---------
Dalam keheningan malam itu, justru sang perempuan muda mengingat satu kenangan di satu sore, saat bapak dan ibunya duduk di kursi goyang, minum teh hangat, dan makan
kaasstengels, sedangkan dia dan anak-anak kompleks lainnya bermain
zondag-maandag di bawah pohon sawo kecik yang tumbuh ranum di depan rumah.
Kemudian hujan lebat sekali dan dilihatnya semua orang-orang yang menjadi kenangan masa lalunya perlahan-lahan, satu per satu mengabur. Waktu sudah tak lagi bermurah hati padanya untuk mengendapkan pertanyaan yang menerobosi benaknya.
Semua orang tahu, impian kita adalah impian anak-anak yang dibangun dari kemauan orang tua kita dulu. tanpa kita sadari, kita ucapkan satu per satu impian itu, yang sesungguhnya sudah dibentuk dari hari demi hari oleh orang tua kita.
Bapak adalah seorang priyayi penting, ibu memiliki darah biru yang mengalir di tubuhnya, keduanya adalah orang tua yang selalu ingin anak-anaknya selalu mengibarkan bendera Kepriyayenan itu dimanapun, kapanpun, dan di jaman apapun.
harapan kita tetap menjadi priyayi dengan kedudukan yang sangat terpandang di masyarakat. Mungkin tidak jadi seorang yang sangat berkecukupan secara material, tapi yah untuk hidup cukuplah. Setidaknya menjadi priyayi yang baik, yang manis, yang
burgerlijk. Tapi bagaimana jika seseorang yang dilahirkan sebagai seorang priyayi ningrat kemudian memilih hidup di dunia abangan? Dunia yang jauh dan bahkan tidak mengenal trah keningratan, kepriyayenan, dan jauh dari ketenangan. Dunia abangan yang selalu resah, gelisah, penuh ilusi dan tantangan, yang memang terkadang seringkali menjadi indah sekali rasanya.
Sejenak ingin kembali ke masa lalu saat ibu dan bapak duduk di kursi goyang, menikmati wedang teh, dan nyamikan. Lepas dari dunia penuh kegelisahan, dan mendengar para kontrolir pabrik gula berteriak kesana sini, dan menunduk hormat saat bapak lewat. Untuk sesaat merasa dunia yang dulu memang terasa hangat dan comfortable. Daya tariknya kuat dan menyedot untuk kembali ke poros masa lalu.
Satu desakan untuk kembali mengangkat bendera kepriyayenan dengan alasan dosa besar jika mengingkari nasib yang telah ditentukan kepada kita yakni menjadi seorang priyayi.
Namun apa pentingnya menjunjung tinggi harkat sebagai priyayi tapi justru tidak pernah bertindak seperti sebagaimana seharusnya menjadi seorang priyayi. Saat ini tak lagi penting mengaku menjadi priyayi atau tidak, tapi yang perlu dilakukan adalah bertindak sebagai priyayi yang benar-benar tahu bagaimana membawa diri, menempatkan diri, dan mengerti serta menghargai perasaan orang lain.
Itu saja.
.