Minggu, pertunjukkan terakhir dari Teater Koma di TIM untuk 'Kunjungan Cinta'. Grup besar ini memperingati hari jadinya yang ke-30 dengan mengusung pertunjukan berjudul Kunjungan Cinta di TIM. Seperti biasa, sebelum pertunjukan dimulai, seorang narator memberikan petunjuk tentang tata cara atau sopan santun ketika melihat pertujukkan.
"Pertunjukan ini bebas rokok dan penonton tidak diperkenankan membawa makan dan minum. Mengingat sangat sensitifnya peralatan yang kami pakai,agar para penonton tidak mengaktifkan handphone, dan tidak mengambil gambar dengan lampu blitz. Kepatuhan anda adalah ciri orang yang berbudaya."Satu tata cara yang sangat wajar dan sudah sangat biasa bagi yang sering melihat teater. Tapi apa daya, pertujukan khas dari Teater Koma ini menjadi satu hal yang tak menarik lagi bagiku. Bukan karena pertujukan atau performa dari para pemainnya yang buruk. TIDAK. Justru pertujukan Koma kali ini yang menyertakan si Raja Monolog, Butet Kartaradjasa, sangat menyegarkan, serat banyolan yang menyindir kekuasaan, khas Koma.
Tidak menarik pertunjukan ini justru datang dari sikap para penonton sendiri.
1. Jam 07.30pm, pertujukan ini dimulai, tapi sampai jam 08.00pm masih banyak penonton yang berdatangan, dan apesnya mereka duduk di bagian tengah, sehingga ketika mereka lewat sangat mengganggu penonton yang sudah lebih awal duduk dan menikmati pertunjukan.
2. Di tengah-tengah pertujukan, penonton banyak yang keluar masuk ruang teater, dan yang lebih menyebalkan lagi mereka masuk kembali ke ruangan, lengkap menenteng makanan dan minuman.
3. Saat pertujukkan banyak juru gambar masih mengambil sketsa pertujukkan dengan blitz.
4. Ketika pertunjukkan dimulai, sering terganggu dering handphone yang datang dari banyak penjuru.
MENYEBALKAAAAAANNNNNNNNNNNNNNNNNNNN....................!!!!!!!!!Kenapa sih, para penjual snack dan baverage itu ikut disiplin TIDAK menjual barang
dagangannya saat teater berlangsung?
Kenapa sih, panitia tidak tegas melarang para penonton yang terlambat datang untuk
tidak masuk ruangan saat pertunjukan sudah dimulai?
Dan kenapa sih, sikap tidak menyenangkan itu justru datang dari penonton yang berasal dari kalangan menengah atas? Bukankah mereka selalu dengan atribut kaum menengah ke atas sebenarnya lebih tahu tata cara melihat pertujukan, dan ironisnya seringkali justru mereka merasa lebih BERBUDAYA?????
.