<body bgcolor=white text=black link=black vlink=black alink=black marginwidth=0 marginheight=0 topmargin=0 leftmargin=0 rightmargin=0 bottommargin=0>
You can not blame my emotion because it will never fade away. I do not care about bad affinity. Its about me. Myself........


Visitor: hits.
Visitor online: online


These days the world's events are strange. They say this and they say that. There is no point arguning. I am better off dozing.....


NEWS
→Herald Tribune
→New York Post
→Washington Post
→Tempo
→Bisnis Indonesia
→Kompas
→Pantau
→MinergyNews
→Platts


DJOGJA's NEWS
→Kabare Jogja
→Gudang Info tt Yogya
→Angkringan
→Jawa Palace
→Primbon Jawa
→Sastra


JAZZ NEWS
→Horizon
→GRP
→Warta Jazz
→Jazz FM
→Dave Koz
→Fourplay
→Lee Ritenour



FILEs

  • January 2004
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • August 2005
  • September 2005
  • October 2005
  • November 2005
  • December 2005
  • January 2006
  • February 2006
  • March 2006
  • May 2006
  • June 2006
  • July 2006
  • August 2006
  • September 2006
  • October 2006
  • November 2006
  • December 2006
  • January 2007
  • March 2007
  • April 2007
  • May 2007
  • July 2007
  • August 2007
  • September 2007
  • October 2007
  • November 2007
  • December 2007
  • January 2008
  • February 2008
  • March 2008
  • April 2008
  • May 2008
  • June 2008
  • July 2008
  • August 2008
  • September 2008
  • October 2008
  • November 2008

































  •    
    Angin Savana
     
    Saturday, March 22, 2008

    menjadi SEMELEH SELEH di titik NOL 

    Aku tak pernah ingin menyerah,
    tapi aku tahu saat untuk pasrah

    Apakah masih berarti kalau aku kalah?......


    (menahan emosi sangat sulit. belajar menahan diri sangat sukar. tapi itulah hakikat sabar)


    =========


    Setelah hampir dua bulan di Mt Elizabeth Hospital, sekarang ibuku menambah record nya mondok lagi di rumah sakit. Kali ini penguasa tunggal ndalem Ngayogjokarto Hadiningrat itu pasrah untuk dipindahkan ke International Heart Institute di
    Kuala Lumpur Malaysia, setelah sejumlah argumen logis sampai realistis dikemukakan. Alasan untuk membawa beliau ke Malaysia karena RS di situ terkenal bagus, jauh dari malpraktek, dan murah dibandingkan Singapura, apalagi Jakarta tentunya.

    Sebenarnya aku tidak ingin melihat beliau masuk lagi ke rumah sakit. Hampir separuh hidup orang tuaku satu-satunya ini dilewatkan dengan sejumlah agenda medis, mulai dari check up, puasa, rontegn dsb...dsb.... Di usianya yang menjelang senja ini aku ingin beliau lebih fokus menikmati hidupnya di rumah adiknya di Batu, Malang. Tak jarang aku selalu melihat miris pada saat memandang wajah beliau saat tidur. Wajahnya yang mulai tirus, keriput di sana sini, nafas yang terkadang tersengal-
    sengal.

    Satu hal yang membuatku semakin sedih sampai saat ini aku belum dapat memenuhi keinginan beliau. Namun namanya hidup, seringkali kenyataan selalu berbanding terbalik dengan keinginan. Aku tahu itu, dan beliau juga tahu pasti itu. Toh, kalimat
    itu juga aku dapatkan dari beliau sendiri. Satu hal yang menjadi pikiranku saat ini adalah kalimat beliau sebelum aku pulang ke Jakarta.

    "Kowe kudu mulai noto uripmu. Urip ki sedhelo, wektu ki cepet, ojo nganti kowe gelo tiba mburine nduk. Nek kowe
    wis milih, ojo nganti mbok gelani pilihanmu. Sak jatine urip ki mung nglakoni kanti pasrah lan sabar. Nek kowe lagi ngrekoso, kowe kudu ikhlas, ning nek kowe lagi seneng, ojo nganti lali ngucap syukur yo."


    [Kamu harus mulai menata hidupmu. Hidup itu sebentar, waktu cepat berlalu. Jangan sampai kamu menyesal nantinya nak. Jika kamu sudah menentukan pilihan atas sesuatu, jangan pernah menyesalinya. Sebenarnya hidup itu hanya menjalani dengan pasrah
    dan sabar. Jika kamu sedang susah, kamu harus ikhlas, tapi jika sedang diberikan kesenangan, jangan pernah lupa bersyukur ya.]


    Selama ini aku dikenal sebagai anaknya bapak. Aku mewarisi fisik, sikap egaliter dan semua hal yang bersifat membumi beliau. Sementara dari sisi emosi yang meledak-ledak plus memiliki gengsi yang besar, aku dikenal menuruni sifat ibu. Kedua orang
    tuaku itu memang memiliki sifat yang bertolak belakang, tapi itu yang menyatukan mereka. Dan dua sifat yang bertolak belakang itu yang membuatku bertahan hidup hingga saat ini. Satu hal yang membuatku terus bertahan ditengah ketidaknyamanan adalah
    keyakinan jika aku jatuh, tidak hanya aku saja yang jatuh, tapi ibuku akan jatuh juga.

    Yep, mungkin di tengah sakit beliau itu, beliau tetap melihatku sebagai anak kecil yang berapa puluh tahun lalu ditimang-timangnya dengan gemas. Sekarang beliau melihat aku masih berdiri di satu titik yang belum beranjak naik selama enam tahun
    ini. Karena kebodohanku, aku memang belum beranjak kemana-mana. Sesal memang selalu datang belakangan, tapi tidak ada kata terlambat.

    Aku pasti dapat melewatinya, karena Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kekuatan mahluknya. Aku pasti bisa, selama ini aku berhasil. Tidak ada hal yang mustahil di dunia yang makin menua dan lelah ini. Jika di usiaku sekarang ini, aku
    harus mulai dari titik nol lagi, aku pasrah, dan menjalaninya dengan ikhlas. Pasti semua ini akan berlalu juga.

    Seorang teman pernah bilang padaku, "Va, jika kamu merasa tidak nyaman, maka dengan sumber daya yang kamu miliki, kamu bisa pergi dan menciptakan kenyamanan dengan apa yang kamu miliki. Tapi jika kamu tidak memiliki apapun, maka kamu harus bisa
    membuat kenyamanan ditengah ketidak nyamanan itu,
    hingga pada akhirnya sumber daya itu yang akan datang menghampirimu."

    Hmmmmmm........ hidup ini indah, dan selama ini aku selalu melewatkan keindahan itu.
    Di titik NOL ini aku mulai belajar lagi, dan semoga jalan itu terbuka sehingga semua ini berlalu tanpa terasa. Amien.

    .

     
    Thursday, March 13, 2008

    FIN 

    You give me something that makes me scared alright
    This could be nothing but I'm willing to give it a try

    I never thought that I'd like someone that was someone else's dream......*




    [finally FIN]


    -James Morisson's song-

    .

     
    Monday, March 10, 2008

    Java Jazz 2008 dan Kasus Bubi Chen 

    Gebyar perhelatan agung Java Jazz 2008 telah lewat dari pandangan.
    Secara keseluruhan selama dua hari berturut-turut dari tiga hari konser yang sempat aku lihat, nampak banyak perubahan dan tambahan di sana sini. Memang lebih bagus dibandingkan sebelumnya tapi menurutku gebyar Java Jazz semakin lama hanya fokus pada muatan keuntungan bisnis semata. Lebih fokus pada sisi komersial dibandingkan dengan musik jazz itu sendiri.

    Perubahan yang cukup menarik dan memang tepat untuk ditiru jika ada acara akbar seperti ini adanya pameran yang menyertakan UKM hasil kerjasama dari Departemen Perdagangan dan Kadin Indonesia.

    Selain itu di 2008, penyelenggara mulai menyertakan lebih banyak pemain dalam negeri dibandingkan dari luar negeri. Tidak kurang mulai dari RAN, Yopie Item feat Ermy Kulit, Bhaskara 2008, Nial Djuliarso, dan jam session dari pemain kawakan Bubi Chen, Ireng Maulana, Benny Likumahuwa, dan Beni Mustafa menyemarakkan acara yang sempat dilihat oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta keluarganya.

    Lebih dari itu, menurutku kekuatan Java Jazz 2008 ini lebih karena nilai jual dari The Manhattan Transfer dan Babyface. Jika dilihat lebih dalam lagi, meskipun Java Jazz 2008 sangat laku, tapi mulai meninggalkan ruh jazz. Mengapa? Para pecinta Jazz merasa Java Jazz tahun ini bergeser ke pop. Tidak lagi murni jazz. Sangat berbeda dan jelas melenceng jauh dengan logo 'Thanks God it's Jazz' yang dicap tebal pada tas yang dijual di tempat penjualan sovenir.

    Aliaran jazz yang asli justru sangat kurang di tampilkan di sini. Jenis musik di luar jazz seperti hip hop, R&B, pop justru mendapatkan porsi lebih besar dibandingkan jazz itu sendiri. Bagaimana penyanyi sekelas Dewi Sandra bisa mendapatkan panggung sedemikian besar sementara Bubi Chen dan virtuoso seperti Ireng Maulana, Jopie Item hanya mendapatkan panggung kecil plus secara teknis terganggu suara brebet brebet yang keluar dari sound system segede gambreng, yang katanya harganya mencapai ratusan juta rupiah.

    Yang lebih memprihatinkan dari Java Jazz 2008 sekarang ini adalah para panitia lebih banyak menaruh perhatian pada penyanyi luar dibandingkan artis dalam negeri. Kasus yang menurutku memalukan dan berat justru terjadi pada pemain jazz kawakan berusia 70 tahun, Bubi Chen. Dimana beliau harus menanggung sendiri biaya pesawat dari Semarang ke Jakarta, hanya karena alasan panitia hanya mau menanggung tiket pesawat jika beliau terbang dari Surakarta menuju Jakarta hanya karena pesawat yang disediakan sponsor hanya terbang dari Surakarta. Alasan yang bodoh tentu saja.

    Ditambah lagi beliau hanya diberikan satu kamar hotel, sementara kru yang membawa beliau -yang sekarang ini duduk di atas kursi roda- kebingungan harus menginap di mana. Bayangkan, pemain jazz senior yang kemampuannya dapat disejajarkan dengan Wynton Marsalis, Louise Amstrong, mendapatkan perlakuan yang sungguh tidak pada tempatnya oleh panitia. Padahal beliau sendiri tak pernah absen dari Java Jazz dari sejak pertama digelar. "Panitia tidak nguwongke [mengorangkan] kami para inlander. Setiap tahun [penyelenggaraan] makin nggak nggenah [tidak jelas]," keluhnya.

    The Manhattan Transfer yang menjadi daya tarik dari Java Jazz 2008 -meski tentunya kalah pamor dari Babyface- hanya menarik hati para pandemen jazz generasi jadul. Dari sisi olah vokal, memang jam terbang menyelamatkan mereka dan berhasil mengangkat pesona yang tersisa di masa senja. Kalau dilihat dari power suara, jelas mereka sudah keteteran. Berapa kali suara merdu Cheryl Bentyne, Tim hauser, Janis Siegel, dan Alan Paul tenggelam ditelan musik pengiring.

    Mengenai Babyface, tak banyak komentar yang ingin aku sampaikan selain, " so...so...so... pop. Average."

    Well, hal yang menarik hati adalah penampilan Tetsuo Sakurai, basis jebolan anggota Casiopea, dan Jimsaku. Permainannya keren abeessss. Dibandingkan dengan penampilannya pada Jakjazz kemarin, Tetsuo tampil lebih all out di Javajazz ini.
    Satu hal yang tak kalah keren adalah melihat penampilan Ermy Kulit bersama Jopie Item -ayah kandung Audi-. Meskipun tempat yang disediakan panitia di Kasuari room terbilang sempit, dengung peralatan yang tidak maksimal, tapi penyanyi kawakan ini tetap enak saja membawakan dua lagu dari rencana sembilan lagu yang akan ditampilkan. Tentu saja alasannya karena keterbatasan waktu.

    Vokal suara, power yang dimiliki Ermy tidak jauh berubah, bahkan terdengar lebih jernih. Kemampuannya beraudiensi dengan penonton dan membuat penonton yang membludak bernyanyi bersamanya merupakan satu bukti bahwa penyanyi dalam negeri masih diakui di negeri sendiri.

    Otre, secara keseluruhan Java Jazz ini lebih menarik dibanding 2007, meski ada penampilan berulang kali dari Inqocnito yang mulai membosankan. Sekaligus munculnya Dewi Sandra yang jelas-jelas tidak masuk dalam perhitungan Jazz.

    Anyway Jazz is about a feeling.
    Light it up, and feel the taste of Jazz.



    .

     
    Sunday, March 09, 2008

    My Tarot's Symbol 


    You are The Empress


    Beauty, happiness, pleasure, success, luxury, dissipation.


    The Empress is associated with Venus, the feminine planet, so it represents,
    beauty, charm, pleasure, luxury, and delight. You may be good at home
    decorating, art or anything to do with making things beautiful.


    The Empress is a creator, be it creation of life, of romance, of art or business. While the Magician is the primal spark, the idea made real, and the High Priestess is the one who gives the idea a form, the Empress is the womb where it gestates and grows till it is ready to be born. This is why her symbol is Venus, goddess of beautiful things as well as love. Even so, the Empress is more Demeter, goddess of abundance, then sensual Venus. She is the giver of Earthly gifts, yet at the same time, she can, in anger withhold, as Demeter did when her daughter, Persephone, was kidnapped. In fury and grief, she kept the Earth barren till her child was returned to her.


    What Tarot Card are You?
    Take the Test to Find Out.








    P.S. ANTARA PERCAYA DAN GAK NIH, TAPI EMANG BANYAK BENERNYA SIH???? ^_^
    (ngutip dari blonya ROI. Thx bro' )


    .