Selama ini manusia seringkali berbeban untuk menjalani hidup.
Kenapa?
Seringkali hidup yang sebenarnya dapat dijalani dengan mudah, berubah menjadi begitu sulitnya gara-gara dalam pikiran kita nyelip keinginan untuk mendapatkan ini dan itu, mencapai ini dan itu.
Tidak salah memang ketika manusia memiliki keinginan. Lha wong memang sudah dari sononya manusia itu diberikan yang namanya nafsu. Sah-sah saja manusia berkeinginan dan bercita-cita.
Tapi sebentar.... bagaimana jika kondisi keinginan, menginginkan, memimpikan, atau segala bentuk keinginan atas kepemilikan baik berbentuk fisik atau non fisik mulai mengusai otak, dan merebut hampir 50% lebih waktu manusia itu.
Bagaimana ketika kemudian manusia yang sebenarnya dapat menjalani hidup dengan tenang2 saja, berubah total menjadi tak jelas dan malah jadi pemimpi paling absurd sedunia ketika menginginkan satu hal yang jelas tapi sebenarnya tak jelas?
Kata motivator Mario Teguh, ketika manusia berkeinginan sangat besar maka kuatkan hati dan naikkan kualitas diri sehingga menjadi sangat layak untuk menerima keinginan yang besar itu.
Dan jika manusia yang berkeinginan besar itu dilecehkan keinginannya oleh manusia lain maka dia harus segera berkata balik, "mungkin keinginan itu terlalu besar untukmu, tapi biarkan saya mencoba dan menerima keinginan atau wujud dari mimpi yang besar itu. Kualitas masing-masing manusia itu berbeda."
Namanya juga motivator, ngomongnya gampang sambil senyum manis tapi implikasinya benar-benar susah.
Kembali ke masalah keinginan, jadi manusia harus bagaimana agar tenang menjalani hidup? Ya gak ngapa-ngapain.
Kunci pastinya hanyalah berusaha menerima apa yang saat ini terjadi, dan tetap tersenyum dalam menjalani hidup. Bagaimana cara mengimplementasikannya? Lha mbuh, wong aku sendiri juga lagi belajar.
Satu hal lagi, manusia begitu cepat akrab dengan manusia lain, atau satu saat begitu mencintai manusia lain, tapi seringkali hal tersebut tak berlangsung lama dalam artian pada satu saat akan terjadi pertikaian yang berujung pada kebencian dan perpisahan. Seperti dua sisi mata uang yang berbeda, tapi tak dapat dipisahkan.
Ego seorang manusia seringkali melampaui ego manusia lain, dan juga sebaliknya. Sekali dikecewakan maka tak akan lagi bisa kembali hubungan seperti semula. Bahaya? Mungkin. Pada satu titik aku merasakan hal seperti itu. Apalagi ego ku terkenal begitu besar.
Jika semua ego itu dapat diselesaikan dengan mengalah, dan memaafkan tentu akan lebih baik. Tapi kembali prakteknya begitu susah dilakukan.
Satu contoh kecil: ketika satu manusia menjalin hubungan baik dengan sesamanya dan dia begitu tepo seliro untuk tidak menyakiti manusia lain, tapi kenapa selalu manusia lain itu akhirnya hanya akan menyakiti dirinya. Ibaratnya sudah dikasih hati mau minta jantung. Anjrit!!!
Apa yang terjadi kemudian? Jelas bahwa hubungan baik itu tidak akan pernah tersambung seperti semula. Tak ubahnya dengan gelas pecah, meski disambung dan direkatkan kembali tetap terlihat retakannya.
Yah, hidup itu indah dengan segala macam pernak perniknya.
Yang paling penting adalah belajar bagaimana menerima hidup itu dan menjalaninya.
Kalau sekarang baru bisa jalan kaki, ya jalanin aja tanpa lupa bersyukur, kalau sudah waktunya pasti bisa naik BMW he he he he.....
.