<body bgcolor=white text=black link=black vlink=black alink=black marginwidth=0 marginheight=0 topmargin=0 leftmargin=0 rightmargin=0 bottommargin=0>
You can not blame my emotion because it will never fade away. I do not care about bad affinity. Its about me. Myself........


Visitor: hits.
Visitor online: online


These days the world's events are strange. They say this and they say that. There is no point arguning. I am better off dozing.....


NEWS
→Herald Tribune
→New York Post
→Washington Post
→Tempo
→Bisnis Indonesia
→Kompas
→Pantau
→MinergyNews
→Platts


DJOGJA's NEWS
→Kabare Jogja
→Gudang Info tt Yogya
→Angkringan
→Jawa Palace
→Primbon Jawa
→Sastra


JAZZ NEWS
→Horizon
→GRP
→Warta Jazz
→Jazz FM
→Dave Koz
→Fourplay
→Lee Ritenour



FILEs

  • January 2004
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • August 2005
  • September 2005
  • October 2005
  • November 2005
  • December 2005
  • January 2006
  • February 2006
  • March 2006
  • May 2006
  • June 2006
  • July 2006
  • August 2006
  • September 2006
  • October 2006
  • November 2006
  • December 2006
  • January 2007
  • March 2007
  • April 2007
  • May 2007
  • July 2007
  • August 2007
  • September 2007
  • October 2007
  • November 2007
  • December 2007
  • January 2008
  • February 2008
  • March 2008
  • April 2008
  • May 2008
  • June 2008
  • July 2008
  • August 2008
  • September 2008
  • October 2008
  • November 2008

































  •    
    Angin Savana
     
    Tuesday, June 27, 2006

    Sepenggal yang singkat 

    My beloved Sava, such complicated person

    Bersamanya, berarti tertawa setiap saat. Keceriaan selalu menghiasi wajahnya. Dia sangat ekspresif dan positif. Pribadi yang kuat, pekerja keras, tapi sangat keras kepala. Namun saat satu hal yang berujung kesedihan, kesengsaran, dan kekecewaan datang mengetuk dirinya, dia menjadi satu pribadi yang membingungkan. Ada yang tak alami dari dalam dirinya muncul tak terkendali.

    Seorang Sava, seperti tak pernah punya waktu untuk bersedih. Ruang kesedihan akan ditutupnya rapat2, dan tak kan pernah diizinkan orang lain tahu.
    Jelas tak sehat, sama sekali tak!!!!


    ======

    Singkat,
    tulisan tentang diriku yang kutemukan di situs pribadi milik Tantra. Tak pernah terpikirkan dia memiliki kesimpulan seperti itu.

    Aku cukup maklum jika Tantra mempunyai pandangan seperti itu terhadapku. Sah2 saja pendapat itu. Apalagi keinginan dia yang seringkali kuabaikan. Keinginan yang seringkali tak masuk akal, lebih egois, cenderung kekanak-kanakan.

    Aku tak akan pernah sedemikian abai jika apa yang dia inginkan sesuai dengan apa yang kuinginkan. Dia tak pernah mendengarkan, tapi selalu ingin didengarkan. Kelakuan yang seringkali di luar batas kewajaran, dalam pandanganku. Anggap saja ini hanya self preservation atas pendapatnya. Juga satu bukti kekeras kepalaanku. Apapaun pendapat orang...... Ya, silahkan saja.

    Selama ini, aku merasa semua orang berhak memiliki sedikit ruang dalam dirinya yang tak dibagi dengan lainnya. Ruang untuk menyimpan segala keinginan, fantasi terpendam, dan segudang hal2 gila yang takkan pernah dilakukan dalam tatanan normal. Tiap orang berhak mempunyai rahasia kan?

    Mungkin mulai sekarang harus kupikirkan untuk belajar bagaimana 'berhenti', dan sejenak 'diam'. Setelah berapa saat kuketahui, kekuatan seseorang bukan pada saat ketika dia 'berlari', tapi justru pada 'diam' nya.

    Semua orang melakukan segala sesuatu karena dirinya merasa nyaman dan memang ingin melakukannya. Begitu pun diriku. Sesederhana itu. Tak lebih dan tak kurang. Keinginan melakukan -utamanya untukku- jelas bukan karena pandangan orang, atau karena keinginan seorang Tantra sekalipun.


    I quit because I want to, not because I had to !!!!!




    .

     
    Sunday, June 11, 2006

    Dia, tentang dia 

    Tangannya mengunci pintu flat.
    Tas ransel hitam menggantung di bahu kiri, traveling bag kecil berwarna sama di bahu kanan. Di bibirnya terselip sebatang rokok yang belum menyala. Perlahan tapi pasti kakinya melangkah menuruni anak tangga. Di anak tangga terakhir dia duduk, membetulkan tali sepatu kets birunya, merapikan ujung celana jeans, sembari menyalakan rokok.

    Dari jendela tetangga terdengar seorang perempuan berteriak ke bawah, "Bang, bakso satu, tanpa sambal!!!!" Di lapangan depan, bocah-bocah berteriak kegirangan menggiring bola, perempuan kecil bermain lompat tali, ibu muda menggendong bayi, bapak tua membenarkan sarung. Fragmen sebabak yang jelas benar menggoreskan warna tersendiri di sore itu.

    Sampai di dekat parkir flat Dia mampir ke warung membeli rokok. Beli rokok di hotel tentu mahal, pikirnya. Ia berlalu, sembari tak lupa menengadahkan kepala melihat jendela kamar flatnya di lantai teratas untuk memastikan apakah lampu sudah dimatikan. Dari luar, jendelanya terlihat gelap. Hanya beberapa lembar baju dan t-shirt basah yang bergelantungan di jemuran.

    Bergegas Dia menuju tempat di mana mobilnya di parkir, melemparkan semua barang bawaannya ke jok belakang, dan mengeluh singkat, "aku terlambat."

    Suara lembut alunan Jazz easy listening membelai telinganya, tepat saat dirinya melangkah masuk ke lounge hotel. Para pelayan yang telah akrab dengannya, menganggukkan kepala, dan dibalasnya dengan sapaan ringan. Seperti biasa, Dia memilih duduk di sudut ruang, dekat jendela. Tempat strategis karena pada saat bersamaan Dia dapat melihat suasana di luar dan di dalam lounge.

    Malam mulai turun membasah, hijau dedaunan membasah, lampu taman di samping lounge nampak makin temaram. Suara jazz dimainkan, bau khas Havana Cigar, Dom perignon dan fillet mignon berpagut perasaan nyaman, cinta, dan dia. Rokok keempat sudah disulutnya, dihisapnya dalam-dalam dan dihembuskannya kuat-kuat seperti ingin mengusir jauh kenangan dan rindu yang memadat.

    Perasaan itu berbaur dengan suara penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu Julie London. Suara nyanyian yang nampak semakin samar, mungkin gelas Margarita yang terakhir dipesannya telah sukses membuat Dia mabuk. Dia tak pernah terlambat, karena dia tak kan pernah lagi datang.

    Meski tak lagi sadar, dalam sedetik kesadarannya, Dia sadar hidupnya makin meringan. Betapa Dia bahagia, dan akan selalu tertawa ceria, walau telah ditinggalkan.




    Novotel Bogor, 13pm,
    just now
    For Ryu, with love and many understanding

    .

     
    Friday, June 09, 2006

    Protes tak jelas 

    Kemarin Rik datang ke rumah. Dia bilang ditugaskan kantornya ke Bali selama sebulan. Tumben pakai pamit segala, pikirku. Biasanya begitu saja ngilang, dan baru kedengaran kabarnya berbulan2 setelahnya.

    Keanehan sikapnya makin bertambah ketika dia mencoba protes tentang sikapku. Tapi ketika kutanya apa keberatannya, dia malah tak memberi jawaban yang pasti. Protes tak jelasnya itu membuatku tertawa habis2an. Tak sopan juga mentertawakannya, tapi itulah yang terjadi. Dalam diriku ada keinginan besar untuk membantahnya. Bagaimana mungkin dia protes terhadapku, sedangkan tak pernah ada hal pasti di antara kami.

    Ah tapi ya sudah, kadang kala orang butuh mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya, sesamar apapun. Aku tetap menghargai Rik, mungkin dia hanya sekedar salah alamat.

    Belakangan ini hidupku seperti bola yang pasrah ditendang ke sana sini. Terlalu banyak energi yang keluar, aku jenuh, dan tak ada waktu lagi memikirkan hal seperti itu. Aku hanya akan melakukan hal yang benar2 ku inginkan. Aku sedang malas bermain tebak-tebakan. Aku capek berdebat. Tak ada lagi daya. Biar saja semua berjalan apa adanya. Untuk saat ini, itu yang terbaik.



    "I don't know how'd you feel in me, but I know I desired you to be
    No restrain, no more."





    .

     
    Wednesday, June 07, 2006

    Self Pity 

    I never saw a wild thing
    sorry for itself
    A small bird will drop frozen dead from a bough
    without ever having felt sorry for itself....


    DH Lawrance






    .

     
    Friday, June 02, 2006

    Earthquake Syndrome 

    Mungkin memang sudah saatnya menyerah melawan emosiku sendiri
    Rasa pasrah tak ingin melawannya lagi,
    karena aku sudah terlalu capek
    dan hanya ingin menangis......


    ================


    KETIKA KERUPUK MENJADI LAMBANG 'KEMEWAHAN'

    Pun, niki mbak segane. Sak cukupe nggih. Sing ngantri akeh, wedi nek kurang je."
    (Ini nasinya mbak. Secukupnya saja ya. Yang antre banyak, takut kalau kurang).


    Tiga hari ini, kalimat di atas menjadi sangat akrab di telinga saya. Sepertinya para ibu yang bertugas membagi jatah nasi bungkus kepada warga di sekitar rumah, yang juga terkena bencana gempa bumi di Yogyakarta, merasa wajib mengatakannya karena kalimat halus itu, harus diartikan sebagai larangan keras bagi warga untuk menambah jatah nasi bungkus.

    Saat fajar menyingsing dan ketika senja turun aktivitas baru para warga-termasuk saya-adalah bersabar mengantre pembagian jatah nasi bungkus di dapur umum, yang segera didirikan pada hari yang sama saat gempa terjadi.

    Menu andalan bikinan dapur umum adalah nasi secentong, berlauk telur dadar yang berdiameter hanya sebesar permen mentos, dan sejumput mi. Para warga yang sebagian besar anak kos menyebutnya sebagai menu minimalis.

    Hari ketiga, Senin, ketika akan mengantre di dapur umum, tiba-tiba tetangga yang terlebih dulu mendapatkan jatahnya mencolek bahu saya. Dengan riang dia sampaikan kalau menu kali ini adalah menu kemewahan. Terpikir dalam benak saya, menu kemewahan adalah tambahan suwiran ayam atau daging yang dicampurkan sporadis di atas nasi yang hanya secentong itu.

    Bergegas saya dan warga lain mengantre. Tapi ketika tiba sampai giliran menerima jatah, saya yang biasanya hanya diberi sebungkus, kali ini ditambah dengan kantong plastik kecil berwarna hitam. Dalam hati, mungkin ini yang dimaksud dengan menu kemewahan itu. Segera saya bergabung dengan warga yang mulai mengambil tempat di bawah tenda darurat.

    Belum sampai bergabung di dalam tenda, sekilas saya melihat seorang warga mengeluarkan persegi empat berwarna putih dari tas plastik hitam itu. Melihatnya perasaan saya langsung hambar. Dari sudut tenda saya melihat tetangga yang berwajah ceria tadi mengacungkan menu miliknya sembari berteriak, "Kerupuk ini lambang kemewahan!"

    Dapur umum yang didirikan swadaya oleh masyarakat merangkap sebagai posko tempat warga bermalam untuk menghindari gempa susulan, menjadi saksi berbagai kejadian.

    Entah sekadar ajang gosip, paniknya para ibu yang sebelumnya sangat 'garang' ketika membagi jatah nasi bungkus karena isu gempa susulan yang lebih besar skalanya, sampai anak kos yang berlari ketakutan tanpa busana dari kamar mandi umum ketika terjadi gempa susulan.

    Kekompakan dan kesigapan para warga di jantung kota DIY membuat sarana publik dadakan, tak dapat diikuti oleh warga lain di wilayah Selatan.

    Kerusakan di pusat gempa di Bantul, Imogiri, dapat disejajarkan dengan kedahsyatan reka kamera seperti dalam film-film Hollywood. Mayoritas rumah penduduk di sepanjang wilayah itu rata dengan tanah. Harta yang dibawa hanya anggota keluarga dan baju yang melekat di badan. Kondisi ini membuat warga tak dapat dengan cepat membuat dapur umum atau sekadar tempat berteduh yang layak.

    Sangat ironis

    Sangat ironis kenyataan di lapangan jika disandingkan dengan situasi yang terjadi di Gedung Agung, tempat di mana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sejak hari Minggu 'memindahkan' kantornya.

    Di tengah kekhawatiran dan 'hajaran' gempa susulan yang masih terjadi, secara intensif Kepala Negara terus menggelar serangkaian rapat terbatas yang membahas tanggap darurat penanganan pascagempa di DIY dan Jateng. Ratas itu sendiri melibatkan para menteri terkait dan para gubernur.

    Presiden boleh saja memindahkan rapat di lokasi gempa, namun sampai hari ketiga sebanyak 150 korban yang 100% rumahnya rata dengan tanah di wilayah Kalitirto Bantul, sama sekali belum tersentuh bantuan makanan, tenda, apalagi kesehatan.

    Di saat aparat sibuk mengamankan jalan untuk melintasnya iring-iringan Presiden yang akan meninjau kondisi Candi Prambanan, ambulance dari arah Wonosari yang mengangkut korban gempa ke rumah sakit, terpaksa 'mengalah' menunggu lewatnya orang nomor satu di negeri ini.

    Saat Kepala Negara mengumumkan alokasi dana untuk program tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi pada Senin lalu sebagai hasil rapat terbatas, Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai Ketua Bakornas yang nun jauh berada di Jakarta sana, justru terlebih dahulu mengumumkan detail dan rinci alokasi dana yang dikeluarkan pemerintah, sekaligus hak apa saja yang akan diterima para korban gempa DIY dan Jateng.

    Di saat banyak terjadi penjarahan pasar Sleman oleh oknum-oknum dari selatan yang kelaparan karena belum mendapatkan bantuan, dan merajalelanya pencurian sepeda motor di wilayah gempa, aparat keamanan tidak dapat membantu.

    Tepat ketika Bupati Bantul Idham Samawi meminta maaf pada publik melalui radio karena proses penanganan tanggap darurat lamban akibat kekurangan relawan, sehingga masih banyak masyarakat yang belum tersentuh, Presiden Asian Development Bank Haruhiko Kuroda yang menawarkan hibah dan softloan US$60 juta, menyampaikan pujian atas kecepatan penanganan tanggap darurat yang dilakukan pemerintah.

    Melihat fenomena yang kontradiktif itu, mendadak saya sakit kepala. Mungkin lebih baik fokus saja menghabiskan makanan lambang 'kemewahan' saya, sebuah kerupuk kampung jatah dapur umum, sembari membayangkan anak-anak kecil di sepanjang jalan Imogiri-Bantul yang menadahkan tangan meminta bantuan.

    dikutip dari Harian BISNIS INDONESIA
    Edisi: 01/06/2006

    Penulis Diena Lestari
    Wartawan Bisnis Indonesia


    .