Dulu, gw termasuk jadi orang yang sempat ikut arus romantisme dan melankolis ala sinetron tanah air yang sebagian besar sangat minim edukasi itu. Setiap saat ada perpisahan, entah sohib yang kebetulan sesama kantor mendadak resign, teman yang akan menetap di luar negeri untuk bertugas atau melanjutkan pendidikan, atau teman serumah yang pindahan entah karena sudah punya rumah sendiri atau pengen pindah, terasa di satu sisi hati ada perasaan berat melepaskan mereka.
Seorang teman yang dulu pernah dekat bilang, "kenapa harus berat, mereka sudah memilih jalannya masing-masing. Apakah itu mereka atau kamu, itu hanya masalah waktu. Perpisahan adalah hal yang biasa, entah pertemanan, ataupun hubungan pribadi sekalipun."
Gw sangat menerima argumen teman yang dulu pernah dekat itu, meski -seperti yang kubilang tadi- satu sisi masih tersisa rasa sok melow plus menyek-menyek ala sinetron. Tapi sekarang setelah beberapa lama, gw merasa perkataan itu benar adanya. Plus, saat melintas di toko buku pasar festival tadi siang, mataku sempat membaca tulisan di satu majalah, bunyinya "Out of sight out of mind".
Yep, judul segede bagong yang menjadi lapsus (laporan khusus) majalah hiburan itu, sangat tepat.
Gw punya banyak contoh nyata untuk membenarkan "Out of sight out of mind" itu......
satu, temen sekos....
setelah dulu gw memutuskan untuk tidak menetap di rumah Manggarai bersama abang (alm), gw mulai jadi anak kos. Tempat kos pertama kali berada tak jauh dari kantor. Tempat kos itu sangat murah dan nyaman, dengan lima orang teman kos yang berasal dari berbagai suku. Kami berenam sangat kompak dalam segala hal, dan akhirnya gw sangat dekat dengan seseorang yang bernama sebut saja Nana -gw lupa namanya-. Satu ketika dia memutuskan untuk pindah ke Pancoran ke rumah kontrakan karena alasan suaminya yang datang dari Semarang tidak perlu tidur di hotel jika berkunjung. Alasan itu, plus ngirit ongkos menjadi pertimbangan dia pindah.
Saat mengantarkannya pindahan, dan perpisahan terjadi menjadi berat. Waktu itu aku merasa bahwa tidak akan ada lagi teman se kos yang sebaik dia. Begitu ngerti meski gw anak bawang yang baru merasakan hidup nge kos. Selama beberapa saat gw masih suka mengunjungi dia di rumah kontrakannya di pancoran itu. Tapi lama-lama kunjungan itu berkurang dan akhirnya saling telpon pun tak pernah. Dia tak pernah menghubungi gw, begitupula sebaliknya. Hingga saat ini, sudah hampir empat tahun tak terdengar kabar lagi tentang dirinya.
kedua, temen kerja....
dulu gw bersahabat dengan teman sekantor. Kegiatan yang sangat asyik dilakukan bersama, dari hang out, makan, atau mencoba hal-hal baru. Satu ketika dia memutuskan untuk resign dari kantor. Sekali lagi ada perasaan miris. Sekali lagi gw merasa kehilangan, dan takut merasa kehilangan waktu bersama. Ketika dia berada di tempat baru, masih dia sering menghubungi gw atau jalan bareng dengan anak-anak lain. Tapi lama-lama sangat jarang kontak, dan main bareng sudah menjadi hal yang sangat sulit. Sekali kontak, pasti itupun dia lakukan bukan karena menyapa menanyakan kabar atau apapun yang bersifat personal, tapi langsung pada pokok permasalahan menanyakan ini itu yang berhubungan dengan pekerjaan dia yang dia tak tahu makanya baru menghubungi gw. Blas, gak ada basa-basinya sedikit pun. Hubungan persahabatan akhirnya berubah menjadi hubungan pertemanan itupun bila ada kepentingan.
ketiga, teman hang out
Dulu gw punya pasukan yang kemanapun pergi selalu bersama. Entah itu makan bareng, nonton pertunjukan, atau jalan bareng ke mall atau sekedar berpetualangan gak jelas. Hampir dua tahun ini, pasukan dimana gw dulu hang out mulai berpencaran kemana-mana.
Gw masih dengar anggota pasukan ini jalan bareng atau tetap melakukan hal yang dulu pernah kami lakukan. Perbedaannya sekarang adalah.... minus gw.
Alasan klise pernah gw dengar dari salah satu personilnya.... "lu kan sibuk Va, jadi ketika kami jalan kan gak enak untuk mengganggumu." Alasan klise yang sebenarnya tak masuk akal gw sama sekali.
Ada satu hal yang sebenarnya justru akan gw terima jika mereka bilang begini, "kamu sukanya kan pulang cepat, sok kadang pertunjukkan belum bubar tapi udah pengen pulang." Atau mungkin akan lebih masuk ke logika gw ketika mereka mengusung alasan yang lebih bagus dan tepat seperti dulu teman gw pernah bilang itu langsung ke gw, "lu kan sekarang sudah gak pake mobil Va, jadi ngapain kita ngajak kamu kalo toh akhirnya hanya pake taxi."
Well, life is always change isn't??? He he he he he........ (kualitas personal pada akhirnya berpengaruh pada kualitas pertemanan pula)
Kayaknya tiga contoh itu sudah membuktikan kebenaran kalimat OUT OF SIGHT OUT OF MIND itu. Benar, semua orang berubah, semua orang pada akhirnya akan memprioritaskan kepentingan sendiri, apalagi kalau sudah berkeluarga, harus memenuhi kebutuhan sendiri, ada yang harus fokus tidak hanya diri sendiri, teman itu ya teman beda dengan keluarga, coba kalau kerjaan gak beres pasti akan dinilai gak perform kan kasihan keluarganya dan bla... bla.... bla...bla... bla... bla... preettt.... prottt.... preeetttt........
Ok, pada akhirnya orang akan selalu mementingkan keluarganya, lebih tepatnya keluarga inti. Teman hanya sekedar pembantu yang sesekali, seduakali, atau setigakali, mentok seempatkali membantu. Setelah itu, ya sudah hilang dilupakan demi kalimat....... memenuhi kebutuhan keluarga.
Tapi kenapa analog-analog ini menjadi begitu berubah, ketika gw melakukan hal yang sama. Contoh, gw mattin handphone untuk konsentrasi merawat nyokap gw yang sakit, kayaknya seluruh dunia komplain kenapa tak bisa dihubungi. Ketika gw diam dan konsen utk menyelesaikan masalah gw, semua orang merasa ribut karena gw gak curhat ke mereka. Ketika gw pengen menghabiskan waktu sendiri, hampir seluruh planet ini heboh, kenapa gw yang periang jadi mendadak diam.
Fieeewwwww............ betapa terkenalnya gw. Seperti gw mendadak perlu memberikan komentar seperti pejabat publik atau selebritas kondang yang harus setiap saat klarifikasi setiap detik aktifitasnya karena label MILIK PUBLIK sudah menempel di jidatnya.
OUT OF SIGHT OUT OF MIND........ setelah beberapa masalah yang menimpa gw, pada akhirnya gw menerapkan hal itu ke diri gw sendiri. Dengan berpegangan pada keyakinan bahwa TIDAK ADA ORANG LAIN YANG DAPAT MENYELESAIKAN MASALAHMU KECUALI DIRIMU SENDIRI. Ketika kita berbuat baik pada orang lain, jangan pernah mengharapkan orang yang sama akan berbuat baik padamu, tapi justru orang lain yang tidak pernah kau sangka justru akan menolongmu.
Gw pernah ngobrol dengan seorang sahabat dekat ketika dalam sekali dua kali kesempatan kami hang out bareng. Dia bilang gini, "Va, gw udah gak berminat untuk nambah teman lagi. Gw punya banyak temen meski tak sebanyak lu, tapi teman gw itu sudah gw kotak-kotakan. Teman ini, itu... masuk kotak teman hang out, teman itu ini... masuk kotak teman kerja, teman ini, itu.... masuk kotak teman luar kantor, dan satu, dua, tiga, empat,.... masuk ke kotak privacy."
"Dengan bertambahnya umur, pada akhirnya teman-teman atau kenalan kita akan terseleksi dan kita masukkan pada kotak yang tepat. Kita akan sortir sendiri, dan khusus untuk kotak privacy, dari ribuan orang yg kamu kenal Va, paling hanya masuk maksimal empat orang. Dan itulah yg akrab kamu sebut sahabat dalam arti sebenarnya."
"Satu lagi, jangan pernah kamu berteman dengan orang-orang yang justru menghabiskan energimu. Jangan kau temani orang-orang yang selalu bilang TAK MUNGKIN KAMU BISA. Karena mereka itulah yang punya andil besar dalam kehancuranmu. Seperti kamu bilang padaku.... TIDAK ADA YANG TAK MUNGKIN DI DUNIA INI."
Yep, itulah nasehat yang sampai sekarang masih gw pegang.
Dan keyakinan itulah yang membuat gw berjalan sesuai dengan prinsip gw sekarang. Jika gw dianggap aneh dan berubah, yah terserah orang sajalah menilai. Toh, gw juga tidak hidup dari pandangan orang. Orang toh tidak akan ngasih gw makan dari pandangan mereka.
Hidup ini terkadang aneh memang. Tapi jangan lupa, bahwa sejatinya manusia ini hanya boneka Tuhan yang pada akhirnya akan teronggok lemah tersimpan dalam kotak boneka yang gelap usai pertunjukan.
.