<body bgcolor=white text=black link=black vlink=black alink=black marginwidth=0 marginheight=0 topmargin=0 leftmargin=0 rightmargin=0 bottommargin=0>
You can not blame my emotion because it will never fade away. I do not care about bad affinity. Its about me. Myself........


Visitor: hits.
Visitor online: online


These days the world's events are strange. They say this and they say that. There is no point arguning. I am better off dozing.....


NEWS
→Herald Tribune
→New York Post
→Washington Post
→Tempo
→Bisnis Indonesia
→Kompas
→Pantau
→MinergyNews
→Platts


DJOGJA's NEWS
→Kabare Jogja
→Gudang Info tt Yogya
→Angkringan
→Jawa Palace
→Primbon Jawa
→Sastra


JAZZ NEWS
→Horizon
→GRP
→Warta Jazz
→Jazz FM
→Dave Koz
→Fourplay
→Lee Ritenour



FILEs

  • January 2004
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • August 2005
  • September 2005
  • October 2005
  • November 2005
  • December 2005
  • January 2006
  • February 2006
  • March 2006
  • May 2006
  • June 2006
  • July 2006
  • August 2006
  • September 2006
  • October 2006
  • November 2006
  • December 2006
  • January 2007
  • March 2007
  • April 2007
  • May 2007
  • July 2007
  • August 2007
  • September 2007
  • October 2007
  • November 2007
  • December 2007
  • January 2008
  • February 2008
  • March 2008
  • April 2008
  • May 2008
  • June 2008
  • July 2008
  • August 2008
  • September 2008
  • October 2008
  • November 2008

































  •    
    Angin Savana
     
    Friday, February 29, 2008

    Kau dan penunggu danau 

    Bayangkan saat kau melihat sebuah danau yang tenang berair jernih terbentang di hadapanmu.

    Tiba-tiba saja rasa damai dan tenangnya air danau terusik oleh gelombang dan ratusan lingkaran ketika sebutir kerikil yang kau lempar melayang ke udara dan jatuh tepat di tengah danau itu.

    Sungguh aktivitas tak bertujuan, dengan dalih mengusir rasa bosan kau raih sebutir kerikil yang tergeletak di sebelah kaki kananmu, dan dengan rasa ringan kau lemparkan tepat di tengah danau yang tenang.

    "Iseng, mengusir jenuh. Toh enak, kenapa tidak dicoba? Pun tak berakibat buruk terhadapku. Air danau itupun akan cepat kembali damai seperti sebelumnya. Aku juga punya danau seperti ini," ujarmu ringan tak berbeban.

    Tak perlu menunggu lama memang, labirin lingkaran itu menghilang, riak air danau yang membuncah kembali tenang. Sungguh harmonisasi yang sangat mengagumkan, begitu tenang, sunyi, damai, dan sabar. Mungkin udara yang membuat sang danau lupa bahwa kedamaiannya sempat terenggut oleh sebutir kerikil akibat keisenganmu itu.

    Tapi pernahkan kau tahu, walaupun danau itu kembali tenang, meski air danau itu tak lagi
    beriak, tapi kerikil yang kau lemparkan itu masih tetap berada di dasar sana. Kerikil itu
    terdiam dalam dalamnya danau yang kelam?

    Sayangku, danau itu tak lagi sama tepat saat kerikil yang kau lemparkan dengan penuh keisengan itu menyentuh dasarnya.

    Pernahkah kau sadar akan hal itu?
    Atau memang kau sudah terlalu bebal untuk merasakannya?



    -Kamu yang ada di situ, semoga dalam tidurmu, kau tak pernah bermimpi buruk dikejar-kejar penunggu danau yang memburumu sembari mengacung-acungkan tombak trisulanya untuk memutilasimu-.


    .

     
    Tuesday, February 05, 2008

    Nikmati saja sakitnya 

    Kalian pasti pernah merasakan antri hampir satu jam untuk menikmati kemeriahan naik jetcoster di taman-taman hiburan. Rasakan penatnya ketika berdesakan mengantri. Rasakanlah ketika mulai menaikkinya dan dijungkir balikkan sampai adrenalin mendesak otak, atau perut mual. Rasakan semua itu, setiap detik, tiap menit. Tapi kalian harus
    tetap menyadari bahwa tak selamanya kalian akan duduk di dalam jetcoaster itu. Ada masa semua kemeriahan, kesenangan, kebahagiaan akan meninggalkan atau harus ditinggalkan.

    Pastinya kalian pernah mengalami satu moment yang sangat membahagiakan. Satu masa yang sangat menyenangkan sehingga seakan wajah memancarkan cahaya hangat, mata selalu berpendar menyiratkan kebahagiaan sangat. Namun bagaimana ketika momet bahagia itu kemudian harus berlalu dari diri kita, tak menyisakan apapun kecuali kenangan bahagia sekaligus torehan kepedihan sekaligus.

    Jika kenangan indah itu tiba-tiba datang, kenanglah semuanya. Rasakan indahnya saat moment itu terjadi dan merasukdalam pikiranmu. Sedetik, semenit, rasakan saja, jangan tolak, dan jangan pernah mengubah itu dengan menghadirkan kepedihan yang akhirnya tertoreh ketika satu drama telah usai.

    Nikmati saja semua keindahan itu. Tak perlu menolaknya, tak ada gunanya justru hanya semakin menyakiti dirimu sendiri. Jangan melawannya, justru rasakan kembalinya kenangan itu.

    Rasakan saja ketika membaui aroma sama dengan aroma yang dulu sempat membuat kita melayang dan merasakan kehadiran sesosok. Penuhi semua paru-parumu dengan aroma yang tertinggal di udara, dan membuatmu ingat akan satu kenangan indah dengan seseorang atau ruangan yang beraroma sama. Nikmati kenangan indah yang datang hanya karena kalian melihat sosok itu melintas. Nikmati saat kalian memandang ayun langkah kakinya, senyumnya, cara memandangnya, cara berbicaranya, atau khas gelak tawanya.

    Syukuri dan rasakan mendapat berkah pada satu titik dalam kehidupanmu.
    Meskipun kalian tahu, pada saat ini tak akan dapat lagi menyentuhnya, atau bahkan saat dekat justru menjadi sangat berjarak dan terasa jauhnya.

    Syukuri saja semua itu tanpa pernah mengharap apapun.
    Jangan pernah mengharap lebih meski keinginan itu bagaikan pukulan bertalu talu, mendesak setiap senti otakmu. Menghajar setiap detak jantungmu, dan bahkan meledakkan setiap nadi dalam tubuhmu. Merobekmu dan mencampakkanmu seakan dirimu adalah satu hal yang tak berharga.

    Saat itu hati kalian akan mulai risau atas kesalahan atau kebodohan dulu. Saat itu datang, bilang saja pada diri kalian sendiri,"ah, rupanya kamu masih memikirkan itu. Silahkan berpikir sesukamu, masih ada urusan yang lebih penting lagi."

    Kembangkan rasa syukurmu, bahwa apapun itu, semanis apapun awalnya dan segetir apapun akhirnya, itu yang terbaik. Dan Tuhan masih membiarkan kalian menikmatinya walau sebentar........

    Hidup kalian akan terasa indahnya ketika bersabar atas kepedihan yang datang, dan ikhlas atas kehilangan. Meski kalian pun perlu tahu, kalau air mata pun pasti mengalir atas semua itu. Wajar, karena kita hanya manusia biasa.


    .

     
    Sunday, February 03, 2008

    sebait tanya sang mahluk pada NYA 

    KAU satu,
    mengapa ENGKAU mencintaiku dengan cara seperti ini.....





    Komet san
    .

     

    Seseorang yang terlambat datang........ 

    "Aku akan merapikan dasimu. Biarkan aku mencobanya......"

    Saat itu, sang gadis baru berusia 15 tahun, dan itu adalah kata-kata pertamanya, setelah dia merenggut keperawanannya. Dia sendiri -yang waktu itu berusia 39 tahun- belum berkata apa-apa. Tak ada kata yang dapat dia ucapkan.

    Dia memeluknya erat dengan penuh kelembutan, membelai rambutnya, tetapi dia tetap tak bisa mengucapkan kata sepatahpun. Gadis itu menatap wajah dia, dengan sepasang matanya basah dan bercahaya, tetapi bukan karena tangisan.

    Dia menghindari tatapan matanya, dan bahkan ketika dia mengecup sang gadis. Selekasnya mata sang gadis tetap terbuka sampai dia membuatnya terpejam dengan kecupan di bibirnya.

    Suaranya mengalun manis, ada denting kekanak-kanakan dalam nada suaranya, manakala gadis itu menawarkan diri untuk mengikat dasinya. Dia merasakan seperti gelombang pertolongan. Barangkali dia mencoba lari dari diri sendiri, daripada menunjukkan sikap memaafkan, tapi sang gadis mengikat dasi itu dengan lembut, meskipun agak kesusuhan dibuatnya.

    "Selesai sudah anak manja. Sempurna bukan?"

    Sedikit aneh,ketika bocah kecil berusia 15 tahun, menyebut anak manja pada dia yang 25 tahun lebih tua darinya. Dia bangkit menuju cermin. Ikatan dasi itu sungguh sempurna. Dia hampir tak dapat menatap diri sendiri setelah menyetubuhi gadis semuda itu. Dari cemin, dia menatap wajah sang gadis. Dia terkesiap oleh kesegarannya, kecantikan yang tegas, kecerdasan terpancar dari rona wajahnya.

    Dia berbalik ke arah sang gadis. Gadis itu menyentuh bahunya, mendekapkan wajahnya ke dadanya, dan berkata, "aku mencintaimu. Kamu ternyata tipe orang yang selalu khawatir dengan penilaian orang lain, benarkan? Kamu seharusnya lebih berani. Kamu harus lebih bisa menjadi diri sendiri."

    Dan dia berkaca pada diri sendiri untuk menjawab kekalahan ini. Lama setelah itu, kata-kata sang gadis masih terngiang di telinganya. Dia merasa ucapan itu lahir dari perasaan cinta, karenanya bocah kecil ini bisa melihat karakter dan kehidupannya. Dia mengenang sang gadis itu ketika dia mencurahkan kata-kata itu.*




    * Utsukushisa To Kanashimi To by Yashunari Kawabata