Let me sing you a waltz
Out of nowhere, out of my thoughts
Let me sing you a waltz
About this one night stand
You were, for me, that night
Everything I always dream of in life
But now you're gone
You are far gone
All the way to your island of rain
It was for you just a one night thing
But you were much more to me, just so you know
I don't care what they say
I know what you meant for me that day
I just want another try, I just want another night
Even if it doesn't seem quite right
You meant for me much more than anyone I've met before
One single night with you, little Jesse, is worth a thousand with anybody
I have no bitterness, my sweet
I'll never forget this one night thing
Even tomorrow in other arms, my heart will stay yours until I die
Let me sing you a waltz
Out of nowhere, out of my blues
Let me sing you a waltz
About this lovely one night stand
(by Julie Delpy on Before Sunset's film)========
Setting film Before Sunset yang dibintangi oleh Ethan Hawk dan Julie Delpy ini berlokasi di Paris, Prancis. Beda dengan adegan film action atau drama yang terbiasa kita dikejutkan oleh scene yang menghebohkan. Justru dalam film ini kita akan menikmati satu alur perbincangan yang sering kita lakukan bersama teman atau pasangan kita di keseharian. Bagi orang yang suka tontonan yang ribut, pasti akan mengantuk melihat film ini.
Tapi aku suka dengan kelanjutan film dari Aftar Sunset yang dibuat 9 tahun sebelum Before Sunset ini. Ini film kedua setelah Under Tuscan Tree yang dibintangi oleh Diana Lane, yang menurutku sangat memotivasi. Bukan membuat orang jadi berubah ingin menjadi tokoh manusia super, tapi justru membuat manusia membumi dan terbuka wawasan bahwa ternyata yang kita alami dan pikiran juga menjadi bahan pikiran orang lain yang tinggal dibelahan bumi yang berbeda dengan kita.
Mungkin juga karena setting dari film ini diambil dilakukan di Paris, Prancis. Satu hal yang membuatku semakin merasa menangkap rasa romantisme riil yang disajikan film ini. Romantisme riil..... ya. Film ini romantis tapi tidak menyuguhkan adegan peluk cium yang terkadang terlihat berlebihan. Tak ada adegan kissing a fool. Jangankan itu, bahkan adegan bergandengan tangan pun tak. Tapi justru hal sederhana itu sangat kuat menggambarkan sisi romantisme yang seringkali absurd.
Lagu dalam film ini selalu terngiang dalam telingaku ketika aku bertemu satu sosok pada satu sore di sudut Shirwan's cafe.
Sore itu aku datang memenuhi undangannya. Aku terlambat. Tak biasanya dari tempatku bekerja untuk menuju Menteng, -di mana cafe itu berada- begitu macetnya. Dia sudah duduk di sana, menatap kehadiranku dengan nanar. Dia begitu menguasai situasi, begitu tahu apa yang diinginkan. Dengan diam dan sedikit senyum plus mata yang selalu menatap tajam tapi tak jarang muncul semburat kesedihan membuatku diliputi rasa terenyuh yang dalam.
Di sudut ruang di Shirwan's cafe sore itu, aku melihatnya dekat tak seperti biasanya yang hanya sekilas dan penuh basa basi sangat. Tak pernah aku mengalami satu saat dimana aku merasa nyaman dengan pria. Paska kasus Arya, di bawah alam sadar aku
memasang pagar setinggi mungkin ketika berhadapan dengan pria. Kejam juga tidak, tak pula judes seperti kebiasaan perempuan yang belum menikah. Biasa2 saja, masih tetap dengan keceriaan dan kebandelanku. Apa adanya. Hanya saja aku harus lebih tinggi
memasang pagar pembatas itu karena sering kali dan akhir-akhir ini begitu banyak pria yang menyalah artikan kebaikanku. Mereka pikir ketika aku mau diajak nonton atau sekedar jalan mereka berpikir pada akhirnya aku adalah perempuan yang pastinya
gampang pula untuk diajak tidur. Alamaaak.....
Jika disuruh memilih, aku akan lebih suka berteman dengan pria. Mereka sangat spontan, tak mudah untuk sakit hati dan memiliki perspektif yang luar biasa berbeda dan menjadi referensi yang baik untukku. Tapi dengan kejadian akhir-akhir ini
meski aku banyak memiliki teman pria, aku mulai membangun pagar yang tinggi antara aku dan mereka. Entah, mengapa tak bisa pertemanan antara pria dan perempuan dibatasi dan tidak berkembang mengarah pada hal yang berbau seks?
Kembali pada satu sore di Shirwan's cafe itu.
Memandangnya lekat dan melihatnya begitu menahan diri atas kemarahan yang dalam atas kejadian yang menimpanya belum lama ini membuatku mulai menyusun potongan-potongan puzzle itu menjadi utuh. Aku tak pernah berusaha spontan di hadapan pria, tapi
bersamanya begitu mudah aku mengungkapkan sisi spontanku. Heran, kenapa dihadapan dia aku jadi berusaha untuk menganalisanya habis.
Bersamanya aku tak bisa sembarangan. Sespontan apapun diriku, tapi dia bukan tipe orang yang bisa diperlakukan sembarangan. Baginya, Kehormatan adalah satu hal yang besar dan Eksistensi adalah satu kebutuhan buatnya. Aku tak akan mungkin hidup
dengannya. Dan pastinya aku sangat tidak tertarik untuk melakukan sesuatu hal yang permanen dengannya. Kenapa? Hidupku akan jadi sangat membosankan ketika bersamanya.
Dia begitu ingin ego ke-aku-annya dilihat orang. Dia begitu ingin agar eksistensinya dipandang, dan dia tipe orang yang tidak akan pernah menghabiskan waktu lama-lama dengan orang lain, jika dia tidak merasa membutuhkan orang itu untuk memenuhi
kepentingan dia. Sepa, sengak, angkuh, dan sangat sombong. Dia dengan mudah memandang orang dari sudut matanya dan dengan gaya bak aristokrat jaman Napoleon, dia akan tetap menengadahkan kepala ke atas sehingga hidung mancungnya itu akan terlihat semakin mancung. Kurang menghargai orang............ well, memang seperti itu dia.
Pada satu titik aku merasa bahwa kejadian terlemparnya dia dari tempatnya mengabdi selama 23 tahun adalah salah satu karma atas perbuatan dia. Pasti dia tak happy atas keputusan yang diambilnya untuk segera keluar dari tempatnya saat ini.
Tapi bagaimana bisa ibaratnya seorang Komandan Batalion yang biasa punya 1.000 anak buah, sekarang meski jabatannya sama, tapi tidak mempunyai anak buah, bahkan mungkin untuk foto copy dokumen pun harus dia lakukan sendiri.
Terlahir dari keluarga intelektual, terpandang, dan sulung dari tiga bersaudara. Lahir dan menghabiskan hampir separuh hidupnya di Eropa, tak ketinggalan Afrika, dan negara lain di Asia. Ada dua versi tempat kelahirannya, entah di Aljazair atau negara kolonialnya. Saat ini tinggal di tempat paling prestisius di kawasan termahal di Jakarta, memiliki segalanya. Namun dia begitu biasa dengan kelebihan yang dimilikinya. Dia tak akan pernah mengganti barang hanya karena model terbaru keluar. Dia akan tetap menggunakan jam tangan atau ponsel hingga tak berfungsi lagi. Dia sosok pria yang ganteng, jas yang dipakainya selalu keluaran butik terkenal, tapi aku lihat tak pernah pantas dipakainya. Mahal memang, tapi benar-benar tidak ada taste sama sekali. Sayang.
Meski aku melihat dia sangat tegas dan tipikal aristrokrat membosankan, tapi aku melihat masa mudanya justru berbanding terbalik dengan dirinya sekarang ini. Mungkin tanggung jawab yang diembannya sangat berbeda dan juga manusia akan terus
berubah dari waktu ke waktu, entah berubah baik atau buruk, itu pilihan.
Siapa sangka sosok yang angkuh ini dulu memiliki masa muda yang tak jauh beda dengan generasi muda jaman sekarang. Belajar keras di siang hari, tapi kadang jadi disc jokey untuk pesta. Atau sosok yang juga melalui masa hang out dengan menjadi
pelaku sejarah atas tour band rock kelas dunia yang manggung di festival Woodstock. Dia suka memotret, dan dokumen fotografinya tertata apik. Very organize person. Satu lagi, dia begitu care dengan lingkungan, terbukti dengan mau repot memasang panel surya di rumahnya hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik rumah tangga.
Sekali lagi aku tak berminat untuk berjuang mendapatkannya menjadi sosok permanen untuk hidupku. Kali ini aku bisa dengan tegas mengatakan TIDAK. Nope, aku dan dia sangat jauh berbeda. Seandainya terjadi hubungan, pastinya hanya hubungan sekelebat
untuk sejenak lari dari kebosanan dan rutinitas semata.
Bagiku dia sangat menyenangkan untuk diajak berdiskusi, bicara, dan menjadi guru atas pengalaman2 yang dilaluinya. Mendengarkannya berbicara seolah membuatku seperti mengenang masa lalu ketika ayahku almarhum bercerita masa mudanya. Pengembaraan masa lalu yang menyenangkan, meski akan seringkali diulang untuk diceritakan ibarat cd yang di rewind terus2an.
Menyenangkan bersamanya. Justru begitu jauh dari rasa ke geeran untuk bersamanya. Tak sama sekali merasakan itu. Berlebihankah perasaanku padanya? Tak juga. Flat, biasa2 saja. Seperti air mengalir yang keliatan tidak berpendirian tapi justru arus air itu yang paling berpendirian karena ujungnya adalah pasti menuju ke laut.
Di tengah angkuh dan ketenangan dia, mengapa aku justru melihatnya sebagai sosok yang tak sabar. Pride yang begitu besar mengalahkan kesabaran dan ketenangannya. Mmmmmmm..... dia pernah berujar padaku... semua itu dilakukan untuk mencari
kekuasaan.
Ya, sama seperti dirinya yang secara tak sadar pada dasarnya ingin melanggengkan kekuasaannya di satu sudut segitiga emas itu. Pilihan yang dibuatnya belum lama ini -yang pastinya dipikirkannya dari semua sudut- tak justru aku lihat sebagai
kemenangan tapi justru untuk memuaskan egonya bahwa dia bukan sosok yang bisa disuruh dan dikendalikan begitu saja. Sosok yang sangat powerfull akan menjadi sangat naif ketika berubah menjadi powerless.
Kesabaran, itu yang mungkin kurang dimilikinya. Dia tak lagi bisa sabar jika ada sosok lain yang menggantikannya dan tidak memiliki kepasitas sebesar dia tapi mendapatkan jabatan yang dulu dimilikinya. Kesal dan sedikit frustasi pasti iya.
Aku tahu, keputusan yang diambilnya inipun karena dia ambil karena terpaksa dan tidak ada rasa happy sedikitpun.
Ah... sosok itu memang sangat menakjubkan. Aku berada pada satu kesimpulan ketika aku berhubungan dengan orang, dan ketika orang itu mengecewakan kita dan akhirnya pergi jauh, maka sosok itu tak akan dapat dilupakan dan tergantikan. Mengapa?
karena masing-masing orang memiliki kualitas dan keunikan tersendiri. Bagiku, aku tak dapat melupakan 100% orang yang sudah pernah berhubungan dengan ku sebegitu gampangnya seperti mengganti merk roti untuk sarapan pagi. Masing-masing manusia punya kekhasannya sendiri, dan ketika itu hilang maka akan hilang dan tak kan pernah lagi tergantikan.
Aku tak pernah memiliki pengharapan lebih dengan pria ini. Bersamanya aku tahu, tak akan pernah mendapatkan sosoknya dengan utuh. Tapi justru itu yang aku cari. Aku tak butuh dia secara utuh. Seperti aku bilang, berhubungan lama dengannya hanya akan berakhir dengan kebosanan. Dia bukan sosok yang ku cari, tapi dia hanya sosok sambil lalu sekedar teman perjalanan yang menyenangkan.
Aku bisa dengan mudah mengatakan itu, karena -seperti pernah kubilang padanya- aku tak memiliki kepentingan apapun padanya. Aku tak silau dengan jabatannya, aku tak butuh duitnya, aku tak butuh kekuasaannya, dan aku tak butuh semua yang telah
dimilikinya sekarang ini. Aku bisa memenuhi apa yang kubutuhkan dalam hidup ini sendiri, tanpa perlu mengemis atau minta belas kasihan orang. Dan selama ini aku berhasil.
Aku hanya ingin menghabiskan satu hingga dua jam waktu untuk ngobrol bersamanya. Di satu sudut Shirwan's cafe seperti sore ini. Mendengarkannya berbicara, mengeluh, dan menemukan sosok megejutkan ini menceritakan sesuatu yang seringkali berhasil
membuatku tercengang.
Apakah aku gila? Mungkin. Tidak berpikir waras atas 'kerugian' yang mungkin akan terjadi? Mungkin juga. Tapi aku suka, dan konsekuensi atas apa yang aku pilih -sebagai perempuan dewasa- pasti harus bisa menanggungnya.
Seperti fenomena Jetcoaster. Mungkin kita harus sabar menunggu antrian untuk naik. Bisa sejam dua jam ngantri hingga akhirnya kita mendapat kesempatan menaikki jetcoaster itu. Kemudian 10 menit ke depan adrenalin akan dipacu diputar balikkan di atas jetcoaster yang melaju kencang. Hingga akhirnya 10 menit itu lewat dan jetcoaster pun berhenti, kita pun harus berbesar hati untuk turun dan memberikan tempat duduk kita pada orang yang mengantri di belakang kita.
Aku tahu bersamanya meski hanya singkat tak akan berarti banyak dan tak banyak untungnya. Memang seperti itu. Aku tahu, dengan egoisme yang dia miliki, dengan begitu sedikitnya rasa hormat yang dimilikinya terhadap orang lain, maupun begitu besarnya ke Aku an yang dimilikinya, aku hanya seperti butiran debu yang tersedot habis dalam vacum cleaner.
Well, mungkin aku tak jauh berbeda alias sama bodohnya dengan teman perempuanku yang rela di gampar pacarnya di pinggir jalan Jaksa itu. Satu sisi aku butuh kejutan2 kecil yang singkat bersamanya, justru bukan yang permanen. Sejenak, tapi menyenangkan. Aku menikmati saat singkat bersamanya. Tanpa tuntutan, tanpa keterpaksaan. Menyamankan meski aku tahu itu sangat tak nyaman. Di sisi lain, begitu aku tahu bahwa bersamanya akan sangat membosankan dan tak ada untungnya selain in the name of having fun yang senangnya memang hanya sesaat itu.
Tak lebih dan tak kurang.
.