Mungkin memang sudah saatnya menyerah melawan emosiku sendiri
Rasa pasrah tak ingin melawannya lagi,
karena aku sudah terlalu capek
dan hanya ingin menangis......
================
KETIKA KERUPUK MENJADI LAMBANG 'KEMEWAHAN'Pun, niki mbak segane. Sak cukupe nggih. Sing ngantri akeh, wedi nek kurang je."
(Ini nasinya mbak. Secukupnya saja ya. Yang antre banyak, takut kalau kurang).
Tiga hari ini, kalimat di atas menjadi sangat akrab di telinga saya. Sepertinya para ibu yang bertugas membagi jatah nasi bungkus kepada warga di sekitar rumah, yang juga terkena bencana gempa bumi di Yogyakarta, merasa wajib mengatakannya karena kalimat halus itu, harus diartikan sebagai larangan keras bagi warga untuk menambah jatah nasi bungkus.
Saat fajar menyingsing dan ketika senja turun aktivitas baru para warga-termasuk saya-adalah bersabar mengantre pembagian jatah nasi bungkus di dapur umum, yang segera didirikan pada hari yang sama saat gempa terjadi.
Menu andalan bikinan dapur umum adalah nasi secentong, berlauk telur dadar yang berdiameter hanya sebesar permen mentos, dan sejumput mi. Para warga yang sebagian besar anak kos menyebutnya sebagai menu minimalis.
Hari ketiga, Senin, ketika akan mengantre di dapur umum, tiba-tiba tetangga yang terlebih dulu mendapatkan jatahnya mencolek bahu saya. Dengan riang dia sampaikan kalau menu kali ini adalah menu kemewahan. Terpikir dalam benak saya, menu kemewahan adalah tambahan suwiran ayam atau daging yang dicampurkan sporadis di atas nasi yang hanya secentong itu.
Bergegas saya dan warga lain mengantre. Tapi ketika tiba sampai giliran menerima jatah, saya yang biasanya hanya diberi sebungkus, kali ini ditambah dengan kantong plastik kecil berwarna hitam. Dalam hati, mungkin ini yang dimaksud dengan menu kemewahan itu. Segera saya bergabung dengan warga yang mulai mengambil tempat di bawah tenda darurat.
Belum sampai bergabung di dalam tenda, sekilas saya melihat seorang warga mengeluarkan persegi empat berwarna putih dari tas plastik hitam itu. Melihatnya perasaan saya langsung hambar. Dari sudut tenda saya melihat tetangga yang berwajah ceria tadi mengacungkan menu miliknya sembari berteriak, "Kerupuk ini lambang kemewahan!"
Dapur umum yang didirikan swadaya oleh masyarakat merangkap sebagai posko tempat warga bermalam untuk menghindari gempa susulan, menjadi saksi berbagai kejadian.
Entah sekadar ajang gosip, paniknya para ibu yang sebelumnya sangat 'garang' ketika membagi jatah nasi bungkus karena isu gempa susulan yang lebih besar skalanya, sampai anak kos yang berlari ketakutan tanpa busana dari kamar mandi umum ketika terjadi gempa susulan.
Kekompakan dan kesigapan para warga di jantung kota DIY membuat sarana publik dadakan, tak dapat diikuti oleh warga lain di wilayah Selatan.
Kerusakan di pusat gempa di Bantul, Imogiri, dapat disejajarkan dengan kedahsyatan reka kamera seperti dalam film-film Hollywood. Mayoritas rumah penduduk di sepanjang wilayah itu rata dengan tanah. Harta yang dibawa hanya anggota keluarga dan baju yang melekat di badan. Kondisi ini membuat warga tak dapat dengan cepat membuat dapur umum atau sekadar tempat berteduh yang layak.
Sangat ironis
Sangat ironis kenyataan di lapangan jika disandingkan dengan situasi yang terjadi di Gedung Agung, tempat di mana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sejak hari Minggu 'memindahkan' kantornya.
Di tengah kekhawatiran dan 'hajaran' gempa susulan yang masih terjadi, secara intensif Kepala Negara terus menggelar serangkaian rapat terbatas yang membahas tanggap darurat penanganan pascagempa di DIY dan Jateng. Ratas itu sendiri melibatkan para menteri terkait dan para gubernur.
Presiden boleh saja memindahkan rapat di lokasi gempa, namun sampai hari ketiga sebanyak 150 korban yang 100% rumahnya rata dengan tanah di wilayah Kalitirto Bantul, sama sekali belum tersentuh bantuan makanan, tenda, apalagi kesehatan.
Di saat aparat sibuk mengamankan jalan untuk melintasnya iring-iringan Presiden yang akan meninjau kondisi Candi Prambanan, ambulance dari arah Wonosari yang mengangkut korban gempa ke rumah sakit, terpaksa 'mengalah' menunggu lewatnya orang nomor satu di negeri ini.
Saat Kepala Negara mengumumkan alokasi dana untuk program tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi pada Senin lalu sebagai hasil rapat terbatas, Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai Ketua Bakornas yang nun jauh berada di Jakarta sana, justru terlebih dahulu mengumumkan detail dan rinci alokasi dana yang dikeluarkan pemerintah, sekaligus hak apa saja yang akan diterima para korban gempa DIY dan Jateng.
Di saat banyak terjadi penjarahan pasar Sleman oleh oknum-oknum dari selatan yang kelaparan karena belum mendapatkan bantuan, dan merajalelanya pencurian sepeda motor di wilayah gempa, aparat keamanan tidak dapat membantu.
Tepat ketika Bupati Bantul Idham Samawi meminta maaf pada publik melalui radio karena proses penanganan tanggap darurat lamban akibat kekurangan relawan, sehingga masih banyak masyarakat yang belum tersentuh, Presiden Asian Development Bank Haruhiko Kuroda yang menawarkan hibah dan softloan US$60 juta, menyampaikan pujian atas kecepatan penanganan tanggap darurat yang dilakukan pemerintah.
Melihat fenomena yang kontradiktif itu, mendadak saya sakit kepala. Mungkin lebih baik fokus saja menghabiskan makanan lambang 'kemewahan' saya, sebuah kerupuk kampung jatah dapur umum, sembari membayangkan anak-anak kecil di sepanjang jalan Imogiri-Bantul yang menadahkan tangan meminta bantuan.
dikutip dari Harian BISNIS INDONESIA
Edisi: 01/06/2006
Penulis Diena Lestari
Wartawan Bisnis Indonesia
.