Gebyar perhelatan agung Java Jazz 2008 telah lewat dari pandangan.
Secara keseluruhan selama dua hari berturut-turut dari tiga hari konser yang sempat aku lihat, nampak banyak perubahan dan tambahan di sana sini. Memang lebih bagus dibandingkan sebelumnya tapi menurutku gebyar Java Jazz semakin lama hanya fokus pada muatan keuntungan bisnis semata. Lebih fokus pada sisi komersial dibandingkan dengan musik jazz itu sendiri.
Perubahan yang cukup menarik dan memang tepat untuk ditiru jika ada acara akbar seperti ini adanya pameran yang menyertakan UKM hasil kerjasama dari Departemen Perdagangan dan Kadin Indonesia.
Selain itu di 2008, penyelenggara mulai menyertakan lebih banyak pemain dalam negeri dibandingkan dari luar negeri. Tidak kurang mulai dari RAN, Yopie Item feat Ermy Kulit, Bhaskara 2008, Nial Djuliarso, dan jam session dari pemain kawakan Bubi Chen, Ireng Maulana, Benny Likumahuwa, dan Beni Mustafa menyemarakkan acara yang sempat dilihat oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta keluarganya.
Lebih dari itu, menurutku kekuatan Java Jazz 2008 ini lebih karena nilai jual dari The Manhattan Transfer dan Babyface. Jika dilihat lebih dalam lagi, meskipun Java Jazz 2008 sangat laku, tapi mulai meninggalkan ruh jazz. Mengapa? Para pecinta Jazz merasa Java Jazz tahun ini bergeser ke pop. Tidak lagi murni jazz. Sangat berbeda dan jelas melenceng jauh dengan logo 'Thanks God it's Jazz' yang dicap tebal pada tas yang dijual di tempat penjualan sovenir.
Aliaran jazz yang asli justru sangat kurang di tampilkan di sini. Jenis musik di luar jazz seperti hip hop, R&B, pop justru mendapatkan porsi lebih besar dibandingkan jazz itu sendiri. Bagaimana penyanyi sekelas Dewi Sandra bisa mendapatkan panggung sedemikian besar sementara Bubi Chen dan virtuoso seperti Ireng Maulana, Jopie Item hanya mendapatkan panggung kecil plus secara teknis terganggu suara brebet brebet yang keluar dari sound system segede gambreng, yang katanya harganya mencapai ratusan juta rupiah.
Yang lebih memprihatinkan dari Java Jazz 2008 sekarang ini adalah para panitia lebih banyak menaruh perhatian pada penyanyi luar dibandingkan artis dalam negeri. Kasus yang menurutku memalukan dan berat justru terjadi pada pemain jazz kawakan berusia 70 tahun, Bubi Chen. Dimana beliau harus menanggung sendiri biaya pesawat dari Semarang ke Jakarta, hanya karena alasan panitia hanya mau menanggung tiket pesawat jika beliau terbang dari Surakarta menuju Jakarta hanya karena pesawat yang disediakan sponsor hanya terbang dari Surakarta. Alasan yang bodoh tentu saja.
Ditambah lagi beliau hanya diberikan satu kamar hotel, sementara kru yang membawa beliau -yang sekarang ini duduk di atas kursi roda- kebingungan harus menginap di mana. Bayangkan, pemain jazz senior yang kemampuannya dapat disejajarkan dengan Wynton Marsalis, Louise Amstrong, mendapatkan perlakuan yang sungguh tidak pada tempatnya oleh panitia. Padahal beliau sendiri tak pernah absen dari Java Jazz dari sejak pertama digelar. "Panitia tidak nguwongke [mengorangkan] kami para inlander. Setiap tahun [penyelenggaraan] makin nggak nggenah [tidak jelas]," keluhnya.
The Manhattan Transfer yang menjadi daya tarik dari Java Jazz 2008 -meski tentunya kalah pamor dari Babyface- hanya menarik hati para pandemen jazz generasi jadul. Dari sisi olah vokal, memang jam terbang menyelamatkan mereka dan berhasil mengangkat pesona yang tersisa di masa senja. Kalau dilihat dari power suara, jelas mereka sudah keteteran. Berapa kali suara merdu Cheryl Bentyne, Tim hauser, Janis Siegel, dan Alan Paul tenggelam ditelan musik pengiring.
Mengenai Babyface, tak banyak komentar yang ingin aku sampaikan selain, " so...so...so... pop. Average."
Well, hal yang menarik hati adalah penampilan Tetsuo Sakurai, basis jebolan anggota Casiopea, dan Jimsaku. Permainannya keren abeessss. Dibandingkan dengan penampilannya pada Jakjazz kemarin, Tetsuo tampil lebih all out di Javajazz ini.
Satu hal yang tak kalah keren adalah melihat penampilan Ermy Kulit bersama Jopie Item -ayah kandung Audi-. Meskipun tempat yang disediakan panitia di Kasuari room terbilang sempit, dengung peralatan yang tidak maksimal, tapi penyanyi kawakan ini tetap enak saja membawakan dua lagu dari rencana sembilan lagu yang akan ditampilkan. Tentu saja alasannya karena keterbatasan waktu.
Vokal suara, power yang dimiliki Ermy tidak jauh berubah, bahkan terdengar lebih jernih. Kemampuannya beraudiensi dengan penonton dan membuat penonton yang membludak bernyanyi bersamanya merupakan satu bukti bahwa penyanyi dalam negeri masih diakui di negeri sendiri.
Otre, secara keseluruhan Java Jazz ini lebih menarik dibanding 2007, meski ada penampilan berulang kali dari Inqocnito yang mulai membosankan. Sekaligus munculnya Dewi Sandra yang jelas-jelas tidak masuk dalam perhitungan Jazz.
Anyway Jazz is about a feeling.
Light it up, and feel the taste of Jazz..