Dua pekan ini, wacana poligami menjadi pembicara hangat di setiap kalangan. Tak tanggung-tanggung, Presiden SBY pun merasa perlu untuk memberikan komentarnya. Yah, masing-masing kepala mempunyai pandangan tersendiri tentang poligami. Pembicaraan yang seringkali mengarah pada perdebatan ini pasti tak akan dapat selesai dalam sehari.
Di luar perdebatan poligami, aku sangat kagum dengan para perempuan dengan segala 'keterpaksaan' sekaligus keikhlasannya merelakan suaminya untuk menikah kembali. Seperti kata seorang seniwati Djogja, Sitoresmi Prabuningrat. Dalam tiga kali pernikahannya, dua di antaranya dia menjadi istri kedua, dan istri ketiga.
"Saya tinggal di Djogja, suami saya lebih banyak tinggal dengan istri pertama di Jakarta. Bahkan sudah sebulan ini saya belum bertemu dengannya. Dengan pertimbangan masalah finansial, kesehatan dsb, dsb.... saya beranggapan itu adil.
Ya inilah keadilan. Keadilan, keikhlasan, kerelaan seringkali dimulai dari keterpaksaan untuk menerima satu hal yang seringkali tidak menyenangkan," katanya.
Aku tak dapat berargumen tentang konsep berbagi suami ini, karena aku memang belum menikah. Saat ini aku hanya ingin berbagi cerita. Cerita masa lalu, yang pernah terjadi dalam satu generasi di keluargaku. Cerita ini membuat aku tahu dan mengerti apa dan kapan harus berlaku sabar dan ikhlas ketika sesuatu tak sejalan dengan keinginanku yang seringkali meledak-ledak.
======

Suatu sore dua orang suami istri mendapat undangan dari kanjeng bupati buat menghadiri pesta ulang tahun bupati di Ndalem kanjengan. Sang suami adalah onder muda yang disegani oleh semua orang, sedangakan sang istri adalah seorang priyayi Jogja yang sangat tahu bagaimana menempatkan diri.
Selain suami istri bernama R. Djojoprajitno itu, semua onder dan wedana di daerah kabupaten mendapat undangan. Juga tuan kontrolir, tuan-tuan besar kedua pabrik gula yang ada di kabupaten itu, semua mendapatkan undangan. Makanan berlimpah seperti air 'mbanyu mili'. Brendi, ciu, jenewar, legen juga tak hentinya berpindah tempat dari botol-botol ke gelas-gelas para tamu. Cerutu Regal dan Ritmeester mengepul dan bau eu de cologne mirip minyak sinyong-nyong di sana-sini, terselang seling antara tawa berderai dan juga gamelan.
Puncak acara waktu itu adalah Kesukan atau main judi kecil-kecilan dan juga tayuban. Seorang onder yang belum terlalu tua, cukup intelek tamatan Mosvia, suka kesukan dan cerutu Regal adalah bakal calon wedana waktu itu.
Sedangkan tayuban adalah satu kesenangan yang menuntut lebih banyak lagi cita rasa khusus. Untuk ini dibutuhkan perwatakan dan tipe yang khas seorang pria. Dia pastilah seorang casanova yang gembira, lincah, dan luwes.
Dia pastilah pria yang tidak kaku dan ragu-ragu membuat gerakan-gerakan tandak, apalagi malu-malu menghadapi goyangan si ledek atau ronggeng yang meliak liukkan pinggul sambil mengumbar senyum sensualnya.
Suatu tradisi memang ketika hanya dengan tanda pukulan gong sekali saja, para penayub diharapkan oleh para ledek dan juga para penonton untuk memberi ciuman pada sang ledek. Jelas ketika hal itu terjadi maka semua penonton akan bersorak sorai. Bila malam telah larut, mulut para penayub telah membusa dengan Brendi atau legen, dan kendang telah menghentakkan suara yang sugestif, si penayub boleh saja mengglandang sang ledek masuk ke bilik yang sudah disediakan.
Tuan Djojo bukan penayub, dia tak punya taste untuk menari di tengah-tengah pandangan orang terpaku pada mereka. Dia hanya menari untuk menyenangkan para wedana dan bupati yang menyuruhnya.

Namun entah mengapa malam itu saat Nyonya Djojo telah duduk satu meja dengan para istri onder, nyonya wedana, dan nyonya bupati untuk bermain kesukan, tiba-tiba terusik keriuhan yang bersumber dari pendopo.
Saat itu ada seorang ledek yang sangat terkenal bernama Sri yang sedang menari. Di meja tempat Nyonya Djojo duduk, nampak jelas bahwa Tuan Djojo telah dipanas-pansi oleh para wedana dan bupati untuk menjadi penayub malam itu.
Untuk menyenangkan para atasan itu, akhirnya Tuan Djojo turun ke tengah pendopo dan menari dengan sang ledek.
Satu hal yang mengagetkan Nyonya Djojo saat itu adalah ketika bunyi gong dipukul satu kali, saat itu dilihatnya Tuan Djojo mencium pipi Sri sang ledek di depan orang banyak. Tuan Djojo yang selama ini selalu santun, setia, menghormati Nyonya Djojo, dan menjunjung tinggi kepriyayenannya tampak tak ingat dirinya sendiri.
Sebagai istri seorang priyayi sejati, tentulah Nyonya Djojo harus dapat menyembunyikan apa yang terasa dalam hatinya. Dengan tenangnya dia terus melempar kartu-kartunya di atas meja, seakan-akan apa yang terjadi di pendopo adalah satu hal biasa.
Apalagi ketika suaminya diiringi sorakan tamu mulai menyeret Sri ke belakang, ke bilik yang sudah disediakan, Nyonya Djojo, masih dengan tenangnya meneruskan bermain kartu.
Waktu itu jam sudah menunjukan pukul tiga pagi. Dengan tenang dan penuh basa basi seperti bisa, Nyonya Djojo mohon diri dari nyonya bupati dan sendirian pulang dengan supir dokarnya. Ketika sampai di Ndalem onderan pada pukul lima pagi, tak lupa diperintahkannya sang supir dokar untuk kembali ke kanjengan menjemput Tuan Djojo jika sudah selasai dan siap untuk pulang.
Saat itu, Nyonya Djojo hanya berbaring ditempat tidur, kepalanya terasa pening, dadanya sesak, dan bantalnya basah. Banyak hal berkecamuk dalam pikiran Nyonya Djojo waktu itu. Mengapa suaminya harus menggelandang sang ledek ke bilik itu? Mengapa harus berlebih-lebihan untuk mendapatkan promosi sebagai wedana harus mencium sang ledek di depan orang banyak? Ora ilok, ora apik, ora pantes.
Namun sebagai priyayi Jawa yang sudah ditatar untuk pasrah, nrimo, sabar membuat tak pernah satu kata protes yang keluar dari mulut Nyonya Djojo, walaupun dia adalah perempuan yang pada waktu itu sempat mendapatkan pendidikan tinggi, dan dididik dengan modern oleh keluarganya. Tapi, Nyonya Djojo tak pernah menggugat suaminya. Pun sampai Tuan Djojo meninggal, Nyonya Djojo tetap setia, menghormati, menyayangi, dan mengabdi kepada suaminya. Peristiwa itu tak pernah ada penjelasan dan tak pernah ada keinginan dari Nyonya Djojo untuk meminta penjelasan pada suaminya.*
==========
Aku tak pernah mengenal Tuan Djojo dan Nyonya Djojo. Aku hanya tahu dari almarhumah eyang putriku bahwa mereka adalah kakek dan nenek buyutku. Cerita ini adalah salah satu cerita yang tertulis di buku harian eyang putriku, yang dikirimkan oleh ibuku kemarin sore.
Begitu besar dan kuatnya seorang perempuan Jawa menahan rasa ketidakadilan yang dihadapinya. Begitu sabar dan pasrahnya seorang perempuan Jawa diperlakuan tak adil oleh orang yang disayanginya.
Aku,
terpaku memandang buku harian yang sudah mulai menguning yang ada dalam pangkuanku. Terbayang jelas bahwa mungkin aku tak akan dapat memperoleh kesabaran seperti nenek buyutku. Aku yang terlahir dengan darah orang-orang yang memegang tradisi sekolot itu, tak banyak berharap akan mendapatkan kekuatan itu.
Sungguh terlalu berat pengorbanan itu. Aku tak tahu apa yang sedang ku alami saat ini juga satu bentuk kesabaran yang sama dengan yang dilakukan nenek buyutku, atau seorang perempuan yang bernama Sitoresmi Prabuningrat?
Aku tak berani menjawabnya, pun terlalu takut membandingkannya. Yang aku tahu, perempuan manapun tak akan ingin suaminya berbagi dengan perempuan lain. Dia hanya ingin prianya utuh untuk dirinya dan keluarganya.
Sejenak aku teringat ketika satu sore yang dingin saat menemani minum teh almarhum ayahku duduk di lincak [bangku bambu] di pendopo rumah, dengan muka lebam habis berkelahi dengan teman SMP ku. Tak nampak rasa marah di wajah beliau waktu itu. [Mungkin sudah nyadar duluan kalau punya anak perempuan yang kelakuan kayak Gaban].
Dalam wejangannya beliau bilang, "Sava, sudah sepatutnya perempuan melawan keras ketika diperlakukan sewenang-wenang. Itu bagus, dan memang kamu berhak melakukannya. Tapi ada saatnya perempuan melakukan perlawanan justru dengan cara memperlihatkan kesabaran, kerelaan, keikhlasan, kemampuan menekan perasaan amarah, sedih, kecewa, senang, dan segala perasaan yang bergejolak dalam diri. Berlakulah seperti air sungai. Mengalir sangat tenang dipermukaan, walaupun di dalamnya arusnya sangat deras dan bergejolak."
Setelah hampir 15 tahun -saat ini- aku baru mengetahui apa arti dari wejangan ayahku. Ikhlas, rela, dan sabar memang satu hal yang sangat susah dilakukan. Tapi memang harus ada kesadaran bahwa pada akhirnya semua orang akan dihadapkan pada situasi di mana mereka tak lagi dapat berjuang dengan keahlian, kepandaian dan apapun yang mereka punya. Tak ada lagi ruang, selain berserah, pasrah.
I've been there and I done that recently......
*Umar Kayam
.