Tempat untuk memperabukan jenasah ini sudah sepi sejak setengah jam yang lalu. Aku duduk di sudut ruang, berdampingan dengan seorang perempuan berkimono gelap -yang aku pun tak tahu siapa dia. Perempuan ini tak henti2nya menyeka air matanya dengan sapu tangan putih bermotif bunga2 sakura.
Kamis lalu, menjelang Subuh, ibuku menelpon untuk mengabarkan Ryu masuk Mt Elizabeth Hospital. Berita itu membatalkan rencanaku untuk pulang ke Djogja. Tiket Taksaka berganti dengan tiket SQ. Dari kehadiranku sampai saat terakhir, Ryu tak pernah sadar, tubuh tuanya terlentang tak berdaya di pembaringan. Alat bantu pernafasan menutup sebagian raut wajahnya. Aku cemas benar dengan kondisinya. Jika boleh jujur, aku takut dia 'pergi'.
Puluhan tahun, seorang Ryu Fukuda menjadi bagian terdekat dari keluarga kami. Dia sudah kuanggap sebagai pengganti ayahku. Aku banyak belajar darinya. Belajar bagaimana bersabar, bersikap, berekspresi, dan menerima segala kebahagiaan dan kesedihan hidup, dengan tetap tersenyum ceria.
Hari ini jenasah Ryu diperabukan. Dia tak berhasil melewati masa kritisnya. Subuh tadi dia 'pergi'. Mungkin dia sudah capek berjuang melawan serangan jantung yang tak hanya sekali menyerangnya.
Masih tergambar jelas dalam ingatanku ketika Januari lalu, dia mempercepat rencana kedatangannya ke Indonesia, untuk sekedar merawat ketika tahu aku terkapar karena typus. Aku masih ingat saat ketika kami masih bercanda di Ritz sehari sebelum kepulangannya ke Jepang.
Ketika pesawat yang membawaku kembali ke Jakarta lepas landas dari Changi Airport, kupandang suasana luar lewat jendela dengan jengah. Perasaanku penuh, sebagian pikiranku terdilusi, luapan emosi dan lelah menyerang luar biasa.
Tahun ini adalah tahun di mana dominasi kehilangan, meninggalkan dan ditinggalkan
mewarnai hidupku. Kucoba mendamaikan perasaanku, hingga sesaat
dalam hitungan detik seperti kudengar lembut suara Ryu berbisik di dekat telingaku,
"bahkan untuk menangis untukku pun kau terlalu keras kepala Sava."*I just need to lay on for awhile. Very much tired being neglected and lefted. But, I must be strong. Crying just wasting my fucking time..