<body bgcolor=white text=black link=black vlink=black alink=black marginwidth=0 marginheight=0 topmargin=0 leftmargin=0 rightmargin=0 bottommargin=0>
You can not blame my emotion because it will never fade away. I do not care about bad affinity. Its about me. Myself........


Visitor: hits.
Visitor online: online


These days the world's events are strange. They say this and they say that. There is no point arguning. I am better off dozing.....


NEWS
→Herald Tribune
→New York Post
→Washington Post
→Tempo
→Bisnis Indonesia
→Kompas
→Pantau
→MinergyNews
→Platts


DJOGJA's NEWS
→Kabare Jogja
→Gudang Info tt Yogya
→Angkringan
→Jawa Palace
→Primbon Jawa
→Sastra


JAZZ NEWS
→Horizon
→GRP
→Warta Jazz
→Jazz FM
→Dave Koz
→Fourplay
→Lee Ritenour



FILEs

  • January 2004
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • August 2005
  • September 2005
  • October 2005
  • November 2005
  • December 2005
  • January 2006
  • February 2006
  • March 2006
  • May 2006
  • June 2006
  • July 2006
  • August 2006
  • September 2006
  • October 2006
  • November 2006
  • December 2006
  • January 2007
  • March 2007
  • April 2007
  • May 2007
  • July 2007
  • August 2007
  • September 2007
  • October 2007
  • November 2007
  • December 2007
  • January 2008
  • February 2008
  • March 2008
  • April 2008
  • May 2008
  • June 2008
  • July 2008
  • August 2008
  • September 2008
  • October 2008
  • November 2008

































  •    
    Angin Savana
     
    Wednesday, August 22, 2007

    Tantrum 


    pulang
    nyalakan lampu
    secangkir teh hangat
    wudhu
    men-sujud-i Nya
    lalu
    tidur
    setelah berucap doa
    Semoga besok 'Tantrum' pergi dan jangan lagi kembali
    aku tak mau terhempas lagi






    .

     

    Stayed Up Late 

    Stayed up late
    Almost not sleep at all
    The reason is inside my head
    rolling, and moving

    No need to worried, alas
    'cause it was a game that people played
    No need to understand it,
    'cause its so light

    Make it easy
    like the rain rolling down trough the window glass
    So nice, and very much comfort,
    but meaningless
    and
    gonna be forgotten soon

    No need to worried indeed......







    2256.
    Karet, just now.

    Welcome back my beloved insomnia.
    When will you be gone?


    .

     
    Monday, August 13, 2007

    Priyayi atau Abangan? Itu hanya sebuah pilihan..... 

    ---------

    Dalam keheningan malam itu, justru sang perempuan muda mengingat satu kenangan di satu sore, saat bapak dan ibunya duduk di kursi goyang, minum teh hangat, dan makan kaasstengels, sedangkan dia dan anak-anak kompleks lainnya bermain zondag-maandag di bawah pohon sawo kecik yang tumbuh ranum di depan rumah.

    Kemudian hujan lebat sekali dan dilihatnya semua orang-orang yang menjadi kenangan masa lalunya perlahan-lahan, satu per satu mengabur. Waktu sudah tak lagi bermurah hati padanya untuk mengendapkan pertanyaan yang menerobosi benaknya.

    Semua orang tahu, impian kita adalah impian anak-anak yang dibangun dari kemauan orang tua kita dulu. tanpa kita sadari, kita ucapkan satu per satu impian itu, yang sesungguhnya sudah dibentuk dari hari demi hari oleh orang tua kita.

    Bapak adalah seorang priyayi penting, ibu memiliki darah biru yang mengalir di tubuhnya, keduanya adalah orang tua yang selalu ingin anak-anaknya selalu mengibarkan bendera Kepriyayenan itu dimanapun, kapanpun, dan di jaman apapun.

    harapan kita tetap menjadi priyayi dengan kedudukan yang sangat terpandang di masyarakat. Mungkin tidak jadi seorang yang sangat berkecukupan secara material, tapi yah untuk hidup cukuplah. Setidaknya menjadi priyayi yang baik, yang manis, yang burgerlijk.

    Tapi bagaimana jika seseorang yang dilahirkan sebagai seorang priyayi ningrat kemudian memilih hidup di dunia abangan? Dunia yang jauh dan bahkan tidak mengenal trah keningratan, kepriyayenan, dan jauh dari ketenangan. Dunia abangan yang selalu resah, gelisah, penuh ilusi dan tantangan, yang memang terkadang seringkali menjadi indah sekali rasanya.

    Sejenak ingin kembali ke masa lalu saat ibu dan bapak duduk di kursi goyang, menikmati wedang teh, dan nyamikan. Lepas dari dunia penuh kegelisahan, dan mendengar para kontrolir pabrik gula berteriak kesana sini, dan menunduk hormat saat bapak lewat. Untuk sesaat merasa dunia yang dulu memang terasa hangat dan comfortable. Daya tariknya kuat dan menyedot untuk kembali ke poros masa lalu.

    Satu desakan untuk kembali mengangkat bendera kepriyayenan dengan alasan dosa besar jika mengingkari nasib yang telah ditentukan kepada kita yakni menjadi seorang priyayi.

    Namun apa pentingnya menjunjung tinggi harkat sebagai priyayi tapi justru tidak pernah bertindak seperti sebagaimana seharusnya menjadi seorang priyayi. Saat ini tak lagi penting mengaku menjadi priyayi atau tidak, tapi yang perlu dilakukan adalah bertindak sebagai priyayi yang benar-benar tahu bagaimana membawa diri, menempatkan diri, dan mengerti serta menghargai perasaan orang lain.

    Itu saja.


    .