ritz sehari sebelum kepulangannya ke Jepang.

    Ketika pesawat yang membawaku kembali ke Jakarta lepas landas dari Changi Airport, kupandang suasana luar lewat jendela dengan jengah. Perasaanku penuh, sebagian pikiranku terdilusi, luapan emosi dan lelah menyerang luar biasa.

    Tahun ini adalah tahun di mana dominasi kehilangan, meninggalkan dan ditinggalkan
    mewarnai hidupku. Kucoba mendamaikan perasaanku, hingga sesaat
    dalam hitungan detik seperti kudengar lembut suara Ryu berbisik di dekat telingaku,
    "bahkan untuk menangis untukku pun kau terlalu keras kepala Sava."








    *I just need to lay on for awhile. Very much tired being neglected and lefted. But, I must be strong. Crying just wasting my fucking time.


    .