Hari ini terasa penat. Kepalaku pusing, sepertinya saudara maag berniat datang berkunjung. Perutku sudah tak karuan sejak kemarin. Empat pekerjaan kuselesaikan cepat, dan berhasil keluar kantor kurang dari jam delapan malam. Keajaiban yang tak akan kutemui setiap hari. Tapi apa daya, kebahagiaan dapat 'melarikan diri' lebih awal dari kantor tak berarti banyak, ketika aku terperangkap pada masalah klasik Jakarta,..... MACEEEETT.
Menyebalkan memang, tapi ya sudahlah. Jalan terbaik menghadapi macet dengan pasrah, menikmati merambatnya mobil, plus kaki kiri pegal2 karena terus2an menginjak kopling. Semangat juangku untuk menembus kemacetan menuju Slipi pada malam ini tak begitu tinggi rupanya. Dekat SPBU Pejompongan, aku menyerah, dan memutar kembali arah mobil menuju Manggarai yang terlihat lebih lengang.
Di mobil, sempat ku telpon si abang yang sedang pelatihan di Balikpapan, sekedar bilang malam ini ingin tidur di Manggarai. Dengan absennya dia malam ini, aku dengan bebas nonton beberapa koleksi filmku yang -pastinya- tidak sealiran dengannya, atau berlama-lama mendengarkan koleksi jazz ayahku yang banyak 'dirampok' si abang setiap datang ke Djogja dulu, tanpa gangguan.
Sampai di Manggarai, ku lemparkan ransel laptop di sofa depan plasma, dan berjalan gontai mengambil air minum di kulkas. Kuhela nafas panjang, berusaha mengusir penat yang tak juga lepas, justru bertambah penat.
Meja bilyar depan
pantry yang selalu tampak menarik, malam ini cukup jadi pajangan. Kuhampiri rak cd dekat sofa, dengan malas mencari cd yang mungkin menarik untuk didengarkan. Musik selalu jadi sahabat yang baik saat jenuh seperti ini. Secara acak kulihat susunan cd, meraih, mengembalikan lagi sembari bergumam sendiri......
ah bosan,
bosan banget,
sudah sering dengar,
terlalu nge-beat,
bikin ngantuk,
bikin tambah pusing,
terlalu
odies,
jadul,
gak co... - seper sekian detik kucoba meralat kembali justifikasi di benakku- kuraih cd bersampul ungu tua itu. CD lama, dan aku merasa tak pernah membelinya. Mungkin koleksi si abang.
Album Claressa Monterio.Kuputar cd itu, dan memang vokal jazz
mainstream-nya yang ringan tapi menghibur. Dentingan piano selaras dengan petikan bass khas jazz. Suasana nyaman dan releks mengendap dalam pikiran. Rasa penat berkurang.
Sekuat tenaga kulawan keinginan berlama2 bermalasan di sofa ini. Kupaksakan diri menuju kamar mandi, nyalakan kran air hangat dan dingin di
bath tub. Kuraih botol minyak lavender dari atas almari. Kutuangkan satu tutup botol tepat di tempat air mengalir. Harum lavender yang selalu menyenangkan menguar memenuhi tiap celah ruang, menerobos ruang, dan tiap kisinya. Kumatikan lampu dan nyalakan lilin di atas wastafel, dan pinggiran
bath tub.
Kurendamkan tubuhku sedalam2nya ke dlmnya. Menikmati saat air bersentuhan dengan pori2 tubuh, menenggelamkan pikiranku kedalam alunan suara
Monterio,........
That sunday, that summer
If I had to choose just one day to last my whole life through
It would surely be that sunday
Newborn whippoorwills were calling from the hills
Summer was a coming in but fast
Lots of daffodils were showing off their skills
Nodding all together, I can almost hear them whisper
That way, that sunday, that summer
Musical interlude
Go on kiss him,
go on and
kiss him.....Tubuhku meringan, suara
Monterio masih lirih terdengar, harum lavender terbawa malam. Coklat panas dalam cangkir mengepulkan asapnya.
Melenaku dalam hangat yang nyaman.
.