"Tabah ya, sabar. Semua pasti ada hikmahnya. Kamu baik2 saja kan?" Setahun ini, kalimat yang kurang lebih sama dengan di atas, sering kudengar. Berawal dari batalnya pernikahanku, meninggalnya Ryu, gempa yang menghancurkan rumahku, operasi by pass yang dialami ibu awal bulan lalu, hingga kejadiaan sekarang ini.
Abangku meninggal di Inggris senin lalu, tertabrak bus tingkat ketika dia turun dari bus itu juga. Dari cerita Andrew -sohib dekatnya-, belum stabil kaki abang menjejak tanah, supir bus sudah melanjutkan perjalanannya. Karena kaget, si abang terjatuh dan terlindas ban belakang bus.
Abang meninggal seketika.
Berita meninggalnya abang aku dapat dari Andrew hari senin itu juga. Sepersekian detik aku tak tahu apa yang kulakukan, tersadar ketika mobil di belakangku membunyikan klaksonnya karena aku terpaku dalam mobil yang kukemudikan.
Saat terberat buatku adalah ketika aku nantinya harus mengatakan pada ibu kejadian meninggalnya si abang. Saat ini ibu masih di rumah sakit, tak mungkin aku mengabarkan berita duka ini pada beliau.
Kemarin malam jenasah abang datang dari Inggris. Aku bersyukur perusahaan tempat abang bekerja sangat cooperative dan mengurus semua administrasi di sana. Hari ini, setelah Ashar jenasahnya dikebumikan di samping pusara ayahku.
Perasaanku sangat penuh, kepalaku pening, dan hidupku mendadak melambat, dan sangat tawar. Belum genap dua bulan aku melepas abang ke Bandar Sukarno Hatta lengkap bersama istri dan kawan2 dekatnya, belum lepas dari ingatan ketika abang bergegas datang ke kos, dan menggendongku ketika aku hampir kolaps kedinginan.
Aku masih teringat pesan abang ketika terakhir menelpon untuk menanyakan kondisi ibu.
"Kamu jaga diri baik2 ya nduk. Jaga ibu, hanya kamu yang tahu keinginan beliau. Jaga emosimu, dan jangan lupa istirahat. Satu saat nanti, keinginan kamu pasti akan terlaksana. Kamu akan keliling dunia dan jadi manusia hebat."Kalimat itu masih mengiang di telinga sampai saat ini. Hal yang membuat kepalaku tertunduk dan dadaku menahan haru yang teramat sangat. Saat itu aku menanggapinya dengan santai tertawa2 dan membalasnya dengan kalimat singkat,
"abang dodoooolllll......"
Ujianku tak habis dengan kepergian abang. Belum kering tanah pusara itu, si mbakyu -istrinya yang dinikahi baru dua bulan- tiba2 menanyakan rumah Manggarai di mana dia dan abang tinggal menjadi hak milik siapa. Dia juga menanyakan hak atas kepemilikian sejumlah harta yang dimiliki abang padaku. Aku hanya bisa memandang istri abangku itu lekat2. Di atas meja di dekat tempatku duduk terletak asbak kristal milik ayahku. Hampir saja aku melemparkan asbak itu ke mukanya. Sesaat aku tersadar bahwa aku masih puasa dan tak ada guna sama sekali menambah masalah.
Semua orang yang menemuiku setelah pemakaman tak melihatku menangis barang sedikitpun. Teman2 lamaku di semasa kuliah melihat sosok yang sama dalam diriku. Yep, aku masih bercanda dengan mereka, tertawa terbahak dan sekali dua menimpali gurauan mereka. Bahkan ketika peti jenasah abang masuk ke liang lahat, aku masih tersenyum melihat si kembar -anak sepupuku- memain2kan bonekanya.
Semua orang menganggapku bisa menerima kenyataan pahit yang datang bertubi2 pada keluarga kami. Aku tak mengingkarinya, bahwa aku masih bisa tertawa dan bercanda seperti layaknya aku, seorang
Angin Savana. Aku tak tahu sampai kapan bertahan dalam kondisi seperti ini. Aku sendiri. Tapi aku tak boleh menyalahkan bahwa sampai saat ini sendiri. Aku belajar dan tertempa untuk terus melangkahkan kaki bersama sang waktu untuk menuju satu tujuan, walau aku sendiri.
Sedetik aku ingin berteriak,
"CAPEEEEEEEKKKKK. AKU SUDAH TAK BERTENAGA LAGI. AKU TAK INGIN SENDIRI MENGHADAPI INI........"Tapi aku tak boleh mengeluh. Jika aku jatuh, maka orang2 tersayang yang berada di dekatku, ibuku,akan jatuh. Semua yang kubangun dengan susah payah akan runtuh. Aku tak mau itu. Tak ada hal lain yang dapat kulakukan selain terus berjuang, melangkah, dan pasrah.
Tapi di blog ini, -maaf- aku mengaku bahwa tidak semua baik2 saja. Aku jatuh, sakit, dan merasa sedih yang luar biasa dalam hatiku. Aku tak mungkin terus berpura2 bahwa semuanya baik2 saja. Kepalaku penuh, semua perasaan memenuhi hati. Rasa haru, sedih, amarah, kehilangan, sesal...... semua bercampur menjadi beban teramat luar biasa. Aku ingin teriak tapi tercekat, dan akhirnya hanya bisa pasrah dalam lelah yang teramat sangat. Toh, manusia tidak akan dicoba oleh Tuhan melebihi kemampuannya.
I know that tomorrow everything gonna be OK for me, back to normal. But today, I can't pretend that everything is ok. Everything is suck, and feel crash and burn badly. I AM NOT OK RIGHT NOW. I AM EXHAUSTED!!!!!!.