ke arah mana pun kaki melangkah
selalu ada tempat tetirah
di arah mana pun yang paling sesat
selalu ada tempat istirahat
..........(Arswendo Atmowiloto)
Bagiku, Temasek menjadi satu tempat yang sangat menjemukan dan tak lagi menarik untuk dikunjungi. Rutinitas perjalanan 1,5 jam Jakarta-Temasek di akhir pekan, tak ubahnya seperti proses penyiksaan yang tak ada habisnya. Dari
Changi airport langsung menuju
Mt Elizabeth Hospital dan kemudian duduk gelisah menunggu giliran berkonsultasi dengan dokter untuk meng-
up date kondisi ibu menjadi satu hal yang teramat sangat menyebalkan.
Setiap jam setiap menit setiap detik konsultasi dengan dokter ini membuatku serasa duduk di atas bara. Kekhawatiran yang menjadi, atau kelegaaan yang sangat datang silih berganti tak ubahnya seperti kilat yang saling menyambar. Lha kok rasanya seperti aku yang lebih jantungan, dibandingkan ibuku yang memang sakit jantung beneran ya.
Mungkin dua pekan ini, menjadi hal yang paling
hectic dalam hidupku. Kondisi ibuku beberapa pekan ini sungguh tak terlalu baik. Segepok obat dengan bermacam-macam
merk yang memusingkan itu seakan menjadi benteng pertahanan terakhir bagi beliau. Aku cemas betul.
Satu hal yang menghibur untuk sedikit menghilangkan kekhawatiran adalah duduk di satu kafe tepat di perempatan
orange rd. Melepas penat di bawah kursi bertenda besar di serambi kafe, memesan Earl Gray tea, sepiring roti kayu manis yang baru keluar dari pemanggangan, sembari mengawasi orang2 Temasek lalu lalang.
Sejenak pemandangan itu bisa membuatku melupakan hasil foto
rontegn, surat medis dan obat2an ibu yang tersimpan rapi dalam tas punggungku itu. Kali ini cuaca Temasek sedikit mendung, dan gerimis kecil-kecil menguarkan bau tanah basah. Dingin membuatku merapatkan jaket, dan memutuskan segera beranjak mencari taxi yang mengarah ke bandara dan menunggu pesawat yang akan membawaku pulang ke Jakarta, sembari terus mencoba bertahan sekuat hati dalam kelelahan yang sangat.
.
|
|
Samstag, Marz 2007
|
"Kennst du das Land, wo die Zitronen bluhn???????" Goethe
|
|
Absurd
|
Satu waktu di bandara Adisutjipto saat mengunggu pesawat yang membawaku kembali ke ibu kota. Di ujung emper bandara -tepatnya di depan kedai kue- dua anak kecil dan seorang nenek renta duduk 'ngelesot'. Sang nenek duduk termenung, dua anak kecil tak lebih dari lima tahun berlarian dengan mata tak lepas memandang meja display kedai kue itu. Tak heran jika orang yang lewat akan menyangka yang mereka tak lebih dari pengemis yang seringkali mangkal di bandara untuk mendapatkan sedikit derma dari orang yang benar-benar atau justru 'terpaksa' beramal. Tak ada tatapan iba yang ditunjukkan nenek atau anak2 kecil itu pada para pengunjung bandara. Tak terlihat pula gelas lecek -sarana utama untuk mengemis- yang ditodongkan pada orang yang lalu lalang untuk sekedar mendapatkan recehan. Sang nenek hanya duduk termenung, pandangan menerawang entah membayangkan apa dan siap. Dua bocah di bawah lima tahun -yang tak ubahnya sebagai pelengkap penderita-, terus menerus memandang kue bolu, lemper, dan risol yang tersaji di kedai kue. "O alah mbak, simbah itu hampir setiap hari datang ke sini, liatin orang keluar masuk bandara. Katanya orang dulu anaknya pilot, tapi 'wis mati lha wong' pesawatnya nabrak gunung. Simbah itu gak percaya kalau anak lanangnya sudah ndak ada. Mungkin ya ora rilo, jadinya hampir setiap hari dia datang, dan 'ngelesot' di sini. Mau dikasih apa2 ndak mau, jadi harus dibujuk dulu. 'Wis jan mesakke'. Lha kalau dua 'bedhes' cilik itu gak jelas siapa. Senengnya nyari kesempetan 'nglibet' minta kueh. Biasa 'cah' cilik," kata si mbak penunggu kedai. Hidup ini absurd. Tak jauh beda dengan film2 garapan Kubric atau Malkovic. Ketika waktu terus berputar dengan semua kejadian yang datang dan pergi sembari mengguras sisi emosional manusia. Hidup itu absurd. Tak ubahnya seperti permainan yang dilingkupi menang, kalah, atau sekedar bertahan. Manusia hanya dapat memilih dari semua kondisi yang dihadapinya. Entah memilih A, atau B, atau justru memilih untuk tidak memilih. Hidup ini pilihan. Tak ubahnya seperti pilihan sang nenek renta yang termenung dengan pandangan kosong di depan kedai kue ujung emper bandara Adisutjipto. Entah sampai kapan dia menunggu 'anak lelakinya yang pilot' itu datang menghampirinya. Tak jelas sampai kapan sang nenek memilih menunggu anaknya datang. Mungkin sekarang ini hari terakhir dia menunggu, mungkin besok, atau lusa. Atau mungkin dia akan menunggu sampai batas emosional mencapai puncaknya dan nyaris bersinggungan dengan kegilaan dalam arti sebenarnya. Hidup ini absurd,..... sangat....... .
|
Sunday, March 18, 2007
|
Melankolis Brengsek
|
Aku kesal betul, .... .... .... .... karena kangen padamu.......!!!!!!!!!!Temasek, very late .
|
Tuesday, March 06, 2007
|
Pintar belum tentu pandai, pandai belum tentu kaya
|
Kemarin seharian jalan ke Bogor, setelah capek muter2, istirahat di distro depan Kebun Raya. Tepat di halaman distro itu, ada kafe kecil yang menjual tahu goreng dengan sambal kecap sebagai pelengkap. Rasanyaaa.... nyam...nyam...nyam..... Setelah melahap hampir separuh porsi tahu, aku tertarik dengan kalimat Tantowi Yahya yang sedang mengiklankan koran Seputar Indonesia, di RCTI -pastinyeeee-.... Kurang lebih begini kalimat Mas Tanto..... Orang yang tidak membaca adalah orang yang tidak tahu, orang yang tidak tahu maka dekat dengan kebodohan, orang yang bodoh, maka dekat dengan kemiskinan.........Kalimat yang disampaikan Mas Tanto itu memang tidak salah. Tapi -menurutku- menjadi tak relevan untuk jaman sekarang ini. Fakta yang terjadi adalah...... Orang yang banyak membaca adalah orang yang banyak tahu orang yang banyak tahu tentu pintar orang yang pintar, belum tentu kaya......Hmmmmmmmmmm......... mungkin itu yang baru saja terjadi di lingkunganku belum lama ini. Ah sudahlah, hidup itu pilihan dan pilihan sudah dijatuhkan. Ada yang pro dan kontra itu biasa. Tuhan memberikan rezeki lewat bermacam cara. Toh, kalau cara pemberiannya terlihat lucu, itu kan hak perogratif Nya tho....... Lha wong kita tinggal duduk diem dan dapat durian runtuh lho. Kok masih pake ribut menjurus bunuh bunuhan. Hidup sudah susah kok tambah dibikin susah ^_^ .
|
|
| |