Aku tak akan pernah punya rasa takut padamu,
tapi rasa itu justru membuatku takut.
Semua orang bisa meledak marah,
tapi tak semua orang dapat mengendalikan marah itu sendiri.
=======
Katanya, marah itu jangan sampai dipendam, karena saat meledak bahaya akibatnya.
Marah adalah salah satu bentuk emosi yang sangat manusiawi karena semua orang pasti akan merasakan. Penyebab marah sangat beragam, mulai dari hal yang remeh hingga masalah yang menyangkut harga diri.
Kalimat sederhana yang tak tertangkap jelas makna pesannya dapat membuat orang menjadi marah. Orang saling sikut-sikutan untuk mendapatkan tempat duduk dalam bus bisa memicu kemarahan. Orang buang sampah sembarangan bisa bikin marah. Orang batal beli duku sekilo di pasar induk pun dapat meledakkan rasa marah yang tak berkesudahan.
Sampai saat ini aku sedang belajar untuk mengendalikan rasa emosionalku yang tiba-tiba saja meledak tak tentu arah.
Gimana ya caranya?
Kalimat itu yang seringkali terlontak atau sekilas lewat di pikiranku.
Belakangan ini tak hanya sekali dua kali aku berhadapan dengan hal-hal yang membuatku ingin meledakkan amarah. Ketika ngantri, ketika sambungan internet lelet bin lemot, ketika ngobrol sama orang yang tak kunjung ngerti, saat bos begitu ngeyel dan gak ngerti kondisi di lapangan, saat teman sekerja berprilaku seenaknya sendiri,.... begitu banyak saat dan ketika.
HUH.......Begitu besar ledakan marah yang ingin keluar saat melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya atau hal yang paling tepat saat di dzolimi. Tapi apa daya, aku begitu susah mengeluarkan amarah itu. Rasa marah itu membuat isi kepala dan dadaku memanas tapi tak sanggup aku mengeluarkannya dalam bentuk kemarahan yang nyata.
Dalam frame otakku secara otomatis mengeluarkan sinyal ketika marahku sudah sampai ke ubun-ubun. Sinyal yang mengatakan.............. "Sava, marah itu gak ada gunanya. Jadi ribet dan capek sendiri. Hal kecil2 itu tak pantas menghabiskan volume energi dan otakmu."
Akhirnya akupun mengeluarkan jurus kesabaran tingkat tinggiku untuk menurunkan kadar marah yang menggelegak itu. Jika penyebab marahku masih ringan, paling hanya ngomel. Jika kadar marahku menengah sampai tingkat tinggi, aku akan menepisnya dengan bercanda, tertawa-tawa dengan teman2. Jika memang tak lagi mood, aku bisa dengan gampangnya meninggalkan satu acara atau mendadak pamit pulang hanya karena khawatir amarahku meledak pada orang yang salah. (YANG SATU INI MEMBUATKU MENDAPAT CAP MAHLUK PALING ANGIN-ANGINAN, DAN TAK GAMPANG DITEBAK KEINGINANNYA).
Sungguh satu kamuflase yang tak sehat betul.
Ketika aku mencapai puncak kemarahan yang sesungguhnya, aku hanya bisa diam. Paling banter hanya air mukaku yang mendadak berubah memancarkan wajah tak suka [bete abis], atau raut muka memerah padam. Sungguh pun rasa hati ingin memaki-maki orang yang kebangetan biadab prilakunya atas diriku, benar2 tak mampu kulakukan.
Satu saat aku pernah marah betul, dan akibatnya tv di rumah ancur berkeping-keping. Itu saat yang justru membuatku tercengang dan tak kusangka betapa aku bisa berubah menjadi distruktif.
Emosiku -amarah- nyaris sama dengan mesin diesel. Lama panasnya.
Sekali marah, momentnya sudah lewat, jadi keliatan tambah ngaco.
Satu hal yang kudapat dari pelajaran marah.
Marah itu capek.
Marah itu kesel.
Marah itu menghabiskan lebih dari 50% energi yang kita miliki.
Energi yang semakin sedikit dicadangkan dalam diri sendiri.
Energi yang susah payah dikumpulkan sejalan dengan semakin bertambahnya usia kita.
Aku takut semakin lama kondisi ini jadi semakin tidak terkendali.
Akar masalah dan semuanya menjadi semakin tak jelas. Sangat memusingkan dan membuat gamang. Sesaat aku menjadi semakin takut untuk melakukan sesuatu dan justru berujung meragukan kemampuan diri sendiri.
Well some point I've been thinking to moving out or kinda something.
Perhaps its time. Its been awhile I am living on the comfort zone.
Something that haven't made any differences anymore.
Day to day everything rolling and moving exactly the same.
Not seen any challange but blady silly stupid competition.
Not worthed.
Boring indeed!!!!! Akhir-akhir ini aku merasa menemukan banyak hal yang tidak pada tempatnya.
Hal kecil yang justru memicuku untuk meledakkan amarah. Yang paling sering aku rasakan sekarang adalah satu rasa bahwa apa yang kukerjakan dengan sepenuh hati tidak mendapatkan penghargaan yang semestinya.
Penghargaan tidak dalam bentuk materi, tapi berbentuk pengakuan aku itu
ada, dan diakui hasil kerjaku. Rasa terima kasih dan kalimat well done itu sudah menjadi satu hal yang sangat besar efeknya dibandingkan sikut-sikutan hanya mendapatkan jatah bonus prestasi yang semakin tak signifikan efeknya.
Saat ini aku merasakan NOL besar untuk itu.
Satu sisi aku ingin berontak karena ketakutan bahwa aku akan dicap tidak
perform karena tidak terlalu berkilau seperti dulu.
Padahal aku sudah hampir setengah mati dan setengah hidup untuk melakukan sesuatu, tapi tak pernah dilihat. Justru saat aku pontang panting ke lapangan nyari laporan, disangka gak kerja dan hanya main2. Tapi justru yang datang siang ke kantor, dan telpon sana sini, kerjaannya dinilai bagus.
Sungguh fenomena yang membuatku berulang kali menggaruk garuk kepala yang pastinya tidak gatal.
Satu resep yag seringkali diusung oleh banyak orang saat merasa tak dihargai atau diperdulikan orang............ BERPIKIR POSITIF.
Hmmmmmmmmm....... satu kalimat yang menurutku ampuh tapi juga banci. Kalimat pamungkas para motivator untuk menenangkan atau menambah daftar nama klien yang ingin mendapatkan petuah-petuah semu untuk sekedar lari sebentar dari masalah yang datang.
Kalimat motivasi yang tak ubahnya seperti candu yang sesaat melenakan orang.
Sesaat orang merasa termotivasi.
Orang yang terancam digugat cerai,
jadi seakan-akan gak jadi cerai, padahal besok pagi tetap harus datang menghadapi persidangan cerai.
Orang yang terbelit utang,
seperti punya uang bermiliar-miliar,
padahal besok tetap harus bayar utang yang duitnya gak kebayang dari mana.
Orang yang dikeluarkan dari pekerjaan,
mendadak merasa menjadi pemilik perusahaan,
padahal besok dia tetap harus hengkang dari kantor.
Orang yang kelaparan,
seakan-akan kekenyangan seperti baru makan tujuh hari tujuh malam,
padahal perut masih melilit-lilit.
Motivasi..... motivasi itu paling ampuh kalau datang dari diri sendiri, dan bukan dari orang lain. Orang lain hanya contoh, tapi yang membuat perubahan dan keinginan berubah itu tetap harus datang dari diri.
Sekarang ini ingin rasanya aku meluapkan rasa kesal dan amarah yang membuat sesak dada hingga plong habis tak tersisa.
Tapi -sekali lagi- lha gimana caranya.
Sekali aku berpikir keras untuk menemukan sumber amarahku, justru kondisiku jadi makin tak karuan juntrungannya. Payah betul.
Apa yang terjadi?
Kenapa bisa begini?
Ah jadi seperti acara Tebak Tepat tingkat SD di masa jaya-jayanya TVRI dulu.
Satu yang pasti, aku harus berubah.
Berubah menjadi baik tentunya.
-Thx Lou-
.