<body bgcolor=white text=black link=black vlink=black alink=black marginwidth=0 marginheight=0 topmargin=0 leftmargin=0 rightmargin=0 bottommargin=0>
You can not blame my emotion because it will never fade away. I do not care about bad affinity. Its about me. Myself........


Visitor: hits.
Visitor online: online


These days the world's events are strange. They say this and they say that. There is no point arguning. I am better off dozing.....


NEWS
→Herald Tribune
→New York Post
→Washington Post
→Tempo
→Bisnis Indonesia
→Kompas
→Pantau
→MinergyNews
→Platts


DJOGJA's NEWS
→Kabare Jogja
→Gudang Info tt Yogya
→Angkringan
→Jawa Palace
→Primbon Jawa
→Sastra


JAZZ NEWS
→Horizon
→GRP
→Warta Jazz
→Jazz FM
→Dave Koz
→Fourplay
→Lee Ritenour



FILEs

  • January 2004
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • August 2005
  • September 2005
  • October 2005
  • November 2005
  • December 2005
  • January 2006
  • February 2006
  • March 2006
  • May 2006
  • June 2006
  • July 2006
  • August 2006
  • September 2006
  • October 2006
  • November 2006
  • December 2006
  • January 2007
  • March 2007
  • April 2007
  • May 2007
  • July 2007
  • August 2007
  • September 2007
  • October 2007
  • November 2007
  • December 2007
  • January 2008
  • February 2008
  • March 2008
  • April 2008
  • May 2008
  • June 2008
  • July 2008
  • August 2008
  • September 2008
  • October 2008
  • November 2008

































  •    
    Angin Savana
     
    Sunday, August 31, 2008

    The art of Feeling 

    Dunia akan mengikuti perasaan.
    Turuti kata hati, jangan pakai logika, dan kepentingan.
    Hanya dengan perasaan thok.
    Orang yang logis, suatu saat akan bosan dengan kelogisannya dan kembali pakai perasaan.
    Kalau pancaran perasaan itu kuat, maka akan tertangkap dan terbalas.


    Do you dare to do that?
    What kind mechanism to do that? Halah....

    =============

    mungkin memang sudah tak lagi bisa diteruskan. dimulaipun tidak. menjadi sesuatu yang baru meski dalam kemasan lama sepertinya tak jelek juga. yang penting memang ada satu keinginan untuk berubah menjadi baik. semuanya hanya perlu dipikirkan jalan keluarnya dan mungkin juga nanti malah akan menjadi baik. kalau sekarang belum diberi berarti memang masih mungkin untuk bertahan, meski secara logika sudah tak lagi bisa.

    apakah ini menunda, atau hanya sekedar mencari pembenaraan atas ketidak mungkinan?
    mungkin juga tapi tetap di semua sisi logis ada satu hal yang lebih besar.

    apakah aku masih percaya dengan keajaiban seperti waktu aku masih berusia 5 tahun?
    ya, aku masih percaya adanya keajaiban meski saat ini begitu banyak hal yang sedikit demi sedikit mengamplas sisi kepolosan memancar saat kecil.

    memandang hidup memang tak bisa selalu dengan kepolosan. kepolosan yang selalu disamakan dengan naif. mungkin tak juga naif, hanya sedikit merasa bahwa itu tak ada atau justru ada. jika itu keluar dan lepas memang membahagiakan. betapa aku ingin merasakan kelegaan itu sekarang, tapi sepertinya pemilik hidup masih ingin mengujiku. mungkin tidak sekarang, tapi nanti........ yang tak lama lagi.
    aku hanya butuh meningkatkan keyakinan dan kesabaran. Itu saja.


    .

     
    Monday, August 18, 2008

    an affair not to remember 

    Pria : Bisa aku mengajakmu hang out malam ini?

    Perempuan : Sepertinya tak bisa. Aku banyak acara.

    Pria : Dulu kau tak pernah menolakku. Kau berubah sekarang.

    Perempuan : Mungkin juga.

    Pria : Mengapa begitu?

    Perempuan : Mungkin karena aku sudah bosan padamu. Tak lagi menemukan hal yang mampu menarikku dalam pusaran kegembiraan seperti dulu. Aku sudah membacamu, dan itu sudah cukup. Aku bosan dan aku memutuskan berhenti.

    Pria : Semudah itu?

    Perempuan : Ya. Semudah itu, tak perlu ada yang dirumitkan. Kau dan aku bersama karena kesepakatan untuk bersenang-senang. Di mana tak lagi ada kesenangan, maka aku dapat berhenti kapanpun aku mau.

    Pria : Sesadis itu?

    Perempuan : Mmmmmm..... aku merasa tidak lagi mendapat kesenangan. Hubungan seperti ini tak lagi menarik jika dirumitkan dan dicampur adukkan dengan masalah serius. Hubungan ini hanya kegirangan sesaat, berbeda dengan komitmen pernikahan. Cepat atau lambat pasti berakhir, entah itu dari aku atau kamu. Saat ini aku yang merasakannya. Jadi maaf saja, kalau aku sudah merasa bosan.

    Pria : Kamu tak lagi ingat masa-masa kita bersama dulu?

    Perempuan : Sampai kapanpun aku pasti mengingatnya. Kau dan yang lain memiliki hal yang berbeda. Jangan salah sangka padaku. Dari mula aku tak pernah menggodamu, dan tak berniat menggodamu juga saat ini. Hanya semua sudah cukup, aku tak lagi merasakan apapun. Kesenangan itu sudah lewat. Kembali pada yang memang berhak untuk memilikimu, dan aku akan menjalani hidupku sendiri. Kau tak salah apapun padaku, hanya aku yang sudah merasa bosan padamu.

    .

     
    Friday, August 15, 2008

    Don't 

    Don't count what you don't have!!!!!
    Count what you have, and you will find that you have so much.






    [selesai bikin berita nota keuangan RAPBN 2008 atas pidato Presiden jelang hari Kemerdekaan di Departemen Keuangan, balik lagi ke Departemen ESDM ngejar Menteri Energi. gue capek lahir batin. anjrit..... bukan karena capek bikin beritanya, tapi gara2 tadi siang melihatnya dan tak seperti yang gue harapkan.
    Ah... sudahlah.]


    .

     
    Sunday, August 03, 2008

    an evening at Shirwan's cafe...... 

    Let me sing you a waltz
    Out of nowhere, out of my thoughts
    Let me sing you a waltz
    About this one night stand
    You were, for me, that night
    Everything I always dream of in life
    But now you're gone
    You are far gone
    All the way to your island of rain
    It was for you just a one night thing
    But you were much more to me, just so you know
    I don't care what they say
    I know what you meant for me that day
    I just want another try, I just want another night
    Even if it doesn't seem quite right
    You meant for me much more than anyone I've met before
    One single night with you, little Jesse, is worth a thousand with anybody
    I have no bitterness, my sweet
    I'll never forget this one night thing
    Even tomorrow in other arms, my heart will stay yours until I die
    Let me sing you a waltz
    Out of nowhere, out of my blues
    Let me sing you a waltz
    About this lovely one night stand

    (by Julie Delpy on Before Sunset's film)




    ========


    Setting film Before Sunset yang dibintangi oleh Ethan Hawk dan Julie Delpy ini berlokasi di Paris, Prancis. Beda dengan adegan film action atau drama yang terbiasa kita dikejutkan oleh scene yang menghebohkan. Justru dalam film ini kita akan menikmati satu alur perbincangan yang sering kita lakukan bersama teman atau pasangan kita di keseharian. Bagi orang yang suka tontonan yang ribut, pasti akan mengantuk melihat film ini.

    Tapi aku suka dengan kelanjutan film dari Aftar Sunset yang dibuat 9 tahun sebelum Before Sunset ini. Ini film kedua setelah Under Tuscan Tree yang dibintangi oleh Diana Lane, yang menurutku sangat memotivasi. Bukan membuat orang jadi berubah ingin menjadi tokoh manusia super, tapi justru membuat manusia membumi dan terbuka wawasan bahwa ternyata yang kita alami dan pikiran juga menjadi bahan pikiran orang lain yang tinggal dibelahan bumi yang berbeda dengan kita.

    Mungkin juga karena setting dari film ini diambil dilakukan di Paris, Prancis. Satu hal yang membuatku semakin merasa menangkap rasa romantisme riil yang disajikan film ini. Romantisme riil..... ya. Film ini romantis tapi tidak menyuguhkan adegan peluk cium yang terkadang terlihat berlebihan. Tak ada adegan kissing a fool. Jangankan itu, bahkan adegan bergandengan tangan pun tak. Tapi justru hal sederhana itu sangat kuat menggambarkan sisi romantisme yang seringkali absurd.




    Lagu dalam film ini selalu terngiang dalam telingaku ketika aku bertemu satu sosok pada satu sore di sudut Shirwan's cafe.

    Sore itu aku datang memenuhi undangannya. Aku terlambat. Tak biasanya dari tempatku bekerja untuk menuju Menteng, -di mana cafe itu berada- begitu macetnya. Dia sudah duduk di sana, menatap kehadiranku dengan nanar. Dia begitu menguasai situasi, begitu tahu apa yang diinginkan. Dengan diam dan sedikit senyum plus mata yang selalu menatap tajam tapi tak jarang muncul semburat kesedihan membuatku diliputi rasa terenyuh yang dalam.

    Di sudut ruang di Shirwan's cafe sore itu, aku melihatnya dekat tak seperti biasanya yang hanya sekilas dan penuh basa basi sangat. Tak pernah aku mengalami satu saat dimana aku merasa nyaman dengan pria. Paska kasus Arya, di bawah alam sadar aku
    memasang pagar setinggi mungkin ketika berhadapan dengan pria. Kejam juga tidak, tak pula judes seperti kebiasaan perempuan yang belum menikah. Biasa2 saja, masih tetap dengan keceriaan dan kebandelanku. Apa adanya. Hanya saja aku harus lebih tinggi
    memasang pagar pembatas itu karena sering kali dan akhir-akhir ini begitu banyak pria yang menyalah artikan kebaikanku. Mereka pikir ketika aku mau diajak nonton atau sekedar jalan mereka berpikir pada akhirnya aku adalah perempuan yang pastinya
    gampang pula untuk diajak tidur. Alamaaak.....

    Jika disuruh memilih, aku akan lebih suka berteman dengan pria. Mereka sangat spontan, tak mudah untuk sakit hati dan memiliki perspektif yang luar biasa berbeda dan menjadi referensi yang baik untukku. Tapi dengan kejadian akhir-akhir ini
    meski aku banyak memiliki teman pria, aku mulai membangun pagar yang tinggi antara aku dan mereka. Entah, mengapa tak bisa pertemanan antara pria dan perempuan dibatasi dan tidak berkembang mengarah pada hal yang berbau seks?

    Kembali pada satu sore di Shirwan's cafe itu.
    Memandangnya lekat dan melihatnya begitu menahan diri atas kemarahan yang dalam atas kejadian yang menimpanya belum lama ini membuatku mulai menyusun potongan-potongan puzzle itu menjadi utuh. Aku tak pernah berusaha spontan di hadapan pria, tapi
    bersamanya begitu mudah aku mengungkapkan sisi spontanku. Heran, kenapa dihadapan dia aku jadi berusaha untuk menganalisanya habis.

    Bersamanya aku tak bisa sembarangan. Sespontan apapun diriku, tapi dia bukan tipe orang yang bisa diperlakukan sembarangan. Baginya, Kehormatan adalah satu hal yang besar dan Eksistensi adalah satu kebutuhan buatnya. Aku tak akan mungkin hidup
    dengannya. Dan pastinya aku sangat tidak tertarik untuk melakukan sesuatu hal yang permanen dengannya. Kenapa? Hidupku akan jadi sangat membosankan ketika bersamanya.

    Dia begitu ingin ego ke-aku-annya dilihat orang. Dia begitu ingin agar eksistensinya dipandang, dan dia tipe orang yang tidak akan pernah menghabiskan waktu lama-lama dengan orang lain, jika dia tidak merasa membutuhkan orang itu untuk memenuhi
    kepentingan dia. Sepa, sengak, angkuh, dan sangat sombong. Dia dengan mudah memandang orang dari sudut matanya dan dengan gaya bak aristokrat jaman Napoleon, dia akan tetap menengadahkan kepala ke atas sehingga hidung mancungnya itu akan terlihat semakin mancung. Kurang menghargai orang............ well, memang seperti itu dia.

    Pada satu titik aku merasa bahwa kejadian terlemparnya dia dari tempatnya mengabdi selama 23 tahun adalah salah satu karma atas perbuatan dia. Pasti dia tak happy atas keputusan yang diambilnya untuk segera keluar dari tempatnya saat ini.
    Tapi bagaimana bisa ibaratnya seorang Komandan Batalion yang biasa punya 1.000 anak buah, sekarang meski jabatannya sama, tapi tidak mempunyai anak buah, bahkan mungkin untuk foto copy dokumen pun harus dia lakukan sendiri.

    Terlahir dari keluarga intelektual, terpandang, dan sulung dari tiga bersaudara. Lahir dan menghabiskan hampir separuh hidupnya di Eropa, tak ketinggalan Afrika, dan negara lain di Asia. Ada dua versi tempat kelahirannya, entah di Aljazair atau negara kolonialnya. Saat ini tinggal di tempat paling prestisius di kawasan termahal di Jakarta, memiliki segalanya. Namun dia begitu biasa dengan kelebihan yang dimilikinya. Dia tak akan pernah mengganti barang hanya karena model terbaru keluar. Dia akan tetap menggunakan jam tangan atau ponsel hingga tak berfungsi lagi. Dia sosok pria yang ganteng, jas yang dipakainya selalu keluaran butik terkenal, tapi aku lihat tak pernah pantas dipakainya. Mahal memang, tapi benar-benar tidak ada taste sama sekali. Sayang.

    Meski aku melihat dia sangat tegas dan tipikal aristrokrat membosankan, tapi aku melihat masa mudanya justru berbanding terbalik dengan dirinya sekarang ini. Mungkin tanggung jawab yang diembannya sangat berbeda dan juga manusia akan terus
    berubah dari waktu ke waktu, entah berubah baik atau buruk, itu pilihan.

    Siapa sangka sosok yang angkuh ini dulu memiliki masa muda yang tak jauh beda dengan generasi muda jaman sekarang. Belajar keras di siang hari, tapi kadang jadi disc jokey untuk pesta. Atau sosok yang juga melalui masa hang out dengan menjadi
    pelaku sejarah atas tour band rock kelas dunia yang manggung di festival Woodstock. Dia suka memotret, dan dokumen fotografinya tertata apik. Very organize person. Satu lagi, dia begitu care dengan lingkungan, terbukti dengan mau repot memasang panel surya di rumahnya hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik rumah tangga.

    Sekali lagi aku tak berminat untuk berjuang mendapatkannya menjadi sosok permanen untuk hidupku. Kali ini aku bisa dengan tegas mengatakan TIDAK. Nope, aku dan dia sangat jauh berbeda. Seandainya terjadi hubungan, pastinya hanya hubungan sekelebat
    untuk sejenak lari dari kebosanan dan rutinitas semata.

    Bagiku dia sangat menyenangkan untuk diajak berdiskusi, bicara, dan menjadi guru atas pengalaman2 yang dilaluinya. Mendengarkannya berbicara seolah membuatku seperti mengenang masa lalu ketika ayahku almarhum bercerita masa mudanya. Pengembaraan masa lalu yang menyenangkan, meski akan seringkali diulang untuk diceritakan ibarat cd yang di rewind terus2an.

    Menyenangkan bersamanya. Justru begitu jauh dari rasa ke geeran untuk bersamanya. Tak sama sekali merasakan itu. Berlebihankah perasaanku padanya? Tak juga. Flat, biasa2 saja. Seperti air mengalir yang keliatan tidak berpendirian tapi justru arus air itu yang paling berpendirian karena ujungnya adalah pasti menuju ke laut.

    Di tengah angkuh dan ketenangan dia, mengapa aku justru melihatnya sebagai sosok yang tak sabar. Pride yang begitu besar mengalahkan kesabaran dan ketenangannya. Mmmmmmm..... dia pernah berujar padaku... semua itu dilakukan untuk mencari
    kekuasaan.

    Ya, sama seperti dirinya yang secara tak sadar pada dasarnya ingin melanggengkan kekuasaannya di satu sudut segitiga emas itu. Pilihan yang dibuatnya belum lama ini -yang pastinya dipikirkannya dari semua sudut- tak justru aku lihat sebagai
    kemenangan tapi justru untuk memuaskan egonya bahwa dia bukan sosok yang bisa disuruh dan dikendalikan begitu saja. Sosok yang sangat powerfull akan menjadi sangat naif ketika berubah menjadi powerless.

    Kesabaran, itu yang mungkin kurang dimilikinya. Dia tak lagi bisa sabar jika ada sosok lain yang menggantikannya dan tidak memiliki kepasitas sebesar dia tapi mendapatkan jabatan yang dulu dimilikinya. Kesal dan sedikit frustasi pasti iya.
    Aku tahu, keputusan yang diambilnya inipun karena dia ambil karena terpaksa dan tidak ada rasa happy sedikitpun.

    Ah... sosok itu memang sangat menakjubkan. Aku berada pada satu kesimpulan ketika aku berhubungan dengan orang, dan ketika orang itu mengecewakan kita dan akhirnya pergi jauh, maka sosok itu tak akan dapat dilupakan dan tergantikan. Mengapa?
    karena masing-masing orang memiliki kualitas dan keunikan tersendiri. Bagiku, aku tak dapat melupakan 100% orang yang sudah pernah berhubungan dengan ku sebegitu gampangnya seperti mengganti merk roti untuk sarapan pagi. Masing-masing manusia punya kekhasannya sendiri, dan ketika itu hilang maka akan hilang dan tak kan pernah lagi tergantikan.

    Aku tak pernah memiliki pengharapan lebih dengan pria ini. Bersamanya aku tahu, tak akan pernah mendapatkan sosoknya dengan utuh. Tapi justru itu yang aku cari. Aku tak butuh dia secara utuh. Seperti aku bilang, berhubungan lama dengannya hanya akan berakhir dengan kebosanan. Dia bukan sosok yang ku cari, tapi dia hanya sosok sambil lalu sekedar teman perjalanan yang menyenangkan.

    Aku bisa dengan mudah mengatakan itu, karena -seperti pernah kubilang padanya- aku tak memiliki kepentingan apapun padanya. Aku tak silau dengan jabatannya, aku tak butuh duitnya, aku tak butuh kekuasaannya, dan aku tak butuh semua yang telah
    dimilikinya sekarang ini. Aku bisa memenuhi apa yang kubutuhkan dalam hidup ini sendiri, tanpa perlu mengemis atau minta belas kasihan orang. Dan selama ini aku berhasil.

    Aku hanya ingin menghabiskan satu hingga dua jam waktu untuk ngobrol bersamanya. Di satu sudut Shirwan's cafe seperti sore ini. Mendengarkannya berbicara, mengeluh, dan menemukan sosok megejutkan ini menceritakan sesuatu yang seringkali berhasil
    membuatku tercengang.

    Apakah aku gila? Mungkin. Tidak berpikir waras atas 'kerugian' yang mungkin akan terjadi? Mungkin juga. Tapi aku suka, dan konsekuensi atas apa yang aku pilih -sebagai perempuan dewasa- pasti harus bisa menanggungnya.

    Seperti fenomena Jetcoaster. Mungkin kita harus sabar menunggu antrian untuk naik. Bisa sejam dua jam ngantri hingga akhirnya kita mendapat kesempatan menaikki jetcoaster itu. Kemudian 10 menit ke depan adrenalin akan dipacu diputar balikkan di atas jetcoaster yang melaju kencang. Hingga akhirnya 10 menit itu lewat dan jetcoaster pun berhenti, kita pun harus berbesar hati untuk turun dan memberikan tempat duduk kita pada orang yang mengantri di belakang kita.

    Aku tahu bersamanya meski hanya singkat tak akan berarti banyak dan tak banyak untungnya. Memang seperti itu. Aku tahu, dengan egoisme yang dia miliki, dengan begitu sedikitnya rasa hormat yang dimilikinya terhadap orang lain, maupun begitu besarnya ke Aku an yang dimilikinya, aku hanya seperti butiran debu yang tersedot habis dalam vacum cleaner.

    Well, mungkin aku tak jauh berbeda alias sama bodohnya dengan teman perempuanku yang rela di gampar pacarnya di pinggir jalan Jaksa itu. Satu sisi aku butuh kejutan2 kecil yang singkat bersamanya, justru bukan yang permanen. Sejenak, tapi menyenangkan. Aku menikmati saat singkat bersamanya. Tanpa tuntutan, tanpa keterpaksaan. Menyamankan meski aku tahu itu sangat tak nyaman. Di sisi lain, begitu aku tahu bahwa bersamanya akan sangat membosankan dan tak ada untungnya selain in the name of having fun yang senangnya memang hanya sesaat itu.
    Tak lebih dan tak kurang.



    .

     

    kosong 

    Tepat 14 hari aku menjadi penderita insomnia akut, teman dekatku sms tepat jam 2 pagi. Dalam sms itu dia membatalkan rencana kami jalan2 ke blok M hanya karena dia tidak ingin aku melihat matanya yang sembab.

    Aku tanya kenapa?

    Dalam sms balasan dia kabarkan kalau dia habis ditampar, dijambak, dan dipukul pacarnya tepat di trotoar jalan Jaksa.

    Kembali aku menghela nafas panjang. Kondisi ini tidak sekali dua kali terjadi padanya. Istri juga bukan, saudara juga bukan, kok ya tega2nya mukul.

    Aku gak ngerti apa yang ada dibenak teman perempuanku ini. Mengapa dia jadi begitu lemahnya berada dihadapan lelaki ini. Padahal temanku ini dapat menghidupi dirinya sendiri, statra sosial dan ekonomi yang baik, tapi masih berpikiran sempit.

    Capek deh...

    .