Don't sleep away the night my baby
Please stay with me at least till dawn
It hurts to know another hour has gone by
and every minutes is worthwhile*
Hope you'll stay a little longer
But I don't know how much time
You got left.......**=====
Aula Ersamus Huis yang tak seberapa luasnya dipadati oleh pengunjung dari semua lini dan generasi. Tua, muda, mahasiswa, pegawai kantoran, pejabat, penyanyi, aktor, semua ada di sini memenuhi kursi-kursi yang disusun setengah lingkaran, menghadap ke panggung yang masih kosong.
Di atas panggung tak nampak alat-alat musik berjejer ataupun hiasan apapun selain sebuah kursi, microphone, ampli kecil dan hard case guitar yang diletakkan tepat disebelah kiri kursi. Panggung yang sangat biasa cenderung sederhana membiaskan lampu panggung berwarna coklat temaram. Sangat jauh kesan 'WAH' seperti konsep kemewahan panggung yang seringkali diusung para DIVA dalam negeri manakala tampil di JCC itu.
Padahal tepat pukul 19.30 nanti, seorang penyanyi berkaliber internasional akan menghibur para undangan yang memadati aula itu. Yep, seorang Daniel Sahuleka akan membawakan sejumlah lagu secara akustik di Erasmus Huis. Semua orang dari berbagai generasi pasti mengenal lagu
'You make my world so colorfull' atau
'Don't sleep away the night.' Dua lagu yang seringkali masuk dalam album kompilasi dan termasuk dalam jajaran lagu yang abadi.
Aku cukup beruntung masih bisa mendapatkan tiket untuk pertunjukan dia Sabtu ini. Meskipun untuk hari Senin 7/5 Erasmus Huis masih menampilkan Daniel Sahuleka dan gratisssss, tapi jelas tak mungkin aku dapat melihatnya.
Tepat 19.30 sosok tinggi besar berkulit coklat khas Ambon dan berambut kriting panjang berjalan pelan dari belakang panggung sembari melempar senyum ramah dan menyapa para pengunjung. Daniel datang dengan penampilan andalannya, berbaju warna hitam dan bertelanjang kaki, -sama seperti waktu kulihat dia bernyanyi di arena Java Jazz 2006-. Dia tak banyak berubah sangat biasa, begitu kontras dengan panggung di aula Erasmus Huis ini.
Beberapa lagu yang ada di dalam CD/VCD dalam album akustik terbarunya
If I didn't dinyanyikannya malam itu. Permainan gitar akustiknya begitu lembut dan menyenangkan. Suaranya masih sebening dulu. Suara lembutnya mampu mengubah sekelilingnya larut terbawa suasana yang romantis. Daniel memang membawa ciri khasnya sendiri.
Bagiku, cara dia membawakan lagu-lagunya secara akustik justru memberi makna tersendiri dibandingkan ketika dia menyanyi dengan diiringi instrumen lengkap. Dia mampu menghipnotis setiap penonton untuk mengikutinya bernyanyi, dan membuat sepasang pasutri -yang kebetulan suaminya adalah pejabat kondang- yang duduk tepat di depan kursiku saling berpegangan tangan mesra.
Seusai manggung pun dia sempat memberikan waktu untuk ngobrol dan menandatangani album yang sedang dipromosikannya. Dia sangat ramah, dan masih bisa berbahasa Indonesia meskipun terpatah-patah.
Di usianya yang 57 tahun ini dia masih tetap berkarya dan mempunyai kerinduan dalam untuk mengadakan konser di beberapa kota Indonesia. Setiap musisi memang mempunyai ciri khas sendiri, dari yang sangat sederhana sampai glamor.
Banyak orang bilang,
"ketenaran itu satu hal yang mesti disikapi dengan kewajaran dan kesederhanaan tanpa perlu mengubah apapun".......maka seorang Daniel Sahuleka akan masuk di dalamnya...... Seperti ucapnya malam itu,
"Just be your self."Dalam perjalanan pulang, aku masih terbawa suasana saat dia menyanyikan single terbarunya,
If I didn't.....
If I didin't have you then
What will become of me?
If I had never met you
How would my life be?
Would I be the same?
If I'd been loving antoher name
Would I stay untamed
Would there be any aim?
So whom I will be.......***Meleleeeeeeehhhhhh dg suksesss deeeeehhhhhhhh......... ^_^
* Don't sleep away this night my baby
** Hey, it's good to see you back again
*** If I didn't
.